
Membahas sebuah topik bersama Thanit membuat Darren lupa waktu. Dengan tawa yang mulai mereda, ia mengedarkan pandangannya ke arah lantai dansa.
Namun menyadari sosok Lily dalam balutan gaun ungunya yang mencolok tiba-tiba menghilang, Darren sadar ada yang tidak beres.
Thanit yang menotis perubahan ekspresi Darren segera melirik ke arah pandangan lawan bicaranya.
“Kau mencari sesuatu?”
Darren menoleh. Dia kelihatan panik. “Aku … permisi sebentar, oke. Aku akan kembali lagi.”
Tidak menunggu tanggapan Thanit, Darren beranjak terburu-buru.
Melangkahkan kakinya dengan cepat, Darren turun ke bawah, memindai semua orang namun tidak ada tanda-tanda Lily sama sekali.
Ke mana perginya mereka?
Lalu, salah seorang pelayan di sekitar bar kebetulan melewati Darren.
“Permisi.”
“Ya?”
“Bisa aku bertanya sebentar?”
Pelayan tersebut mengangguk.
“Apa mungkin kebetulan kau melihat wanita dengan gaun panjang berwarna ungu di sekitar sini?”
Pelayan tersebut berpikir sebentar, namun langsung memiringkan kepalanya tidak yakin. “Apa mungkin dia bersama seorang pria dengan setelan warna putih?”
Darren mengangguk cepat. “Iya!”
“Ah, kalau tidak salah tadi dia berlari ke luar bersama seorang pria.”
Darren menggigit bibirnya kemudian berterima kasih sebelum pergi dari sana.
Lanjut berlari dengan panik, menelusuri lorong-lorong, dan akhirnya membuka pintu menuju luar kapal, Darren mengedarkan pandangannya sekali lagi.
Namun kapal ini begitu luas dan besar. Darren tidak akan menemukan Lily dalam sekali lihat.
Jadi, Darren terus melakukan pencariannya. Hingga akhirnya ia menemukan sosok itu.
__ADS_1
Lily dan Mike membelakangi Darren. Mereka terlihat sibuk berbincang sambil memandangi laut di pinggir pembatas kapal. Namun saat Darren hendak berlari menghampiri mereka. Sesuatu menarik Darren untuk bersembunyi dengan cepat.
“Victoria?!”
Darren melotot setelah tubuhnya di banting pada dinding oleh Victoria. Victoria langsung menyuruhnya diam.
“Kenapa---”
“Aku ingin berbicara sesuatu denganmu,” potong Victoria dengan serius.
“Aku tidak bisa. Lain kali saja.”
Darren melepaskan pegangan Victoria. Namun Victoria kembali menariknya dengan keras.
“Ini tidak akan lama.”
Darren mendengus. “Baiklah. Apa yang mau kau bicarakan?”
Akhirnya Victoria melepaskannya dan Darren segera merapikan jasnya yang sudah dibuat kusut oleh wanita itu.
Berdehem, Victoria mulai berbicara, “Aku akan menikah bulan depan.”
“Dari mana?” Victoria kebingungan.
“Dari Ethan.” Tapi sesuatu mengusik pikiran Darren tiba-tiba. “Kau tahu Ethan itu temanku, kan? Jadi sebaiknya perlakukan dia dengan baik-baik. Jangan membuatnya menderita seperti yang kau lakukan padaku dan Mary.”
Victoria menunduk. Dia tahu diri. Tapi bukan itu yang ingin dia bahas sekarang.
“Aku tahu. Tapi ada hal yang lebih penting ingin kubahas.”
“Katakan.”
Victoria menjeda sejenak. Ditatapnya baik-baik ekspresi Darren saat ini. “Setelah aku menikah dengan Ethan, biarkan aku memiliki separuh hak asuh Mary.”
Darren mendadak sensitif mendengar hal itu. “Kau sudah gila, ya?!”
Victoria tidak melepaskan tatapannya selagi menggeleng cepat. Dipegangnya kedua pundak Darren seraya berkata, “Kumohon. Biarkan aku membayar utangku selama 6 tahun ini. Biarkan aku menjadi ibu untuknya. Sekali saja, kumohon. Berikan aku kesempatan itu.”
Darren melotot. Dadanya sesak. Menggeleng kuat, dia menghempaskan kedua tangan Victoria dari pundaknya.
“Sudah kubilang, berhenti mengusik keluargaku!”
__ADS_1
Darren hendak beranjak, namun Victoria menarik tangan kiri Darren. Darren berbalik.
“Dengar, ini demi kebaikannya juga. Aku tidak meminta lebih dari itu. Aku hanya ingin membahagiakan tanggung jawab yang pernah aku terlantarkan. Hanya itu. Berikan aku kesempatan itu.”
“Lalu kenapa baru kau lakukan sekarang? Kenapa tidak dari awal?”
“Aku punya alasanku sendiri.”
“Ya, terserah padamu. Tapi aku tidak butuh penjelasanmu. Permisi.”
Darren berbalik untuk pergi. Namun Victoria kembali mencegahnya. Memeluk Darren dari belakang, Victoria menyandarkan kepalanya pada punggung bidang itu.
...----------------...
Lily mengusap-usap cepat kedua lengannya secara menyilang. Udaranya begitu dingin.
“Apa kita kembali ke dalam saja?” Saran Mike.
Lily menoleh, menimbang-nimbang sebentar, dia akhirnya mengangguk.
Keduanya lantas berbalik dan melangkah menuju pintu tempat mereka keluar tadi. Lily berjalan menunduk, terlalu sibuk untuk melawan angin yang kian kencang menerbangkan gaunnya.
Sementara itu, dari jauh Mike menotis sesuatu yang jelas di pandangannya bahwa itu adalah Darren dan Victoria. Matanya melotot seketika itu juga. Dengan cepat dia menoleh pada Lily yang masih menunduk memegangi gaunnya. Mike gelisah.
Kenapa mereka harus bertemu seperti ini? Bagaimana perasaan Lily ketika melihat suaminya dipeluk wanita lain? Astaga! Apa Darren memang pria yang seperti itu?
Bertindak gegabah, Mike melakukan satu cara untuk mencegah Lily agar tidak melihat adegan tersebut.
Bergerak cepat, Mike membuka jas putihnya, kemudian memblokir jalan Lily dengan berdiri di hadapannya. Lily mendongak kebingungan. Sedetik kemudian, jas putih Mike sudah berada di pundak Lily.
“Kau kedinginan, kan?” Mike tersenyum lebar memasangkan jasnya untuk menghangatkan Lily. “Pakai saja jasku.”
Setelah itu ia mendekap tubuh Lily ke dalam pelukannya. Lily menegang di tempat. Kepalanya tenggelam di dada bidang Mike begitu saja. Rasanya hangat. Tapi tidak masuk akal. Kenapa Mike harus memeluknya?
“Biarkan begini sebentar, aku juga kedinginan.”
Lily mengerjap. Rasanya aneh, tapi seru. Belum pernah ada pria yang memeluknya selain mendiang ayahnya. Mendapat perlakuan seperti ini di situasi yang tidak pas, jantung Lily berdebar. Dia gugup tanpa sebab.
“Hick …. Hick!” Lily cegukan.
Mike menunduk, perlahan tersenyum. Aih, menggemaskan sekali!
__ADS_1