
1 minggu.
Lily menghiraukan Darren selama seminggu.
Darren merasa dibuang di rumah sendiri. Selama 6 tahun, Lily tidak pernah melakukan hal kelewat batas seperti ini.
Sungguh, Darren tidak tahu sebenarnya dia salah apa. Dia pusing 7 keliling hanya untuk memikirkan Lily yang menolak menatap matanya setiap mereka berpapasan di rumah.
Bahkan ketika di kantor sekalipun, Darren tanpa sadar akan termenung mempertanyakan penyebab-penyebab yang membuat Lily sampai tega menghiraukannya begini.
Sumpah ya, rasanya tidak enak sekali.
But ...
Little did he knows, Lily menghiraukannya karena suatu alasan sepele yang kebanyakan perempuan akan hindari; jatuh cinta.
Ketika jatuh cinta, hati akan berdebar tanpa isyarat, perut terasa penuh ledakan kupu-kupu yang bikin mules tanpa sebab.
Beberapa hal itu menyerang Lily sejak hari bersenja di taman rumah sakit. Gestur sederhana itu, bagaimana Darren mengacak-acak puncak rambut Lily dengan gemas, Lily mana bisa tidak jatuh hati.
Kau tahu, karena perempuan begitu rumit, bahkan terhadap hal sekecil apapun, mereka akan menaruh harapan yang berlebihan.
Dan, kadang hal itulah yang ditakutkan Lily, karena realitanya, dia tidak bisa menaruh harapan lebih dikarenakan hubungan mereka yang sekedar majikan dan pengasuh ini.
Namun, semenderitanya Lily, Darren rasa dia yang paling menderita di sini. Dia didiamkan tanpa penjelasan, membuatnya galau tanpa sebab. Sehingga, ketika ada pesta penyambutan karyawan baru hari ini---yang mana biasanya akan dia tolak bila diajak---kini malah tengah duduk diantara karyawannya sembari menenggak alkohol untuk kesekian kalinya.
Sudah pukul 1 lewat, dan separuh karyawan sudah pulang, sementara separuhnya lagi tertidur di sofa.
Ophelia, sekretaris Darren yang turut hadir malam ini justru yang paling sadar diantara yang lain. Semenjak melihat bosnya itu minum lebih dari 5 tegukan, ia langsung berhenti karena tahu kejadian setelah ini tidak akan berakhir baik.
Dulu, pernah sekali, ketika Ophelia masih 1 bulan bekerja sebagai sekretaris magang, ia harus berurusan dengan mood Darren yang super buruk, membuat pria itu harus minum hingga ia benar-benar mabuk parah. Ophelia tentu saja kalang kabut, membopong tubuh tinggi dan berat bosnya itu bukanlah hal yang mudah, terutama ketika ia menggunakan heels untuk berjalan. Benar-benar penyiksaan.
“Bos?”
Ophelia mengguncang bahu bosnya. Pipi Darren sudah lama mencium meja, bibirnya mengerucut lucu, ia tertidur pulas di atas sana.
Ophelia berdecak, mukanya kecut, dia sudah gelisah karena ingin pulang, tapi bosnya ini harus menyusahkannya dahulu sebelum itu terjadi.
“Bos!” Ophelia membogem bahu Darren. Masa bodoh, lagipula bosnya tidak akan sadar siapa yang sudah memukul bahunya sekeras itu.
“Ayo, kuantar pulang.”
Darren mengangkat sedikit kepalanya, lamat-lamat matanya terbuka, sayangnya pandangannya mengabur, juga ada sedikit rasa pusing di kepalanya.
“Ng?”
“Kita pulang, sudah jam 1.”
Menarik napas dalam-dalam, Darren mengumpulkan tenaga untuk bangun memperbaiki duduknya.
“Ayo!”
Darren langsung berdiri dengan linglung. Ophelia seketika sigap memegangi lengan bosnya. Namun, Darren segera melambaikan tangannya, memberitahu Ophelia bahwa dia bisa jalan sendiri. Ya otomatis saja dengan senang hati Ophelia melakukannya. Itu artinya dia tidak perlu menderita.
Mengikut dari belakang, Ophelia mengawasi bosnya yang berjalan lunglai menuruni tangga.
Mereka berdua sama-sama keluar melalui pintu kaca, angin kencang menyambut beserta gerimis yang kapan saja bisa menjadi hujan lebat.
Ophelia langsung menggosok-gosok kedua lengannya karena dingin. Baru sebentar dia melihat-lihat sekitar, sayangnya begitu menoleh, dia dibuat menghela napas karena tingkah bosnya yang malah berjongkok memeluk lututnya sembari menggambar di atas tanah dengan jarinya.
Memutar bola matanya malas, Ophelia berusaha menarik lengan Darren. “Bos, ayo kuantar, sebentar lagi hujan deras---dan tolong berhenti menggambar di sana!”
Darren menarik kembali lengannya, cemberut karena dipaksa, lalu lanjut menggambar gunung dan pesawahan di atas tanah.
Ophelia menghentakkan sepatunya karena dongkol. Namun pada akhirnya dia ikutan jongkok di sebelah Darren sembari mendengus kasar.
Bagaimana ini? Tanyanya dalam hati.
Ophelia melirik bosnya sekilas.
__ADS_1
Apa kutinggal saja, ya? Ophelia mengerjap. Eh, tapi! Kalau terjadi apa-apa, bisa-bisa aku yang dia salahkan. Ish! Ophelia memukul tasnya kesal, sudah ingin menangis karena harus terjebak dengan bayi besar merepotkan ini. Mana dia harus masuk kerja pagi-pagi lagi. Kalau beruntung sih, masih ada Diana, wakil sekretaris yang akan menggantikannya 15 menit sebelum bosnya datang. Tapi kalau tidak? Ya mampus!
Namun, tiba-tiba ...
Seseorang dari arah belakang mendekati mereka berdua, memerhatikan sosok pria mabuk dan wanita yang tengah merutuk kesal itu.
“Ophelia?” Panggilnya tak yakin.
Ketika berbalik dan Ophelia mendongak ke atas, sosok itu tersenyum lebar.
“Mike?”
Buru-buru Ophelia bangun dan menghadap Mike, ia balas tersenyum. Asal tahu saja, bisa dibilang, Ophelia diam-diam menyukai Mike semenjak kedatangannya di perusahaan mereka. Jadi kapanpun ada kesempatan, dia akan berusaha terlihat memesona di hadapannya.
“Kenapa kalian berjongkok di depan sini?”
Ophelia menyelipkan anak rambutnya dengan cantik lalu menjawab, “Ah, soal itu ... Aku seharusnya mengantar bosku pulang, tapi dia sulit sekali dibujuk, jadi aku ikut berjongkok dengannya di sini sampai dia mau diajak pulang.” Ophelia semakin melebarkan senyumnya. “Mmm ... Lalu denganmu? Apa kau juga ikut pesta penyambutannya? Tapi kenapa aku tidak melihatmu dari tadi?”
“Oh, soal itu ... Aku berada di ruangan lain, aku sempat dengar kalian akan mengadakan pesta, tapi karena aku ada urusan lain, aku tidak datang.”
Sejenak terselip kekehan kecil melewati bibir Mike alisnya mengernyit tidak mengerti saat kembali menatap Darren. “Dia mabuk?” Karena setahunya, pria ini terlihat kebal untuk diajak mabuk berat.
“Iya, biasanya dia tidak seperti ini. Mungkin dia ada masalah, makanya mencari pelampiasan.” Ophelia ikut menatap iba ke arah Darren.
“Mmm ...” sekilas Mike melihat sekitar, angin semakin kencang saja. “Bagaimana kalau aku yang mengantarnya saja, lagipula ini sudah hampir jam 2, sebentar lagi terlihat akan hujan lebat, akan berbahaya bagimu pulang lebih larut lagi.”
Ophelia sumringah, matanya berbinar. Aih, malaikatnya!
“Benarkah?” Tanyanya riang.
Mike mengangguk.
Setelah itu, Ophelia mengirimkan alamat Darren via pesan, dan memberitahu untuk meminta kuncinya langsung pada Darren, sebelum akhirnya pamit.
Ophelia menunduk di sebelah telinga Darren “Bos, aku pulang dulu, ya. Mike akan mengantarmu pulang. Hati-hati, daaah!”
Meski mengantuk berat dan masih sibuk menggambar di tanah, lamat-lamat Darren mengangkat pandangannya sembari membalas lambaian tangan Ophelia dengan pelan, persis anak TK yang melambai pada temannya yang sudah dijemput duluan.
“Ayo pulang, berikan aku kunci mobilmu.”
Darren merogoh saku celananya dengan lambat dan malas-malasan, setelah itu memberikannya pada tangan yang tengah memintanya.
“Ayo, kubantu berdiri.”
Dengan kekuatan laki-lakinya, Mike lebih mampu mengangkat Darren daripada Ophelia sendiri. Beruntungnya Darren tidak mengacau kali ini, dan menurut saja ketika ia dibopong menuju mobilnya.
Mike berkendara dalam diam setelah itu. Dalam cuaca yang benar-benar mulai deras akan hujan, ia menghubungi supirnya untuk menjemputnya begitu selesai mengantar Darren Setelah itu, ia memainkan radio untuk sekedar mengisi kekosongan, selagi di sebelahnya tertidur pulas sosok yang sepertinya benar-benar akan kesiangan besok pagi untuk ke kantor.
Sekitar 45 menit berkendara, ditambah kemacetan di beberapa titik karena angin kencang dan lebatnya air hujan, akhirnya Mike berhasil sampai dengan selamat di rumah Darren.
Membuka pintu mobil dan melawan rintik hujan, Mike menjemput Darren di jok sebelah, memaksanya turun dan ikut bersamanya. Terpaan ratusan rintik menyambar wajah Darren begitu ia keluar dari mobil, membuat dia sedikit tersadar dari kantuk beratnya.
“Cepatlah, kita akan basah kuyup kalau kau terlalu lambat.”
Huuuh! Darren tidak tahu siapa yang tengah membopongnya ini. Tapi dia cerewet sekali. Darren cemberut, bibirnya manyun karena kesal.
Begitu sampai di depan pintu rumah setelah melalui beberapa anak tangga, Mike buru-buru menekan bel hingga tiga kali, namun tidak ada tanda-tanda, jadi dia menekannya kembali.
Baru pada saat itu Lily muncul dalam balutan selimut biru muda di tubuhnya, rambutnya diikat asal, matanya nampak kelelahan. Namun begitu Lily sadar majikannya muncul dalam keadaan mabuk berat, ia serta-merta panik.
“Apa yang terjadi?”
Mike yang terpikat sejenak oleh sosok di hadapannya, membuat ia mengerjap beberapa kali sebelum menjawab, “Itu ... Darren mabuk di pesta penyambutan karyawan baru, jadi aku bantu mengantarnya pulang.”
“Hah?” Lily bengong, terlihat sulit percaya.
Mike jadi ragu-ragu menyerahkan pria mabuk ini ke wanita lemah di depannya. “Mmm ... Apa kau yakin bisa mengurusnya?”
Lily mengerjap. “Ah ... Tentu saja---berikan padaku.”
__ADS_1
Lily buru-buru meraih Darren untuk membopongnya di pundaknya, namun lelaki itu malah sudah duluan membuang diri di depan dada Lily, memeluk leher wanita itu erat.
Lily terkejut, tapi dia akhirnya harus memeluk tubuh majikannya agar ia tidak merosot jatuh. Sementara Darren malah sudah tertidur di pundak Lily dalam keadaan tidak sadar.
Melihat adegan itu, Mike tahu diri untuk pamit sekarang dan segera menyerahkan kunci mobil ke tangan Lily “Kalau begitu ... Ini kunci mobilnya kukembalikan. Aku pamit dulu, daaah!”
Lily menatap kosong. “Daaah,” ucapnya tak terdengar, karena Mike sudah terlebih dahulu lari menembus deras hujan dan akhirnya menghilang. Lily bahkan belum mengucapkan terima kasih.
Lily termenung sejenak, sebelum suara guntur dan angin kencang menyadarkannya untuk segera menutup pintu.
Karena keadaan lantai satu yang benar-benar gelap, Lily singgah sebentar untuk menyalakan saklar, lalu membawa Darren agar berbaring di atas sofa panjang. Dia tidak mungkin sanggup menaiki anak tangga itu sembari mengangkut tubuh berat majikannya.
Lily menengadah ke atas sejenak, mengecek suara atau apapun itu yang menandakan apakah Mary terbangun atau tidak. Namun sepertinya tidak.
Jadi Lily langsung pergi ke dapur untuk mengambil air dari keran, setelah itu datang membawanya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian ia tergesa-gesa naik ke lantai atas untuk mengambil handuk dan pakaian Darren yang kering.
Begitu semuanya lengkap di atas meja, Lily mendekatkan diri dengan duduk di pinggir sofa, lalu mulai mengompres handuk dengan air hangat di baskom. Bergerak dari kening, hingga leher, Lily melakukannya dengan teliti, membersihkan keringat atau apapun yang terasa lengket di badan Darren.
Hujan semakin deras di luar sana, lalu suara guntur meledak, bersamaan dengan Darren yang tiba-tiba mencengkram lengan Lily disaat ia tengah sedikit melamun.
Lily tersentak, mengerjap sejenak. “Tuan?”
Darren membuka sedikit matanya, samar-samar ia melihat bayangan Lily. Tahu-tahu dia sudah menjatuhkan air mata. Serta-merta Lily panik melihatnya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, alhasil dia hanya terdiam saja melihat majikannya malah menangis seperti anak-anak dengan suara serak yang terdengar nyata.
“Da, Darren?” Panggil Lily setengah berbisik.
Darren mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya. Tiba-tiba saja lengan panjangnya sudah menggapai leher Lily dan menariknya ke dalam pelukannya.
Tubuh Lily menegang di atasnya, ia terlampau kaget untuk sekedar bergerak menjauh. Namun ketika pelukan itu menjadi begitu lama, Lily mulai merasa sesak, dan memutuskan untuk menarik kembali badannya agar duduk seperti semula.
Namun sayangnya, Darren begitu erat memeluk Lily. Ketika ia merasa ada pergerakan, dia malah semakin mengeratkan pelukannya.
Sebenarnya apa yang dipikirkan Darren?
“Jangan pergi,” bisiknya masih terpejam.
Tapi Lily tidak bisa begini terus. Badan Darren basah kuyup, dan dia bau alkohol. Terlebih, hatinya tidak bisa diajak kompromi sejak tadi. Benar-benar berdebar tidak karuan. Lily malu.
“Tuan, kumohon lepaskan aku.”
Lily bertumpu pada dua tangannya di atas sofa, kemudian bergerak mundur menarik badannya agar terlepas, dan ... berhasil!
Lily menghela napas lega sebentar, setelah itu dia hendak berdiri untuk pergi minum di dapur, hatinya harus ditenangkan terlebih dahulu.
Namun, sebelum itu terjadi, Darren lebih dulu menarik kasar lengan kiri Lily dan membuat dia berakhir duduk di pangkuannya.
Darren masih sedikit pusing ketika bangun untuk duduk, namun ia memaksa matanya agar terbuka. Lily menoleh padanya, dan Darren malah terkekeh.
“Kenapa kau terus menghiraukanku?”
Apa yang akan dia lakukan? Hati Lily berdetak tidak baik-baik saja ketika Darren mulai mendekatinya.
Sedetik kemudian, tanpa kata, tanpa permisi, Darren menyambar bibir hangat Lily.
Dia bahkan tidak peduli bagaimana Lily mulai meracau untuk lepas darinya. Dia bahkan tidak peduli ketika Lily melotot dan mulai mengeluarkan air mata ketika lidahnya bermain di dalam sana. Dia bahkan tidak peduli ketika Lily memukul dadanya tanpa ampun dan malah asik memeluk pinggang ramping wanita itu.
Lily menangis.
Untuk sekali lagi, Lily melakukan usahanya yang terakhir, ketika ia benar-benar merasa dirinya sudah kotor akan perbuatan majikannya sendiri, Lily mendorong sekuat tenaga dada bidang Darren hingga membuatnya terhempas kembali ke tempat ia terbaring tadi.
Lily menggunakan kesempatan itu untuk lari dari hal gila ini. Ia bahkan tak diberi kesempatan untuk mencerna apa yang telah terjadi. Yang ia tahu, rumah ini tidak lagi aman baginya, majikannya telah mengotorinya, dan ia bahkan tidak pantas untuk berada di tempat ini. Jadi ketika ia telah mengambil kembali selimut birunya, ia berlari membuka pintu rumah dan pergi dari sini.
Lily berlari sejauh yang ia bisa, melawan hujan, menembus angin, bahkan menulikan telinga dari guntur yang bersahutan di atas sana.
Pikirannya kacau. 6 tahun ia mengenal Darren, seribu kebaikan yang ia tawarkan, namun dalam satu malam, satu kesalahan telah membuat segalanya menjadi berantakan.
Hujan menangis bersamanya, menyamarkan tiap tetes kesedihannya. Dipikir bagaimanapun, alasan Lily melawan seperti ini mungkin karena rasa sukanya tak sebesar itu untuk membiarkan dirinya rela dikotori. Terlebih dengan cara yang tidak senonoh.
Bagaimana mungkin Darren tega menciumnya dengan mulut berbau alkohol itu, ketika dia sendiri tahu 6 tahun lalu alasannya pergi dari desa adalah karena ayah tirinya yang seorang pemabuk pernah ingin melecehkannya juga.
__ADS_1
Merangkul selimutnya di tubuhnya, Lily terus melangkah tanpa alas kaki.
Ia tidak peduli lagi. Ia kacau. Ia hanya ingin pergi, pergi dan tak kembali lagi.