
“Ayah bohong! Bohong! Mana Mommy, Ayah?!!!”
Mary meracau, ia mengamuk begitu bangun dari tidurnya. Dari semalam hingga pagi ini, meski demamnya yang tidak juga turun, ia masih kuat untuk berteriak dan menangis.
Darren memandang sayu, hanya bisa memeluk Mary yang menarik-narik bajunya.
Apa yang harus dia lakukan?
“Mencari Mommynya lagi?” Pertanyaan itu tiba-tiba datang dari arah pintu ruangan VIP anak.
Ketika Darren berbalik, ada Ophelia di sana. Ah, tentu saja. Diana pasti sudah bercerita soal kejadian semalam, dan sekarang Ophelia turut menjenguk.
Darren menghela napas, lalu mengangguk. Ophelia melangkah masuk dengan menenteng sebuah keranjang buah di tangan kirinya.
“Bagaimana kondisinya? Masih demam?”
“Hm.”
Ophelia lantas mendudukkan dirinya di atas sofa. “Kenapa tidak menghubungi Mommynya? Berikanlah apa yang dia minta, mungkin dengan begitu Mary bisa kembali sembuh.”
“Kami tidak sedang dalam hubungan yang baik. Mommynya pergi dari rumah dan tidak membawa ponselnya.”
Mendengar hal itu, Ophelia hanya bisa mengernyit.
“Mmm ... apa tidak ada cara lain untuk menghubunginya?”
Sebenarnya ada, dan itu melalui Mike.
Melihat Darren terdiam begitu lama, Ophelia kembali bersuara, “Kau yakin tidak ada? Kalau begitu Mary pasti akan terus seperti ini. Memangnya kau mau putrimu menjadi gila?”
Darren mendelik. Ya tentu saja tidak!
Mendengus, Darren memberitahu putrinya bahwa ia harus keluar sebentar dan menjanjikan akan membawa Lily kembali padanya, barulah pada saat itu Mary menghapus kasar air matanya dan berusaha bermain-main dengan Ophelia.
Begitu keluar menuju kafe di lantai dua, Darren mencoba menghubungi nomor Mike selagi menunggu pesanan kopinya siap.
Di waktu yang bersamaan ....
Mike sedang sarapan bersama Lily ketika mendadak ponselnya berdering di saku celananya. Menghentikan makannya sejenak, Mike meraih ponselnya dan melihat siapa nama pemanggil tersebut. Serta-merta air muka Mike berubah kaku, ia terlihat tidak senang sekaligus kesal.
Lily jelas menotis hal itu sehingga membuat ia harus bertanya, “Ada apa?”
Mike mendongak, lantas tersenyum, “Ah, bukan apa-apa.” Ia lalu mematikan ponselnya kemudian meletakkannya di atas meja makan.
Mike kembali menikmati sarapannya bersama wanita cantik sedunia di hadapannya ini.
Kriiing~
Namun, lagi-lagi ponselnya berdering seolah-olah tidak membiarkan Mike untuk menikmati barang sedetikpun momen ini.
Mike mendengus dan memeriksa ponselnya.
“Angkatlah dulu kalau memang penting,” usul Lily.
__ADS_1
Mike nampak menimbang-nimbang, lalu dengan berat hati ia mengangkat panggilan itu.
“Halo?”
“Apa Lily masih bersamamu?”
Alis Mike mengernyit. “Kenapa memangnya?”
“Aku ... Aku ingin meminta tolong agar kau memberitahu Lily bahwa Mary sakit dan sedang berada di rumah sakit anak saat ini.”
Mike tersenyum pahit. “Apa itu satu-satunya caramu untuk mendapatkan perhatiannya?”
Di seberang sana Darren turut menautkan alis, sedikit tersinggung. “Apa maksudmu? Aku mengatakan yang sebenarnya. Mary sedang ada di rumah sakit saat ini karena demam tingginya semalam, dan dia terus menerus mencari Lily. Kumohon, ini demi Mary, meski sekali saja, biarkan ia menemuinya.”
Mike terus menatap lekat setiap inci dari wajah Lily di seberang sana, mengamati ekspresi penasaran wanita itu yang tentu bertanya-tanya dengan siapa sebenarnya Mike berbicara.
“Akan kutanyakan, tapi kalau dia menolak, jangan lagi memintaku untuk melakukannya.”
Darren bernapas lega di seberang sambungan. “Baiklah, terima kasih.”
“Hm.” Setelah itu telepon di tutup dan Mike menyimpan ponselnya di dalam tas kerjanya.
“Sebenarnya ada apa?” Tanya Lily begitu ada kesempatan.
Mike menghela napas sebelum menjawab, “Mary sakit, Darren ingin kau menjenguknya di rumah sakit anak. Kalau kau ingin pergi, akan kuantar ke sana, tapi kalau kau tidak ingin, maka aku akan mengikuti maumu.”
Tepat pada detik itu, dunia Lily berhenti. Ia tidak berkutik di tempatnya duduk, terlalu terkejut untuk sekedar berkedip. Seberapapun besar keinginannya untuk tidak menemui Darren, perasaan itu harus kalah dengan rasa pedulinya terhadap Mary. Jadi ketika ia akhirnya mengerjap untuk sadar, Lily langsung beranjak secepat kilat dari kursinya, membuat kursi tersebut bergeser jauh dari tempatnya semula.
Lily tidak tahu sejak kapan air mata menggantung di pelupuk matanya, namun ketika ia meninggalkan Mike di meja makan menuju pintu apartemen, tetesan sebening kristal berhasil jatuh di pipinya.
Lily kacau, ia bahkan tak mengindahkan panggilan Joss di belakangnya yang kini mengejar perempuan itu.
“Lily ... tunggu! Biar aku yang mengantarmu ke sana.”
Baru pada saat itu Lily menoleh ke belakang. Dia terlalu panik sampai logikanya tidak bekerja. Jelas sekali dia tidak akan sampai ke sana dengan berlari.
Jadi, dengan perasaan resah Lily naik ke mobil begitu tiba di parkiran. Mike menjalankannya dengan cepat, menyalip kendaraan-kendaraan yang padat di pagi hari ini.
Berpuluh-puluh menit mereka akhirnya tiba di rumah sakit anak yang infonya Mike dapatkan dari bertanya via SMS. Bahkan ketika mobil belum diparkir sepenuhnya, Lily sudah membuka pintu dan turun untuk berlari masuk ke sana.
Mike hanya bisa menghela napas seraya mengikut dari belakang. Dan meski terburu-buru begitu, Lily berhenti di lobi bak anak hilang untuk menunggu Mike yang lebih tahu dimana kamar Mary. Keduanya lantas naik ke lantai 3 dan sampai di ruang VIP paling pojok dimana ketenangan bisa didapatkan di sana.
Membuka pintu dengan kasar, Lily mengamati ruangan di ambang pintu dan akhirnya berlari menghampiri Mary begitu melihatnya yang cukup terkejut akan kehadiran wanita itu.
“Mommy!!!”
Mary membuka lebar kedua lengannya, kakinya menendang-nendang selimut saking antusiasnya. Lalu, dengan segala kerinduannya, Mary kembali menangis, kali ini dipelukan terhangat yang pernah ia dapatkan.
Darren yang lebih terkejut atas kejadian ini hanya bisa terhenyak di tempatnya duduk. Ia lantas melirik ke arah Mike yang masih berdiri di ambang pintu tanpa berniat masuk ke dalam. Lalu, dengan inisiatif sendiri, Darren beranjak dari kursi, melangkah menuju pintu dan berhenti di hadapan Mike.
“Mari biarkan mereka bicara sebentar,” sarannya yang kemudian diangguki Mike.
Di dalam sana, setelah berpelukan lama, Lily akhirnya memilih menatap wajah putri kecil yang ia rindukan beberapa hari ini. Betapa tersiksanya dia hingga mengalami demam tinggi.
__ADS_1
“Maafkan Lily, ya? Mary pasti sakit sekali, Lily jadi merasa bersalah.”
Lily berusaha menahan tangisnya sembari menangkup wajah mungil itu. Namun, alih-alih mengiyakan permintaan maaf Lily, Tamtam justru memiringkan kepalanya serta melayangkan tatapan bertanya-tanya.
“Mommy ... jangan bilang seperti itu,” katanya begitu lembut. “Jangan membuat Mary memanggil Lily lagi, Mommy ya tetap Mommy.”
Kedua alis Lily menukik sekian senti. Ia hampir menyemburkan tawa karena saking gemasnya. Hingga akhirnya kekehan tersebut mereda saat ia berpikir bahwa tidak mungkin Mary terus memanggilnya dengan panggilan itu lagi sedangkan Lily saja bukanlah ibunya yang sah di mata hukum dan rencananya yang dulu bersama Darren telah usai.
Tapi, demi menyenangkan hati si buah hati, Lily menjawab sembari mengusap-usap lembut puncak kepala Mary, “Iya, iya ... Mommy tetap Mommy, kan?”
Mary akhirnya mengacungkan jempol dan tersenyum hingga matanya menyipit. Lily turut bahagia melihat anak itu telah kembali riang.
...----------------...
Berjam-jam di dalam ruangan bersama Mary hingga peri kecil itu terlelap sembari menggenggam tangan Lily seolah-olah tak ingin dia pergi, Darren akhirnya memutuskan untuk masuk. Sebuah ketenangan diantara pikirannya yang berkecamuk, Lily akhirnya terlonjak begitu merasakan derap langkah mendekati ranjang.
“Apakah dia sudah tidur?” Pertanyaan retoris dilayangkan oleh si pemilik tubuh jangkung itu.
“Terima kasih,” sambungnya begitu terduduk di pinggir ranjang dekat kaki Mary.
Namun Lily bergeming, di tempatnya duduk ia hanya menunduk, kelewat ogah-ogahan menanggapi sosok jangkung tersebut meski barang seuntai kata.
Mendapat tanggapan seperti itu, Darren hanya bisa berdehem dengan canggung. Hingga ia akhirnya memberanikan diri membuka topik, “Lily ... Apa boleh kita bicara?” Tanyanya begitu lembut, seolah-olah ada rindu yang samar dibaliknya.
Tatapan Lily berubah panik. “Aku ... Aku harus pamit pergi.”
Genggaman pada jemari kecil itu melonggar dan terlepas dengan gamblangnya ketika si pemilik berdiri dari kursinya dengan cepat. Membuat Darren mau tak mau harus lebih dulu menghentikannya.
“Lily ... jangan lari lagi, kumohon.”
Lily berhenti ketika tangannya dicekat, ia lantas menoleh dan menatap horor pada si pemilik tangan kekar tersebut.
“Aku ... Aku tidak ingin berbicara mengenai apapun lagi. Lepaskan aku!”
Lily memaksa, tangan kirinya berusaha melepaskan cengkraman Darren yang begitu kuat.
“Tidak. Jangan pergi seperti ini. Ada yang harus kita selesaikan. Semua kesalahpahaman ini ... Aku ingin menyelesaikannya bersamamu. Hanya kita berdua.”
Lily terhenyak. Ia spontan berhenti dari aktifitasnya dan berakhir menatap si pemilik mata tajam nan kelam tersebut. Ia bahkan menotis lingkaran hitam yang nampak jelas di kedua mata Darren. Pria ini benar-benar kacau.
“Kumohon ... jangan membuatku gila seperti ini.” Entah sejak kapan ada sebuah kesedihan pada tatapannya, ada sebuah ketulusan di setiap perkataannya, yang membuat Lily tergerak untuk tidak melakukan perlawanan lagi, membuatnya terdiam untuk mendengarkan. “Berhentilah bersikap seperti ini. Aku tahu aku salah, aku brengsek, aku tak dapat dimaafkan. Tapi Lily ... Seberapapun menyesalnya aku, aku tahu kau lebih tersiksa daripada diriku. Aku paham bila kau marah, kau kecewa, kau sedih, aku paham, dengan sangat, namun setidaknya mari bicarakan ini baik-baik. Kesampingkan dulu segala keegoisanmu dan bersedialah terbuka padaku agar aku tahu bahwa tidak ada kesalahpahaman diantara kita lagi.”
Laksana dedaunan yang dibawa terbang bersama angin, fokus Lily seolah-olah melayang tanpa arah. Selama ini tak secuilpun ia pernah mendengar majikannya seekspresif sekarang. Seolah-olah lagi, dinding yang memisahkan mereka karena status majikan-pengasuh ini hancur begitu saja hanya karena sebuah pengakuan yang berasal dari lubuk hati terdalam.
“Lily ...” Panggilan lembut itu kembali menghiasi pendengaran Lily. “Mari bicarakan tentang kita.”
Dan bagai sebuah sihir yang kuat, Lily menurut ketika dirinya diajak duduk di sebuah sofa dalam ruangan tersebut. Dalam diam ia memandang setiap inci rupa wajah Darren, mendengarkan dalam diam setiap detail penjelasan yang benar-benar meluluhkan hatinya; bagaimana Darren merasa bersalah akan perbuatan yang tak disengajanya, bagaimana ia mengalami hari-hari yang buruk tanpanya, bagaimana ia merasa nelangsa ketika ia tidak hadir dalam hari-harinya. Dan pada sebuah detik yang tepat, Mew mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya.
“Tanpamu ... Rumah itu tidaklah terasa seperti tempat untuk tinggal dan menetap. Kau adalah rumah bagi kami, Lily. Mari memulainya seperti sediakala. Kali ini, tanpa sebuah status majikan dan pengasuh. Tapi sebagai sebuah keluarga. Maukah engkau?”
Lily memandang sayu, ditatapnya genggaman tangan Darren pada jari-jemarinya. Ia lantas mendongak, tatapannya masih berisi kekhawatiran. “Apa maksudmu?”
Darren tersenyum tulus, begitu tulus laksana udara pagi di musim semi yang menyejukkan. “Menikahlah denganku.”
__ADS_1