Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Sebuah Berita


__ADS_3

"Bagaimana kondisimu Ilham?"


"Anton, apa yang sebenarnya telah terjadi? Aku harus menghabisi Wiguna!"


"Tenanglah Ilham, lihat kondisimu saat ini."


"Apa yang sebenarnya telah terjadi Anton?"


"Kendalikan emosimu Ilham! Lihatlah keadaanmu sekarang!"


"Tapi aku harus menghabisi Wiguna, Anton!"


"Hapuskan semua dendammu Ilham, semua sudah berakhir."


"Apa maksudmu?"


"Saat kau sudah sembuh kau akan mengetahui segalanya Ilham." kata Anton lalu pergi meninggalkan Ilham.


Beberapa saat setelah Anton pergi, seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan. "Selamat siang Ilham, bagaimana keadaanmu hari ini?"


"Baik Rebecca."


Rebecca lalu memegang tangan Ilham. "Ilham semuanya sudah berakhir, maukah kamu memperbaiki hubungan kita kembali Ilham?"


"Tapi aku harus membunuh Wiguna!"


"Sudah jangan katakan itu lagi Ilham, Wiguna sudah tiada, hapuskan semua rasa dendam di hatimu!"


"Benarkah yang kau katakan Rebecca?"


Rebecca hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Hahahaha akhirnya orang jahat itu pulang ke alam baka! Kakak, dendam kalian sudah kubalaskan! Hahahaha."


Anton menghampiri Kamila yang duduk di kamar, raut kesedihan masih terpancar jelas di matanya. "Sayang."


"Mas, kamu sudah pulang? Bagaimana keadaan Ilham?"


"Dia sudah siuman sayang."


"Dia sudah siuman Mas?"


"Iya sayang."


"Mas temani aku untuk bertemu dengan Ilham."


"Apa kamu yakin?"


Kamila mengangguk, mereka berdua lalu pergi ke rumah sakit. Dengan langkah sedikit ragu, Kamila membuka pintu kamar perawatan. Saat pintu dibuka, tampak Ilham sedang bersanda gurau dengan Rebecca. Melihat kedatangan Kamila, sebenarnya Ilham sedikit terkejut, namun kini dia sudah sedikit mengendalikan emosinya.

__ADS_1


Anton menggenggam tangan Kamila saat mendekat pada Ilham.


"Selamat siang Ilham, maaf mengganggu, bagaimana kondisimu?"


"Seperti yang kau lihat, apa yang kau inginkan Kamila, tidak usah berbasa-basi."


"Ilham aku ingin meminta maaf atas perbuatan Ayahku, sungguh aku tak tahu dia bisa berbuat sekejam itu pada kedua kakakmu. Maaf Ilham, maafkan aku, sungguh aku sangat menyayangi dan menghormati Pak Arif dan Bu Winda." kata Kamila sambil berlutut di samping ranjang Ilham.


"Sayang jangan seperti ini." kata Anton.


"Kamila berdirilah, Ilham bisa mengerti keadaanmu. Benar kan Ilham?" kata Rebecca sambil memelototkan matanya pada Ilham.


"Ya Kamila, semua sudah berakhir." jawab Ilham


"Maafkan aku Ilham, sungguh aku tak tahu apapun tentang semua ini. Terimakasih karena sudah berbesar hati mau menerima maafku."


"Aku mengerti kondisimu Kamila, aku tahu kamu tak terlibat dalam pembunuhan Kakakku."


"Ilham tolong hapus semua rasa dendammu, mari menjalin hubungan yang baik dengan kami, bagaimanapun juga Kevin pernah menjadi bagian dalam keluarga kalian."


"Tentu Anton, kami akan tetap menjalin hubungan baik dengan kalian karena tugasku sudah selesai. Karena tujuan hidupku adalah kematian Wiguna." kata Ilham sambil menyeringai.


Mendengar kata-kata Ilham, raut wajah Kamila pun berubah, kesedihan terpancar kembali di wajahnya. Melihat kondisi istrinya, Anton lalu segera berpamitan.


"Baik kalau begitu, kami pamit pulang dulu, kami sedang banyak urusan. Cepat sembuh Ilham."


"Terimakasih."


"Sayang, sudah jangan bersedih. Berdamailah dengan keadaan sayang, aku mengerti kamu dalam keadaan yang tidak mudah."


"Aku bingung Mas."


"Aku tahu sayang, disatu sisi dia adalah Ayahmu, tapi di sisi yang lain dia sudah berbuat kesalahan yang begitu besar padamu. Tapi sayang, bagaimanapun juga dia adalah orang tuamu, tanpa dirinya kamu tidak akan pernah lahir di dunia ini, kamu harus tetap menjadi anak yang berbakti pada dirinya sayang, hapus semua rasa benci pada Ayahmu. Kamila ini sudah takdir, kamu harus berbesar hati menerima semua ini."


"Kamu benar Mas, tidak selayaknya aku membenci Ayah, sikapku memang kemarin terlalu berlebihan sampai tidak mau menghadiri pemakaman Ayah."


"Iya sayang, tugasmu sekarang sebagai anak adalah mendoakan Ayahmu."


"Iya Mas, kamu mau kan temani aku ke makam Ayah?"


"Tentu." jawab Anton.


Ilham sedang memainkan ponsel di dalam kamarnya. Secara tidak sengaja dia melihat sebuah berita yang memuat tentang kecelakaan dirinya dan Wiguna. Dari berita itu, Ilham tahu jika saat itu, mereka di bawa ke rumah sakit dalam kondisi yang begitu parah. Sebenarnya dia tidak terlalu mengingat kronologisnya karena semua terjadi begitu cepat.


"Rebecca, bisakah kau ceritakan keadaanku saat aku dibawa ke rumah sakit? Apa kau tahu bagaimana kondisiku saat itu?'


"Ya, aku bahkan ikut dalam evekuasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian."


"Bagaimana kalian bisa menemukan aku Rebecca? Karena yang kuingat dari kecelakaan itu, aku berkelahi di dalam mobil dengan Wiguna, lalu tubuh Wiguna terhempas ke belakang dan aku bisa membebaskan leherku yang saat itu terikat tali, setelah itu aku lompat dari dalam mobil dan aku tak tahu apa yang kemudian terjadi. Tolong ceritakan semua padaku Rebecca, termasuk apa yang telah terjadi dengan Wiguna!"

__ADS_1


Rebecca lalu mengangguk dan mengambil nafas panjang. "Saat kami ditawan oleh anak buahmu, salah satu anak buahmu menghubungi dirimu, namun kamu tidak bjsa lagi dihubungi, bahkan beberapa saat kemudian setelah ponselmu berhasil diangkat, terdengar beberapa kali ledakan. Kami begitu panik, akhirnya anak buahmu melepaskan kami dan memberitahukan lokasi dimana kamu akan membunuh Wiguna. Aku dan Anton lalu pergi ke tempat itu dengan membawa polisi. Namun saat itu mobil Wiguna sudah hancur di dalam jurang, kami lalu memanggil tim SAR untuk mencarimu dan Wiguna. Akhirnya mereka menemukan kalian dalam kondisi yang begitu memprihatinkan."


"Apa yang terjadi dengan Wiguna?"


"Kondisinya sama parahnya denganmu, namun dia memiliki cukup banyak luka bakar sehingga kondisinya sulit untuk diselamatkan, sedangkan kamu Ilham, kamu tidak memiliki luka bakar, tetapi begitu banyak luka di tubuhmu karena saat kecelakaan itu tubuhmu terpental dan mengenai batu-batuan sehingga banyak luka yang kau alami, tulang rusukmu yang sedikit retak membuat organ hatimu mengalami sedikit kerusakan."


"Lalu siapa yang sudah mendonorkan hatinya untukku sayang?"


"Wiguna" jawab Rebecca.


Kamila masih menangis di atas pusara milik Ayahnya. Namun tiba-tiba sebuah usapan di bahunya membuyarkan tangisnya.


"Kamila, maafkan aku."


"Ilham?"


"Bukankah kamu masih sakit Ilham?"


"Ya tapi aku memaksa pihak rumah sakit untuk memberikan aku ijin pergi ke makam ini sebentar."


"Kamila, maafkan aku, Ayahmu meninggal karena perbuatanku."


"Sudahlah Ilham, Ayahku lebih banyak berbuat salah padamu, dia juga sudah membunuh kedua kakakmu."


"Tapi dia juga sudah menyelamatkan aku Kamila, tanpa dia aku tak bisa hidup lagi di dunia ini."


"Ya Ilham, ini semua adalah takdir."


Ilham lalu mendekat ke pusara milik Wiguna. "Terimakasih Tuan Wiguna, meskipun ada hal buruk yang telah terjadi diantara kita, kamu adalah penolongku. Aku berhutang nyawa padamu. Terimakasih banyak." kata Ilham dengan sedikit terisak.


Anton lalu mendekat pada Ilham. "Mari saling memaafkan dan berdamai dengan masa lalu Ilham, lupakan semua yang sudah terjadi, mulai hari ini kita jalin hubungan yang jauh lebih baik lagi. Bukankah kita akan menjadi saudara?"


"Saudara?" kata Ilham."


"Apakah kamu belum tahu jika Rebecca kini sudah berubah pikiran? Apa kamu tidak menyadari perubahan pada tubuh Rebecca?"


"Apa maksudmu Anton? Aku tak mengerti?"


"Tanyakan pada Rebecca."


"Ada apa Rebecca?"


"Nanti kita bicarakan di rumah sakit. Ayo kita pulang, bukankah kamu juga tidak boleh terlalu lama meninggalkan rumah sakit?"


Ilham lalu mengangguk."Anton, Kamila kami pamit dulu."


Anton dan Kamila pun mengangguk, tak lama mereka juga ikut pulang. Saat dalam perjalanan pulang ponsel Kamila tiba-tiba berbunyi.


"Siapa sayang?"

__ADS_1


"Wina Mas."


"Wina?"


__ADS_2