
“Jadi seperti itu?”
Darren meneguk air yang berada di atas meja, dipandangnya Victoria dengan serius. Victoria masih menunduk, pandangannya sendu. Sekarang, apapun yang akan dikatakan Darren, dia akan terima.
“Maafkan aku ...”
Victoria spontan mendongak. “Eh?” Beonya.
“Maafkan aku karena sudah salah sangka dan bersikap keras kepala. Aku tidak berpikir sampai ke sana padahal aku tahu kau yatim-piatu, mengurus Mary tanpa persiapan memang tidak mudah, aku akui.” Darren berusaha tersenyum. “Aku juga minta maaf karena sudah menyalahkan segalanya padamu.”
Victoria mengusap air matanya yang jatuh tanpa sadar, pelupuk matanya memanas tanpa bisa dibendung, namun ia berusaha tegar. Tidak ada yang lebih melegakan dari hal ini. Bebannya bertahun-tahun seolah-olah terangkat hari itu.
Darren menyesap kopinya, kemudian memandang ke luar jendela kafe ini.
“Lily sudah cerita ... bahwa kau berniat memperbaiki hubunganmu dengan Mary,” Darren kembali menatap ke arah Victoria. “Apa kau yakin tentang itu?”
Victoria mengangguk-angguk. “Aku tidak pernah sempat menjadi ibu untuknya sejak dia dilahirkan. Aku ingin hubungan kami membaik, aku tidak pernah berniat ingin mengambilnya darimu. Aku ingin, untuk sekali saja, aku punya kesempatan untuk melaksanakan tugasku sebagai sosok yang melahirkannya. Dia adalah kewajibanku, meski terlambat, tapi aku benar-benar serius untuk memperbaiki hubungan ini.”
Darren menghela napas. Ia terdiam cukup lama. Meski ia masih memiliki perasaan egois di hati kecilnya, namun melihat Victoria yang benar-benar serius ditambah kejelasan dibalik alasan ia meninggalkan Mary hari itu---Darren tidak bisa untuk menolak dan bersikap acuh lagi. Ia kembali mengingat kata-kata Lily ‘Mary pasti akan bahagia apabila kelak memiliki dua ibu’.
Jadi, dengan senyum tulus, Darren mengangguk. “Kurasa sudah waktunya Mary bertemu ibunya.”
...----------------...
Kedua bola mata anak perempuan itu mengerjap. Menatap dua orang dewasa di depannya. Pandangannya lantas menoleh pada seorang wanita di sebelah kanannya, yang balas menatapnya dengan senyuman manis.
“Mommy, Mary tidak mengerti.” Setelah beberapa saat, Mary mendongak ke sebelah dimana ada Lily duduk di sana.
“Hm?” Lily menaikkan kedua alisnya. “Yang mana?”
“Ayah bilang dia adalah ibu Mary,” telunjuk kiri Mary menunjuk Victoria yang sedang duduk di sebelah Darren di seberang sofa rumah keluarga McGold.
Lily mengangguk. “Iya, itu memang ibunya Mary. Yang melahirkan Mary dulu,” katanya memberi pengertian.
Kening Mary naik berkerut. “Tapi Lily adalah Mommy Mary. Bukan Aunty itu.”
Lily tersenyum geli. Lalu menggenggam kedua tangan Mary. “Mary sayang ... Mary pernah jadi baby, kan?”
Mary mengangguk.
“Naaah, dulu Mary lahir dari perut Aunty itu.”
Kedua bola mata Mary sontak melotot dan mengerjap polos. “Mary jadi baby di perut Aunty?”
“Iyaaa, makanya Mary harus memanggil Aunty dengan Mommy juga mulai sekarang. Mary kan sudah pernah tidur di perut Aunty, jadi Mary harus berterimakasih.”
Tiba-tiba Mary turun dari sofa dan berlari ke arah Victoria di seberang sana. Victoria mengerjap terkejut saat Mary mendekatinya.
__ADS_1
“Eh?” Victoria membeo.
“Perut Aunty,” panggilnya sembari mengusap-usap permukaan perut wanita itu. “Terimakasih naa sudah membiarkan Mary jadi baby di dalam sana.”
Victoria tidak dapat menahan harunya. Ia setengah tertawa dan setengah menahan tangis. Pelupuk matanya memanas, namun ia kedip-kedipkan sembari mendongak agar tetes bening itu jangan sampai turun.
“Iyaaa, sama-sama Mary yang manis,” Victoria mengikuti permainan kekanak-kanakan itu dengan mencolek hidung mungil putrinya.
“Sekarang, ayo panggil Aunty dengan sebutan Mommy,” Lily bersuara kembali setelah turut berusaha menawan tawanya bersama Darren.
Namun, Mary mengerjap menatap Lily, lalu mendongak ke arah Victoria.
Anak itu kemudian menggeleng. “Tapi Mary tidak mau,” katanya kembali memandangi Lily dengan sedikit sedih.
“Kenapa?” Lily turut sedih.
“Panggilan Mommy hanya untuk Lily saja.”
“Lalu Aunty harus mendapat panggilan apa?”
“Mmm ...” Mary mengetuk-ngetuk dagunya. Berusaha berpikir dengan otak kecilnya. “Aha!” Anak perempuan itu kemudian nampak mendapat ide. “Mary panggil Momma saja, bagaimana?” Tanyanya memiringkan kepala sembari mendongak menatap Victoria.
Victoria mau pingsan rasanya, kenapa Mary begitu imut!
Victoria langsung mencubit pipi Mary dengan sayang. “Anak pintaaar!” Serunya gemas.
...----------------...
Semenjak hubungannya membaik, Victoria jadi sering bertukar kabar dengan Lily, menanyakan banyak hal tentang kesukaan Mary dan apa saja kegiatan yang dilakukan anak perempuan itu ketika senggang.
Dan sebagai kewajibannya sebelum menikah dengan Ethan, Victoria memilih tidak merahasiakan keadaannya lagi, ia memberitahu calon suaminya sehari setelah kunjungannya di rumah Darren. Dan alangkah leganya Victoria yang mendapati Ethan begitu terbuka dengan masa lalunya. Victoria tidak bisa untuk tidak lebih bersyukur lagi, Ethan begitu mencintainya hingga ia menerima segala apa yang ada pada diri wanita itu tanpa sedikitpun menghakimi segala kekurangannya.
Jadi, Minggu malam itu, dengan senang hati Victoria dan Ethan datang bertamu ke rumah keluarga Suppasit. Victoria ingin memperkenalkan Ethan pada putrinya itu.
“Malam!” Victoria menyapa kelewat semangat begitu pintu rumah terbuka, tangannya bergoyang-goyang memamerkan tas belanjaan dengan isi yang beragam.
Lily menyambut dengan senyum merekah. Kemudian menyambut Victoria dalam pelukannya. Setelah itu dia menyuruh mereka masuk ke dalam.
“Darren!” Panggil Lily.
Tidak lama kemudian Darren muncul dari lantai atas bersama Mary di gendongannya. Victoria buru-buru menyerahkan belanjaannya ke tangan Ethan. Melihat Darren melangkah turun ke bawah, Victoria sudah bertepuk tangan senang di bawah anak tangga sana, menanti untuk mengambil giliran menggendong putrinya itu.
“Momma!” Mary tidak kalah senang dan langsung melompat ke pelukan ibunya. Hati Ethan menghangat melihat itu, belum pernah ia melihat calon istrinya sebahagia itu akhir-akhir ini.
Selang kemudian Lily bersuara, “Kalau begitu aku ke dapur dulu, mau menyiapkan makan malam.”
Darren dan Ethan mengangguk, sementara Victoria terlalu larut dan sudah dari tadi pergi bermain bersama Mary di rumah-rumahan berbentuk kastil seorang putri.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu?” Darren menyapa teman bisnisnya itu.
Ethan tersenyum. “Sebentar lagi aku akan menikah, tidak ada yang lebih bahagia dari itu,” jawabnya sembari meletakkan tas belanjaan di atas meja ruang keluarga rumah Darren.
Darren mengangguk-angguk. “Kalau begitu silahkan duduk,” tawarnya sembari ikut duduk. “Apa kau ingin minum sesuatu?”
Ethan menggeleng. “Tidak perlu.”
Lalu, pandangannya mulai memindai sekitar, melihat-lihat kemegahan rumah Darren, sebelum akhirnya bertemu kembali dengan tatapan pria itu.
Ia menarik napas sebelum berbicara, “Aku tidak menyangka bahwa dulu kalian punya hubungan.”
Darren paham ke mana arah pembicaraan ini, matanya lantas melirik Victoria dan Mary yang masih sibuk bermain bersama, bibirnya kembali tersenyum hangat.
“Kejadiannya sudah cukup lama,” Darren menghela napas dan kembali menatap Ethan. “Namun dia akhirnya menemukan cintanya ... dan aku menemukan cintaku. Sepertinya kami berdua mengatasi hati kami masing-masing dalam 6 tahun terakhir ini.”
Ethan tersenyum. Dia pria yang cukup berpikiran terbuka dan memandang segalanya dengan positif. Melihat orang yang dia cintai sudah sepenuhnya bahagia seperti ini adalah berkah baginya.
“Semuanya, makan malam sudah siap.”
Perbincangan yang bertahan selama berpuluh-puluh menit itu akhirnya diinterupsi oleh Lily.
Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk langsung ke ruang makan. Ketika Lily hendak mengambil Mary karena biasanya dia yang menyuapinya, mendadak anak itu enggan.
Lily terkejut setengah tertawa. “Jadi Mary tidak mau disuap oleh Mommy, hm?”
Mary menggeleng tertawa. “Mary mau sama Momma saja.”
Lily langsung mencolek hidung Mary. “Baiklaaah, baik.” Ia mengangguk-angguk maklum saja sebelum akhirnya mengambil duduk seperti yang lainnya.
Untuk perkara seperti ini Lily cukup mengerti, Victoria sudah 6 tahun tidak bertemu dengan putrinya, jadi ketika putrinya sendiri yang ingin selalu berada di dekatnya, maka Lily tidak boleh merusak kebahagian kecil tersebut dan hal itulah yang membuat Lily semakin spesial di mata Darren.
Makan malam hari ini terasa lebih lengkap dengan banyak tawa lepas dan pembicaraan-pembicaraan hangat yang tak berujung. Bahkan hingga makan malam usai, Lily tidak berhenti melayani tamunya dengan memberikan makanan pencuci mulut, kali ini Victoria ikut membantu di dapur untuk mencuci piring. Katanya biar Ethan dan Darren saja yang menikmati buah-buahan segar itu.
Namun, ketika cucian piring Victoria tinggal sedikit, Darren tiba-tiba datang dari arah ruang keluarga.
“Vic, aku ingin bicara sebentar.”
Victoria dan Lily saling berpandangan.
Lily mengangguk. “Tinggalkan saja piringnya, nanti kuselesaikan.”
Victoria langsung mencuci tangan, mengeringkannya, lalu pergi dari dapur, mengikuti Darren yang mengajaknya bicara di halaman belakang. Angin malam langsung menyapanya, membuat wanita itu menggosok-gosok lengannya karena dingin.
“Ada apa?” Tanya Victoria begitu langkah Darren berhenti di pinggir kolam. Perasaannya mendadak tidak enak.
Punggung Darren yang membelakangi Victoria langsung berbalik. Wajahnya serius. Sejenak, Victoria lihat pria itu memandangi arah pintu, seolah-olah mengecek bahwa tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
Darren kembali menatap Victoria. Serius. Tak berkedip. “Aku ingin meminta bantuanmu ...”