
Seharian Lily hanya berbaring di dalam kamar apartemen Mike.
Segalanya berbau Mike. Bahkan baju berlengan pendek hitam polos yang Lily kenakan sangat-sangat memiliki aroma khas Mike.
Perlahan Lily beranjak bangun, kemudian mengambil kompres yang berada di keningnya untuk di letakkan kembali ke dalam baskom.
Demamnya sudah mulai turun.
Mike bilang, dia akan ke kantor hari ini. Katanya, kalau Lily ingin melakukan sesuatu, dia bebas memakai apapun di dalam apartemen ini.
Meski sebenarnya Mike khawatir, karena takut Lily belum sembuh betul untuk mulai melakukan semuanya sendiri.
Tapi karena Lily yang memaksa dia tidak apa-apa ditinggal sendiri, ya mau tidak mau Mike percaya saja.
Menghela napas, Lily mengumpulkan tenaga untuk berdiri dari ranjang, kemudian pergi menuju kamar mandi.
Begitu selesai buang air kecil, Lily keluar dengan perasaan yang sedikit lega.
Kini dia lapar.
Membuka pintu lalu melangkah keluar dari kamar dan berhenti di pembatas kaca setinggi pinggang yang berada di lantai dua, mata Lily menelusuri seluruh ruangan dari atas sana.
Lantainya bening mengilap, begitu bersih seperti baru. Di hadapannya terdapat pemandangan kota melalui jendela raksasa super besar.
Di bagian luas sudut ruangan terdapat seunit sofa berwarna krim, lengkap dengan karpet bulu lebar di bawah kaki meja.
Ada juga TV yang tak kalah lebar lagi tipis, lebih wow dari milik Darren di rumah.
Lily menganga. Mike jelas bukan orang biasa-biasa saja.
Lily lanjut menoleh ke kiri, tak jauh dari jarak sofa, ada meja makan minimalis yang super modern. Jaraknya berdekatan dengan dapur.
Tanpa ragu Lily langsung melangkah turun menuju dapur, hendak mencari makanan dari kulkas.
Meski sebenarnya Mike sudah membuatkannya bubur, sayangnya Lily tidak berselera. Dia ingin makan sesuatu yang lidahnya inginkan.
Diambilnya sekaleng jus jeruk dan buah anggur. Kedua hal ini lebih segar dan menyehatkan.
Lily menikmati sarapannya sambil duduk bersandar di pinggir jendela, memandangi lanskap kota di pagi hari.
Tanpa sadar ia termenung hingga kejadian semalam semakin membayang. Mulutnya tidak lagi sibuk mengunyah buah anggur, ia tenggelam terlalu dalam, memandang muram objek tidak tentu.
Rasa alkohol di bibir Darren terasa seolah masih tertinggal. Lily memegangi bibirnya.
Pikirannya berkelana; ia dikotori dengan tidak hormat. Sebenarnya ke mana pria yang selalu ia kagumi itu? Ke mana Darren yang lemah lembut dan selalu berpikiran realalistis itu?
Selama ini Lily mempercayainya, mempercayai Darren bahwa dia laki-laki gentleman. Yang menjaga dan menghormati seorang wanita sebagaimana harusnya.
Tapi apa? Mencium bibir Lily dengan panas tanpa izin darinya? Bisakah itu disebut tindak pelecehan dan percobaan pemerkosaan?
Dalam semalam ia berubah menjadi bajingan yang menjijikan di mata Lily. Tepat seperti ayah tirinya yang syukur telah meninggal setahun lalu.
Setetes air mata tumpah dengan gamblangnya. Lily membenci dirinya, dia tidak ingin menjadi lemah dengan menangis. Dia seharusnya kuat dan mulai menjaga dirinya.
Digosoknya kasar air mata yang tumpah itu, beserta bibirnya yang masih menyisakan rasa dari kotornya tindakan Darren semalam. Lily terus menggosoknya seperti ingin gila, dia jijik pada dirinya dan membenci pelakunya. Lily tidak berhenti hingga setetes darah segar melekat di ujung bajunya.
Bibirnya berdarah.
Lily kembali menangis. Lantas memeluk lututnya dan terisak di sana.
Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Entah karena dia merasa paling dirugikan dalam hal ini, atau karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Tidak mungkin ia meminta pertanggungjawaban. Lily jelas tahu di mana posisinya. Dia hanyalah pengasuh. Hanya itu. Tidak lebih.
Tidak mungkin pula ia menuntut Darren. Lily tidak selupa itu pada kebaikan yang telah diberikan Darren kepadanya sampai tega melakukan hal demikian.
Lily benar-benar terjebak dalam lautan kebimbangan. Seolah-olah dia tidak ada pilihan lain selain harus melupakan kejadian itu dan bersikap hal tersebut tidak pernah terjadi.
Tapi bagaimana caranya?
Dia tidak baik-baik saja.
Triiing ...
Triiing ...
Lalu, sebuah nada dering dari ponsel menggema di seluruh sudut ruangan, menginterupsi Lily.
Lily mendongakkan kepalanya perlahan, masih sesenggukan, ia mengerjap untuk sadar.
Bunyi itu seperti tidak akan berakhir dengan cepat. Tapi dari mana datangnya, Lily tidak tahu. Berinisiatif untuk menemukannya, Lily mengusap air matanya dan pergi meletakkan sarapannya tadi di atas meja makan sebelum pergi mencari asal bunyi tersebut.
Lily berakhir menemukan benda pipih itu di atas meja bagian bawah televisi yang menggantung di dinding.
Lily meraihnya dan mendapati pemanggilnya adalah ayah Mike sendiri.
Perempuan itu mengerjap, berpikir sebentar, sebelum memutuskan untuk mengangkatnya.
"Mmm ... halo?" Sapa Lily.
Thanit di seberang sana yang mendengar suara wanita dari ponsel Mike langsung saja melotot. Anaknya itu rupanya belum berhenti juga bermain wanita!
"Mana Mike?" Tanya Thanit begitu sinis.
"Mike sedang ke kantor," jawab Lily begitu lembut, masih tersisa kesedihan di matanya.
"Lalu kenapa ponselnya ada padamu?"
"Mmm ... sepertinya Mike melupakannya," katanya kebingungan sendiri. "Haruskah aku membawakannya agar kalian berdua bisa berbicara?"
__ADS_1
Thanit spontan memandangi layar ponselnya sebentar. Wanita yang satu ini agak berbeda dari wanita biasanya yang ia dengar melalui ponsel Mike. Mereka biasanya terdengar seperti pelacur bayaran atau anak manja dari keluarga kaya, tapi ini ... wanita yang satu ini berbicara dengan sopan dan lembut.
Thanit mengernyit. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan sekarang, jadi bagaimanapun juga tidak boleh ditunda. "Mmm ... baiklah."
"Kalau begitu aku tutup dulu, Paman."
"Hm."
Lily tidak sempat bersiap-siap mengingat dia tidak membawa baju apapun, jadi dia langsung keluar dari apartemen menggunakan baju hitam polos pendek yang dikenakannya sejak terbangun, celana training hitam yang kelewat panjang dan sendal yang tersedia di rak sepatu.
Hal yang paling tersulit untuk bisa membawa ponsel itu ke pemiliknya adalah membuat Lily harus berlari beberapa blok dari gedung apartemen Mike ke kantor Darren; membuat kesehatan Lily yang masih belum pulih dikuras dengan paksa.
Ini salahnya karena pergi tanpa persiapan. Tidak ada pakaian dan uang. Benar-benar ceroboh.
Lily tidak tahu berapa puluh menit dia berlari dan berjalan setelah berhenti sejenak, tapi akhirnya ia sampai di gedung kaca itu.
Peluh memenuhi pelipisnya, bibirnya pucat luar biasa, pandangannya mengabur dan seolah-olah memerintahkannya untuk terpejam. Tapi Lily tidak boleh lengah. Ia melangkah masuk tertatih-tatih seraya memegangi perutnya yang sakit karena berlari terlalu jauh.
Di lobi lantai satu ada meja resepsionis, Lily menghampiri perempuan yang sama waktu itu.
"Permisi ..."
Si wanita pemilik tahi lalat di sudut bawah mata kanannya itu mendongak, namanya Jane. Ia cukup terkejut begitu melihat tampilan Lily yang sedikit ... yaah, berantakan.
"Mmm ... ada yang bisa saya bantu?"
Lily menelan ludahnya setengah mati. Lalu menjulurkan ponsel Mike yang diambilnya dari celana training.
"Bisa berikan ponsel ini kepada pemiliknya? Ayahnya ingin berbicara hal penting sekarang. Namanya Mike, aku tidak tahu nama belakangnya tapi kumohon sampaikan ini padanya." Lily memasang ekspresi memohon.
Jane yang dari awal sudah kasihan dengan Lily langsung saja mengiyakan. "Ba, baiklah. Akan kusampaikan padanya---tapi Nona ... apa anda baik-baik saja?"
Lily melambaikan tangan. "Tidak apa-apa. Sebaiknya aku pergi sekarang."
Jane hendak memanggil ketika Lily berbalik, ada rasa khawatir di dadanya.
Dan benar saja, Lily yang tak dapat berjalan lurus lagi akhirnya tumbang, meninggalkan bunyi keras setelah tubuhnya jatuh.
Beberapa orang yang berada di lobi sontak teralihkan dan langsung menghampiri Lily. Jane keburu panik dan menelpon rumah sakit.
Tubuh Lily ramai dengan beberapa orang yang mengelilinginya, menjadi penonton tanpa berniat melakukan apapun.
Tepat pada saat itu, Darren keluar dari lift, hendak keluar menjemput Tamtam di sekelohnya. Namun melihat situasi ramai di lobi gedung kantornya, Darren memutuskan untuk melihat. Begitu orang-orang bergeser, Darren terpaku di tempatnya berdiri.
Perempuan yang seharian penuh menjadi beban pikirannya mendadak muncul dengan kondisi seperti ini, hatinya tentu saja bagai diremas. Begitu sakit.
Darren berlutut. Apa yang terjadi padamu? Batinnya lirih.
Menelan ludah kasar seperti ingin menangis, Darren mendongak dan bertemu tatap dengan Jane yang baru masuk ke dalam kerumunan.
"Pak, saya sudah memanggil ambulans. Tidak perlu khawatir."
Tanpa menunggu respon Jane dan reaksi orang-orang. Dengan begitu seimbang, Darren menggendong tubuh Lily dan membawanya pergi seolah pemandangan itu biasa saja.
Menghilangnya punggung kokoh Darren dari balik tembok sontak mengundang pembicaraan tak berdasar yang tentu tidak sedap di telinga dari mulut para karyawan.
Jane mendengus kesal dan membubarkan mereka. Lebih tepatnya mengusir mereka dari depan meja resepsionisnya.
...----------------...
Butuh berpuluh-puluh menit bagi Darren untuk menunggu Lily hingga siuman.
Ketika wanita itu pertama kali membuka mata, ia mengerjap untuk sadar, lalu mengamati seluruh ruangan. Begitu tahu ia berada di ruangan Darren, Lily langsung beranjak bangun. Namun kepalanya spontan terasa dihantam ke dinding.
Beruntung Darren ada untuk menahan tubuh Lily agar tidak jatuh dan langsung membaringkannya kembali.
Tetapi Lily bereaksi berlebihan, ia menghempaskan paksa kedua tangan Darren dan mendorong pria itu menjauh darinya.
Darren melangkah mundur seraya mengenryit melihat Lily yang masih memegangi kepalanya dalam keadaan terduduk bersandar di sofa.
"Lily ..." Darren memanggil takut-takut, seolah-olah khawatir berkata salah. "Kenapa kau seperti ini?"
Lily memejamkan matanya begitu erat, seolah-olah dengan begitu sakit di kepalanya akan mereda.
Memutuskan membuka matanya paksa, pandangan Lily masih terlihat buram, ia berkedip-kedip hingga fokusnya kembali normal.
Darren mencoba menyentuh Lily lagi. Namun Lily bergeser ke samping seperti takut akan parasit, membuat Darren dengan sedih menarik lengannya kembali. Pria itu akhirnya menyerah dan duduk lagi di single sofa miliknya. Menunggu Lily hingga ia bisa mengatasi sakitnya sendirian.
"Aku ... aku harus pergi," kata Lily seperti sedang diburu waktu dan langsung berdiri untuk pergi setelah beberapa saat menahan sakit.
"Tunggu!" Darren beranjak dari kursinya, berdiri mematung di sana.
Lily berhenti. Ia tertunduk, jantungnya berpacu takut. Ia bahkan tak niat berbalik menghadap ke arah majikannya.
"Kau mau ke mana, Lily? Kau tidak punya siapa-siapa di kota ini ... kenapa kau pergi begitu saja? Aku mencarimu pagi ini selama 2 jam, ke tempat yang biasanya kau kunjungi, tapi kau tidak ada di manapun. Sebanarnya ada apa? Kenapa kau menghindar seperti ini?"
Ada banyak alasan kenapa Lily harus melakukannya. Tapi tak banyak orang yang bisa mengerti dirinya. Dan itu termasuk pria yang telah 6 tahun bersamanya. Terlebih ketika pria itu sendiri penyebab dari masalah runyam ini.
Setetes air mata yang tertahan akhirnya menumpahkan bebannya.
Tapi Lily tidak ingin terlihat lemah. Maka ia mengusap kasar air matanya.
"Lily ..." Darren melangkah mendekat. "Kau menangis?"
"Berhenti!" Lily membentak dengan suara bergetar. "Aku tidak ingin menemui siapapun saat ini. Tolong jangan mencariku."
Lily langsung melangkah pergi. Namun Darren lebih dulu mengejarnya. Pintu yang barusan dibuka Lily langsung dibanting kuat oleh Darren hingga tertutup kembali, mengagetkan Diana dan Ophelia di luar sana.
Lily menunduk terdiam, di belakangnya Darren berdiri begitu dekat, napasnya bahkan terasa berembus di sela leher Lily.
__ADS_1
"Kumohon jangan pergi." Darren terdengar panik, terdengar takut kehilangan.
"Aku tidak bisa."
Darren spontan memegang kedua pundak Lily, memaksanya berbalik menghadap ke arahnya.
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa tinggal dan menetap?" Darren marah. Dia frustasi.
Lily seperti tidak tahan dalam posisi seperti itu, ia berusaha lepas tetapi cengkraman Darren begitu erat.
Dan kenapa Darren yang marah di sini? Bukankah Lily yang dirugikan?
"Karena sesuatu yang kau lakukan membuatku tidak bisa untuk tetap tinggal!"
Untuk pertama kalinya, Darren merasakan amarah di dalam diri Lily. Begitu nyata hingga membuat pria itu mematung memandang terkejut.
"A, apa maksudmu? Perbuatan apa yang sudah kulakukan?"
Lily mengeratkan rahangnya, perlahan berusaha melepaskan cengkraman Darren yang mulai longgar.
Lalu di depan mata Darren, wanita itu mendongak dan menatap dengan mata berkaca-kaca, menekankan setiap katanya yang berasal dari kemarahan.
"Sesuatu yang tak akan pernah bisa kumaafkan."
Lily berbalik dan membuka pintu, keluar dari ruangan tersebut seraya menangis dengan perasaan takut yang masih tersisa.
Salah apabila dia terlihat tegar, dari awal sebenarnya Lily sudah takut hal yang sama akan terjadi lagi. Berada di dekat pria yang telah melecehkannya tentu ada perasaan was-was. Seolah-olah kejadian yang sama bermain di depan matanya dan tak ada siapapun yang bisa menjamin keselamatannya.
...----------------...
Di saat yang bersamaan, Mike keluar dari lift karena sudah jamnya untuk istirahat.
Sampai di lobi, Jane yang berada di balik meja resepsionis dan sedari tadi sudah menunggu kemunculan Mike---tiba-tiba memanggil. "Pak! Pak Mike!"
Mike spontan menoleh dan langsung menunjuk dirinya. "Aku?"
Jane mengangguk. Mike langsung menghampiri meja resepsionis dan bertanya, "Ada apa?"
Jane menyodorkan ponsel yang tadi di titipkan Lily. "Ini ponsel Bapak, bukan?"
Mike mengambilnya ragu-ragu dan memeriksanya. "Benar, ini ponselku. Tapi ... kenapa bisa ada padamu?"
"Ah, tadi ada seorang perempuan datang membawanya kemari."
Duh! Pasti Lily, padahal aku sengaja meninggalkannya karena Ayah pasti selalu meneleponku di tanggal 10.
Alis Mike mengernyit, tenggelam dalam pikirannya. Setelah itu ia mendongak untuk bertanya, "Lalu ... wanita itu ke mana"
Jane sontak merasa terbebani untuk mengatakan yang sebenarnya. "Dia ... Dia pingsan begitu hendak pulang, Pak."
Kedua alis Mike spontan naik sekian senti. "Ha?! Pingsan?"
Jane mengangguk takut. "Iya, Pak. Tadi sudah dibawa ke ruangan Pak McGold. Beliau meminta untuk tidak dipanggilkan ambulans."
Mike semakin mengernyit dalam. "Baiklah, terima kasih informasinya."
Setelah itu dia permisi dan berlari masuk ke dalam lift lagi untuk menuju ruangan Darren.
Dan tepat pada saat itu, begitu lift terbuka di lantai yang Mike tuju, sosok Lily muncul. Ia tengah mengusap sisa air matanya sembari tertunduk melangkah masuk ke dalam lift. Tanpa menyadari kehadiran Mike sama sekali, Lily menekan tombol untuk ke lantai satu.
"Lily ..."
Lily mendongak, ia mendapati Mike terpaku menatapnya di dalam lift.
Lily menelan ludah saat Mike menghadap ke arahnya.
"Kau menangis?"
"Ti, tidak. Aku hanya kelilipan."
Mike menggeleng. "Jangan bohong padaku, katakan siapa yang membuatmu menangis."
Lily terdiam. Mike yang sebenarnya sudah berprasangka buruk bahwa Darren pelakunya tentu semakin naik pitam. Pria itu hanya tinggal mendengar dari mulut Lily saja dan langsung pergi menghajar Darren.
Tapi Lily terlihat takut.
"Lily, katakan aku harus apa. Aku akan melakukan apapun keinginanmu. Apakah Darren yang membuatmu menangis? Kalau kau ingin, aku akan memberinya pelajaran. Kau hanya tinggal mengatakan bahwa dia pelakunya, dan aku akan menghajarnya."
Lama Lily terdiam, tapi akhirnya ia hanya menggeleng. Wanita itu menggigit bibirnya menahan tangis.
Rasanya Mike hanyalah orang asing yang baru beberapa kali Lily temui, tapi kenapa dia yang paling peduli diantara yang lainnya? Kenapa Mike harus sebaik ini pada Lily?
Lily kembali terisak. Kali ini tidak ia tahan. Mike yang tadinya marah hanya bisa mengembuskan napas kasar untuk menenangkan diri.
Perlahan ia mendekat, lalu mendekap tubuh Lily yang hanya setinggi dadanya. Menepuk-nepuk punggung perempuan itu yang rasanya akan hancur tepat saat itu juga.
Pandangan Joss melembut, begitu nyata kesedihan Lily yang ia rasakan. Ia tidak tahu apa masalah wanita ini, namun satu yang ia ketahui, bahwa dirinya ingin melindungi Lily apapun taruhannya.
N O T E
Chapter ini tanpa sadar ditulis dan kepikiran untuk didedikasikan bagi wanita di luar sana yang pernah mendapat tindak pelecehan maupun pemerkosaan.
Beberapa orang hanya tidak tahu seberapa berharganya suatu hal bagi orang lain.
Mungkin kalian anggap; Ah, cuman ciuman doang kok udah kek direbut keperawanannya; Lebay banget sih, ya kali sampe diratapi berhari-hari, sok suci.
Aduuuh cinta ... kamu nggak tahu aja traumanya orang pernah dipaksa 'gituan'. Emang ente berani gantian di posisi seperti itu?
And Sweetie ... don't put the blame on yourself. You're not alone, nor your fault. Some things happens to teach us the meaning behind it. So keep fighting and never give up to yourself. Selalu ada hal baik yang datang setelah kepedihan. Jangan berhenti berharap akan ada masa depan yang baik untuk kamu. Jangan terpaku pada rasa bersalah yang sama sekali tidak kamu lakukan.
__ADS_1