OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
25


__ADS_3

“Victoria?”


Mata Lily menelisik sebuah mobil yang berhenti di depan halte sekolah dasar. Di dalamnya seorang wanita tengah melambai ke arah Lily dan Mary yang tengah menunggu bus untuk pulang.


“Lily!”


Victoria turun dari mobil dan menghampiri mereka. Senyumnya begitu riang, berbeda dengan Victoria yang sebelumnya. Mungkin karena hubungan mereka sudah lebih baik sejak terakhir kali Victoria menceritakan segalanya pada Lily.


“Ada apa?” Tanya Lily dengan senyum manis yang menyapa Victoria.


“Aku ingin membicarakan sesuatu padamu. Bisa ikut denganku? Kita bicara di kafe dekat sini saja.”


Lily menoleh pada Mary. “Mary mau ikut, tidak?”


Mary menggigit jarinya, lalu mengangguk malu-malu. Lily kembali menatap Titania, “Ayo.”


Mereka bertiga lantas berangkat menuju sebuah cafe di mana terakhir kali Victoria mengajak Mary ke sana, waktu itu Darren dan Lily menghambur masuk dan mengambil Mary dari ibunya. Namun sekarang, Victoria dengan bebas bisa menatap putri cantiknya berkat Lily yang membolehkannya.


“Hai!” Victoria dadah-dadah riang di seberang meja, tersenyum pada Mary agar anak itu ceria.


“Hai Aunty,” Mary membalas malu-malu.


Victoria terkikik, tidak apa-apa kalau putrinya itu memanggilnya Tante, yang terpenting dia bisa melihat Mary lagi tanpa harus melakukan hal-hal nekat.


“Oh, ya. Mary suka cake rasa apa?”


Mary berpikir, pipinya ia ketuk-ketuk. Lalu dengan tiba-tiba mengangkat jarinya dan menjawab semangat, “Vanilla!”


Victoria mengangguk-angguk. Kemudian memanggil pelayan dan memesankan mereka kudapan ringan beserta minuman menyegarkan. Setelah pelayan pergi, Victoria mengambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah undangan pernikahan berwarna ungu.

__ADS_1


Kedua alis Lily terangkat kaget, bibirnya menganga. Victoria sudah curhat waktu lalu bahwa kembalinya dia di Filipina adalah bertujuan untuk menikah dengan seorang pengusaha terpandang bernama Ethan Ishikawa.


“Apa kau akan menikah bulan ini?” Tanya Lily tidak percaya.


Victoria memberikan undangan tersebut ke tangan Lily, Lily menerimanya dengan tatapan berbinar.


“Iya, tanggalnya dipercepat seminggu lagi.”


Lily manggut-manggut. “Undangannya cantik sekali,” seraya memeriksa isi undangan yang desainnya terlihat berbeda dari undangan yang pernah dia lihat.


“Ibunya Ethan yang memilihnya. Kuharap kalian sekeluarga akan hadir.” Ada senyum sedih di sudut bibir Victoria.


Namun Lily mengangguk pasti, meyakinkannya. “Akan kulakukan.”


...----------------...


Pintu dibuka tanpa diketuk, Lily masuk dan mendekati meja kerja Darren. Pria itu nampak serius dibalik komputernya, namun segera teralihkan begitu merasakan kehadiran Lily.


Darren tersenyum. “Ada apa, Lily?”


Dengan hati-hati Lily meletakkan undangan pernikahan Victoria dan Ethan di atas meja kerja Darren. Alis Darren mengernyit lalu mengambilnya untuk dibaca.


“Ini ...” Darren mendongak menatap mata Lily, mencari jawaban.


“Victoria ingin kita datang ke pernikahannya,” potong Lily.


Sebenarnya terakhir kali Darren bertemu Ethan, pria itu berkata akan mengundang Darren ke pernikahannya. Sebelum akhirnya sepersekian detik kemudian Victoria muncul dan diperkenalkan sebagai tunangan pria itu, Darren tentu jadi urung memikirkan untuk pergi kalau suatu saat Ethan benar-benar akan mengundangnya.


“Apa Victoria yang datang memberikanmu langsung?” Darren melirik undangan yang dipegangnya lagi.

__ADS_1


“Iya.”


“Kapan?”


“Sewaktu aku dan Mary sedang menunggu bus untuk pulang dari sekolah.”


“Lalu ... Apa Victoria---”


“Darren ...” Lily memanggil lembut, mendekatinya. Lalu, seolah-olah tahu kegelisahan Darren, ia berkata, “Victoria belum mengungkapkan bahwa dia adalah ibu kandung Mary. Kami berdua sudah membicarakan ini, Victoria bilang dia ingin Mary tetap tidak mengetahui siapa ibu aslinya kalau kau sendiri tidak menginginkannya. Dia menghargai keputusanmu karena dia tahu dari awal dialah yang bersalah.”


Darren mengernyit semakin dalam, tidak ingin percaya. “Dia mengatakan hal itu padamu?”


Lily tersenyum, memilih berkepala dingin menghadapi Darren. “Kau mungkin tidak tahu, dan mungkin tidak akan mau percaya, tapi kami berdua telah menjadi teman baik. Ada banyak penderitaan di kehidupannya yang tidak pernah kau tahu, Darren. Begitu banyak sehingga butuh keberanian besar untuk membukanya di hadapan orang seperti diriku. Kalau saja kau mau mendengarkannya, kalau saja kau mau mengerti dirinya ... Mungkin kau dan dia tidak perlu bertengkar seperti ini lagi. Tidakkah bagus kelak Mary mengetahui siapa ibu kandungnya?”


Darren tertunduk. Ragu merasuki hati dan pikirannya.


“Aku bukan tidak ingin berbaikan dengannya, Lily. Tapi setiap kali memikirkan perbuatannya, di mataku dia akan selalu menjadi orang paling jahat yang kukenal. Aku tidak ingin Mary mengenal orang seperti dia.”


Lily semakin mendekat, meraih dagu Darren dan menangkup wajah pria itu. “Darren, setiap manusia memiliki alasan di balik perbuatannya. Victoria hanyalah seorang manusia, dia wanita, makhluk yang lemah hatinya. Kalau saja kau mau mendengarkan dan memahami penderitaannya lalu membuang keegoisanmu, tidakkah kelak kau ingin segalanya menjadi akhir yang bahagia untuk mereka, kita, dan Mary sendiri?”


Darren memandang sendu, memantulkan kesedihan yang telah dikubur dalam melalui matanya. Darren tahu seberapapun kuatnya ia ingin memaafkan, rasanya tetap begitu sulit. Namun, perkataan Lily benar, Darren ingin semuanya memiliki akhir kisah bahagianya masing-masing, dan sejujurnya dia juga tidak ingin Mary menjadi terbebani di kemudian hari.


“Apa yang harus kulakukan, Lily?” Lirihnya lemah.


“Bicarakanlah baik-baik dengan Victoria, aku tahu kau pasti akan memaafkannya. Lakukan ini demi Mary. Demi kita bersama. Aku yakin Mary akan bahagia bila kelak memiliki dua ibu yang mencintainya.”


Darren memandang lama wajah Lily, menyerap energi positif yang dipancarkan dari senyum wanita itu.


“Akan kucoba.”

__ADS_1


__ADS_2