OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
13


__ADS_3

Lily bermimpi.


Air di sekelilingnya bersuara bagai alunan desiran ombak di pantai. Gelombang air bermain di hadapannya dengan buram.


Gelap.


Hampa.


Lily menunggu seseorang untuk menolongnya. Namun tak ada yang kunjung datang. Nun jauh di sana ia melihat Mary, gadis kecil yang lebih dulu tenggelam dan harus ia susul untuk diselamatkan. Namun apa? Mereka sama-sama tak terselamatkan di dasar air ini.


Lambat-laun pandangan Lily mengabur ketika napasnya mulai kehabisan pasokan. Di dasar permukaan sana ia menyaksikan terik matahari pagi masuk menembus air, Lily takut di bawah sini, ia ingin menggapai cahaya tersebut, namun mustahil. Hingga akhirnya ia menutup mata.


...----------------...


“Hah ... Hah ... Hah.”


Lily tersentak, lalu terengah-engah mengambil napas hingga terasa paru-parunya menipis. Pelipisnya keringat dingin, dan matanya serta-merta terbuka tajam.


Sosok pria yang berada di sebelahnya langsung bangun dari kursi untuk melihat keadaan Lily.


Lily pikir awalnya itu Mike, namun tidak, dia adalah Darren. Darren berusaha untuk tidak panik, namun gagal. Dia dengan ceroboh memanggil dokter. Padahal Lily hanya mengalami mimpi buruk.


Seorang dokter menghambur masuk ke ruang VIP tersebut tidak lama kemudian. Darren langsung bergeser ke sisi lain ranjang untuk membiarkan dokter memeriksa keadaan Lily.


Saat itu juga Mike terbangun karena mendengar bising yang diciptakan Darren. Terbangun dari tidurnya di atas sofa, ia beranjak menuju ranjang, sama-sama menunggu dokter hingga selesai.


“Bagaimana keadaannya, Dok?” Darren yang pertama kali bertanya.


“Pasien tidak apa-apa. Saya sarankan untuk membiarkannya beristirahat lebih lama lagi sebab demamnya masih tinggi.”


Baru saat itu Darren bisa bernapas lega. “Baik, Dok. Terima kasih.”

__ADS_1


Sang dokter melempar senyum dan angguk sebelum beranjak dari sana. Darren langsung mengambil duduknya kembali di sisi ranjang. Ia menatap lekat wajah Lily yang penuh keringat. Lantas diambilnya tisu di atas meja lalu menyapu bersih keringat yang ada.


“Apa kau tidak apa-apa?”


Lily menggeleng pelan, hampir tidak ada tenaga.


“Apa tidak ada yang sakit?” Giliran Mike yang bertanya, ia duduk di pinggir ranjang di dekat kaki Lily.


Lily melirik Mike sekilas lalu menggeleng. Habis itu meraih tangan Darren untuk memberinya kode pada air yang ada di atas meja. Darren langsung bergerak dan membangunkan Lily untuk minum. Setelah selesai, ia menunggu Lily merasa baikan.


Lily menelan ludahnya kasar setelah di beri minum. Menatap langit-langit ruangan sebentar, ia akhirnya menoleh dan kembali berusaha meraih tangan Darren.


Darren yang sigap langsung memajukan badannya, merasa Lily akan membisikkan sesuatu.


“Mary ....” Hanya itu yang dikatakannya.


Darren kembali duduk di kursi dan berusaha mencerna apa maksudnya, hingga akhirnya ia menemukannya. “Sebaiknya jangan mengkhawatirkan Mary dulu. Dia anak yang kuat. Khawatirkanlah dirimu.”


Oleh karena itu, Darren kembali menghela napas. “Dia mengalami demam sepertimu. Aku memasukkannya ke kamar umum anak agar dia berada di sekitar anak-anak seumurannya dan tidak merasa kesepian. Sekarang, kau tidak perlu khawatir, oke?”


Lama Lily merespon, namun ia akhirnya mengangguk.


Darren lantas memperbaiki selimut Lily, menaikkannya hingga batas leher dan menggali sisinya masuk ke dalam agar membungkus tubuh Lily lebih rapat.


“Sekarang tidur lagi, dan jangan khawatir, kami ada di sini menjagamu.”


Lily akhirnya menyampingkan mukanya ke arah jendela, tidur dalam posisi itu adalah yang ternyaman baginya. Lambat-laun kelopak matanya tertutup, sungguh lelah untuk tetap sadar dalam waktu yang lama.


Darren lantas bersandar di kursi, lalu menoleh ke arah Mike. “Kau juga tidur saja kembali, aku akan berjaga.”


Namun Mike malah melirik jam tangannya, lalu menggeleng. “Ini sudah jam 5 pagi. Aku mau membeli kopi saja. Kau mau?”

__ADS_1


Darren menggeleng. Kalau dia minum kopi pagi begini, dia tidak akan tidur hingga siang. Karena nyatanya, dia juga butuh tidur setelah berjaga semalaman menggantikan Mike.


...----------------...


Pukul 9 pagi, ketika Darren berada di kamar umum anak menjaga Mary yang banyak merengek, ia dikejutkan oleh kemunculan Victoria yang dengan panik menghambur masuk ke ruangan dalam balutan pakaiannya yang eksentrik, membuat ibu-ibu dari anak-anak di ranjang mereka menatap aneh dan heran.


Mendadak, Darren dihampiri kekesalan yang muncul setiap kali wanita itu berada di sekitarnya.


Berdiri dari kursinya setelah yakin Mary tertidur pulas, Darren buru-buru menarik Victoria keluar dari ruangan menuju pintu tangga darurat.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Darren dengan kesal.


“Kudengar kabar bahwa Mary masuk rumah sakit---bagaimana bisa? Apa yang terjadi?”


“Apa pedulimu?” Balas Darren.


Victoria menghela napas, kemudian memijat pelipisnya. “Tolong jangan seperti ini di saat Mary sedang sakit. Aku hanya ingin mengetahui keadaannya. Itu saja.”


Darren memutar bola matanya malas, lantas berkacak pinggang seraya membuang napas. “Dia baik-baik saja, sedikit demam semalam, tapi tidak ada yang parah. Sekarang kau sudah tahu, bisa pergi sekarang?”


Victoria mengerjap seraya membuang muka, hatinya tercekik oleh perilaku Darren yang semakin menganggapnya layaknya parasit. Menghela napas besar, Victoria berusaha mengontrol emosinya.


“Apa aku bisa melihatnya sebentar? Sedikit saja,” mohonnya.


Darren menatap ke arah kamar anak di seberang sana, kemudian menatap Victoria lagi. “Tidak bisa. Dia butuh istirahat yang tenang---dan cobalah setidaknya memakai pakaian yang pantas di waktu yang tepat. You're not in a sircus.” Darren mendadak mengganti topik dengan menyatakan perasaannya yang terusik oleh gaya berpakaian Victoria yang berlebihan.


Sementara itu, Victoria tidak tahu apa salah bajunya. Ia melirik ke bawah; sepatu boot kulit berwarna hitam, celana kulit sepaha, atasan korset putih, dan knit arm sweater berwarna putih. Tidak ada yang salah! Semuanya senada. Dan jelas tidak terlihat seperti pemain sirkus.


Namun, sebelum Victoria sempat bereaksi. Darren sudah melenggang pergi meninggalkannya dengan wajah kesal.


Victoria berakhir berdiri di sana seperti orang bodoh. Dia hanya bisa membuang napas sekali lagi karena kehadirannya yang tidak juga membuat Darren menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2