Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Honeymoon


__ADS_3

Aku cukup tenang hari ini karena Sandra bisa bersikap profesional. Mungkin, dia sudah sadar jika aku tak mungkin jatuh cinta padanya. Hari keberangkatan kami ke Singapura pun tiba, kami lalu berpamitan pada Amanda sebelum kami pergi.


"Manda, Papa sama Mama pergi dulu ya. Manda jangan nakal di rumah sama Mba Murni, Bi Siti dan Pak Samsul. Maaf kalau hari ini Papa ga bisa ajak Manda karena saat ini bukan liburan sekolah."


"Tenang aja Pa, Manda ngerti kok, lagian Papa sama Mama kan butuh waktu banyak untuk berduaan, biar Manda cepet punya adik."


Kami pun tertawa mendengar kata-katanya. "Pinter banget anak papa, siapa yang ngajarin?"


"Kakek yang ngajarin, sebelum pergi ke Jogja, kan kakek udah titip pesen, kalo Papa sama Mama harus sering berdua biar Manda cepat punya adik bayi."


Aku dan Kamila berpandangan, lalu kami pun tertawa terbahak-bahak. "Anak pinter, kamu di rumah jangan nakal ya, nanti mama langsung telepon Manda kalo udah sampai."


"Beres Ma, jangan lupa oleh-olehnya adik kecil buat Manda.". Kami semakin tak bisa menahan tawa melihat tingkah lakunya.


Kami sampai di Bandara pukul 06.00 pagi, ternyata Sandra dan Dimas sudah sampai terlebih dahulu. Kami lalu menghampiri mereka yang tampak sedang menikmati kopi.


"Selamat pagi Pak Anton dan Ibu Kamila."


"Selamat pagi, ayo kita check in dulu."


Mereka berdua lalu berjalan dibelakangku dan Kamila. Aku tak pernah melepaskan genggaman tanganku pada Kamila sejak kami sampai hingga duduk di waiting room, tingkah kami akhirnya membuat Dimas tertarik untuk meledek.


"Pak Anton memang Bapak begitu takut kehilangan Ibu lagi ya? sampai tangan pun harus nempel terus kayak perangko." katanya sambil sedikit terkekeh. Dimas memang begitu humoris, sehingga kami memang sering bercanda layaknya teman baik.


"Perlu kamu ketahui Dimas, saya sudah menunggu istri saya selama empat belas tahun hingga kami bisa hidup bahagia seperti ini."


"Wah luar biasa, ternyata bos kita bucin akut sampe nunggu empat belas tahun Ndra, kaya cicilan rumah aja hahahahaha."

__ADS_1


Kami pun tertawa bersama, hanya Sandra yang sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Kok bisa selama itu Pak? Apa Ibu Kamila selalu menolak Bapak?"


"Bukannya menolak Dimas, saya hanya menunggu saat yang tepat." jawab Kamila sambil tersenyum dan melirikku. Sampai saat ini memang aku belum bisa mengendalikan perasaanku yang begitu bahagia, hingga tanpa sadar aku sudah mencium pipinya.


"Tuh kan Ndra, masih pagi kita udah disodorin adegan dewasa, bener-bener nih kita jadi obat nyamuk nemenin orang bulan madu."


Sandra tampak melotot mendengar kata-kata Dimas, namun Dimas malah berbalik meledek Sandra. "Apa neng Sandra juga sekalian pengin bulan madu juga sama aa Dimas?"


Kami semua tertawa mendengar kata-kata Dimas, namun Sandra sepertinya tidak suka dengan candaan Dimas, dia hanya memukul bahu Dimas sambil melotot lalu pamit ke toilet.


Akhirnya kami pun masuk ke dalam pesawat, waktu penerbangan selama dua jam terasa begitu singkat karena sepanjang perjalanan aku merasa begitu bahagia karena ada istri yang ikut menemaniku.


Setelah sampai, kami langsung pergi ke hotel yang telah dipesan oleh Sandra. Sandra memesan tiga buah kamar sesuai permintaanku, satu buah kamar Presiden Suite untukku dan Kamila, sedangkan dua kamar standard room untuknya dan Dimas. Satu hari sebelum aku bekerja, aku ingin menikmati waktuku terlebih dahulu dengan Kamila, setelah sebelumnya aku berpesan pada Dimas dan Sandra untuk mempersiapkan semua yang kami butuhkan esok hari.


Aku dan Kamila lalu merebahkan diri di atas tempat tidur, Kamila lalu asyik memainkan ponselnya. Dia menyempatkan diri untuk menelpon rumah, namun Amanda sudah berangkat ke sekolah jadi dia hanya menitipkan pesan pada Mba Murni tentang kebiasaan Amanda sehari-hari. Selesai menelpon aku yang sudah tak sabar lalu mendekap tubuhnya.


"Aku mau kamu sayang." bisikku di telinganya.


Kamila hanya tersipu malu, lalu aku mulai menc*um bibirnya dan menanggalkan pakaiannya. Kami yang kelelahan lalu tertidur, hingga tak terasa hari sudah begitu siang saat kami membuka mata.


"Jam berapa Mas?"


"Jam dua belas siang Mila, kita mandi dulu yuk lalu makan siang di bawah."


Ternyata saat itu Dimas dan Sandra juga tengah menikmati makan siang, kami lalu menghampirinya.

__ADS_1


"Wah Pak Anton dan Bu Kamila seger banget kayaknya langsung tancap gas nih."


Aku dan Kamila hanya tersenyum mendengarnya. "Makanya kamu buruan nikah, biar bisa kaya kami berdua."


"Saya sih udah siap Pak, tapi neng Sandra masih malu-malu kucing."


Kami lalu tertawa, namun seperti biasanya Sandra hanya melotot dan tampak tidak suka Dimas berkata seperti itu padanya. Setelah selesai makan siang, aku lalu mengecek kesiapan yang telah Dimas kerjakan untuk esok hari. Kami bertiga lalu masuk ke kamar Dimas untuk membicarakan pekerjaan ini. Sedangkan Kamila ijin untuk berbelanja sebentar di luar. Sebenarnya aku khawatir jika dia pergi sendiri, namun dia menyakinkanku jika dia akan baik-baik saja.


Namun setelah aku mengecek semua kelangkapan kerja, ada suatu kesalahan yang Dimas kerjakan dan kami harus memperbaikinya. Saat itu aku baru sadar jika di kamar ini tak ada mesin printer, sehingga aku menyuruh Dimas untuk mengeprint dokumen itu di lantai bawah. Saat itu tinggal aku dan Sandra berdua, aku lalu melangkahkan kakiku untuk keluar dari kamar. Namun tiba-tiba Sandra memeluk tubuhku dari belakang. Aku lalu mencoba melepaskan pelukannya, namun saat aku berhasil lepas dia meletakkan tangannya pada leherku lalu bibirnya menyentuh bibirku, aku kemudian menghempaskan tubuhnya, dan dia pun lalu terjatuh ke lantai.


"Sandra, apa yang sudah kamu lakukan?"


"Pak Anton, saya sudah lama mencintai anda."


"Tapi saya sudah punya istri Sandra, bahkan kamu pun tahu jika aku sangat mencintai istriku!"


"Apa aku kurang cantik dibandingkan dengan Ibu Kamila?"


"Semua wanita itu cantik Sandra, namun akan lebih cantik saat di depan orang yang tepat, dan itu bukan aku karena aku sudah mencintai wanita lain."


"Kenapa aku tak pernah bisa menggantikan Ibu Kamila di hati Bapak? Bukankah selama ini aku yang selalu menemani Bapak, sedangkan dia sudah membuangmu begitu saja selama sepuluh tahun dan baru mau kembali padamu saat dia sudah dicampakkan oleh laki-laki lain. Sadarlah Pak, dia bukan wanita yang baik untukmu."


Aku begitu marah mendengar kata-kata Sandra, lalu akupun menamparnya. "Jaga bicaramu Sandra, karena kamu tidak tahu apapun tentang hubunganku dan Kamila, besok adalah hari terakhir kamu bekerja, setelah pulang dari sini kamu kupecat!!!"


"Lakukan yang Bapak mau, tapi ingatlah aku akan membuat Bapak menyesal karena telah memperlakukan aku seperti ini!!!"


Aku berjalan keluar kamar dan tak kupedulikan lagi kata-katanya. Meski rasa emosi tengah begitu memuncak di dada, aku ingin terlihat profesioal dengan pekerjaanku dan mencoba bersikap tenang karena aku tak ingin seorang pun tahu tentang apa yang telah terjadi antara aku dan Sandra. Aku lalu menghampiri Dimas dan membicarakan pekerjaan kami di lobi hotel tanpa kehadiran Sandra, aku pun sudah begitu muak padanya.

__ADS_1


"MASSSS ANTONNNNN jadi selama di Singapura dulu kamu pernah bermesraan dengan Sandra!!!" kata Kamila berapi-api.


'Mampus, aku lupa kenapa bagian itu malah kuceritakan.' batinku dalam hati.


__ADS_2