OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
22


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya ...


Mike sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit, dimana TV yang menyiarkan berita pagi hari ini sedang tayang. Untuk menghindari Darren karena sisa-sisa kemarahannya masih belum juga reda, ia terpaksa turun ke lantai dua dan Darren memutuskan keluar untuk membeli sarapan.


Hingga sebuah bunyi dering telepon yang berasal dari dalam tas kerjanya menginterupsi fokusnya.


“Halo?” Sapa Mike ogah-ogahan tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


“Mike, dimana kau sekarang?”


Spontan saja Mike melotot terkejut mendengar si pemilik suara tersebut. Dilihatnya sekilas layar ponselnya dan mendapati nama 'Dad' tertera di sana.


Menelan ludah kasar, Mike menjawab, “Ada apa memangnya?”


“Pulang sekarang kau anak brengsek!”


Mike memutar bola matanya malas. “Kalau aku tidak mau?” Tanyanya dengan nada mengejek.


“Babymu akan kujual!”


“Oiii!”


Mike langsung berdiri dari kursi dan berteriak, membuat sebagian orang menoleh ke arahnya. Karena kejadian itu, Mike harus melarikan diri ke tempat yang sepi, yakni di taman rumah sakit.


“Ayah! Apa kau sudah gila?!” Tanya Mike dengan teriakan yang tertahan ketika tiba di taman.


Di seberang sana ayahnya sudah berkacak pinggang sembari tersenyum puas menengadahkan wajahnya ke arah matahari. Aaah ... Segarnya. Untuk hari ini sudah dipastikan dia yang menang.


“Kenapaaa? Katanya tidak mau pulang!”


Mike mendengus. “Okeeee, oke! Aku pulang, puas!?”


“Oke! Sampai ketemu di rumah, Anak Kurang Ajar.”


Ayahnya mengakhiri sambungan dengan nada riang gembira. Membuat Mike semakin dongkol saja. Lagipula ayah macam apa yang harus mengancam anaknya dengan menjual anjing keluarga mereka hanya agar dia pulang!


Ya, Baby. Anjing jenis golden retriever itu sudah menjadi sahabatnya semenjak dia menjadi kado ulang tahun Mike yang kesepuluh. Karena saking bahagianya, Mike kecil hanya akan bermain dengan anjing itu, melupakan realita dimana anak seusianya harus bergaul dengan teman-teman sebaya dan bersenang-senang di luar ruangan. Karena geram, ayahnya pernah diam-diam akan menjual anjing itu ke luar negeri agar Mike bisa kembali tumbuh dengan normal. Dan meski kejadian itu telah bertahun-tahun terjadi, tapi Mike masih tetap dirundung trauma. Kau tidak akan pernah tahu seberapa berartinya Baby bagi pria dewasa itu, karena anjing tua tersebut telah menemaninya tumbuh, melewati segala kesulitan yang ia hadapi hingga sekarang. Makanya Mike sayang.


Begitu tiba di mansion keluarganya, Mike terburu-buru keluar dari mobil dan berlari menaiki anak tangga untuk membuka pintu utama sebelum menghambur masuk sembari berteriak, “Baby!? Baby!?”


Baby yang sedang beristirahat di tempat tidurnya spontan bangun dengan ekor bergoyang antusias, kemudian berlari mencari si pemilik suara yang sudah tak sering ia dengar.


Berlari dengan rasa khawatir, Mike menghampiri Baby dan memeluknya, mengelus bulunya, dan menciumi kepala berbulu emasnya.


“Anak baiiik,” Mike tertawa senang.


Hingga sebuah langkah kaki menginterupsi pendengaran Mike, membuat pria tersebut menoleh ke arah tangga.


“Mike?”


“Ibu!”


Mike berdiri dan segera menghampiri ibunya yang masih berdiri di anak tangga terakhir, sementara Baby sudah dari tadi mengekor di kaki Mike, masih belum puas melepas rindu dengan pemiliknya.


Ditatapnya raut wajah ibunya, Mike tersenyum hangat. Sudah bertahun-tahun lalu ia meninggalkan beliau, lalu bertemu dengannya untuk pertama kali di bandara, dan kini, ini adalah pertemuan kedua mereka dan ibunya masih secantik dahulu. Oh, jangan lupakan bahwa ia adalah model veteran sebelumnya. Dengan wajah blasteran Meksiko-Filipina itu, ia melahirkan anak seeksotis Mike.


“Bagaimana kabarmu, hm?”


Dengan lembut beliau menangkup pipi putranya, mengusap-usapnya dengan sayang. Mike menutup mata, meresapi kehangatan yang ada di sana, ia selalu merindukan sentuhan lembut ibunya, ia sudah sepenuhnya pulang.


“Aku baik, Ibu. Ibu sendiri?”


Mike menggenggam sebelah tangan ibunya, lagi-lagi tersenyum hangat hanya untuk wanita terhebat di hadapannya ini.


“Baik, ibu baru saja selesai sarapan di kamar.”


Mike menghela napas lega. Ya setidaknya ibunya ini masih bisa merawat dirinya disaat ia tak ada.


“Akhirnya kau datang juga!” Suara bariton bergema di seisi ruangan.


Thanit, ayahnya itu muncul dengan baju mandi dan rambut yang basah, menunjukkan ia baru saja selesai berenang di luar sana.


Mike langsung saja memutar bola matanya malas dan berbalik ke arah orangtua itu.


“Sebenarnya ada apa menyuruhku untuk pulang?”


Thanit sama sekali tidak menjawab, ia justru melewati mereka dan pergi duduk di sofa ruang keluarga. Mau tak mau Mike dan ibunya mengikut saja, lantas duduk berdampingan di sofa seberang, sembari menatap pria itu bersamaan.


“Jadi begini ...” mulanya. “Ke mana saja kau dua hari ini, hm? Kenapa tidak aktif di kantor Darren? Ayah mengirimmu ke sana agar kau belajar darinya, tapi kenapa kau sudah absen selama dua hari berturut-turut?” Serangnya bertubi-tubi.


Mike mendengus. Bagaimana mau bekerja kalau dia sendiri sedang bermusuhan dengan si McGold itu!

__ADS_1


Lagipula kemarin dia sendiri malas masuk karena muak berada di satu gedung dengan Darren. Mike tidak mungkin bisa fokus bekerja kalau dia sendiri sedang kacau dengan pikirannya. Dan untuk hari ini, itu karena dia harus mengantar Lily ke rumah sakit anak. Mike mana rela meninggalkan Lily bersama si brengsek itu hanya demi pekerjaan sementara tersebut.


“Aku ada urusan, makanya absen.”


Thanit segera memicingkan matanya. “Urusan? Jangan bilang kau masih bermain wanita!?”


“Tentu saja, aku belajar dari ahlinya.”


Bukan berarti Mike mempermainkan Lily. Hanya saja dia ingin membuat orangtua itu marah-marah dulu.


Dan benar saja, Thanit langsung mendesis menggigit bibirnya. “Kau ini!”


Mike langsung memeluk ibunya, berlagak ketakutan, diam-diam dia menjulurkan lidahnya, mengejek ayahnya.


Kalau ditanya; apakah Mike masih membenci ayahnya atau tidak? Dia sendiri sebenarnya netral. Dia membenci ayahnya hanya di awal, terutama ketika di masa remajanya ia harus mengetahui sebuah fakta bahwa ayahnya sering berselingkuh, apalagi meski ibunya mengetahui hal itu, dia tidak berbuat apa-apa dan dengan santainya akan menjawab seperti ini; ‘Ayahmu memang brengsek, tapi ia selalu tahu dimana tempatnya untuk kembali pulang. Meski seluruh wanita di dunia ini ia selingkuhi, cintanya tak akan pernah lebih besar saat ia menatap ibumu ini. Jangan risau, Mike. Cinta itu bukan perihal memaksa untuk tinggal, tapi ia perihal menerima dan memberi. Pahami ini, agar kelak kau mampu menjadi orang yang bijak dalam hal mencintai.’


Dengan senyum keibuannya, hari itu Mike mencoba memahami. Namun meski begitu, ia tetap memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Selalu melarikan diri adalah jalannya. Ia takut melukai orang-orang terdekatnya hanya karena sebuah keegoisan masa remajanya.


Namun semakin ke sini, di usia tua ayah dan ibunya, Mike akhirnya paham; ayahnya akan selalu menemukan jalannya untuk pulang ke dalam pelukan ibunya.


Jadi, apabila ditanya sekali lagi; apakah Mike membenci ayahnya atau tidak? Well, semua itu hanya masa lalu. Mungkin masih meninggalkan kenangan yang buruk, tapi ia berusaha untuk mempertahankan sisi positif dalam mencintai keluarga ini dengan seutuhnya.


Ayahnya berdecak. “Err ... pokoknya ayah memanggilmu kemari bukan karena hal itu. Tapi ada hal yang lebih penting untuk dibahas.”


Mike mengerjap, kali ini melepaskan pelukannya dengan perlahan. “Hal penting apa?”


“Menurut ayah ... Karena usiamu sudah dewasa, ayah ingin kau mulai serius dalam hubungan percintaanmu. Bukan bermain-main seperti ini lagi, kau tidak akan pernah tahu perempuan mana yang kelak akan berpura-pura hamil anakmu dan meminta pertanggungjawaban darimu, Mike. Jadi, karena sudah memikirkannya matang-matang, ayah akan menjodohkanmu dengan putri dari teman ayah.”


Sebentar, sebentar!


Mike sebenarnya sudah pernah membayangkan masa depannya bersama seorang wanita. Dan itu hanyalah Lily seorang.


Bukan perempuan yang dia kenal lewat perjodohan!


Sebagai orang-orang dari kaum Borjuis, perjodohan memang terdengar lebih meyakinkan. Selain mampu mempererat hal bisnis, hal itu turut mampu melahirkan penerus yang lebih berkualitas. Tapi, apakah hal itu menjamin sebuah kebahagiaan yang sejati?


Orang-orang bilang bahwa cinta ada karena terbiasa. Memang benar! Tapi tidak didasari karena keterpaksaan. Kalimat itu hanya berlaku pada dua insan yang bertemu karena benang takdir. Semuanya murni karena tak diatur oleh manusia. Tapi kalau semua dimulai dengan keterpaksaan dan diatur oleh manusia? Lalu yang berjuang hanya satu, lah, yang satunya apa? Tim hore!?


“Mike?”


Mike terdiam begitu lama hingga membuat Thanit harus memanggilnya berkali-kali.


Serta-merta kedua alis Thanit menukik sekian senti. “Kau jangan mempermainkanku, Bocah Tengik!”


“Aku tidak bercanda. Sudah sebulan ini aku menyukainya.”


“Lalu ... apa dia juga menyukaimu?” Kali ini ibunya yang bertanya.


“Mmm ... Kuharap sih begitu.”


Melihat putranya sendiri tidak yakin, Thanit berdecak, “Tch! Berarti perjodohannya tetap dilaksanakan!”


Beliau lantas berdiri dari sofa, dan berpose gagah berani dengan membusungkan dada sembari berkacak pinggang, berharap dengan gaya ini Mike tidak akan bisa mengelak. Yang dimata Mike sendiri itu agak menggelikan, kalau saja perut buncitnya tak semaju itu, mungkin Mike tidak akan menahan tawa saat ini.


Dasar! Konyol sekali orangtua yang satu ini.


...----------------...


Gelap memeluk malam.


Lagi-lagi kota tersibuk di Filipina menghidupkan ceritanya. Temaram kelap-kelip lampu jalanan memandu setiap pengendara dalam rutenya. Bunyi klakson tak jua padam, dan di salah satu rumah sakit anak terdapat sebuah ruangan yang memiliki kisahnya sendiri.


Mendekapnya dalam hangat, Darren memainkan helaian rambut panjang Lily. Hanya beralaskan sofa panjang dengan ruang yang begitu minim untuk ditiduri, Lily meringkuk di dalam pelukan pria berbahu bidang di belakangnya. Menjadikan lengan pria itu sebagai bantal, ia berbaring dengan nyaman.


Tingkah kedua insan tersebut seolah-olah mengatakan bahwa pertikaian yang tak ada ujungnya beberapa hari lalu akhirnya telah padam. Segalanya telah usai setelah keduanya saling terbuka, dan ini adalah langkah pertama mereka untuk saling mendekatkan diri. Dan kalau saja Lily bisa menghentikan waktu, dia hanya ingin berada di dalam pelukan Darren seperti ini selamanya.


Ruangan begitu gelap, hanya lampu tidur di atas kepala Mary saja yang menyala. Mendekatkan bibirnya di telinga Lily, Darren berbisik begitu lembut, “Kau sudah tidur?”


“Belum,” balas Lily berbisik. Takut membangunkan Mary.


Bunyi detik pada jarum jam di dinding menjadi saksi bisu ketika tangan Darren yang tengah memainkan helaian rambut wanita itu kini turun ke pinggang dan menjalar untuk memeluknya di sana dengan posesif.


Jantung Lily tentu tidak baik-baik saja. Dengan segenap hati ia berusaha menahan teriakan di dalam dada, membuat rona di pipi dan telinganya berkata lain terhadap reaksi itu.


Merasakan tubuh wanitanya nampak sedikit terlonjak, Darren bertanya, “Apa aku mengagetkanmu? Apa aku harus melepasnya saja?”


Darren sudah akan menjauhkan tangannya dari pinggang ramping itu, ketika si pemiliknya sendiri dengan cekatan menarik kembali tangan Darren agar kembali ke sana.


Diam-diam Darren tersenyum. Hatinya bergemuruh tanpa sebab. Demikian pula Lily yang hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia benar-benar kehilangan kata-kata atas sikapnya barusan.


“Lily ...” Lagi-lagi panggilan Darren terdengar bagai alunan musik yang tidak henti-hentinya ingin Lily dengarkan.

__ADS_1


“Hm?”


“Apa sekarang kau sudah mencintaiku?”


“Menurutmu?”


“Hmm ... Mungkin besok pagi.” Darren meyakinkan dirinya.


Meski jawaban atas ajakan menikahnya digantung dengan alasan Lily yang masih membutuhkan waktu, Darren rela tidak memaksa kehendak agar wanita itu menerimanya. Mungkin belum sepenuhnya ia mencintai, maka dari itu, Darren yang akan menunjukkan cintanya, menghujaninya bertubi-tubi dengan perhatian, berharap agar wanita itu luluh dan akan menerimanya. Ya, harus seperti itu.


“Hahah ...” Terdengar suara kekehan lembut yang berhasil lolos dari bibir Lily.


“Aih ... kenapa tertawa?”


“Ini sudah kelima kalinya kau bertanya seperti itu.”


“Itu salahmu karena membuatku gila beberapa hari ini.”


“Iya, iya ... Semuanya salahku. Salahkan aku saja terus.”


Darren mengerjap. “Aih, kau merajuk?”


Mew mengangkat kepalanya, ingin melihat ekspresi Lily saat ini, memastikan apakah ia benar-benar cemberut. Namun justru wanita itu menutup wajahnya, menghalang-halangi Darren agar tidak melihat. Darren malah tertawa karena kelucuan itu. Lagipula bagaimana mau tidak malu, Lily sendiri tidak tahu kenapa ia bisa dengan gamblangnya menunjukkan emosi labil seperti itu. Atau ... Apakah ini rasanya orang yang sedang jatuh cinta; segalanya menjadi kekanak-kanakan? Ah, kalau begitu, biarkan Darren yang menjadi pihak dewasanya.


“Lily ...” Darren kembali memanggil begitu ia membaringkan kepalanya di tempat semula.


“Iya?”


“Apa di hatimu ada pria lain?”


Lily mengerjap, tidak menjawab. Bagaimana bisa Darren berpikir seperti itu!?


Langsung saja Lily berbalik, posisinya kini berhadapan dengan Darren di atas sofa itu. Ia mendongak, menatap sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Kenapa kau berpikir seperti itu?”


Darren pura-pura berpikir, matanya menolak menatap mata Lily dengan langsung. “Mmm ... Hanya penasaran.”


Karena kesal, Lily memukul dada bidang pria itu, membuat si pria terkekeh karena keimutan wanitanya.


“Err ... Tapi aku sungguh-sungguh,” tawanya mereda. “Menurutmu, apa ada pria lain di hatimu? Bagaimana dengan Mike? Di matamu dia seperti apa?”


Lily mulai berpikir. “Dia pria yang baik, perhatian, selalu bertanya apa yang kuinginkan, selalu tersenyum ketika melihatku. Dia sungguh pria yang sempurna.”


Darren mencibir dalam hati; sempurna apanya!?


“Lalu, bagaimana aku di matamu?”


Kali ini Lily mendadak bingung. “Yang versi dulu, apa yang versi sekarang?”


Darren tertawa. “Dua-duanya.”


“Mmm ... kalau dulu, kau itu jarang tersenyum kecuali di depan Mary, banyak diam dan juga berpikir, pokoknya sulit untuk dibaca, kadang juga kau sering lupa menaruh barang-barang.”


Well, Darren tidak bisa menyangkalnya. Karena itu memang benar. “Kalau yang sekarang?”


Lily mengerjap, lantas tersenyum perlahan. “Mmm ... Kita lihat saja dulu. Mungkin kelak aku akan menjawabnya.”


“Kalau begitu, aku akan memberimu sisi yang tidak pernah kau lihat sebelumnya. Aku akan menghujanimu dengan cinta hingga kau sulit untuk bernapas, hingga kau tidak ada pilihan lain selain membalas perasaanku. Apa kau mengizinkanku?”


Wanita itu tersipu. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Kenapa perkataannya begitu manis? Dan ada apa denganku? Lily! Berhentilah merona!


Setelah menetralkan perasaannya, Lily mengangguk malu-malu, lantas pergi menyembunyikan wajahnya di dada laki-laki itu. Membuat sang empunya tersenyum bahagia, lalu mengecup puncak rambut wanitanya, sebelum mengistirahatkan dagunya di atas sana, memutuskan untuk tidur dalam keadaan seperti itu.


Tanpa mereka ketahui ...


Ada hati yang terluka melihat mereka.


Pukul 11 ketika Mike jelas mengingat Lily masih di rumah sakit, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menjemput wanita itu.


Namun ketika ia tiba di depan pintu kamar ruangan Mary dan membukanya dengan perlahan, ia malah mendapatkan dua tubuh dari insan yang saling berseteru dari kemarin kini malah nampak akur.


Mereka begitu dekat dalam dekap. Terlelap dalam hening. Begitu membuat iri hati yang berharap.


Mike hanya bisa menutup kembali pintu tersebut dan berbalik dengan bahu yang merosot karena baru saja dijatuhkan harapannya.


Ia berakhir duduk di kursi tunggu yang tersedia di sepanjang lorong, mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap nanar lantai rumah sakit.


Mendadak ia mengingat perkataan ibunya; Jangan risau, Mike. Cinta itu bukan perihal memaksa untuk tinggal, tapi ia perihal menerima dan memberi.


Apakah Mike harus bertindak lebih mulai sekarang? Memberikan cintanya dengan segenap kesanggupannya dan melihat apakah Lily masih akan berlari ke arahnya?


Setidaknya dia harus berjuang terlebih dahulu sebelum menyatakan bahwa dirinya kalah. Ya, harus seperti itu. Kalau suatu waktu ia memang benar-benar kalah, mungkin dengan begitu dirinya akan merelakan wanita itu sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2