OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
11


__ADS_3

Kenyataannya, Darren tidak bisa bersenang-senang di liburannya kali ini. Setelah sarapan pagi, Mary mendadak minta berenang di kolam umum.


Masalahnya, Darren tidak bisa berenang.


Darren jadi berpikir, kenapa juga dia sampai membuat kolam renang di rumahnya di saat dia sendiri tidak tahu berenang. Padahal yang menggunakannya hanyalah Mary dan Lily saja. Sama sekali tidak ada manfaatnya di Darren. Ck!


“Daddy!” Mary berteriak seraya melambai riang di dalam kolam umum. Di sebelahnya ada Lily yang menjaganya.


Darren senyum saja di bawah payung pantai. Dalam diam dia merutuki dirinya karena tidak bisa bersenang-senang dengan mereka.


“Jadi, kenapa kau hanya diam di sini dan tidak turun bersenang-senang di sana?”


Tiba-tiba Mike datang dari arah sebelah kiri lalu duduk di kursi jemur. Darren menoleh tidak minat, kemudian menghela napasnya.


“Aku tidak bisa berenang.” Darren menjawab tanpa dia sadari.


Mike menaikkan kedua alisnya, tidak lama setelah itu tawanya meledak di dalam mulut dan lewat ke hidung, ingin membebaskannya tapi tahu dia akan dianggap tidak sopan oleh sosok yang menjadi atasannya di kantor itu.


“Berhenti menertawakanku,” Darren terdengar kesal.


Mike tidak ada pilihan dan langsung menutup mulutnya. Setelah meredakan humornya dengan wajah merah akibat menahan tawa, ia lantas beralih membuka kaleng soda yang sedari tadi dibawanya, lalu menyesapnya.


Kini Mike diam-diam menatap ke arah yang sama dengan Darren. Dia masih terpikirkan perihal semalam. Bagaimana Darren membiarkan perempuan lain memeluknya, bagaimana ia tidak melawan untuk lepas. Semua itu menggali rasa penasaran Mike tiba-tiba. Dia penasaran siapa wanita itu, karena Mike sendiri tidak punya kesempatan untuk melihatnya ketika wajah wanita tersebut tertutupi oleh pundak kokoh Darren.


“Omong-omong, aku boleh bertanya sesuatu?”


Sekali lagi, Mike bukan orang yang berbasa-basi terlalu lama. Terutama ketika rasa penasarannya lebih tinggi dari pada rasa malunya. Itulah sebabnya ia terkadang dijuluki sebagai Tuan-Ikut-Campur.

__ADS_1


Darren mengangguk ragu. “Boleh.”


“Siapa wanita yang semalam memelukmu itu?”


Mendadak ada perasaan membakar di dalam dada Darren. Alisnya berkerut tanpa ia sadari.


Setengah tertawa canggung, Darren membalas, “Wanita yang mana kau maksud?”


“Oh, Man. Don't play innocent. I know you know.”¹ Mike terdengar bercanda dan seolah-olah tidak merasa bersalah ketika mengatakan itu. Seharusnya dia sadar! Darren bukanlah teman yang bisa ia tanyai dengan santai begitu.


[1] Oh, Kawan. Jangan berpura-pura tidak tahu. Aku tahu kau mengerti maksudku.


“Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu,” balas Darren dengan dingin.


“Oh, yeah?” Mike menyipitkan matanya curiga. “Okay, let's get to the point. What if i said that i saw you last night, and the woman we're talking about were hugged you from behind your back. Don't you think what will Lily said if she heard about this from me?”²


[2] Oh, benarkah? Baiklah, langsung ke intinya saja. Bagaimana kalau kubilang bahwa aku melihatmu semalam, dan wanita yang sedang kita bicarakan ini sempat memelukmu dari belakang. Tidakkah kau pikir apa yang akan Lily katakan kalau dia mendengar hal ini langsung dariku?


“Listen, you know nothing about my life. I don't know what's your problem is, but one thing I know, stay away from the line, alright?”³


[3] Dengar, kau tidak tahu-menahu tentang kehidupanku. Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi satu hal yang kutahu adalah; jangan sampai kau kelewat batas untuk ikut campur, paham?


Well, Mike tidak menyangka akan menerima semburan itu dari Darren. Dia mengenal Darren sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, dia begitu tenang bagai air dalam wadah. Dan melihatnya menahan marah seperti ini membuat Mike berpikir dua kali untuk melangkah lebih jauh.


Mike menghela napas. “Okay, as you wish.”⁴ Kemudian menyesap minuman kalengnya.


[4] Oke, kalau itu maumu.

__ADS_1


“Aaaaa!”


Sebuah jeritan histeris seorang wanita tiba-tiba terdengar dari arah kolam. Fokus keduanya spontan teralihkan. Di antara seluruh kerumunan yang sedang berenang, Mata Darren panik mencari sosok Lily.


Namun nihil.


Darren spontan berdiri dari kursinya, menatap dengan dada bergemuruh. Anaknya dan Lily tidak ada di sana. Darren yakin sekali mereka masih bermain di tengah kolam tadi.


“Seseorang tenggelam, tolooong!” Jerit salah satu perempuan di antara kerumunan orang di kolam.


Sayangnya, mereka semua buru-buru naik ke permukaan dan berharap lifeguard datang menarik dua orang yang tenggelam itu.


Darren merutuki semua orang tersebut. Apa gunanya mereka bisa berenang kalau rasa kemanusiaan mereka begitu rendah? Bukannya menolong, mereka memilih menghindar seolah-olah ada monster yang akan menarik kaki mereka untuk ikut menghilang.


Tak sempat bereaksi lebih lanjut, sosok Mike tiba-tiba lewat begitu saja dalam sekelebat bayangan dan langsung terjun ke dalam kolam. Darren berlari ke pinggir kolam untuk melihat.


Semua orang menunggu, namun satu menit kemudian tidak ada tanda-tanda. Darren semakin panik, dan mulai membayangkan hal yang tidak-tidak.


Buah hatinya, hidupnya. Argh! Bahkan Darren merasa benci pada dirinya karena tidak bisa turun ke sana.


“Kumohon, selamatkan mereka.” Darren berdoa dalam bisik.


Hingga akhirnya sesuatu menyembul keluar di permukaan air.


Itu mereka!


Darren menyaksikan Mike yang tengah menarik Lily dan Mary di kedua sisi lengannya, berusaha sekuat tenaga untuk membawa mereka ke pinggir kolam, meski Mike sendiri sudah hampir kehabisan napas karena berenang hingga ke dasar kolam.

__ADS_1


Saat itu kaki Darren hanya bisa melemas, matanya berair tanpa ia sadari.


Hal paling menyakitkan dari semua kejadian ini adalah ketika dunianya jatuh, ia hanya mampu menatap dari ujung sana, tanpa bisa berbuat apa-apa, dan merasa ayah yang paling tidak berguna di dunia.


__ADS_2