OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
07


__ADS_3

“Lily? Lily?”


Julia menggoyang pundak Lily agar terbangun. Sayup-sayup Lily membuka matanya. Ia sedikit terkejut saat menyadari dirinya malah tertidur di saat-saat seperti ini.


“Sudah jam berapa?”


Lily bertanya seraya hendak menggosok matanya. Namun, Julia tiba-tiba menghentikannya.


“Jangan merusak make-upnya!”


Lily mengerjap. Ia lantas langsung menoleh ke cermin.


Eeeeh?!


Lily menoleh ke arah Julia, lalu cermin, lalu Julia lagi. Ditunjuknya wajahnya.


“Ini aku?!”


Julia terkikik geli. Bangga rasanya mahakarya yang dia hasilkan membuat orang-orang terkejut seperti ini.


“Iya. Bagaimana?”


Lily menatap dirinya di cermin lagi. Tangannya memegang kedua pipinya. Lalu kembali terkejut dengan pantulan kukunya di cermin. Lily menciptakan jarak penglihatannya, memandangi kukunya baik-baik.


“Kukuku juga?!” Lily menatap Julia dengan mata bulat indahnya.


Julia semakin tersenyum lebar. Bahkan Ophelia sampai penasaran dan memutuskan untuk melihat dengan berdiri di belakang Lily.


“Bagaimana? Lily jadi cantik, bukan?” Julia menggoda Ophelia. Ophelia mengangguk-angguk sambil melongo.


Ini sih bukan Lily yang tadi seharian mengikutinya. Dengan make-up berkelas begini siapa yang mengira Lily adalah seorang pengasuh. Perubahannya begitu drastis! Semua orang di acara malam ini pasti akan memuji kecantikannya.


“Astaga! Bahkan rambutku juga!” Lily memegangi rambutnya dengan kagum.


“Terima kasih!” Lily menyerang Julia dengan pelukan erat. Senang bukan main. Untuk pertama kalinya dia merasa menjadi perempuan yang istimewa.


Julia tersenyum lembut. Kemudian menggapai dagu Lily. “Sama-sama, sayang.”


...----------------...


“Kami sebentar lagi tiba,” ujar Ophelia kepada sambungan di telepon.


Setelah selesai dengan persiapan, Ophelia dan Lily memesan taksi untuk ke lokasi. Di tengah perjalanan Darren menelepon, katanya dia juga sedang dalam perjalanan.


Sekitar 15 menit kemudian mobil berhenti, Lily yang gugup hebat menatap Ophelia sejenak, Ophelia mengangguk-angguk meyakinkannya.


“Tidak apa-apa. Kau harus percaya diri.”


Lily tersenyum lemas. Meremas dressnya, Lily turun begitu Ophelia membukakan pintu.


Tahu-tahu, Darren sudah menunggu di belakang mobil. Dia berdiri memandangi Lily yang jelas nampak seribu kali berbeda.


Lily menghampiri Darren. Saat itu pula Darren mengeluarkan sebuah kotak cincin, membukanya kemudian menarik cincinnya keluar, setelah itu memberikan kotaknya ke Ophelia yang berdiri di sampingnya.


“Kemarikan tanganmu.”


Lily memberikan tangannya. Darren langsung memasangkan cincin sederhana berwarna perak di jari manis Lily. Memandanginya sebentar, Darren akhirnya melepaskan tangan Lily.

__ADS_1


“Cincinnya sederhana. Aku tahu kau tidak akan suka yang mewah.” Darren tersenyum.


“Untuk apa cincin ini?” Lily bertanya sembari mengamati cincin di jari manisnya.


“Untuk jaga-jaga. Orang-orang akan bertanya kau siapa. Satu-satunya jawaban …” Darren menggigit bibirnya, tersenyum malu.


Lily dan Darren saling menatap. Baru saat itu Lily paham jawabannya. Mengangguk mengerti, Lily tersenyum. Satu-satunya jawaban adalah, bahwa ia istrinya.


“Ayo.”


Darren memberikan lengannya. Lily langsung melingkarkan tangannya ke lengan Darren. Sementara Ophelia memilih kembali ke kantor.


Lalu …


Alangkah terkejutnya Lily begitu sadar mereka sedang berada di pelabuhan, lokasi pertemuannya ternyata berada di kapal pesiar.


Tangan lily berubah dingin penuh keringat. Setelah mereka melewati penjaga, Lily semakin gugup. Ada banyak orang-orang luar yang ikut datang.


Acaranya begitu megah. Lily bisa mendengar musik klasik saat melangkah bersama Darren di sebelahnya.


Saat itu pukul 5:45 sore ketika kapal pesiar berlayar. Matahari terbenam nampak mengeluarkan berjuta pesona untuk dipandang melalui kaca ruangan.


Duduk di salah satu sofa, Lily begitu sibuk memerhatikan sekitarnya. Semua ini adalah pemandangan baru baginya. Darren merasa lucu melihat Lily seperti itu.


Ah, Darren jadi penasaran bagaimana reaksi Lily saat memberitahunya bahwa mereka akan berlayar hingga seminggu dengan kapal pesiar ini.


...----------------...


Pukul 7 malam ...


Lily mendengar lautan manusia berbicara dalam bahasa asing dari segala penjuru arah. Satu-satunya percakapan yang dia mengerti adalah beberapa pebisnis Filipina yang berada di sekitarnya.


Dia menikmati pesta pembukaannya. Menikmati makanannya, minumannya, namun tidak dengan suasananya.


“Lily …” Darren berbisik di dekatnya. “Kau tidak enak badan?”


Lily tersenyum, kemudian menggeleng. “Aku tidak apa-apa.”


Lily bohong.


Dia sibuk memakan buah-buahan di meja. Tidak berniat untuk ikut masuk dalam pembicaraan. Bagaimana tidak, teman bicara Darren ada pebisnis asal Prancis, Uni Emirat Arab, bahkan hingga Cina. Menggunakan bahasa internasional dalam bercakap-cakap, Lily mana mengerti.


“Tell me, Darren … how you met your wife, huh?”¹ Salah satu pebisnis Cina yang Lily ketahui namanya Zhang Fei itu tiba-tiba menatap Lily kemudian melirik Darren. Dari awal dilihat-lihat Zhang Fei lah yang paling banyak memuji kecantikan Lily sejak awal mereka duduk memperkenalkan diri.


[1] Ceritakan padaku, Darren … bagaimana awal kisah kau bertemu dengan istrimu, eh?


Darren melirik Lily sekilas, lantas tersenyum. “We were neighbors. Once.”²


[2] Kami tetanggaan. Dulu sekali.


Zhang Fei mengangkat kedua alisnya. “Aaah … i see.” Zhang Fei kemudian beralih menatap Lily. “So … who fell in love first?” Tanyanya bersemangat.


[3] Aaah … begitu. Jadi … siapa duluan yang jatuh cinta?


Lily terkesiap ketika tatapan mereka jatuh padanya. Menelan ludah, dia melirik Darren. Darren yang sudah tahu bahwa Lily tidak bisa bercakap Inggris lantas tersenyum seraya merangkul Lily. “Me.”


Zhang Fei menoleh pada Darren. “Oh?!” Zhang Fei menepuk-nepuk tangan seraya tertawa. “Of course you are! Who doesn't fell in love with such beauty, right?”⁴ Ucapnya setuju seraya melirik Lily, menggodanya.

__ADS_1


[4] Oh?! Tentu saja kau yang duluan! Memangnya siapa yang tidak jatuh pada kecantikannya, bukan?


Darren mengeratkan rahangnya seraya tersenyum. Siapapun tahu nada menggoda itu ada maksud tersembunyi.


Lily yang merasakan Darren meremas pundaknya lantas menatap Lily dengan lekat.


Majikannya tersenyum, tapi kenapa sampai meremas pundak Lily yang terekspos dengan tak berperasaan begini?


Apa ini kode agar Lily ikut tersenyum juga?


Tertawa garing, Lily mengikut suasana saja.


Lalu …


Kecanggungan ini mereda ketika sosok pria tampan blasteran Jepang-Amerika-Thailand muncul menyapa.


“Darren!”


Orang-orang yang ada di meja tersebut spontan menoleh pada sosok ceria yang menyapa itu.


“Ethan?” Darren berdiri dari kursinya dan menyapa Ethan dengan salam bersahabat.


“Sup, Buddy?”


“Pretty good!” Seru Darren dengan senyum sempurna.


Darren luar biasa senang dan langsung menuntun Ethan agar duduk di dekatnya. “Please, take a seat.”


Ethan duduk, lantas menoleh ke belakang, seperti mencari seseorang.


“Siapa yang kau tunggu?” Tanya Darren.


Ethan terkekeh. “Ah, tunanganku.”


Darren menatap tidak percaya. “Tunangan? Aku tidak tahu kau sudah bertunangan. Kapan?”


“2 months ago.”


Darren melotot. “And you didn't invited me?!”⁵


[5] Dan kau tidak mengundangku?!


“Sorry.” Ethan terkekeh malu. “Ah! Tapi akan kuundang kau pada saat pernikahanku. Oke?”


Darren tertawa menggoda. Kawannya ini bisa saja cari alasan. “Fine.”


“Ethan ….”


Tidak lama kemudian terdengar suara seorang wanita memanggil diiringi tangan yang mengelus pundak Ethan dari belakang. Pandangan Darren berjalan menuju tangan si pemilik hingga akhirnya bertemu pandang dengannya.


Victoria?!


Serta merta napas Darren tertahan saat itu juga. Senyumannya mendadak hilang.


Jadi … teman lamanya ini bertunangan dengan mantan kekasihnya?


Dia akan menikah dengan Ethan? Tapi masih mengganggu kehidupan Darren dan Mary?

__ADS_1


Lalu semua rencana ini sia-sia? Lily? Cincin? Kebohongan ini?


Sebenarnya apa yang dipikirkan Victoria?


__ADS_2