OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
28


__ADS_3

Persiapan pernikahan Victoria dan Ethan telah selesai setelah seminggu semenjak Victoria membawakan undangan pernikahannya pada Lily. Dan selama itu juga Darren bertingkah aneh. Ketika di rumah dan mereka tidak sengaja berpapasan, Darren selalu terlihat menahan diri untuk mendekati Lily dan mengajaknya bicara. Atau ketika sarapan, dia akan buru-buru dan enggan menatap mata Lily. Semua gerak-geriknya mencurigakan.


Awalnya Lily pikir, Darren mungkin sedang banyak pikiran dan tidak ingin diganggu sebentar. Akan tetapi, suatu waktu Lily mendapati Darren terburu-buru menerima telepon dan menolak untuk berbicara di dekatnya, dia malah memilih masuk ke ruangan kerjanya dan tidak keluar-keluar hingga tengah malam.


Pada akhirnya Lily memilih diam dan membiarkan, dia memang selalu seperti itu. Padahal Darren mengharapkan agar Lily memohon-mohon padanya agar tidak mendiamkannya, atau mengemis perhatian. Tapi ternyata tidak, sehingga membuat Darren di lain sisi merasa tindak acuhnya selama ini tidak berefek apa-apa pada wanita itu


Namun malam ini akhirnya tiba; Darren, Lily, serta Mary akan ke resepsi pernikahan Victoria dan Ethan. Peran pria dingin tidak lagi dijalankan Darren, pokoknya malam ini dia terlihat berbeda, selalu nampak tersenyum dan bahkan membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Lily masuk.


Lily merasa lucu sejenak, akhirnya tingkah konyol yang membuatnya diistimewakan itu kembali lagi.


“Aku belum pernah membawamu ke sebuah pesta pernikahan, bukan?” Darren akhirnya bersuara, Lily menoleh dan menggeleng.


“Kau tahu, Lily ....”


Lily menunggu Darren dengan mata berbinar, satu Minggu lamanya pria ini akhirnya memanggilnya dengan benar.


“Apa?”


“Apa kau pernah mendengar sesuatu tentang sesi lempar bunga di resepsi pernikahan pengantin?”


“Lempar bunga?”


Lily menggeleng.


“Tidak pernah. Di desa kami, pernikahan dilaksanakan seperti biasa, mengundang tetangga, dan melakukan pernikahan sesuai adat.”


“Kalau begitu kau harus tahu satu hal mengenai sesi lempar bunga ini---nanti, saat pembawa acara mengumumkan sesi lempar bunga, setiap wanita lajang harus maju ke depan untuk menangkap bunga yang dilemparkan sang Pengantin.”


“Kenapa?”


“Agar wanita yang menangkap bunga itu memiliki keberuntungan untuk segera menikah tidak lama setelah sang Pengantin menikah.”


“Benarkah?”


Darren mengangguk-angguk.


“Kalau begitu aku akan menangkapnya untuk kita.”


Lily terkikik, Darren tersenyum sembari meraih tangan Lily untuk digenggam.


Waktu berdua mereka habis ketika mobil telah sampai di gedung pernikahan. Lily belum pernah datang ke resepsi pesta pernikahan semegah ini sebelumnya, bahkan tamu-tamu harus berjalan di atas karpet merah, mobil diparkirkan oleh seorang petugas di depan gedung, belum lagi dengan tamu-tamu undangan yang terlihat elegan dan glamor. Ingatkan Lily untuk tidak bertingkah kampungan selama pesta berlangsung, atau tidak, dia harus menanggung malu ditertawakan!


Sebuah pintu bagai gerbang istana para raja terbuka dan pemandangan indah puluhan kupu-kupu kristal menggantung di atas kepala menyambut mereka. Mary yang berada di gendongan ayahnya nampak berusaha meraih kupu-kupu tersebut, membuat tamu undangan wanita yang berjalan di belakang mereka terkikik gemas.


Setelah berbelok, sebuah aula besar lagi-lagi mengambil separuh napas Lily. Begitu megahnya hingga ribuan bunga dengan rimbun menempel dimana-mana. Kursi-kursi ditata rapi dengan masing-masing puluhan lilin di atas meja menampilkan kesan indah. Seperti yang Victoria sampaikan, tema pestanya akan berwarna ungu, dan para tamu juga banyak yang mengenakan pakaian berwarna senada. Sepertinya malam ini mereka bermandikan warna ungu.


Darren, Lily, dan Mary duduk di kursi di mana masing-masing terdapat nama para tamu di letakkan di atas meja. Setiap meja bundar berisi 10 kursi dan di meja Darren saat ini baru terisi 5 orang. Dengan ramah Darren menyapa orang-orang yang dia kenal sementara Lily memilih duduk dan tersenyum ke arah siapapun yang tersenyum padanya.


Satu per satu kursi dipenuhi oleh tamu undangan, sedikit lagi acara dimulai, dan saat itu Lily menotis keberadaan Mike tidak jauh dari meja yang didudukinya. Mike bersama seorang perempuan, kalau tidak salah dia adalah perempuan yang ditemuinya saat di kantin kantor waktu itu. Ada juga ayah dan ibunya Mike. Sepertinya mereka dekat dengan keluarga mempelai pria, mengingat mereka disambut dengan baik oleh kedua orangtua Mike.

__ADS_1


Mike merasakan dirinya diperhatikan, ketika pandangannya bertemu dengan Lily yang berada di balik bunga-bunga antara banyak lilin di atas meja, dia berharap agar wanita itu tidak tersenyum padanya. Mike tidak ingin hatinya semakin cemburu. Mungkin karena penikmat senyum itu kini adalah Darren, bukan dirinya.


Namun, Lily selalu menjadi dirinya sendiri, tersenyum ke arah siapapun dengan manisnya. Mike mengambil napas dengan satu tarikan, lalu dia lupa untuk membuangnya. Napasnya tercekat. Senyuman itu mungkin bukan apa-apa untuk Lily, sekedar formalitas. Namun bagi Mike, itu adalah sebuah harapan.


Jangan memberiku harapan! Hatinya berusaha teguh.


Mike mengeratkan rahangnya dan membuang muka. Dia tahu itu salah, hanya saja untuk saat ini Mike berharap Lily mengerti.


Tapi Lily tidak menangkap itu semua. Dia terlalu tidak peka. Dan bertepatan dengan Mike yang membuang muka, perhatian Lily segera teralihkan oleh MC yang muncul dengan hebohnya untuk menuntun acara resepsi ini menjadi meriah.


Berpuluh-puluh menit kemudian sang Pengantin akhirnya tiba ke dalam ruangan, disambut dengan tepuk tangan bahagia dari seluruh tamu, memberi selamat selagi mereka melewati meja-meja.


Satu persatu menu di keluarkan, seluruh tamu menyantapnya selagi beberapa tamu undangan yang memiliki anak-anak berbakat dalam bidang musik menunjukkan keahliannya. Acara malam ini seperti sebuah pertunjukan seni klasik, membuat Lily merasa seperti wanita berkelas saja.


Berjam-jam habis dengan banyak pertunjukan dan permainan seru untuk kedua pengantin bersama para tamu. Dan ketika permainannya menjadi semakin intim, Lily yang sedari tadi menjadi penikmat pertunjukan, tidak sedikitpun berpikir akan sepanik ini ketika ia dan Darren mendadak ditunjuk untuk naik ke atas panggung.


MC kemudian menjelaskan permainan setelah Darren dan Lily---mengejutkannya ada Mike dan Ploy juga---berada di atas panggung. Terhitung 5 pasangan termasuk sang Pengantin juga diharuskan memainkan permainan Pocky. Sebatang Pocky akan dihabiskan hingga menjadi gigitan terkecil, dan siapapun yang gigitannya paling kecil dan tipis akan mendapat masing-masing emas batangan seberat 1000 gram. Penonton menjadi semakin riuh ketika mendengar hadiah yang ditawarkan tersebut. Dan Lily tidak bisa untuk tidak melotot dalam situasi seperti ini.


1000 gram?! Yang benar saja!


Selagi sebatang Pocky dibagikan untuk para peserta, Darren berbisik, “Kalau kau takut, cukup diam di tempat saja, aku yang akan bergerak.”


Lily mengerjap. Dia tidak paham kenapa disuruh diam saja. Tapi mendadak tubuhnya kaku ketika permainan itu dimulai, tubuhnya benar-benar tidak bergerak.


Teriakan riuh penonton menjadi latar belakang, namun Lily hanya bisa berdiri di panggung itu selagi menyaksikan bibir Darren mendekati bibirnya.


Bagaimana ini?!


Kumohon! Kumohon! Jangan sampai kena!


Cup!


Arrrkkkh!


Lily terhuyung ke belakang, Darren segera meraih menangkapnya. Laki-laki itu tersenyum geli.


Lily mengerjap untuk sadar, dan baru menyadari teriakan, tawa, dan kecewa para suporter yang menggila. Entah itu karena kedua Pengantin yang malah menghabiskan Pockynya dan lanjut berciuman, atau karena melihat Lily yang terhuyung setelah bibirnya dikecup, atau karena Mike yang tidak menggigit Pockynya sampai menyentuh bibir Ploy.


Pocky dari para peserta segera dikumpulkan untuk dinilai. Setelah perhitungan yang sengaja dibikin menegangkan---tidak termasuk dengan pengantinnya karena mereka malah menghabiskannya---akhirnya emas batangan yang menjadi hadiah permainan ini jatuh pada Darren dan Lily.


Seluruh penonton tepuk tangan selagi masing-masing emas batangan seberat 1000 gram diserahkan pada keduanya secara langsung.


Lily masih tidak percaya dia menang. Hanya dengan modal makan Pocky, dalam semalam dia jadi jutawan. Orang kaya memang beda! Menghadiahkan hal sebesar ini di hari pernikahannya tanpa perhitungan.


Selepas itu, acara terus dilanjutkan dan makanan serta minuman tidak berhenti disajikan. Setiap piring berisi hidangan sekecil upil, sekali telan bikin penasaran, itulah sebabnya Lily dan Mary lebih fokus makan daripada mengamati acara yang sedang berlangsung. Bahkan ketika acara lempar bunga tiba, Lily harus dikagetkan dulu oleh Darren yang menggamit lengannya sedari tadi.


Lily menoleh, “Ada apa?”


Darren menunjuk Victoria. “Sesi lempar bunga.”

__ADS_1


Lily mengerjap. Ah, benar juga!


Lily langsung berdiri dan ikut berlari kecil bersama tamu wanita lainnya yang jelas masih jomlo dan ingin cepat menikah di usia mereka yang sedikit lagi akan habis masa mudanya. MC bersorak agar para wanita itu berkumpul dan tidak saling mendorong. Karena terakhir tiba, Lily berdiri saja di belakang.


Diam-diam Darren berdiri dari kursinya, ikut berdiri dari jarak yang agak jauh. Ketika Victoria mengambil bunga yang diberikan sang MC, tatapannya terkunci pada Darren sejenak, wanita itu mengangguk dan dibalas pula oleh Darren.


MC lantas mulai menghitung ketika Victoria mulai membelakangi para tamu, “Kita mulai, yaaa! Semuanya hitung sama-sama!


Satu!


Dua!


Tiga!”


Victoria melempar sejauh-jauhnya, berusaha agar setidaknya bunga itu sampai di tangan Darren.


Seluruh mata wanita yang ada di bawah sana mengikuti arah bunga yang dilempar hingga melewati mereka. Ketika semuanya menoleh ke belakang dan hendak melihat siapa yang mendapatkannya, mendadak semuanya terkejut.


Rupanya, dengan tubuh tinggi Darren yang berdiri di belakang sana, dan sedikit melompat untuk meraih, ia berhasil mendapatkan buket bunga tersebut. Awalnya tamu-tamu yang dimeja merasa heran mengapa malah pria yang mendapatkannya. Namun ketika Darren melangkah mendekati Lily dan berlutut di hadapannya, hampir seluruh orang di ruangan itu menganga terkejut. Terkesiap dan kehilangan kata-kata.


Lily mengambilnya dengan malu karena semua perhatian tertuju padanya. Bahkan seluruh lampu ruangan yang ada hanya menyorot mereka berdua.


Setelah itu Darren mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku jasnya dan membukanya di hadapan Lily. MC yang peka dengan gemasnya menghampiri untuk memegangkan mic ke arah Darren yang detik ini akan melakukan suatu hal besar dalam hidupnya.


Sebuah lamaran di acara resepsi pernikahan.


Darren tersenyum lebar. “Aku mendapatkan bunganya, Lily. Apa kau senang?”


Lily mengangguk manis.


"Kalau begitu, izinkan aku untuk mengatakan ini; Lily, bersediakah engkau menjadi pendamping hidupku hingga di suatu masa dimana raga ini tidak lagi di kandung badan, dan berbagi cinta serta kasih sayang bersamaku untuk seumur hidup?"


Setetes bening jatuh di atas pipi tanpa mampu di bendung. Lily mengusap pipinya. Tak ada kata yang mampu terucap untuk menyuarakan kebahagiannya saat ini. Darren benar-benar melamarnya. Sungguh-sungguh melamarnya. Dia membuktikan perkataannya, dan tak ada yang lebih membahagiakan saat tahu bahwa ini bukanlah mimpi.


Sementara itu MC dengan gemasnya menyuarakan penonton agar berteriak bersama-sama.


"Terima!"


"Terima!"


“TERIMA!"


Lily mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, semua orang mendukungnya. Dan ketika matanya bertemu tatap dengan Mike, Lily menyaksikan pria itu bertepuk tangan dengan air mata yang seolah tertahan. Namun itu bukan air mata haru, karena begitu sadar Lily menatapnya, Mike malah berusaha untuk tidak memperlihatkan sedikitpun kesedihannya. Membuat dia terlihat seperti pria patah hati yang berusaha tegar.


Lily tidak membiarkan dirinya menatap lebih lama, karena ada hati yang mesti dia beri kepastian dengan jawaban, "Ya, aku bersedia!"


Seluruh tamu bersorak dengan geloranya yang membara, lamaran adalah suatu hal yang tak bisa kau tolak untuk menontonnya, dan menjadi bagiannya malam ini adalah suatu hal yang tak terlupakan.


Begitu Darren beranjak untuk berdiri dan menarik Lily dalam dekapannya, beribu confetti emas meledak menghujani mereka seperti perayaan besar dari atas sana. Para wanita yang masih berdiri di belakang mereka dengan riang menari dan bertepuk tangan di bawahnya.

__ADS_1


Oh astaga, Tuhan mungkin lebih tahu betapa bahagianya seorang Lily saat ini.


__ADS_2