OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
14


__ADS_3

“Pasien sudah bisa pulang besok,” adalah hal yang disampaikan sang Dokter begitu selesai memeriksa Lily yang sudah terbaring selama 3 hari di ranjang rumah sakit.


"Namun jangan lupa juga membawanya untuk pemeriksaan apabila ada keluhan pada pita suaranya." Darren mengangguk-angguk. "Kalau begitu, saya permisi dulu," Dokter tersenyum sebelum pamit keluar dari ruangan.


Darren memandangi punggung Dokter hingga menghilang di balik tembok, kemudian beralih menatap Lily yang ternyata balas menatapnya.


Darren menghela napas. “Baguslah kau sudah bisa pulang besok.”


Lily tersenyum lemah. Panasnya sudah menurun, kini agak terasa lebih hangat, meski sebenarnya tulang-tulangnya ikutan sakit tanpa sebab. Kata Dokter, Lily mengalami gejala demam tulang bersamaan dengan demamnya waktu itu.


“Bagaimana dengan Mary?”


“Tidak begitu baik, dia banyak rewel. Mungkin beberapa hari lagi dia bisa keluar.”


Lily mengangguk dan kembali menatap langit-langit. Ah, sudah beberapa hari ini dia hanya bisa terbaring di ranjang. Dan sudah berapa hari juga ia hanya melihat plafon ruangan ini. Rasanya seperti rutinitas tak berujung yang membosankan.


Lily menghela napas.


Helaan napas Lily berhasil membuat Darren mengerutkan kening. “Kenapa?”


Lily menoleh. “Apanya?”


“Dari pagi kau terus menghela napas. Bahkan sudah sore pun kau masih menghela napas. Apa ada yang menggangu pikiranmu?”


“Aku hanya bosan berada di sini.”


Darren mengerjap, lalu mulai berpikir. “Kalau begitu ... mau jalan-jalan sore denganku?”


Spontan kedua alis Lily naik sekian senti. Ditawari begitu sepertinya ide yang bagus. Lengkungan senyum perlahan menghias, Lily mengangguk.


Dengan cepat Darren langsung pergi mengambil kursi roda di sudut ruangan, lalu menyetelnya. Setelah itu dia mulai membantu Lily untuk bangun, menggendongnya untuk duduk di kursi roda, kemudian mengikutsertakan infusnya.


Berjalan di lorong rumah sakit untuk pertama kalinya, Lily dilanda bahagia. Perasaannya jadi mendingan.


Mereka lanjut turun dari lantai 4 ke lantai satu dengan lift, setelah tiba, Darren setia mendorong kursi roda Lily melewati lobi rumah sakit dan keluar menuju taman di sebelah gedung ini.

__ADS_1


Rupanya ada beberapa pasien yang juga turut meramaikan taman ini. Di beberapa titik, Lily bisa melihat bahwa mereka sama dengannya, hanya ingin mencari angin karena terlampau bosan di dalam sana.


Ah, rasanya segar sekali melihat rimbun pepohonan di sekitaran danau yang kini menjadi tempat pemberhentian Darren dan Lily.


Lily masih duduk di kursi rodanya, sedangkan Darren memutuskan duduk di bangku taman.


Mereka terdiam dalam hening, memandang cakrawala berkabut awan selembut kapas melalui pantulan air danau. Lily memejamkan mata, menghela napas panjang sehabis menghirup dalam-dalam udara bersih di sekelilingnya. Ia tersenyum lebar saking senangnya.


“Kau sebegitu senangnya?” Darren tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum melihat bagaimana Lily menikmati momen ini.


Lily mengangguk cepat. “Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Kemudian tanpa sadar Darren malah mengacak-acak puncak rambut Lily. Membuat kepalanya merunduk karena tidak mengetahui kedatangan telapak tangan yang besar itu untuk memegang rambutnya tanpa izin.


Meski begitu, Lily menyukainya.


Namun, karena Darren bertindak tanpa sadar, ia diam-diam menyalahkan dirinya karena melakukan itu.


Darren menggigit bibirnya, lalu tersenyum bersalah. Lily membalasnya dengan senyum malu-malu.


“Maaf,” Darren tidak berani menatap Lily saat mengatakannya.


Tapi Lily dengan cepat menggeleng. “Tidak masalah.”


Setelah itu keduanya terdiam cukup lama, kembali memandangi danau. Sesekali Lily memilih memandang semburat keunguan pada langit, warnanya semanis bunga-bunga mekar, semenarik kupu-kupu dalam perut yang mulai beterbangan dengan liar.


Lily sadar. Tiba-tiba ia ditampar kenyataan. Senyumnya menghilang.


Lily sadar, dia mulai menumbuhkan rasa yang seharusnya tidak ada dan tidak dibutuhkan. Lily berutang banyak pada Darren. Bagaimana bisa dia memiliki rasa lebih dari ini, lebih dari antara pengasuh dan majikan?


Astaga, berhentilah berdegup!


Lily memukuli dadanya tanpa sadar. Hal itu spontan membuat Darren panik berlebihan.

__ADS_1


“Kau kenapa? Dadamu sakit? Katakan! Apa karena air danaunya? Kau tidak mengalami serangan panik, kan?” Darren menyerang bertubi-tubi dengan pertanyaan.


Lily mendadak berhenti memukuli dadanya dan terdiam menatap wajah Darren yang sembari memegangi kedua pundaknya dengan erat.


Lily tidak tahu mengapa. Tapi apa Darren harus menunjukkan perhatiannya hingga seperti ini? Apa Darren sekhawatir itu pada dirinya? Kenapa harus memberikannya harapan? Kenapa Lily harus semelankolis ini?


Lily membuang muka, menunduk dalam. “Aku tidak apa-apa,” Lily membalas dingin, kemudian ia berdehem. “Aku ingin kembali ke kamarku.”


Darren mengerjap setelah kepanikannya yang berlebihan. Kemudian ia tersentak. “Oh, oke, baiklah.”


Darren tidak paham sesuatu selama perjalanan mereka kembali ke ruangan Lily, tapi satu hal yang Darren sadari, bahwa Lily menjadi dingin padanya. Lily tidak pernah seperti ini, dia selalu menjadi tipe wanita yang menurut dan lembut. Dan itu mengusik Darren yang baru pertama kali mendapat perlakuan seperti ini darinya.


Darren tidak marah. Dia malah heran dan bertanya-tanya. Padahal tidak satupun perlakuannya pada Lily yang aneh-aneh sampai harus mendapat perlakuan dingin seperti ini.


Tapi Darren berusaha paham. Mungkin Lily hanya sedang sensitif karena demamnya. Ya, mungkin begitu. Semoga tidak berlama-lama.


...----------------...


Namun Darren salah.


Keesokannya ketika Lily keluar dari rumah sakit, dia malah lebih memilih menerima bantuan Mike untuk mengantarnya pulang daripada memilih Darren yang lebih dulu berinisiatif untuk melakukannya.


Lily jadi lebih sulit dimengerti.


Di lain sisi dia bilang bahwa Darren lebih baik menjaga Mary saja yang jelas membutuhkan ayahnya. Tapi di lain sisi, disaat dia mengatakan hal itu, seolah-olah tatapannya menjadi dingin tanpa sebab. Darren bahkan tidak melihatnya dengan teliti, tapi dia merasakannya. Seolah-olah lagi, Lily tidak tahan berada di dekat Darren dan ingin menghindar.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Little did he knows, Lily hanya berusaha menghindar untuk menghilangkan rasa yang tumbuh di dadanya. Jantung yang berdebar ketika dia berada di sekitarnya, pipinya yang merona ketika menatapnya, semua itu tidak mungkin Lily tunjukkan pada Darren.


Cinta itu mematikan. Bisa menjalar dengan cepat. Mencabik-cabik dada tanpa ampun. Dan Lily yang lemah tak berdaya harus melawan perasaan yang seperti itu.


Memangnya hal apa lagi yang bisa ia lakukan kalau bukan dengan bersikap dingin dan menghindar? Bukankah hal itu akan lebih mudah, masing-masing pihak tidak akan ada yang tersakiti pada akhirnya.


Bayangkan saja, Darren akan terbiasa dengan sikap dingin Lily dan mulai menghiraukannya. Lalu Lily yang dihiraukan mulai sama-sama terbiasa dan memutuskan untuk melupakan perasaannya.

__ADS_1


Ya, dengan cara seperti itu, maka tidak ada perasaan yang harus terluka.


__ADS_2