
"Papa."
"Om." kata Evan sambil tersipu malu.
"Kamu siapa?"
"Perkenalkan nama saya Evan, teman Manda Om."
"Ini sudah sore, lebih baik kamu pulang."
"Mas, biarkan saja. Evan, ikut kita makan malam yuk." kata Kamila.
"Sayangggggg." kata Anton sambil mencubit Kamila.
"Apaan sih, biarin aja deh Mas."
Evan lalu masuk ke dalam rumah dan ikut makan malam bersama mereka. Evan tampak begitu mudah akrab dengan Kevin dan Brian meskipun Anton tidak terlalu menyukainya.
"Evan teman kuliah Manda?"
"Iya Tante, kami ambil jurusan yang sama, sayangnya Manda sudah ga kuliah lagi di Singapore, jadi saya ke sini untuk sekedar bertemu dengan Manda."
"Sekedar bertemu atau kangen sama anak saya?" kata Anton.
"Mas." kata Kamila sambil melotot. Tapi Anton tetap cuek sambil menyantap makanannya.
"Ya sudah, tante sama om ke atas dulu ya, kalian ngobrol-ngobrol aja dulu."
"Sayang, kamu gimana sih, aku kan belum selesai makan."
"Belum selesai gimana Mas, piring kamu aja udah kosong." kata Kamila sambil terkekeh.
"Kevin, Brian, kita ke atas yuk sama Mama."
Kevin dan Brian lalu mengikuti Kamila, Anton pun akhirnya mengikuti mereka bertiga. Satu jam berlalu, Kevin dan Brian sudah tertidur, namun Anton masih tampak gusar.
"Mas, kamu kenapa sih?"
"Sayang, ini udah malem, tapi kamu lihat kan anak itu belum juga pulang."
"Udahlah Mas, namanya juga anak muda, kaya kamu ga pernah muda aja."
Anton lalu keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu, tampak Evan masih asyik bercanda dengan Amanda. Mereka pun terkejut dengan kedatangan Anton.
"Evan, sepertinya ini sudah malam, dan sudah waktunya Amanda untuk beristirahat."
"Oh iya maaf Om, kalau begitu Evan pamit pulang dulu Om."
Evan lalu menjabat tangan Anton, setelah itu Anton bergegas masuk ke dalam sambil memelototkan matanya pada Amanda. Amanda lalu mengantar Evan sampai ke halaman depan rumah.
"Amanda, gue pulang dulu ya."
__ADS_1
"Iya Evan hati-hati."
Tiba-tiba Evan mendekatkan tubuhnya pada Amanda, lalu sebuah kecupan pun mendarat di bibir Amanda. Saat Evan akan beranjak pergi, Amanda menarik tangannya lalu menci*m bibir Evan, hingga akhirnya mereka pun berci*man cukup lama, sampai mereka dikejutkan oleh suara gonggongan anjing milik tetangga Amanda. Amanda lalu melepaskan bi*irnya pada Evan.
"Sampai ketemu besok Amanda."
"Iya Evan, hati-hati di jalan."
Anton lalu masuk ke dalam kamar, Kamila yang sudah memejamkan mata terkejut melihat kedatangan suaminya yang terlihat begitu gusar.
"Mas kamu habis darimana?"
"Menyuruh anak itu pulang sayang."
"Mas, kamu terlalu berlebihan, mereka kan masih muda, biarkan saja mereka menikmati masa muda, kamu juga dulu seperti itu kan Mas?" kata Kamila sambil meledek.
"Tapi kan beda sayang, saat kita kuliah kita tidak seperti mereka."
"Ya beda lah Mas, kamu tiba-tiba ninggalin aku untuk kuliah di Australi."
"Mule lagi nih." kata Anton sambil mendekat pada Kamila dan mendekap tubuh istrinya.
"Mas, bukankah tadi sudah di hotel?"
"Itu kan di hotel, bukan di rumah. Kalau di rumah beda lagi ceritanya sayang."
"Dasar laki-laki..."
***
Sepasang suami istri di dalam sebuah rumah reot sedang duduk di meja makan, wajah sang istri tampak begitu masam sambil melirik ke arah suaminya.
"Pa, sudah berapa tahun kita hidup menderita seperti ini? Mau sampai kapan Pa?"
"Sabar Ma."
"Sabar-sabar, sudah tujuh tahun kita hidup seperti ini Pa, lagian Papa cari kerja ga pernah bener sih."
"Ma, Papa udah tua, mana bisa Papa kerja di kantor seperti dulu lagi."
"Tapi lihat Pa, lihat keadaan rumah kita, mungkin sebentar lagi rumah kita akan roboh, lalu lihat makanan di meja makan ini, hanya ada tahu, tempe, dan ikan asin. Bahkan aku sampai lupa rasanya bagaimana makan makanan enak."
"Ma, mama harus ikhlas menerima keadaan kita saat ini, kalau saja Mama tidak terlalu memanjakan Reno, hidup kita pasti tidak seperti ini."
"Apa-apaan sih kok Papa malah salahin Mama."
"Memang seperti itu kan kenyataannya Ma, dulu kita terlalu mengandalkan keponakan kita, sehingga kita tidak memikirkan masa depan Reno, hidupnya terlalu bebas sampai masa depan dia hancur akibat ulahnya sendiri, bahkan kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi Ma."
"Sabar Pa, sebentar lagi Reno juga keluar dari Panti Rehabilitasi, Mama yakin kalau dia sudah bebas, pasti dia akan menyadari semua kesalahannya dan menjadi anak yang berbakti pada kita."
"Semoga saja Ma."
__ADS_1
"Sebenarnya semua gara-gara wanita sialan itu, mentang-mentang dia kaya, dia bisa berbuat seenaknya pada kita. Padahal kita adalah orang yang harus dia hormati."
"Ma, tidak usah berkata seperti itu. Selama ini memang kita hanya hidup menumpang di rumah mereka, dia berhak melakukan apapun pada keluarga kita. Apalagi keponakkan kita sudah berbuat jahat pada mereka."
"Ih Papa, kok malah belain dia sih. Jangan-jangan Papa suka ya sama dia."
"Mama kok malah punya pikiran seperti itu, memang inilah kenyataannya Ma, keponakan kita sudah berbuat jahat pada keluarganya, Mama seharusnya bisa menyadari semua ini."
"Dasar Papa, memang sulit diatur."
Saat mereka masih berdebat tiba-tiba terdengar ketukan di pintu rumah mereka. Wanita itu dengan tergopoh-gopoh lalu membukakan pintu rumah.
"Kediaman Pak Rusli dan Bu Fatma?"
"Benar, saya Ibu Fatma, ada apa ya Mas?"
"Ini ada titipan paket untuk Ibu."
"Dari siapa ya Mas?"
"Lihat saja sendiri pengirimnya Bu, saya hanya bertugas mengantarkan paket ini saja."
Wanita tersebut lalu masuk ke dalam rumah. "Dari siapa Ma?" kata suaminya.
"Entahlah Pa, lebih baik kita buka saja paket ini."
Mereka lalu membuka kardus itu. Wanita itu tampak terkejut melihat isi dalam paket tersebut.
"Lihat Pa, ada banyak kebutuhan pokok, berbagai macam sembako, dan ada uangnya juga."
Wanita itu lalu bergegas membuka amplop tersebut dan mengambil isinya. "Wah banyak banget Pa, ini cukup untuk makan enak selama satu bulan." kata wanita itu dengan wajah begitu ceria.
"Tapi ini dari siapa ya Pa? Lalu lihat satu set pakaian ini, ini seperti sebuah seragam keluarga pada acara pernikahan."
"Iya benar Ma, coba lihat siapa pengirimnya."
Dengan penuh tanda tanya wanita itu lalu membuka amplop yang berisi undangan.
"Papa lihat ini sebuah undangan untuk kita!"
"Dari siapa Ma?"
"Dari Wina Pa, padahal baru saja kita membicarakan dia, tahu-tahu dia sudah mengirimkan undangan pernikahan untuk kita. Dia masih mengingat kita Pa, ini kesempatan untuk bisa mendekati Wina kembali dan kita bisa hidup enak bersama mereka."
"Sudahlah Ma, jangan berpikir macam-macam. Tapi itu undangan pernikahan siapa Ma? Apa Wina akan menikah lagi?"
"Bukan Wina Pa, tapi Shakila, cucu kita."
"Shakila putri dari Randi?"
"Ya benar." kata wanita itu sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1