OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
10


__ADS_3

Mike memeluk Lily begitu lama. Lily yang merasa jantungnya semakin tidak baik-baik saja lantas segera melepaskan dirinya.


Mike panik, ia menoleh. Dan untungnya Victoria serta Darren sudah tidak ada di sana. Mungkin mereka sudah kembali ke dalam, pikirnya.


"Mmm ... sebaiknya kita masuk sekarang."


Lily terlalu malu, dia tidak menunggu Mike untuk jalan bersamanya.


"Tunggu aku." Mike mengejar dan berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Lily.


Kembali ke tempat mereka semula, Mike mendapati Darren sudah duduk di kursi bersama ayahnya. Mendadak ada yang mengusik hati Mike. Itu karena Darren terlalu santai dan bertingkah seolah tidak ada yang terjadi tadi.


"Oh! Kalian sudah berdansa?" Thanit yang tidak tahu perihal Mike dan Lily yang melarikan diri secara diam-diam itu lantas berbasa-basi ketika melihat kehadiran putranya.


Mike tersenyum dan mengangguk. Kemudian duduk di kursi yang kosong. Begitupun dengan Lily yang kembali duduk di tempatnya setelah Thanit pindah ke kursi lain, di mana Zheng Fei tadi duduk.


Berbincang-bincang hingga larut, Lily kembali lagi ke rutinitasnya menghabiskan menu yang dibawakan pelayan, kali ini ia menikmatinya, es krim selalu membuatnya tenang.


Sementara itu, Darren dan Thanit seolah-olah tidak akan selesai hingga besok pagi. Mereka terlalu asyik berada di dunia mereka sendiri.


Lily mengusap-usap matanya, menguap beberapa kali. Ethan dan Mike sama-sama memperhatikan Lily.


Mike gemas, kenapa sih Darren tidak peka? Kalau begini, dia mesti turun tangan.


Maka, Mike beranjak dari kursinya.


Namun, sebelum itu terjadi, Darren langsung berucap, "Ah, sepertinya istriku sudah lelah. Kurasa kita bisa lanjutkan besok, bagaimana?"


Ck! Mike berdecak. Kemudian duduk kembali.


"Ayo." Darren meraih tangan Lily, membantunya berdiri. "Kami pamit dulu," pamit Darren begitu mereka berdua hendak pergi.


Di jalan, Lily bertanya, "Apa kita akan pulang? Tapi ini di tengah laut? Bukannya harus menunggu kapalnya berlabuh dulu?"


Darren mengerjap menatap Lily. Lantas terkekeh. "Ah, aku lupa memberitahumu. Kita akan seminggu di sini."


Mendengar hal itu, mendadak Lily membulatkan matanya kaget. Langkahnya berhenti. Membuat Darren ikut berhenti.


"Lalu, bagaimana dengan Mary?"

__ADS_1


Tentu saja Lily khawatir. Dari kecil Mary sudah bersamanya selama 6 tahun. Bagaimana mungkin Lily tidak khawatir kalau-kalau anak itu bisa saja merengek seharian atau bahkan membuat orang sekitarnya repot saat ditinggalkan selama seminggu.


Darren membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, namun ia menutupnya kembali. Darren lantas berjalan mendekati Lily. "Jangan khawatir, besok pagi aku akan meminta Diana membawanya ke sini."


"Bagaimana?"


"Dengan helikopter, tentu saja."


Baru saat itu Lily kembali tenang. Mengangguk paham, ia dan Darren kembali melangkah bersama. Darren menuntunnya menuju kamar yang dia sewa.


"Ini kamarmu. Kamarku ada di sebelah kiri, kalau kau butuh, tinggal ketuk saja." Darren menjelaskan pada Lily begitu mereka tiba di depan kamar bernomor 45A.


Lily mengangguk, kemudian menerima kartu dan menggesekkannya pada pintu agar terbuka. "Selamat malam," pamit Lily dengan senyum manis.


Darren membalas senyumannya. "Mimpi indah."


...----------------...


"Mommy! Mommy! Wake up!"


Samar-samar Lily mendengar suara Mary. Ini aneh. Perasaan, semalam dirinya masih di atas kapal. Apa mereka sudah kembali ke rumah?


"Mommy!" Suara Mary terdengar menuntut.


"Mary?" Lily mengucek matanya.


"Bangun, Mommy!" Mary merayap di sebelah Lily seraya menoel-noel pipinya. "Kita sarapan pagi. Mary lapar!"


Lily beranjak untuk duduk. Pandangannya mengedar ke seisi ruangan. Dirinya masih di kamar yang sama.


"Sejak kapan Mary ke sini?"


"Baru saja."


Lily mengernyit, lantas mengecek jam di atas meja. Sudah pukul 8:15 rupanya.


"Dengan siapa Mary datang?"


"Dengan Diana," Mary menjawab. "Ayo, mandi! Kita akan sarapan bersama yang lainnya."

__ADS_1


Setelah itu Mary beralih lagi, kemudian mulai mendorong-dorong tubuh Lily agar turun dari ranjang.


Masih dalam keadaan bingung, Lily akhirnya menurut dan menyelesaikan mandinya dalam 15 menit, lalu berpakaian hingga 10 menit.


"Mommy! Mommy!" Seru Mary sembari menarik-narik tangan kanan Lily ketika mereka bertiga sedang berjalan di lorong-lorong kapal.


"Hm?"


"Mommy cantik sekali hari ini!"


Lily mengangkat kedua alisnya, kemudian tersipu. "Benarkah?"


Mary mengangguk. "Hm! Daddy pasti suka."


Rona di pipi Lily semakin menjadi-jadi. Ia menggeleng sembari tertawa geli. Lagipula wanita manapun pasti akan seperti itu ketika dipuji cantik.


"Sudah-sudah. Nanti kita terlambat."


Tiba di restoran bagian luar kapal, sepoi-sepoi angin laut yang lembut di pagi hari menyambut Lily. Ia mengedarkan pandangannya, namun keburu ditarik oleh Mary yang lebih dulu menotis keberadaan ayahnya.


"Daddy!" Mary dan Lily sedikit berlari menghampiri Darren dan Diana di meja bundar dengan empat kursi.


"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Darren pada Lily selagi mengangkat Mary ke pangkuannya.


Lily termangu sejenak, rasanya tidak biasa, namun menggelitik. Darren belum pernah bertanya demikian sebelumnya.


Namun, Lily tersenyum juga, lantas mengangguk. "Hm."


"So! Bagaimana pestanya semalam?" Diana menyahut setelah itu. Wajahnya berbinar tertarik.


Darren mengendikkan bahunya. "Lumayan."


"Hanya itu?!" Tidak adil! Begitu raut wajah Diana saat ini.


Sekilas Darren melirik Lily dengan canggung. Menurutnya, acara semalam lebih dari lumayan, karena Lily ada bersamanya.


"Yaaa ... mungkin sedikit berbeda," alasannya, lalu balik menatap Diana lagi. "Karena ada istriku di sini." Seraya menggenggam tangan Lily tiba-tiba.


Lily tersentak sedikit, ia menatap Diana dengan mata panik. Dia dan majikannya berpegangan tangan seperti ini seolah-olah mereka adalah pasangan asli yang berbahagia? Apa ini tidak berlebihan!

__ADS_1


Namun, begitu Darren tersenyum ke arahnya. Memberinya isyarat bahwa tidak perlu merasa sungkan, atau bahkan merasa kecil hati akan pemikiran-pemikiran yang dia asumsikan sendiri, serta-merta perasaan itu lenyap tergantikan oleh senyum selembut kapas.


Darren menyukainya.


__ADS_2