Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Question


__ADS_3

Kulihat seorang laki-laki memakai pakaian warna biru menghampiriku, keadaannya begitu menyedihkan. Luka lebam hampir memenuhi bagian tubuhnya. Melihat kedatanganku, raut kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya, senyumnya pun menghiasi bibirnya. Namun sungguh aku sudah begitu muak melihatnya.


Melihat tubuhku yang bergetar, Anton lalu menggenggam tanganku. "Tenang sayang, ada aku di sini, aku akan melidungimu jika sampai dia berani macam-macam padamu dia takkan kuberi ampun."


"Kamila... Kamila sayang kamu akhirnya datang menemuiku, aku tahu kamu akan datang padaku, aku yakin kamu pasti sudah begitu merindukanku huahahhahahaha."


"Jaga bicaramu Randi, tak pernah terbersit sedikitpun keinginan untuk berjumpa denganmu!"


"Jangan jual mahal Kamila sayang, aku tahu kamu masih begitu mencintaiku, hanya ada aku di hatimu, bukankah begitu sayang?"


"Maaf Tuan Randi, jaga mulut anda di depan isteri saya!"


Randi lalu menatap Anton tajam kemudian kembali berbalik menatapku. "Kamila, benarkah kau sudah menikah lagi dengan lelaki seperti dia Kamila, bukankah dia juga sudah membuangmu? Lalu apakah laki-laki terhormat seperti dia masih mau menerima wanita bekas yang sudah kucampakkan?" katanya sambil terkekeh.


Emosiku terasa begitu memuncak mendengar kata-katanya, tangan ini bahkan sudah melayang, namun Anton menghentikan ayunan tanganku. "Sabar sayang, jangan terpancing oleh kata-katanya."


Mendengar kata-kata Anton, aku lalu mencoba lebih bersabar. "Randi sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan denganmu."


"Katakan saja sayang, tidak usah sungkan padaku."


"Randi, anak kandungmu mengalami kecelakaan dan saat ini kami membutuhkan donor ginjal untuk dia."


"Ooohhh jadi kau memintaku untuk mendonorkan ginjalku pada anak laki-lakiku?"


Kemudian Randi kembali tertawa " Tenang saja sayang tentu saja aku mau, apapun akan kulakukan untuk anak kita tercinta, sebagai ayah yang baik aku akan menyelamatkan nyawanya."


Aku merasa begitu lega mendengar kata-kata Randi, namun dia ternyata belum selesai berbicara. "Tapi tak semudah itu Kamila sayang, ada syaratnya, kalian harus ingat di dunia ini tidak ada yang gratis huahahahahhaha."


"Apa yang anda minta Tuan Randi, uang, perusahaan, jabatan? Akan kuberikan untuk anda!!"


"Oooh sabar Tuan Anton anda terlalu terburu-buru." Randi lalu memalingkan pandangannya padaku "Kamila sayang ternyata suamimu sangat bernyali memberikan semua padaku, tapi bukan itu yang aku minta!"


"Kamu memang benar-benar jahat Randi cepat katakan apa maumu, jangan banyak membuang waktu kami karena Kevin membutuhkanku disampingnya!" bentakku.

__ADS_1


"Sabar sayang, kamu sama saja tidak sabaran seperti suamimu, sebenarnya aku hanya menginginkan tubumu Kamila sayang, aku rindu hangatnya tubuhmu dan manisnya kecupan bibirmu huhahhahahaha."


"Dasar penjahat, jaga mulut anda atau aku akan membuat anda menyesal seumur hidup telah berkata tidak pantas pada kami berdua!" kata Anton sambil menghantam wajah Randi berkali-kali, dia sebenarnya sudah cukup bersabar menghadapi Randi, tapi Randi memang sudah sangat keterlaluan.


"Wow luar biasa Tuan Anton, tadinya aku sudah mengambil keputusan akan memberikan ginjal ini pada anakku tapi melihat kalian bertindak sangat tidak terpuji padaku, aku akan mengurungkan niatku kembali, cari saja ginjal orang lain yang cocok dengan anak itu."


"Dasar kurang ajar kamu Randi, tidak usah banyak berbasa-basi, kamu yang sudah memancing emosi kami berdua!" kataku, emosiku sudah tak bisa kubendung.


Randi hanya tersenyum sinis ke arah kami, lalu tubuhnya berbalik masuk kembali ke dalam komplek rutan. Aku hanya bisa menangis dalam pelukan Anton, kini harapan Kevin untuk memperoleh kesembuhan semakin tipis.


"Sudah sayang, mari kita pulang kita pikirkan lagi solusinya, semoga masih ada jalan keluar."


Saat berjalan meninggalkan komplek rutan tiba-tiba ponselku berbunyi. "Mas Mba Rani!"


Anton lalu mengangguk "Angkat saja sayang siapa tahu penting."


Kudengar suara panik Mba Rani sambil menangis "Mba kenapa Mba apa yang sebenarnya terjadi?"


"Kenapa dengan Kevin Mba?" namun tidak ada jawaban dari Mba Rani, sesaat kemudian sambungan telpon terputus.


"Mas kita harus cepat ke rumah sakit, Mba Rani tampak begitu panik, tapi aku ga tau kenapa."


"Ya sudah kita harus secepatnya pergi ke rumah sakit Mila, siapa tahu Mba Rani membutuhkan bantuan kita"


"Iya Mas."


Kami lalu bergegas masuk ke dalam mobil, namun ketika Anton mulai melajukan mobilnya, sebuah dentuman keras yang berasal dari dalam rutan mengagetkan kami berdua.


\*\*\*\*\*\*\*


Kulihat Brian keluar dari sebuah gedung Sekolah Dasar dan berlari ke arahku. "Mamaaa..."


"Gimana tadi belajarnya sayang?"

__ADS_1


"Seneng Ma, ada teman baru di kelas namanya Salsa, dia cantik seperti Mama."


"Duh anak mama, kecil-kecil udah tau cewe cantik."


"Iya dong kan Papa yang ngajarin, ups aduh keceplosan deh."


"Dasar kamu sama Papa sama saja."


"Mamaaaaaa..." sebuah suara kembali mengagetkanku.


"Kevin gimana tadi belajarnya sayang?"


"Beres Ma, seperti biasa Kevin kan selalu dapat nilai terbaik di kelas."


"Hebat anak mama, kalian berdua memang anak-anak kebanggaan mama"


"Iya dong siapa dulu Mamanya." kata mereka serempak.


Aku memandang Kevin dan Brian yang duduk di tempat duduk bagian belakang mobil. Kehidupan memang sebuah rahasia illahi, Tuhan adalah penulis terhebat dalam skenario kehidupan. Hanya Dia yang mampu membolak balikan hati manusia, masih terngiang dalam benakku kata-kata ejekan yang Randi tunjukkan padaku dan Anton.


Namun beberapa saat kemudian, sebuah bencana di dalam rutan karena ledakan sebuah tabung gas besar meluluh lantakkan beberapa bagian bangunan rutan. Salah satu bagian yang runtuh adalah sel kamar Randi yang tidak begitu jauh dari dapur.


Saat itu Randi tengah berjalan masuk ke dalam kamar, dia tidak sempat menghindar dan tertimbun reruntuhan bangunan, keadaanya sungguh sangat memprihatikan. Beberapa saat sebelum kematiannya, dia berpesan untuk mendonorkan ginjalnya pada Kevin.


Saat itu aku sedang menangis melihat Kevin yang tengah berjuang antara hidup dan mati setelah mendapat telepon dari Mba Rani, saat aku begitu putus asa, sebuah kabar baik akhirnya membuatku begitu bahagia.


Tak terasa sudah tiga tahun berlalu, kini Kevin sudah tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Tak pernah terbersit olehku, aku kini memiliki kehidupan yang begitu sempurna setelah banyak kejadian buruk menimpaku.


Bahkan aku bisa kembali berkumpul dengan anak yang telah kuberikan pada orang lain. Sungguh terasa luar biasa bagiku. Kini aku tak perlu lagi mencari orang tua untuk bayiku, karena aku adalah orang tuanya. Aku yang akan merawatnya sampai aku mati.


"I love you!" sebuah bisikan di telingaku membuyarkan lamunanku. Kemudian sosoknya beralih menghampiri Amanda, Kevin dan Brian. Aku hanya melihat mereka yang tertawa dan bercanda bersama, ya sebuah keluarga kecil yang dulu begitu kuimpikan, sekarang terwujud didepanku.


"Terimakasih Tuhan Hidupku Sempurna"

__ADS_1


__ADS_2