
Lily tidak pernah sekalipun merasa bosan dengan kebiasaan manis Darren yang satu ini: setiap hari, pria itu akan berangkat ke kantor bersama Mary, lalu berpuluh-puluh menit kemudian, seseorang akan datang mengetuk pintu dan mengirimkan bunga matahari. Lily hanya akan tertawa geli dan menerima bunga itu.
Tapi hari ini berbeda. Lily tahu bunga matahari itu akan datang seperti di jam biasanya, namun ternyata tidak. Lily merasa gelisah tanpa sebab. Tanpa sadar dia berjalan ke luar rumah, berdiri di depan pintu rumah dan memandangi pagar, menunggu kalau suatu waktu kurir akan datang membawa bunga matahari itu.
Rasanya seperti kehilangan. Suatu perlakuan istimewa yang tiba-tiba berhenti tanpa sebab membuat pikiran Lily kalut. Jadi, dengan menelan harapannya, wanita itu masuk kembali ke dalam rumah setelah 15 menit menunggu.
...----------------...
Pukul 11:30, Lily mendatangi tempat kerja Darren. Ia berniat membawa makan siang untuk pria itu seperti yang lalu-lalu. Perasaannya sungguh baik kala itu, ketika membayangkan Darren memuji masakannya. Tingkah ekspresif Darren yang tidak ia tunjukkan sejak dulu justru sekarang menjadi bumerang untuk hati Lily yang lemah akan kalimat-kalimat manis.
Namun, untuk kedua kalinya lagi, hari ini harapan Lily dipermainkan. Diana, wakil sekretarisnya itu mengatakan bahwa Darren sedang keluar dan akan kembali sore nanti. Ketika Lily tanyakan ke mana, Diana hanya bisa menggeleng dan bungkam.
Dengan perasaan setengah dongkol dan bertanya-tanya dalam hati, Lily pulang.
Akan tetapi, niatnya tersebut batal ketika sebuah suara memanggilnya dari arah belakang. Itu Mike. Tubuhnya berkeringat karena berlari dari arah kantor hingga ke halte bus.
Kaki Lily yang sudah naik ke bus seketika turun kembali. Tubuhnya dibuat menghadap ke arah Mike yang tengah bertumpu pada lututnya sembari mengambil napas.
“Mike, ada apa?”
Mike mendongak, lalu menegakkan badannya untuk berbicara. “Aku ingin bicara sebentar.”
Lily nampak gelisah, ia melirik sekilas sang supir bus yang sepertinya tidak sabaran untuk menunggunya naik.
Lily kembali memandangi Mike. “Tapi aku harus pulang.”
Mike menggeleng cepat. “Sungguh, aku ingin bicara. Nanti kuantar setelah bicara denganku, naa?”
Lily mengerjap, beberapa saat setelah berpikir dia akhirnya menghela napas. “Baiklah.”
Kejadian selanjutnya, Lily meminta maaf pada sang supir lalu mengikuti Mike yang menuntunnya ke arah kafe seberang kantor.
Mike mengajak Lily duduk di bagian sudut ruangan ini, karena benar-benar ingin memiliki waktu berdua dengan Lily.
Sejenak pelayan datang menginterupsi, Mike memesan dua jus leci beserta cake. Begitu pelayan pergi, Mike menyempatkan diri memandangi wajah Lily lama-lama. Memerhatikan setiap inci yang dirindukannya. Meskipun Ploy sudah berhari-hari berbuat rusuh dalam hidupnya, tak jarang Mike memikirkan Lily di waktu sendirinya. Entah itu di tengah-tengah pekerjaan, atau ketika di malam hari saat dia hendak beranjak tidur.
“Kau ingin membicarakan apa, Mike?”
Mike mengerjap untuk sadar. Rupanya sedari tadi ia lupa caranya untuk berkedip.
“Ah ... Soal itu, aku ingin tahu bagaimana kabarmu.”
“Aku baik. Bagaimana denganmu?”
Mike tersenyum senang. “Baik juga.” Dia mengerjap lagi, mendadak ia terlihat memikirkan sesuatu. “Lalu ... Bagaimana hubunganmu dengan Darren?” Tanyanya hati-hati.
__ADS_1
“Mmm ... Di hari Mary masuk rumah sakit, malam itu kami baikan. Darren meminta maaf, mengakui kesalahannya, dan juga mengakui perasaannya padaku. Ah, aku lupa memberitahumu hal ini ...” Lily tersenyum tulus. “Tapi, terima kasih karena sudah mempersilahkan aku tinggal di apartemenmu waktu itu, dan maaf karena pergi tidak bilang-bilang.”
Benar, Lily memang tidak sempat untuk berpamitan. Ia bahkan hanya datang mengambil bajunya, karena terdesak Darren yang menyuruhnya jangan berlama-lama. Mike tidak ada di apartemen waktu itu, jadi tidak tahu. Tapi, bukan itu masalahnya! Ada yang lebih menghawatirkan.
Mike jadi gelisah di tempatnya duduk. “Darren mengakui perasaannya padamu?” Lagi-lagi dia bertanya hati-hati.
Lily mengangguk seraya tersenyum. “Iya. Bukankah ini baik? Ternyata selama ini dia menyimpan perasaan padaku. Dan selama ini cintaku tidak pernah bertepuk sebelah tangan.”
Rasa gembira ketika menceritakan itu membuat Lily tidak menyadari perubahan ekspresi Mike yang tiba-tiba murung. Mike tersenyum, tapi tidak dengan matanya yang menatap sendu, bahkan rahangnya mengeras.
“Lalu ... Apa langkah kalian selanjutnya?”
“Tentu saja menikah.”
“Menikah!?”
Pandangan Mike bagai layang-layang yang putus benangnya, tidak tentu arah harus berlabuh ke mana. Maka ia menunduk. Mendadak dadanya sesak, ia harus menyembunyikannya. Dia tidak tahu kenapa berita seperti ini benar-benar mampu membuat jantungnya sakit. Selama ini Mike tidak pernah begitu serius menyukai perempuan, tapi ketika akhirnya dia merasakan sesuatu pada Lily, kenapa perempuan ini begitu sulit untuk diraih.
“Mike ...”
Mike mengangkat pandangannya setelah beberapa saat. “I, iya?”
Lily menatap prihatin. “Kenapa kau diam? Wajahmu pucat, apa kau tidak enak badan?” Tanyanya tenang.
“Aku tidak apa-apa.” Adalah kebohongan yang besar dinyatakan Mike hari itu.
...----------------...
Di saat yang bersamaan, di sisi jalan tak jauh dari cafe, ketika Darren kembali ke kantor lebih cepat dari seharusnya, ia mendapati pemandangan menyesakkan di seberang jalan. Dia melihat Lily tersenyum pada Mike, dan Mike yang tersenyum pada Lily.
Darren memberhentikan mobilnya, lalu menoleh ke arah kursi sebelahnya. “Kau ingin aku seperti ini terus?”
Perempuan yang di sebelahnya, yang tidak lain adalah Victoria sendiri berkata, “Tetap pada rencana. Kau sendiri yang menginginkannya untuk menjadi kejutan, bukan?”
Darren semakin gelisah di tempatnya duduk. “Tapi tetap saja---”
“Darren ...” Victoria memberinya tatapan peringatan. Lalu kembali mengingatkan rencana awal mereka. “Ini baru sehari, jangan biarkan rasa cemburumu menghancurkan rencana kita.”
Darren cepat menyadari tujuan rencana mereka. Katanya, perempuan seperti Lily yang masih sulit untuk mengekspresikan cintanya, bisa mudah dipancing kalau Darren menghentikan rasa pedulinya barang sejenak. Ketika sudah sampai di puncak, maka akan mereka gunakan itu sebagai senjata untuk mengeluarkan kejutan besarnya.
Darren mendengus. “Lalu apa yang harus kulakukan? Menonton saja?”
“Darren, kenapa kau begitu takut hati Lily akan berpindah ketika dia sendiri sudah setuju akan menikah denganmu?”
Mendengar ungkapan tersebut, dan membayangkan tatapan mata berkaca-kaca Lily ketika mengatakan bersedia menikah dengannya kelak, membuat Darren akhirnya mengalah untuk tidak masuk ke cafe tersebut.
__ADS_1
...----------------...
Pukul 8:05 malam beberapa pegawai telah pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dan sebuah kebetulan yang tidak disangka, ketika pintu lift hampir tertutup, Darren dengan cepat menghalanginya dan segera masuk tanpa tahu ada Mike di dalamnya.
Mike menekan tombol lantai satu, dan setelahnya hanya dia yang berdiri di sebelah Darren. Mereka hanya berdua di dalam sana, dan itu cukup canggung.
Namun, karena Mike bukan tipe pria yang senang berlama-lama dalam kecanggungan, maka ia yang pertama bersuara, “Selamat.”
Darren menoleh dengan alis yang mengernyit. “Untuk?”
“Karena sudah berhasil mendapat kepercayaan Lily lagi.”
Darren kembali memandang lurus, sejumput senyum terukir di sudut bibirnya. Sedikit bangga pada dirinya. Lalu, beberapa saat kemudian ia teringat, “Waktu itu kubilang akan kubuktikan padamu dan kutanya ... apabila terbukti, apa kau akan merelakannya?”
Kali ini darrt menoleh dengan serius, membuat Mike perlahan menoleh padanya. Mereka bertatapan cukup lama. Hingga akhirnya lift terbuka.
Mike melangkah keluar seraya berkata, “Ayo bicara di jalan.”
Darren ikut keluar dari lift dan berjalan beriringan dengan Mike menuju parkiran.
Beberapa saat kemudian Mike kembali berucap, “Kalau kau tanya apa aku akan merelakannya, sepertinya aku tidak akan pernah bisa. Bagaimanapun, Lily adalah wanita pertama yang kusukai tanpa tetapi. Terjadi begitu saja tanpa ada pertanda. Saat melihatnya berdansa denganmu malam itu dalam balutan gaunnya yang indah, aku berpikir bahwa kau adalah pria beruntung yang bisa merasakan momen itu bersamanya. Saat kutahu kalian bukanlah pasangan suami-istri, disitu aku ingin melindunginya untuk pertama kali. Dan menghajarmu karena telah melukai perasaannya.” Mike melirik setengah bercanda. Dia mungkin tertawa, tapi jujur, sebagian dari dirinya masih sangat ingin menghajar wajah Darren. Begitulah lelaki.
“Lalu, kenapa kau tidak melakukannya waktu itu?”
“Karena aku sadar, seberapapun inginnya aku menghajarmu habis-habisan, semua itu tidak akan mengubah segalanya. Dia menyukaimu, dan kau menyukainya. Berada di tengah-tengah kalian, dan harus membuatnya bingung dengan dua hati sebagai pilihan, hanya akan membuatku menjadi pria egois. Dan kukatakan padamu, Darren, ibuku tidak pernah mengajariku seperti itu. ‘Cinta itu bukan perihal memaksa untuk tinggal, tapi ia perihal menerima dan memberi’, begitu katanya.”
Darren tersenyum seraya menghela napas. Ada rasa bangga tersendiri mendengar cerita Mike. Entah karena dia lebih bijaksana daripada umur aslinya, atau karena hasil didikan orangtuanya yang hebat. “Ibumu wanita yang hebat.”
Mike berhenti melangkah, lalu membalikkan badannya ke arah Mew yang spontan berhenti juga.
Mike tersenyum. “Aku hanya ingin meminta dua hal darimu sebagai sesama pria.”
Darren mengerjap lama, dan akhirnya mengangguk dalam diam.
“Kalau akhirnya kalian menikah, kuharap kau memperlakukannya dengan baik. Aku mungkin menahan keegoisanku hari ini, tapi apabila suatu hari kudapati dia menangis karena dirimu lagi, maka hari itu kupastikan kau menyesal.”
Jantung Darren berdegup kencang. Ia merasa tertantang mendengar perkataan Mike. Sedikit tidak terima memang kalau harus membiarkan Mike melepaskan keegoisannya bila hari itu tiba, tapi Darren cukup percaya diri untuk bisa membahagiakan Lily. Jadi dia meyakinkan dirinya dengan kuat dan mengangguk tegas.
“Kalau begitu, apa permintaan keduamu?”
“Biarkan aku menjadi pria yang mengantarnya ke altar.”
Darren mengerjap dengan wajah yang perlahan memerah, terharu. Ia sangat tahu bahwa Lily tidak punya keluarga di kota ini apalagi keluarganya yang tersisa di desa, mereka semua memutuskan hubungan sudah lama sekali. Darren bahkan tidak memikirkan hal sedetail itu sampai ke sana. Bagaimana mungkin ia bisa lupa!
Jadi, dengan mata berkaca-kaca, ia menjulurkan tangannya. “Permintaanmu kuterima.” Dan Mike turut menerima uluran tangan Darren. Membuat Darren memeluk Mike dengan pelukan seperti seorang saudara.
__ADS_1