OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
29


__ADS_3

2 tahun kemudian ...


"Tarik napas, Lily ... lalu buang." Victoria kembali mengulangi perkataannya selama 15 menit ini.


Di dalam ruang persalinan, Victoria dipaksa keadaan untuk mendampingi Lily yang hendak melahirkan. Sementara suaminya itu malah tidak datang-datang juga.


"Mana suamiku, Vic?!!" Teriak Lily sembari mencengkram tangan Victoria yang rasanya hendak patah.


Lily bahkan tidak peduli pada rambut panjangnya yang kacau, dengan keringat seember, dia terus-terusan menarik napas lalu membuangnya, dan sesekali pula menanyakan suaminya yang menghilang entah ke mana.


"Sedang dalam perjalanan, tenanglah ... Tarik napas lagi," Lily menarik napasnya. "Lalu buang ..." Lily membuangnya.


"Coba hubungi lagi---Arrrgh!!!" Lily mengomel di tengah-tengah kepala bayi yang mulai keluar. Rasa sakit pada liang *********** setengah mampus dia coba tahan, tapi setiap detik rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.


"AAARRGH!" Pekikan itu bahkan mencapai pendengaran Mary dan Paman Ethan yang sedang menunggu di luar. Bukan main.


Kepala Lily jatuh kembali ke ranjang persalinan, napasnya tersengal, matanya sayu, tubuhnya banjir keringat. Pandangan itu didapati oleh Darren ketika ia menghambur masuk ke dalam. Seketika semua pandangan menuju sejenak pada pria tersebut.


"Lily," lirih Darren.


Darren mendekati, dokter kembali melanjutkan.


"Argggh!" Lily kembali berkuat.


Darren dengan cepat meraih tangannya, Victoria yang peka kemudian melepaskan tangan Lily dan tetap berada di sana untuk terus mendukungnya, yang sesekali mengusap rambut panjang Lily yang lengket.


Tidak terhitung berapa puluh menit penantian mereka, namun ketika suara bayi akhirnya menggema di balik ruangan, Mary mendongak menatap Paman Ethan dengan berbinar. Paman Ethan lantas tersenyum.


"Adikmu sudah lahir," ujarnya sembari mengusap puncak kepala Mary seperti anaknya sendiri.


Kembali di dalam sana, para perawat mengerjakan tugasnya dengan cekatan. Lily akhirnya mampu bernapas lega, hampir-hampir dia pingsan, tapi ia tetap berusaha untuk sadar, demi melihat buah hatinya yang sehat.


"Bayinya perempuan."


Perawat datang menghampiri dan menyerahkan bayi ditangannya ke dekapan Lily, membiarkan kehangatan sang Ibu dirasakan sang anak.


Lily tersenyum, sulit untuk menangis tersedu dengan kondisi lemah. Jadi ia melempar pandangannya ke arah Darren dengan pandangan sayu, Darren lantas mengusap sayang rambut Lily dan mengecup keningnya.


"Kau sudah berjuang dengan baik, anak kita lahir dengan sehat. Terima kasih naa."


Sementara itu Victoria memilih keluar dari ruang bersalin dengan wajah berseri, tak sabar memberitakan kabar gembira ini. Mary dan Ethan yang melihat kehadirannya kemudian beranjak berdiri dan menatap antusias.

__ADS_1


"Bayinya perempuan," infonya.


Mary spontan meloncat kegirangan. "Yaaay!" Lalu berlari memeluk Victoria. "Akhirnya Mary punya adik!"


"AAARRGH!"


Mendadak teriakan kembali menggema dari dalam ruang bersalin. Ketiganya tertegun. Langsung saja Victoria berlari masuk kembali, meninggalkan Mary yang hendak mengejarnya namun ditahan oleh Ethan.


"Ada apa?" Tanya Victoria begitu masuk.


Darren menggeleng, dia sendiri tidak tahu.


"Sepertinya pasien akan kembali melahirkan," celetuk sang Dokter.


Darren dan Victoria saling bertatapan. Lily akan melahirkan anak kembar, tentu saja. Kenapa juga tidak terpikirkan sampai ke sana. Tidak heran perutnya ketika hamil sampai kelewat besar begitu.


...----------------...


Berbahagia.


Ruangan itu dipenuhi kebahagiaan. Balon warna-warni diikat pada ujung ranjang pasien, berbagai kado memenuhi lantai. Begitu berwarna dan semarak. Di bagian sisi yang kosong di samping ranjang, terdapat ranjang bayi yang di dalamnya terdapat 2 balita kembar perempuan. Begitu kemerah-merahan kulitnya, seelok angin musim semi di pagi hari yang menyapa. Nikmat sekali dipandang dengan lama. Seperti sosok pria berbadan tegap saat ini yang sibuk bermain dengan keduanya dengan ekspresi seceria langit biru di luar sana.


Victoria menegur, melihat Darren yang jadi lupa diri dengan suara kekanak-kanakannya mengajak putri-putrinya berbicara itu membuat Victoria jadi risih.


Darren menoleh. "Jangan salahkan aku! Mereka terlalu lucu untuk dihiraukan begitu saja."


Lily menghela napas, tertawa sembari menggelengkan kepalanya.


"Vic ..." Lily lantas memanggil.


Victoria menoleh. "Ada apa, Lily?"


"Pulang sekolah sebentar tolong jemput Mary, ya?"


"Hush! Kau ini! Jangan memikirkan itu dulu, kau harus banyak istirahat. Aku tentu akan menjemputnya tanpa kau suruh sekalipun."


Lily tersenyum, lalu mengangguk. Kemudian dia menoleh ke arah Darren.


"Darren ..."


Darren menoleh cepat, mengerjap. "Hm?"

__ADS_1


"Apa kau sudah memikirkan nama untuk anak-anak kita?"


Darren meluruskan punggungnya dan menghampiri Lily. "Owh ... Soal itu, apa kau sendiri kepikiran satu? Biar kita beri mereka masing-masing nama saja."


Lily mengerjap, lalu melirik Mary sejenak yang sudah senyum-senyum saja menantikan hal itu. Kemudian ia kembali menatap suaminya. "Kurasa ... akan kuberi nama Kannika, artinya cantik seperti bunga dan selalu membawa manfaat bagi orang-orang yang ditemuinya."


"Astaga, sepertinya kau sudah memikirkannya selama ini, ya?"


Lily senyum saja, tidak menyangkal apapun.


"Baiklah, itu nama yang indah. Aku menyukainya, bagaimana menurutmu, Vic?"


Victoria mengangguk-angguk ditanya Darren. "Aku setuju!"


"Lalu ... Bagaimana dengan adiknya?" Giliran Lily yang ingin tahu nama seperti apa yang akan diberikan suaminya itu.


"Klahan, artinya indah bagai rembulan dan pemberani, agar kelak ia mampu mengambil keputusan-keputusan dalam hidupnya dengan mandiri, tidak selalu bergantung pada orang lain dan berani menjadi dirinya sendiri. Dua-duanya akan memakai nama belakangku; McGold."


Darren lantas menarik ranjang bayi mereka dan mendekatkannya ke ranjang Lily.


"Ini Kannika," Darren tersenyum sembari mencolek hidung anaknya yang bertopi merah muda, mancung sekali hidungnya, lebih manis lagi karena ada dua lesung pipi alami yang muncul bahkan ketika ia tidak tersenyum.


"Dan ini Klahan," lanjutnya sembari mencubit pipi putrinya yang bertopi biru muda, yang wajahnya bulat seperti bulan, elok sekali dipandang, meski sedikit maskulin dirasa keduanya.


Darren kemudian menatap Lily dengan senyum paling bahagia yang pernah ia tunjukkan. Lily membalas senyuman Darren, menatap dunianya yang telah membuat kehidupannya jadi lebih berwarna. Lily merasa ingin menghentikan waktu sejenak, untuk mengenang momen ini hingga tua, menelisik setiap raut yang dipancarkan suaminya agar kelak ia tahu alasannya untuk tetap bahagia.


"Ck! Kalian berdua!"


Darren dan Lily menoleh cepat ke arah Victoria. Bengong seperti orang tidak bersalah.


"Berhenti bermesraan, aku ada di sini!" Victoria cemberut.


Pagi itu keduanya tertawa sebab Victoria yang misuh-misuh karena belum punya anak juga, padahal dia duluan yang menikah, tapi malah Lily dan Darren yang cepat memiliki anak, Victoria kan cemburu.


Ah ... Lily jadi tersenyum-senyum, mengingat bahwa kemunculan Victoria, lah yang membuat Darren dan Lily bersatu. Tanpa kehadirannya, tak akan ada Kannika dan Klahan. Tak ada Darren dan Lily. Juga, tak ada bahagia selamanya sebagai happy ending dalam kisah hidup Lily. Victoria, terima kasih atas semuanya.


N O T E


Akhirnyaaa tamat juga😭 meski klise, tapi bukankah semua itu yang kita inginkan?


Saya tahu cerita ini banyak kekurangan, dan tidak bakal saya revisi lagi, biar ini menjadi saksi perkembangan tulisan saya dalam dunia biru ini :)

__ADS_1


__ADS_2