
Seperti hari-hari dulu, rumah keluarga McGold kini benar-benar terasa seperti rumah lagi setelah Lily kembali dan menjadi bagian di dalamnya.
Karena kemarin lalu Mary akhirnya pulang dari rumah sakit, hari ini Lily sibuk mengurusi keperluannya untuk bersekolah, seperti; memasak sarapan mulai dari pukul lima sebelum ayah dan anak yang berada di lantai dua itu bangun, kemudian menyetrika jas Darren dan baju sekolah Mary yang beberapa hari lalu menumpuk dan harus ia cuci hingga bersih, hingga akhirnya membangunkan mereka satu persatu untuk mandi.
Membuka pintu kamar bercat putih itu, Lily melangkah masuk menuju ranjang dimana sosok Darren tengah terlelap dengan tenangnya. Lily duduk di pinggir ranjang setelah membuka tirai jendela dan mulai menepuk-nepuk bahu Darren, berbisik dengan lembut agar pria itu bangun.
Merasakan kehadiran Lily, Darren yang berhari-hari tidurnya tidak teratur kini dengan segera membuka mata. Nampaknya ia sudah lebih baik saat ini, lingkaran hitam di bawah matanya, atau kemerah-merahan di bola matanya, sekarang terlihat samar-samar.
Darren tersenyum saat tahu hal yang pertama ia lihat di pagi hari adalah sosok wanita yang akhir-akhir ini membuat hari-harinya bagai roller coaster.
Meraih tangan Lily, Darren menggenggamnya cukup erat dengan posisi masih berbaring. Perlahan namun pasti, sebuah senyum menawan terukir di sana. Mau tidak mau Lily turut membalasnya.
“Ayo bangun, hari ini kau harus ke kantor,” saran Lily dengan lembutnya.
Namun Darren malah menggeleng di balik selimutnya. “Biarkan aku menatapmu sebentar.”
Dalam hening mereka berdua hanya melakukan satu aktivitas itu; saling menatap tanpa kata, hanya senyum yang berbicara, menjelaskan betapa mereka memiliki perasaan untuk satu sama lain.
“Apa sudah puas?” Tanya Lily pada akhirnya.
Namun untuk kesekian kalinya lagi Darren malah menggeleng belum puas. Pada saat itu Lily merasa dipermainkan, ia lantas mencubit lengan kanan Darren, membuat Darren meringis dengan tatapan merasa dikhianati.
“Aww ... Kenapa mencubitku?”
“Katanya tadi hanya sebentar. Ini sudah pagi, masih mau santai, hm?”
Darren terkekeh sembari beranjak bangun. “Iya, iya ... Aku bangun, oke?”
Untuk sejenak ia kembali menatap setiap inci wajah Lily, melempar senyum paling indah, sepersekian detik kemudian dia malah mencubit pipi Gulf karena gemas. Lily melirik tangan si pelaku sambil meringis. Karena tidak tahan, dia akhirnya balas mencubit pipi Darren, menariknya tanpa kasihan hingga pria itu tertarik ke samping, karena kalau tidak, rasa-rasanya pipinya akan melar saat itu juga.
“Aww!”
Darren memegangi pipinya, memicing ke arah Lily yang kini menjulurkan lidahnya untuk mengejek, sebelum akhirnya wanita itu berlari keluar dari kamar. Dari luar Darren mendengar suara tawa nista Lily yang sepertinya masuk ke kamar Mary.
Untung dia sabar. Kalau tidak ... Sudah dari tadi Darren akan memburu Lily untuk balas dendam.
...----------------...
“Belajar yang rajin, yaaa. Dengarkan kata guru,” Darren berpesan pada Mary begitu mobilnya berhenti tepat di depan sekolah.
“Oke, Ayah!” Mary melambaikan tangannya riang sebelum memasuki gerbang sekolah. Darren membalas tak kalah riang sembari bersandar pada pintu mobilnya.
Begitu Mary tak terlihat lagi, Darren langsung bergegas untuk ke kantor. Hari ini suasana hatinya benar-benar bagus, rasanya kalau dia diberaki burung merpati sekalipun ia tak akan masalah. Ah ... Pokoknya semenjak hubungannya dengan Lily membaik, segalanya menjadi mungkin. Masa depannya menjadi jelas, ia akan memperjuangkan Lily dan menikah dengannya.
__ADS_1
Dengan senyum mengambang, Darren memberhentikan mobilnya ketika melihat sebuah toko bunga dalam perjalanan ke kantor. Setelah turun dari mobil, ia pun melangkah masuk dan menyapa seorang gadis dengan nama Neena di papan tanda pengenal permukaan bajunya.
“Selamat datang! Ingin memesan bunga apa?”
“Aku lihat-lihat dulu, boleh?”
Neena tersenyum. “Silahkan.”
Darren lantas berjalan-jalan kecil, memilah seluruh jenis-jenis bunga di hadapan matanya untuk dipilih. Semuanya nampak indah dan segar, seolah-olah baru dipetik pada pagi musim semi yang menyegarkan. Namun, diantara seluruh keindahan itu, pandangan Darren jatuh pada puluhan kuntum bunga paling besar berwarna kuning. Bunga matahari. Entah bagaimana, begitu melihat bunga tersebut, Darren langsung teringat senyum cerah Lily yang menyinari hari-harinya.
“Apakah anda sudah menemukan pilihan anda?” Neena datang menginterupsi sosok Darren yang tenggelam dalam khayal.
Darren berbalik sembari tersenyum. “Aku akan memesan yang ini,” Ia menunjuk bunga mataharinya.
“Apa masih ada lagi?”
Darren menggeleng. “Cukup satu jenis yang ini saja.”
“Kalau begitu akan saya bungkuskan dengan buket flanel, bagaimana?”
Darren tidak tahu menahu mengenai dunia perbungaan, maka diapun mengangguk saja.
Setelah itu, Neena melakukan pekerjaannya dengan teliti seperti seorang profesional. Hasilnya bahkan kelewat bagus dari apa yang Darren pikirkan. Ia yakin bahwa Lily akan menyukainya juga.
“Lumayan, aku harus ada di kantor dalam 10 menit.”
Neena tersenyum. “Kalau begitu kami memiliki opsi pengiriman, apa anda ingin menggunakannya?”
“Benarkah? Kalau begitu aku akan menggunakannya.”
“Anda juga mungkin berminat menulis kartu khusus untuk penerimanya, bagaimana?”
Ekspresi Darren tak bisa lebih cerah lagi. Pelayanan mereka benar-benar mengesankan. Ia akan mengingat toko bunga ini. Mungkin suatu hari nanti apabila Darren dan Lily menikah, ia akan membutuhkan kerja keras mereka.
...----------------...
Lily tengah menyetrika sisa tumpukan baju di lantai bawah sembari menonton acara ragam di TV ketika bunyi bel di depan rumah mendadak menginterupsinya.
Mengecilkan suara TV dan meletakkan setrikanya, Lily beranjak dari duduk dan pergi membuka pintu. Namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat sebuket bunga matahari menutup pandangannya.
Lily melangkah mundur. “Dengan siapa?”
Pada akhirnya wajah seorang kurir muncul di balik bunga matahari tersebut. “Apa benar ini rumah tuan McGold, dengan Ibu Lily?”
__ADS_1
Lily mengangguk. “Iya.”
“Mohon ditandatangani dulu, Bu.” Sang kurir menyodorkan sebuah kertas beserta pulpen yang langsung Lily tandatangani.
Setelah itu sang kurir menyerahkan buket bunga tersebut. Mau tidak mau Lily langsung menerimanya. “Ini bunga pesanannya. Kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih.”
Kurir tersebut memberi salam dan pergi terburu-buru, Lily membalas dengan memasang wajah bengong. Kemudian ia melirik bunga di tangannya, terdiam sejenak memandanginya. Indah sekali. Oh! Ada suratnya juga.
Karena penasaran, Lily segera menutup pintu rumah dan kembali ke depan TV. Ia meletakkan bunga mataharinya dan mengambil surat yang terselip itu.
Teruntuk Wanitaku,
Terima kasih karena selalu ada. Terima kasih telah memberiku kesempatan kedua. Terima kasih sudah begitu mengerti diriku dan terima kasih atas segala cinta yang kau berikan padaku dan Mary selama ini. Kau tahu aku menyayangimu, selalu, hari ini, sekarang, dan selamanya. Kumohon, jangan pernah bersedih lagi, dan jangan lelah untuk tersenyum, jadilah seperti bunga matahari ini yang mengantarkan kebahagiaan bagi yang melihatnya.
Dari Orang yang Tak Pernah Bosan Untuk Mencintaimu.
Lily terkekeh, senyumnya semanis isi surat yang baru dia baca. Miliaran kupu-kupu terbang dengan liarnya di dalam perut, dan Lily tidak dapat menahan untuk mencium aroma dan memeluk erat bunga matahari yang dikirimkan Darren.
Apakah begini rasanya jatuh cinta? Seolah-olah segala hal tentangnya selalu istimewa. Perilaku sekecil apapun, perhatian secuil apapun, rasanya begitu berharga meski sederhana.
...----------------...
Lily tidak tahu sejak kapan terakhir kali ia mengalami mimpi buruk.
Namun malam itu ... Ia memimpikan Mary. Peri kecil itu tengah bermain-main di pinggir kolam, memercikkan air dengan kaki-kaki mungilnya. Lily datang mendekatinya dari belakang, dan sepersekian detik kemudian Lily mendorong anak itu hingga tenggelam ke dasar air. Namun anak itu muncul kembali dan berteriak parau meminta pertolongannya, akan tetapi Lily enggan beranjak dari pinggir kolam dan memilih untuk menyaksikan Mary benar-benar tak bergerak lagi. Tubuhnya mengapung menjadi mayat. Begitu mengerikannya tatkala air kolam yang jernih tersebut menjadi gumpalan darah yang mengisap tubuh Mary masuk ke dalamnya.
Di saat yang bersamaan, dimensi mimpinya tiba-tiba berubah, ketika Lily tengah tertidur, sosok pria muncul di ambang pintu, wajahnya tak terlihat, begitu misterius dan menguarkan aura kematian. Langkah kakinya begitu ringan tak terasa, ia masuk dan mendekati ranjang Lily dan mencekiknya saat itu juga.
“Lily! Lily! Sadarlah!”
Sebuah titik terang mengantarkan Lily pada langit-langit kamarnya dalam sekali hentak. Lily membuka matanya. Mimpi buruk itu berakhir. Napasnya tersengal, dan ia mendapati Darren tengah mengguncang tubuhnya untuk bangun, bukan mencekiknya.
Lily tidak dapat lagi menahan tangisnya. Ia langsung menghambur ke pelukan Darren. Membenamkan wajahnya seolah-olah takut mimpi itu menjadi nyata.
“Shh .... Sudah, sudah. Itu hanya mimpi buruk.”
Lily merasakan Darren mengelus lembut puncak kepala dan punggungnya berurutan, mengirimkan perasaan hangat ke dalam hati Lily. Baru pada saat itu Lily mengeluarkan suara isakannya, menangis layaknya anak-anak yang tak tahu harus berbuat apa.
“Aku ... Aku ...”
“Shhh ... Jangan menjelaskannya kalau hal itu memberatkan bagimu, Lily. Yang harus kau tahu, aku ada di sini dan itu sudah cukup.”
Dan Darren benar-benar ada di sana sepanjang malam. Mengusap-usap punggung Lily hingga wanita itu berhenti menangis. Menemaninya hingga wanita itu terlelap kembali. Ini mungkin hal yang melelahkan, tapi tak ada yang lebih indah dari sebuah kepedulian dan rasa cinta dari seorang lelaki untuk wanitanya itu.
__ADS_1