
Anton masih sibuk menc*mbu tubuh Kamila ketika ponselnya berbunyi, namun dia membiarkan ponsel itu berbunyi begitu saja.
"Mas, angkat dulu teleponnya, siapa tahu penting."
"Tanggung sayang, bukankah permainan kita sedang begitu panas." kata Anton sambil meng*lum telinga istrinya, disertai des*han nafas yang semakin menderu diantara keduanya. Namun telepon itu tak pernah berhenti berbunyi.
"Mas, tolong angkat teleponnya dulu."
'Ganggu saja.' kata Anton sambil bergumam.
[Halo.]
Setelah mengangkat telepon, tiba-tiba raut wajah Anton pun berubah. Kamila pun ikut panik melihat perubahan wajah suaminya. Air mata pun menetes di wajah Anton.
"Mas, kamu kenapa?"
"Ayah Mila, Ayah meninggal."
"Innalillahi. Kita harus cepat pergi ke Jakarta Mas."
Kamila pun menangis dalam pelukan Anton. Beberapa saat kemudian setelah menenangkan perasaannya, dia keluar dari dalam kamar, lalu membangunkan Amanda, Brian, dan Kevin, tak lupa Mba Murni pun diajaknya turut serta pergi ke Jakarta untuk menemani mereka.
"Bi Siti, tolong kemasi barang-barang anak-anak." kata Kamila yang masih begitu sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa.
Saat Kamila begitu sibuk berkemas, Anton hanya bisa duduk termenung di dalam kamar dan terlihat syok mendengar kabar yang begitu mendadak. "Mas, cepat pesan tiket pesawat, kita harus terbang dengan penerbangan paling pagi."
"Iya sayang."
Setelah selesai berkemas, mereka akhirnya menuju ke Bandara untuk pergi ke Jakarta. Saat mereka sampai, rumah Caesar tampak sudah penuh oleh para pelayat. Tampak Caesar, istrinya dan kedua anaknya duduk di depan jenazah Ayahnya. Anton dan Kamila lalu mendekati jenazah Ayah Anton untuk melihat jenazah tersebut sebelum acara pemakaman. Mereka kemudian menangis di depan jenazah tersebut, Kamila tampak begitu terpukul atas kepergian mertuanya, karena selama ini Ayah mertuanya adalah orang yang paling mendukung hubungannya dengan Anton.
"Selamat tinggal yah, semoga tenang dan bisa kembali bertemu dengan Ibu." kata Kamila sambil menangis saat melihat jenazah mertuanya masuk ke liang lahat. Anton dan Caesar hanya terdiam, raut wajah mereka menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam, namun sudah tak ada lagi tangisan diantara keduanya.
"Mas, are you okay?"
"Yeah." jawab Anton lirih.
Amanda sebenarnya juga begitu terpukul karena kepergian Opanya, dia yang begitu dekat dengan Ayah Anton sejak kecil begitu merasa kehilangan.
Akhirnya acara pemakaman pun selesai, dan mereka semua kembali ke rumah. Saat makan malam, Anton dan Caesar yang sudah lama tak bertemu, cukup lama bercengkrama di meja makan, sedangkan Kamila dan Fani, istri Caesar memilih untuk menonton televisi.
"Mas Anton mau berapa lama di Jakarta?" tanya Caesar.
"Mungkin hanya tiga hari, banyak urusan di kantor yang harus Mas selesaikan, karena minggu depan Mas dan Mila harus ke Jambi."
"Ke Jambi? Untuk apa Mas?"
__ADS_1
"Kerabat Mila ada yang menikah..."
Belum selesai Anton melanjutkan kata-katanya tiba-tiba bel rumah berbunyi. "Mbok, tolong bukakan pintu." kata Caesar.
Mbok Iyem tampak tergesa-gesa membukakan pintu, lalu kembali masuk dan menemui Anton dan Caesar. "Maaf Tuan, ada seorang pelayat di depan. Katanya baru pulang dari Australia langsung ke sini."
"Australia siapa? Bukankah Rebecca sekarang di Singapore?"
"Entahlah Mas, lebih baik kita temui saja."
Mereka berdua lalu menemui tamu yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Selamat malam." kata Anton.
Wanita itu lalu berdiri di hadapan Anton dan Caesar. "Anton, Caesar. Long time no see." kata wanita tersebut sambil tersenyum dengan begitu manis.
"Chyntia." jawab Anton sambil menelan ludah.
"Aku turut berdukacita ya atas meninggalnya Om Frans, kebetulan aku sedang pulang ke Indonesia, lalu dapat kabar kalau Om Frans meninggal, jadi aku langsung kesini."
"Caesar tolong panggilkan Kamila untuk menemaniku." bisik Anton pada Caesar.
"Baik Mas."
"Silahkan duduk kembali Chyntia. Bagaimana kabarmu saat ini?"
Anton hanya tersenyum kecut mendengar kata-katanya.
"Bagaimana kabarmu Anton? Aku dengar kamu sudah menikah kembali dengan mantan istrimu?"
"Ya, aku sudah menikah kembali dengannya, dan sekarang kami memiliki tiga orang anak."
"Wah, kamu memang luar biasa Anton, sejak dahulu sepertinya hanya dia wanita yang kau cintai."
"Ya begitulah Chyntia. Lalu bagaimana kabarmu? Mana suamimu dan anakmu? Apakah mereka tidak ikut pulang ke Indonesia?"
Namun Chyntia hanya tertawa. "Anton saat itu aku benar-benar patah hati, karena hanya kamu laki-laki yang menolak wanita secantik diriku."
"Lalu?"
"Wah ternyata kamu penasaran juga denganku ya Anton. Hahahaha."
"Maaf aku pikir kamu akan melayat orang tuaku, bukan untuk membicarakan hal pribadi seperti ini Chyntia."
"Mas." tiba-tiba Kamila sudah berdiri di belakang mereka.
__ADS_1
"Oh sayang, duduklah di sampingku dan perkenalkan ini Chyntia."
Kamila lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Chyntia, namun Chyntia hanya duduk tanpa membalas uluran tangan Kamila. Kamila sebenarnya merasa begitu kesal, namun dia bersikap untuk biasa-biasa saja.
"Istrimu cantik Anton, namun sayang sedikit kampungan." kata Chyntia sambil tertawa.
"Chyntia tolong jaga kata-katamu, kalau sudah tidak ada urusan denganku lagi, kamu bisa pulang sekarang, kami sudah lelah dan ingin beristirahat."
"Sabar Anton, kenapa kamu jadi marah-marah? Lihat istrimu saja tidak marah. Iya kan Kamila?" kata Chyntia.
Kamila hanya tersenyum mendengar ucapan Chyntia.
"Chyntia, maaf tapi kami sudah lelah dan ingin beristirahat. Selamat malam." kata Anton sambil membuka pintu.
Chyntia yang tampak begitu kesal lalu keluar dari rumah tersebut dengan menggerutu. 'Awas saja kamu Anton, kalau dulu aku mengalah, itu karena aku mau menjaga image ku di depan Ibumu, tapi sekarang akan kubuat kau bertekuk lutut padaku.' gumam Chyntia sambil pergi meninggalkan rumah itu.
Anton lalu mengajak Kamila masuk ke dalam kamar. "Anak-anak mana sayang?" kata Anton sambil berbasa-basi.
"Kevin dan Brian sudah tidur, lalu Amanda sedang mengobrol dengan Fani." jawab Kamila. Dia lalu mendekat dan bergelayut manja di tubuh suaminya.
"Mas, jadi itu Chyntia yang dulu akan dijodohkan denganmu?"
"Ya, namun aku tak pernah tertarik padanya."
"Tapi dia cantik loh Mas." kata Kamila sambil meledek.
"Cantik kamu sayang." jawab Anton sambil mendekap tubuh istrinya. Saat Anton akan mendekatkan wajahnya pada Kamila tiba-tiba pintu Kamar terbuka.
"Amanda."
***
Sepasang suami istri tampak berdiri di depan sebuah rumah mewah. "Pa, lihat rumah Randi, baru tujuh tahun kita meninggalkan rumah ini, rumah ini sudah berubah Pa. Lihat bangunan rumah ini kini bertambah besar dan semakin mewah."
"Ma, ini rumah Wina bukan Randi. Ingat itu!"
"Sama saja, apa bedanya sih."
"Beda Ma, Randi dulu hanya menumpang."
"Dasar Papa reseh."
Laki-laki itu hanya menggelengkan kepala mendengar kata-kata istrinya. Saat mereka akan masuk ke dalam rumah itu, tiba-tiba mereka melihat sosok wanita keluar dari dalam rumah dan akan masuk ke mobil yang terparkir di depan rumah mewah tersebut. Bergegas mereka menghampiri wanita itu. "Wina..Wina."
Wanita itu tampak terkejut dengan kedatangan suami istri tersebut. "Om Rusli, Tante Fatma, kenapa kalian datang secepat ini, bukankah pesta pernikahannya masih minggu depan?"
__ADS_1
Kedua suami istri itu tampak tersenyum malu. "Kami rindu padamu dan Shakila, Wina." kata Fatma sambil tersenyum dengan sedikit menyeringai.