Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Rebecca


__ADS_3

[Kamu sudah sampai?]


[Sudah.]


[Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu tinggal bilang saja padaku.]


[Oke beb.] jawab wanita di seberang telepon.


Anton lalu mengendap-endap masuk kembali ke kamarnya, dan tidur di sebelah istrinya.


"Mas kamu habis kemana sih?"


"Habis minum sayang."


"Oh ya udah aku pikir kamu pergi kemana."kata Kamila dengan mata yang masih terpejam.


Seorang laki-laki tampak cemas menunggu seseorang. Beberapa kali dia menghembuskan asap rokok ke udara namun seseorang yang ditunggunya belum terlihat batang hidungnya.


"Ilhammmmm." kata seorang wanita cantik yang sangat modis, sambil berjalan ke arahnya.


"Rebecca!!!"


"Ilham, nice to meet you."


"Kamu makin cantik Becca, bahkan aku hampir tak mengenalimu."


"Gomballlll." kata wanita di hadapannya.


"Kamu mau kemana sekarang?"


"Ke apartemen aku yang dulu."


"Bagaimana kalau kamu menemaniku makan malam, ini masih sore baru pukul sembilan."


"Okay." jawab Rebecca.


Mereka lalu masuk ke The Lobby Lounge , sebuah restaurant bernuansa Asia yang tak jauh dari Bandara. Saat mereka telah selesai memesan makanan tiba-tiba beberapa kali ponsel Ilham berbunyi.


"Kok ga diangkat?"


"Ga penting."


"Pacar kamu ya? hahaha." kata Rebecca sambil tertawa.


"Enak aja, hanya anak kecil yang sedikit mengagumiku."


"Kamu sekarang mainnya sama anak-anak Ham?"


"Ga gitu Becca, kamu tahu sendiri dari dulu aku hanya mencintaimu, tapi kamu yang selalu menolakku."


"You know my reason Ham, i'm child free, dan gue ga mau terikat sama pernikahan."

__ADS_1


"Ya aku mengerti Becca. Karena itulah sampai saat ini aku masih menunggumu."


"Gombal hahahha."


Mereka lalu menikmati makan malam dengan penuh canda, Ilham memang begitu mencintai wanita yang ada di depannya kini, dia juga tahu Rebecca juga mencintainya namun prinsip hidup Rebecca selalu menjadi penghalang cinta mereka.


Awal pertemuan mereka adalah saat mereka berkuliah di tempat yang sama yaitu di Singapura Management University, mereka kian dekat karena mereka tinggal di satu hostel yang sama. Ilham sudah mencintai Rebecca sejak awal pertemuan mereka, Rebecca wanita yang pintar dan ceria. Keceriaan yang dimiliki Rebecca itulah yang membuat Ilham begitu mencintainya hingga sampai saat ini.


Ilham lalu mengantar Rebecca ke apartemen miliknya. "Kamu mau masuk dulu ga Ham? kita habiskan malam ini sambil ngobrol, kita kan udah lama ga ketemu."


"Boleh." jawab Ilham.


Ilham lalu mengikuti langkah Rebecca menuju ke apartemennya. "Maaf aku belum punya banyak makanan untuk menjamu kamu Ilham, malam ini kita minum kopi saja ya."


"Tak masalah Becca, aku selalu menyukai apapun yang kau berikan."


"Mulai gombal lagi deh!"


Di sudut kota yang lain, Amanda tampak begitu cemas, sedari tadi dia menghubungi Ilham tapi tak pernah mendapat jawaban darinya.


"Ada apa dengan Om Ilham?"


Semalaman Amanda tak bisa tidur, sampai keesokan paginya dia tampak tidak bersemangat saat memasuki ruang kuliah.


"Manda kamu sakit?" kara Sabrina.


"Ga kok cuma kurang tidur."


"Pasti mikirin laki-laki tua itu lagi kan!"


"Coba kamu nasehati temanmu itu Sabrina, laki-laki tua itu bukan laki-laki yang baik untuknya. Dia pasti memiliki rencana buruk pada temanmu itu!"


"Bisa diem ngga sih? itu bukan urusanmu!"


"Ih dinasehatin malah ngambek, baper amat."


Mendengar kata-kata Evan, Amanda hanya menatapnya dengan tajam.


"Kak Evan, kamu tambah bikin Amanda bad mood aja deh, mending kamu pergi dari sini!"


Evan lalu beranjak pergi meninggalkan Sabrina dan Amanda dengan hati yang kesal.


"Manda, maafin kakak gue ya."


"Gapapa kok Sabrina."


Saat Amanda pulang kuliah, akhirnya ada sebuah pesan masuk dari Ilham.


Om Ilham:


Maaf Amanda, tadi malam aku begitu sibuk dan untuk beberapa hari kedepan sepertinya kita akan sulit bertemu karena aku sedang mengerjakan proyek terbaruku di Malaysia. Kamu baik-baik ya sayang. Love you.

__ADS_1


Amanda membaca pesan tersebut dengan perasaan lega. Setidaknya kini dia tahu jika Ilham baik-baik saja dan apa yang dikatakan Evan tentang Ilham tidaklah benar.


Beberapa hari hidup tanpa Ilham benar-benar membuat Amanda menjadi kesepian. Saat ada Ilham, biasanya mereka berjalan-jalan mengunjungi berbagai obyek wisata, namun kini Ilham sedang sibuk, dan Amanda harus memahami keadaannya. Dia lalu berniat berkunjung ke tempat Sabrina akhir pekan ini, mereka sudah merencanakan untuk menonton film sepanjang hari.


Sabrina dan Evan tidak tinggal di asrama seperti dirinya. Mereka tinggal di hostel tak jauh dari kampus tempat perkuliahan.


Amanda sudah membawa berbagai makanan ringan dan minuman bersoda untuk menemani mereka menonton film. Awalnya Evan tidak tertarik, namun akhirnya dia ikut bergabung bersama Amanda dan Sabrina.


Saat mereka asyik menonton tiba-tiba ponsel milik Sabrina berbunyi, dia lalu mengangkat telepon tersebut. Seketika wajah Sabrina berubah menjadi panik.


"Ada apa Sabrina?"


"Aduh Manda kamu aku tinggal sebentar ya, buku catatan milik Pearly terbawa olehku. Aku harus mengembalikannya karena dia belum mengerjakan tugas dari Profesor Felix."


"Ya sudah kamu antar saja dulu."


"Iya Manda, ga lama kok."


"Oke."


Sebenarnya dalam hati kecil Amanda dia tidak nyaman hanya tinggal berduaan dengan Evan, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Eh anak manja, loe udah lama ya ga jalan sama laki-laki tua itu, loe udah ditinggalin sama dia ya?"


"Hati-hati kalau berbicara Evan."


"Kamu yang harus berhati-hati dengannya."


"Kehidupan pribadiku bukanlah urusanmu."


"Bisa jadi urusanku karena aku tak ingin sesuatu terjadi padamu."


Amanda terkejut mendengar kata-kata Evan. "Ga usah GR deh, gue cuma salah ngomong."


Kamila tampak sibuk memperhatikan nilai-nilai Amanda yang dikirimkan pada mereka. "Mas, kamu coba lihat deh, nilai-nilai Amanda kok turun ya? ga kaya semester sebelumnya."


"Coba aku lihat."


Kamila lalu memberikan satu bendel kertas pada suaminya. "Kenapa bisa sedrastis ini ya?" jawab Anton tak kalah panik.


"Kamu masih sering berkomunikasi dengan Amanda kan sayang?"


"Tentu, setiap hari aku mengirimkan pesan dan beberapa hari sekali aku selalu menelponnya."


"Lalu apakah ada yang berbeda pada dirinya?"


"Sepertinya beberapa hari ini dia tidak seceria biasanya, lalu liburan semester ini dia juga tidak pulang ke rumah, dia beralasan jika akan mengikuti acara kemahasiswaan di kampus, tapi aku tak begitu percaya padanya. Aku mengenal Amanda sejak kecil, aku bahkan tahu kapan saat dia berbohong padaku."


"Sepertinya kita harus mengunjungi Amanda sayang, aku takut sesuatu terjadi pada Amanda."


"Benar Mas, aku takut ada yang mengganggu pikirannya sampai dia menjadi berubah seperti ini."

__ADS_1


"Akhir pekan kita ke sana. Kamu persiapkan dirimu dan anak-anak, mereka semua kita bawa, sekalian ajak Mba Murni biar ada yang mengurusnya."


"Iya Mas."


__ADS_2