
PLAKKKKKK...PLLLAAAAAKKKKKKK
Berulang kali Ayah menamparku dengan tamparan yang begitu keras sampai ujung bibirku mengeluarkan sedikit darah.
Aku tidak mau melawan dan membantah karena aku sadar, ini semua adalah kesalahanku. Mba Rani lalu menghampiriku.
"Ingat Mila, setelah prosesi kematian Ibu selesai kamu harus segera angkat kaki dari rumah, biar aku dan Ayah yang merawat Amanda!"
Lalu mereka semua pergi meninggalkanku menuju kamar jenazah, aku hanya bisa duduk di atas lantai rumah sakit. Aku menangis sesegukan, untuk berdiri rasanya pun tak sanggup. Mungkin diriku sudah terlalu banyak dosa sampai tubuhku pun tak sanggup lagi menopangnya.
Tak kuhirauan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang berlalu-lalang. Sekuat tenaga aku mencoba berdiri lalu aku pulang ke rumah dan menunggu keluargaku membawa pulang jenazah ibu.
Orang-orang sudah ramai di rumahku. Tampak Amanda begitu sedih dan menangis tanpa henti. Ibu memang begitu berarti dalam hidupnya, Ibu yang sudah merawat Amanda dari bayi sampai sebesar ini.
Tak berapa lama Mba Tari dan suaminya datang dari Jakarta, dia yang telah mendengar ceritaku dari Mba Rani hanya mendekatiku sebentar tanpa senyum terukir di bibirnya. "Ingat, setelah semua proses ini selesai aku akan buat perhitungan denganmu!"
Aku hanya bisa menangis mendengarnya, semua keluargaku memusuhiku dan begitu membenciku. Akhirnya jenazah ibu pun datang dari Rumah Sakit. Kulihat wajah ibu yang terakhir kalinya, telihat begitu damai terukir senyum tipis mengembang di wajahnya. Aku pun memeluknya dan meminta maaf di telinganya 'Ibu maafkan Mila, Mila sayang sama Ibu.' bisikku.
Mba Tari masih di rumah ini sampai satu minggu kami selesai mengadakan pengajian. Namun tak pernah ada percakapan di antara kami berdua, begitu pula dengan Ayah yang masih mengacuhkanku. Namun tak apa bagiku, yang terpenting mereka semua masih sangat menyayangi Amanda itu sudah cukup.
"Mila kamu ikut, kami semua ingin berbicara denganmu." kata Mba Rani. Kulihat Ayah dan Mba Tari juga sudah duduk menungguku.
"Mila kamu tahu kan kita sudah membuat kesepakatan, meski kini Ibu telah tiada, bukan berarti kamu bisa bebas dari kesepakatan kita dulu, kami semua tidak ingin menanggung aib atas dosa yang telah kamu lakukan." kata Mba Rani.
Aku hanya terdiam lalu mengangguk sambil mengelus perutku. Perutku sebenarnya sangat kecil, mungkin bobot bayi ini sangat rendah karena aku begitu banyak tekanan dan membuatku stres sehingga jarang mengkonsumsi makanan dan susu untuk Ibu hamil.
"Mba Tari sudah memikirkan segalanya, dan anakmu akan dia berikan pada Desi, teman Mba Tari yang sudah lama menikah tapi belum memiliki keturunan, satu bulan lagi saat usiamu sudah memasuki bulan ke enam datanglah ke rumahku Mila, dan ingat kamu jangan terlalu sering keluar dari rumah, kami tak ingin orang-orang tahu akan keadaanmu!"
Hatiku begitu lega ketika mendengar sudah ada orang baik yang mau menerima bayiku, aku tidak perlu merasa bingung akan memberikan bayi ini pada siapa. Masa depannya tidaklah seburuk yang aku bayangkan. Meski sebenarnya aku sangat sedih harus berpisah dengannya, bagaimanapun juga dia adalah anak kandungku.
"Iya Mba Tari kalau ini untuk kebaikan kita bersama aku mau memberikan bayi ini pada Mba Desi."
__ADS_1
"Bagus, satu bulan lagi mba tunggu kedatangan mu di Jakarta, dan ingat jangan pernah mencoba untuk kabur dari situasi ini, atau kalau tidak kami tidak akan membiarkanmu bertemu lagi dengan Amanda!"
"Iya Mba Mila tahu, Mila ga akan berbuat kesalahan lagi."
"Ya sudah Tari pulang dulu ya yah, Rani, jaga Ayah dan Amanda baik-baik, tetap awasi Kamila jangan sampai dia berulah lagi!"
Aku hanya bisa melihat Mba Tari berpamitan pada Ayah dan Mba Rani, tapi tidak padaku. Aku lalu masuk ke dalam kamar, kuusap lagi perut ini.
"Nak waktu kita tinggal sebentar, beberapa bulan lagi kamu akan bertemu dengan orang tua yang akan merawatmu."
Sebuah tendangan kurasakan, aku begitu bahagia merasakan bayi ini merespon kata-kataku. 'Nak,,," kata-kataku tertahan, aku tak sanggup lagi untuk meneruskan rasanya sudah begitu sakit membayangkan perpisahan ini dengannya.
Akhirnya satu bulan berlalu, hari ini aku bersiap-siap untuk pergi dari rumah. Setelah sekian lama diam, akhirnya Ayah mau berbicara padaku."Hati-hati di jalan Nak, dalam lubuk hati yang paling dalam Ayah tetap menganggap dan menyayangi bayi dalam kandunganmu, tapi tolong mengertilah dengan keadaan kami semua Mila, ini juga untuk kebaikanmu kedepan."
"Iya yah, Mila mengerti, Mila juga tidak ingin Amanda ikut merasakan dampak dari perbuatan Mila."
Ayah hanya mengangguk, lalu untuk pertama kalinya ayah menyentuh perutku dan merasakan tendangan anakku."Lihat dia menendang tangan Ayah Mila, kamu juga cucu kakek Nak, suatu saat kita pasti akan bertemu." katanya sambil tersenyum meski air mata juga mengalir deras di pipinya.
"Sudah mba, aku titip Ayah dan Amanda ya Mba."
"Tenang saja, mba dan Ayah akan merawat Amanda dengan baik, sejak kecil mba sudah anggap dia anak kandung mba sendiri."
"Terimakasih Mba" kataku sambil menangis, Amanda sedang bersekolah, aku memang sengaja pergi saat dia sedang tidak berada di rumah agar aku tidak terlalu berat meninggalkannya, aku tak sanggup melihat wajah sedih mereka saat aku pergi.
"Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu saat kau sudah bisa menitipkan anakmu pada orang yang tepat. Percayalah Mila ini adalah keputusan terbaik, kau tentu tidak ingin anakmu mendapat hinaan dari orang lain, sangat tidak baik untuk perkembangan psikologis anakmu, Ayah juga ingin menjaga perasaan Amanda agar tidak diolok-olok teman-temannya jika orang-orang tahu kamu sedang hamil."
"Mila mengerti yah, terimakasih atas kebaikan kalian, yuk Mba Rani kita berangkat sekarang sepertinya sudah mau hujan." aku lalu mengikuti Mba Rani masuk ke dalam mobilnya.
Hari sudah begitu mendung, aku tidak mau jika hujan turun kami masih berada di jalan karena bisa mengganggu penglihatan saat Mba Rani sedang menyetir mobil, mata Mba Rani minus cukup tinggi, tentu akan membuatnya merasa kesulitan mengendarai mobil di saat hujan. Namun belum lama kami melaju tiba-tiba mobil Mba Rani mogok. Mba Rani pun tampak panik dan kebingungan.
Berulang kali dia membuka kap depan mobil, namun kami hanyalah seorang wanita yang tak tahu apa-apa mengenai mesin mobil.
__ADS_1
"Mba, Mila naik taksi saja ke bandara, takut telat, sebaiknya Mba menelpon Mas Ardi untuk meminta bantuan mencarikan montir mobil."
"Benar kamu tidak apa-apa Mila?"
"Gapapa Mba aku bisa jaga diri, aku juga sudah memesan taksi online, mungkin sebentar lagi datang."
"Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya, kalau sudah sampai di Jakarta kamu kabari mba."
"Iya Mba" lalu aku berjalan ke arah jalan raya untuk memudahkanku agar cepat mendapatkan taksi. Kulihat sebuah mobil berwarna hitam menghampiriku dan berdiri tepat di depanku. 'Ini pasti taksi yang kupesan.'. Lalu aku langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengecek aplikasi di ponselku.
"Ke bandara ya Pak." kataku.
Setelah melaju cukup jauh meninggalkan Mba Rani tiba-tiba mobil berhenti, aku begitu terkejut, dadaku pun berdegup sangat kencang. Kudengar pengemudi mobil tertawa, aku seperti tidak asing mendengar suaranya.
"Selamat pagi Kamila sayang, kamu mau ke mana?" katanya sambil tak henti-hentinya tertawa.
"Bukan urusanmu Randi!" Aku lalu mencoba membuka pintu mobil, namun sialnya pintu telah terkunci.
"Galak amat, santai saja Mila ga usah coba kabur dari sini, kamu tak akan bisa pergi dariku sebelum kita bersenang-senang sayang, apa kamu tak merindukan kehangatan tubuhku? Apa kamu tidak rindu hebatnya bibirku saat menciummu?"
"Hentikan kata-katamu aku jijik padamu, dasar lelaki hidung belang yang tak bertanggung jawab, tempatmu hanya pantas di neraka jahanam!!!"
Mendengar kata-kataku raut wajah Randi berubah penuh kemarahan, tawanya terhenti dan menatapku begitu tajam. Kemudian dia mendekat dan memukul tengkukku. "Rasakan ini dasar wanita j*lang!!!". Aku lalu kehilangan kesadaran.
Mata ini rasanya telah begitu lama tertutup, aku baru terbangun saat aku merasa cairan menetes pada wajahku. Tubuhku dan tanganku terikat, aku ternyata disekap Randi di sebuah rumah kosong.
"Sudah bangun Mila sayang?" katanya terkekeh sambil memegang botol air mineral yang tadi diteteskan padaku.
"Bebaskan aku Randi, dasar bi*dab!"
"Tentu aku akan membebaskanmu Mila tapi terlebih dahulu kamu harus melayaniku, aku sudah rindu padamu." Lalu dia bergerak mendekatiku.
__ADS_1
"Tidaaakkkkkk Tolonggggggg...Tolonggg!!!" aku hanya bisa berteriak berharap ada yang menolongku.