OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
24


__ADS_3

“Pulang sana!”


Dua hari! Dua hari ini Mike menderita. Mau gila saja rasanya. Mike tidak tahu bahwa perempuan yang ayahnya akan jodohkan dengan dia ternyata sahabat kecil Mike yang dari dulu selalu menempel kemanapun ia pergi.


Namanya Ploy, dan dia adalah perempuan mungil dengan pipi tembem minta digigit. Dia cantik, dan terlihat seperti anak kaya yang modis. Salah satu kekurangan yang Mike tidak suka dari anak itu adalah karena dia tukang rusuh, agresif, dan kelewat polos.


Suatu waktu Mike pernah berniat ingin mempermalukan perempuan itu di depan teman-teman SMAnya. Mike meminta satu permintaan, dan kalau Ploy memenuhinya, Mike akan terima-terima saja perempuan itu mau melakukan apapun padanya.


Dan tebak! Mike meminta apa?


Dengan brengseknya Mike menyuruh perempuan itu memperlihatkan buah dadanya, di hadapan teman-temannya yang lain. Pada saat itu Mike terlalu sembrono dan tidak memikirkan konsekuensi atas perbuatannya, persis anak berandalan kebanyakan. Yang ia pikir, mungkin dengan begini, perempuan itu akan berhenti mendekatinya setelah dipermalukan.


Namun ...


Di luar dugaan, Ploy menuruti. Ia mulai melepaskan kancing bajunya, dan ketika buah dadanya hampir terlihat, Mike melotot sejadi-jadinya. Ini bukan yang dia harapkan! Seharusnya perempuan itu berlalu pergi dan menolak permintaannya!


Jadi, dengan gerakan hatinya sendiri, Mike berlari menghalangi tubuh Ploy agar tidak dilihat mata keranjang teman-temannya. Ia mendengus memandangi mata Ploy dan mulai mengancingkan baju anak gadis itu kembali.


Akibat kejadian hari itu, Mike trauma berat. Dia sampai berhalusinasi berhari-hari, merutuki dirinya karena memakai ide konyol untuk menyingkirkan Ploy. Dia memang membenci Ploy, kesal dengan sikapnya, tapi dia juga tidak tega pada perempuan itu karena dia memang tidak salah apa-apa. Ploy hanya belum dewasa saja.


Ish!


Sungguh, Mike tidak mengerti jalan pikiran Ploy. Perempuan itu bahkan rela menuruti apapun kemauan Mike, well, kecuali menyuruhnya untuk pergi. Perempuan itu benar-benar sulit untuk disingkirkan!


Bahkan sekarang, dia dengan beraninya datang ke kantor dan membawakan bekal makanan untuk Mike.


“Tidak mau.”


Lihat! Lihat saja bagaimana dia dengan santainya tersenyum padahal di hadapannya ada seorang pria yang sudah ingin gila karena menahan malu.


Mike ingin menjambak rambutnya, “Kenapa? Kenapa kau tidak mau?”


“Kata Bibi, kau harus menghabiskan bekal makan siang ini, baru aku boleh pergi.” Ia tersenyum.


Ploy kembali menggoyangkan kotak makan siang berwarna kuning ceria itu di hadapan wajah Mike.


Mike mendadak sakit kepala, ia langsung memegangi tengkuknya dan memejamkan mata akibat stres. Bahkan perempuan ini sampai memanfaatkan nama ibunya. Dasar bajingan kecil!


Setelah berusaha menenangkan diri, Mike menghela napas. Ia melihat ke sekelilingnya. Mereka masih berdiri di lobi kantor. Setelah itu dia kembali memandang Ploy.


“Baiklah, aku akan memakannya. Tapi setelah ini, kau harus pulang, oke?”


Ploy mengangguk antusias.


Mike melenggang pergi begitu saja menuju kantin kantor yang diikuti Ploy dari belakang. Tiba di dalam sana, beberapa pegawai terlihat duduk berkelompok sembari berbincang dan menikmati makan siang mereka, sebagian lagi sepertinya memilih makan di luar seperti yang Mike akan lakukan 10 menit lalu, sebelum akhirnya bertemu dengan bajingan kecil itu.


Mike dan Ploy duduk di salah satu bangku kosong bagian sudut, dimana terdapat sedikit orang. Ploy dengan senang hati langsung membuka satu persatu kotak makan siang tersebut dan terakhir memberikan sendok ke arah Mike. Mike menerimanya dan menatap sejenak lauk-pauk yang tersaji di hadapannya. Ini semua hidangan kesukaannya. Sohun tumis, perkedel udang, dan terakhir salad pepaya.


Dan seberapapun Mike benci kehadiran Ploy di hadapannya, begitu ia melihat ketiga hidangan tersebut, dia tahu bahwa senyumannya tak dapat disembunyikan. Ia begitu lapar dan sekarang hidangan kesukaannya ada di depan mata. Jadi, tanpa memikirkan egonya yang sudah berhasil diruntuhkan, Mike segera melahap mereka semua dengan senang hati.


“Bagaimana, apakah enak?” Tanya Ploy dengan mata berbinar.


Mike masih sibuk memasukkan makanan ke mulutnya ketika pertanyaan itu datang, membuat dia spontan berhenti dan mendongakkan pandangannya. Saat itu Mike sadar bahwa rasa antusias tidak akan berefek bagus bagi dirinya, perempuan itu hanya akan semakin besar kepala kalau ia memuji-muji masakannya.


Jadi, Mike berdehem dan mengunyah makanannya sampai habis. Dengan tenang ia pura-pura berpikir, “Mmm ... Lumayan.”


Betapa denialnya laki-laki ini!


Meski begitu, Ploy tetap senang saat melihat Joss benar-benar menghabiskan setiap jejak di kotak makanannya.


“Mike?”


Mendadak seorang perempuan tak kalah modis dengan lekuk tubuh menggiurkan datang mendekat, ketukan heelsnya menggema begitu jelas. Dia adalah Katy, karyawati yang terkenal sering merayu karyawan yang dia anggap memesona.


Mike cukup mengenalnya karena sebulan lalu mereka sempat menghabiskan malam yang panas, jelas sebelum Mike bertemu Lily. Dan itu sudah lama sekali. Karena berbeda lantai tempat mereka bekerja, Mike jarang bertemu dengan perempuan itu. Lagipula Mike hanya memperlakukan wanita seperti mereka untuk sekali pakai, untuk apa juga ia menjaga kontak dengan mereka dalam waktu yang lama, bukan?


“Oh ...” Mike menoleh dan berusaha mengingat nama perempuan yang kini berdiri di sebelah meja mereka.


“Katy,” Katy mengingatkan dengan kekehan yang dibuat-buat. “Oh, ya. Bagaimana kabarmu?” Tanyanya sok akrab, menghiraukan keberadaan Ploy.

__ADS_1


“Baik. Ada apa menemuiku?”


Katy menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, menyingkirkan rambut panjang yang menghalangi dadanya yang indah.


“Ah, itu ... Apa kau ada waktu malam ini?” Tanyanya dengan suara menggoda dibuat-buat.


Mike langsung melirik Ploy. Ploy masih menatap Mike dengan mata bulat polosnya itu. Astaga. Kenapa dia harus berada di situasi seperti ini!?


Mike bisa saja bilang dia tidak ada waktu, tapi bisa dipastikan perempuan seperti Katy akan selalu datang dilain waktu dan menanyakan hal yang sama. Tapi kalau Mike bilang dia sudah bertunangan dengan Ploy, maka perempuan itu akan mencari pria lain. Tapi ... Mike harus berurusan dengan Ploy lagi, wanita ini akan tambah besar kepala kalau Mike mengakuinya di depan wanita lain. Arrrgh!


Mike mengeratkan rahangnya. Masa bodoh. “Aku tidak bisa. Malam ini aku akan menghabiskan waktu dengan tunanganku.” Mike tersenyum ke arah Katy, kemudian melirik Ploy.


Katy ikut melirik Ploy. Mendadak pandangannya berubah jijik. “Tunangan?” Ia tertawan pahit, merasa canggung.


“Hai!” Ploy menyapa. Katy membalasnya setengah hati.


Katy terlihat gelisah dan mulai menggosok-gosok lengannya. “Err ... Kalau begitu, nikmati waktu kalian, yaaa. Aku masih banyak pekerjaan, daaah!”


Ploy melambai riang seperti biasa. Lalu, saking polosnya dia memuji, “Mike, perempuan itu siapa? Cantik sekaliii.”


Mike melotot. Begitu polosnya perempuan ini!


“Dia? Cantik? Kau buta, ya?” Mike bertanya bingung setengah berbisik.


Ploy mengerjap. “Dia memang benar-benar cantik. Ada apa?”


“Wajah penuh tepung kanji begitu kau bilang cantik?”


Ploy mengerjap lama. Sepersekian detik kemudian dia menyemburkan tawa, ia langsung menutupi mulutnya ketika para karyawan yang berada di kantin menoleh melihat mereka. Mike tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum. Dia juga sadar betapa sinkronnya fakta yang dia katakan tadi.


“Mike?”


Lagi-lagi suara seorang wanita menginterupsi waktu Ploy dan Mike, namun kali ini dia adalah Lily.


Mike sudah merindukan suara itu akhir-akhir ini. Jadi dengan terkejut dia menoleh berbinar, bangkit dari kursi dan menghampiri Lily.


“Lily, sedang apa di sini?”


“Benarkah? Mau kuantar?”


Kedua alis Lily naik sekian senti, ia melirik sebentar ke arah perempuan yang tadi tertawa dengan Mike, sebelum kembali menatap pria itu lagi.


“Tidak usah, kulihat kau sedang sibuk, aku bisa naik taksi nanti.”


“Jangan begitu! Biar aku yang antar, oke?” Mike bersikeras.


Tiba-tiba Ploy berdiri dari bangku dan menghampiri mereka berdua. “Mike, dia siapa?” Tanyanya lembut.


Alih-alih Mike yang menjawab, Lily malah menjulurkan tangannya. “Kenalkan, aku Lily, teman Mike.”


Ploy menyambut uluran tangan Lily dengan senyum cerahnya. “Benarkah? Kalau begitu aku Ploy, tunangan Mike. Kuharap kita bisa jadi teman dekat juga.”


Mendengar itu, Mike ingin sekali mencak-mencak. Matanya melotot, apa maksudnya itu!?


Namun Lily berbeda, dia malah sudah menyengir lebar. “Astaga, Mike! Kau tidak bilang sudah punya tunangan.”


Mike dengan cepat melambai depan dada, menyangkal. “Tidak. Tunangan apanya---” Mike kemudian dengan cepat membekap mulut Ploy. “---Ish, kau ini!”


Lily tertawa sembari geleng-geleng kepala melihat perkelahian kecil mereka. “Sudahlah, cukup. Kenapa mesti malu sih, Mike. Dia kan tunanganmu sendiri.”


Astaga! Bukan begitu! Mike mau gila saja rasanya.


Masih terkekeh, Lily melirik jam tangannya, kemudian kembali berkata, “Oh, ya. Aku pamit dulu, oke. Dan Ploy, kapan-kapan datanglah ke rumah, oke?”


Ploy mengangguk cepat di balik bekapan Mike. Mike bahkan tidak sempat mengejar Lily ketika perempuan itu sudah berlari kecil setelah melambaikan tangan dan pergi.


Mike mendengus kasar, setelah Lily menghilang dari balik tembok, dia melirik tajam ke arah Mike dan melepaskan bekapannya.


Mike ingin sekali memarahi Ploy habis-habisan, semuanya sudah ada di ujung lidah, tapi dia lebih tahu bahwa ini tempat umum, orang-orang lebih tertarik dengan pertunjukan seperti ini untuk ditonton. Jadi, menelan kemarahannya, Mike melenggang pergi dari kantin, meninggalkan Ploy yang terdiam menatapnya.

__ADS_1


Ploy tidak tahu kenapa Mike semarah itu padanya. Lagipula ia tidak berbuat apapun yang menurutnya salah.


Yaaah ... Lagipula Mike memang selalu terlihat marah dengan apapun yang dilakukan Ploy. Jadi, untuk kesekian kalinya lagi, Ploy hanya bisa menghela napas dan berusaha memaklumi.


...----------------...


“Apa kau tahu bahwa Mike sudah punya tunangan?”


Pertanyaan Lily menginterupsi pendengaran Darren malam itu yang sedang duduk di ayunan gantung kayu di dekat kolam renang. Setelah makan, Darren memutuskan untuk merokok sedikit di luar, namun melihat Lily datang dengan sepiring buah-buahan segar yang dipotong dadu, Darren langsung mematikan rokoknya dan membuangnya.


“Tunangan? Kapan?"


Ayunan itu bergoyang lembut ketika Lily mendudukkan diri di sebelah Darren sembari menyodorkan garpu agar Darren memakan buah yang disuguhkan wanita itu.


Darren sedang mengunyah apel ketika Lily menjawab dengan mengangkat bahunya, “Entah. Tapi pastinya baru-baru ini. Mereka terlihat sangat serasi dan menggemaskan.” Lily memandang langit, membayangkan kembali kejadian pagi tadi, pasangan baru memang terlihat selalu manis.


Tanpa sadar Lily tersenyum, Darren yang melihat itu hanya bisa tertawa melihatnya. “Apa kau menginginkannya juga?” Godanya.


Lily mengerjap, lalu menoleh melihat Darren. “Apanya?”


Alih-alih menjawab, Darren malah menyendok buah anggur dan menyuapkannya ke mulut Lily. “Makanya, cepatlah menjawab lamaranku agar kita seperti yang lainnya.”


Lily langsung melirik sinis. Dasar! Darren benar-benar tidak bosan untuk selalu mengingatkan hal yang sama. Seolah-olah ia terdesak ingin menikah. Memangnya apa yang diinginkan pria ini dari wanita seperti Lily! Lama-lama Lily jadi curiga.


“Kan sudah kubilang, aku butuh waktu.” Lily meletakkan piring di pangkuannya, lantas melipat kedua lengannya di depan dada. “Lagipula ... Kau belum sepenuhnya membuktikan cintamu, kan? Katanya mau membuatku percaya ...” Lily menahan tawa, ia sedang menggoda Darren.


“Astaga ... Lily, kalau bisa kugapai bintang, sudah akan kuberikan untukmu.”


Meledak tawa Lily karena rayuan maut Darren, apalagi dia mengatakannya dengan raut wajah meyakinkan dan serius.


Darren tidak bisa untuk tidak tersenyum, dia juga sadar perkataannya tadi berlebihan.


“Berhenti merayuku!” Lily memukul lengan Darren disela tawanya.


“Aku tidak merayu, Lily.” Darren masih terkekeh, namun matanya terlihat lebih serius ketika memandang wanitanya sehingga membuat Lily turut memandangnya. “Maksudku adalah ... Aku bisa saja melakukan apapun untukmu agar kau tahu bahwa rasa cintaku sudah tidak bisa dibendung lagi. Hanya saja aku takut ada yang mengambilmu dariku, aku tidak ingin itu terjadi, Lily. Orang-orang lebih mudah merebut ketika orang lain tidak memiliki status yang kuat. Tapi ketika mereka tahu bahwa kita adalah pasangan, seberapapun kuatnya mereka berusaha memisahkan, aku tahu itu tidak akan pernah terjadi kalau kita memilih saling setia.”


Lily terhenyak, tenggelam dalam setiap keseriusan yang dikatakan oleh hati Darren. Lily sebenarnya sadar akan perubahan Darren. Dia tahu bahwa pria ini banyak berubah, dulu Darren lebih kaku dan hanya memikirkan dirinya dan Mary. Namun sekarang berbeda, ia menjadikan Lily sebagai bagian dari dunianya. Dia lebih terang-terangan sekarang, menyatakan apapun yang ada di pikirannya tanpa malu, bertindak gegabah bahkan ketika Lily menganggapnya sedang mencari perhatian. Lily bisa saja mengatakan 'ya', dia punya banyak kesempatan untuk mengatakannya. Tapi ... Dia sendiri masih ragu. Sebenarnya apa yang dia cari? Bukankah sudah jelas bahwa Darren mencintainya? Apalagi yang dia tunggu?


Lily menghela napas. Pandangannya menunduk. Namun sedetik kemudian kedua telapak tangan Darren meraih wajah perempuan itu, mengangkatnya agar menatap matanya.


“Lily ... Bila kau masih ragu pada dirimu sendiri, pikirkan ini ... Sebelumnya aku juga ragu tehadap perasaanku, aku tidak menyadarinya sejak awal dan itu menghantuiku. Aku terlalu memikirkan banyak hal padahal aku tahu mencintaimu adalah bahagiaku. Hingga akhirnya kau menghilang dari pandanganku, baru pada saat itu aku sadar bahwa untuk mencapai kebahagiaanmu sendiri, jangan pernah memikirkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi.”


Tanpa sadar Lily meletakkan piring buahnya dan menghambur masuk ke dalam pelukan Darren. Darren mungkin tidak sadar seberapa berharganya perkataannya barusan bagi Lily. Lily tidak tahu bagaimana bisa Darren begitu mengerti dirinya. Selama bertahun-tahun Lily hanya hidup untuk mengurusi perasaan orang lain, melakukan apa saja agar orang terdekatnya merasa puas dengan kinerjanya, sampai ia lupa untuk menemukan kebahagiaannya sendiri.


Darren hanya mampu tersenyum sedih sembari mengusap lembut rambut panjang Lily.


Beberapa menit dalam posisi itu, Lily akhirnya melepaskan pelukannya, ia rupanya menangis. Dan lagi-lagi Darren tersenyum, mengusap air mata di pipi Lily.


“Baiklah, aku mau.”


Darren mengerjap.


Lily tertawa melihat tampang jenaka Darren.


“Darren, aku bilang aku mau. Aku mau menikah denganmu.”


Oh, astaga! Astaga! Astaga!


Darren melotot, mencerna kalimat Lily. Hei! Dia tidak mengira Lily akan menjawabnya secepat itu, tapi, tapi, tapi ...


Darren mengerjap. “Barusan kau bilang apa?”


“Aku mau menikah denganmu!” Jawabnya lebih nyaring diiringi tawa lega, Lily tidak tahu bahwa jawaban sesederhana itu bisa melepaskan segala bebannya.


Dan sepersekian detik kemudian Darren langsung mendekap Lily erat-erat, begitu erat hingga tidak membiarkan wanita itu bernapas. Hatinya berteriak, seolah-olah tengah memenangkan lotere.


Darren melepaskan Lily setelah puas memeluk wanita itu. “Sebaiknya kau tidak mempermainkanku, Nona Muda,” tatapannya serius namun jenaka.


Lilymenyengir. “Aku sungguh-sungguh, Tuan Muda.”

__ADS_1


“AHAHAHAHAH!” Darren tertawa, membiarkan langit menyaksikan bahwa betapa bersyukurnya ia malam itu.


Lalu, dengan sayang Darren mengecup kening Lily, memejamkan matanya seolah-olah tidak ingin waktu berlalu. Ia akan mengingat malam ini, sebagai malam awal bersatunya hati yang tak lagi mengembara. Hati mereka telah menemukan masing-masing tuannya, dan itu sudah cukup.


__ADS_2