OUT OF MY LEAGUE

OUT OF MY LEAGUE
06


__ADS_3

Sekretaris Darren yang sedang menjaga Mary namanya Diana, dan wakilnya yang sedang bersama Lily saat ini bernama Ophelia.


Meski namanya terdengar seperti dari zaman kerajaan, tapi wanita satu ini memang terbilang anggun bahkan ketika kau memanggilnya, dia akan menoleh dengan cantik. Lily mengaguminya.


Jadi ketika Ophelia yang memilihkan dress untuk ke acara pertemuan setahun sekali ini, Lily mempercayakan semuanya pada wanita itu. Lily yakin dengan pilihan Ophelia, apapun yang dipilihkan untuknya pasti akan menawan.


Pilihan Ophelia jatuh pada gaun menjuntai berwarga ungu gemerlap. Bagian bahunya sangat transparan. Itu bukan gaya Lily sekali, tapi mengingat acara ini akan dihadiri orang-orang besar, sudah pasti dress ini akan cocok dengannya. Berkelas dan anggun.


Membayar dengan black card yang diberikan Darren, Lily mengikuti Ophelia dalam diam. Kemanapun wanita itu menuju, Lily akan mengekor seperti orang yang takut kehilangan arah.


Untuk sekedar informasi, Lily memang belum pernah menginjakkan kakinya di mall terbesar di Manila ini. Selama 6 tahun dia senang berbelanja ke pasar tradisional saja, karena hal itu akrab dengannya sewaktu di desa. Darren sendiri tidak pernah mengeluh ketika bahan-bahan makanan yang dia makan berasal dari pasar, karena itu mengingatkannya kala dia masih belum punya apa-apa seperti sekarang.


Ophelia dan Lily lanjut masuk ke toko sepatu. Melihat-lihat dengan tatapan penuh kagum, mata Lily persis anak kecil yang sedang memandangi gulali melalui kaca toko. Dia belum pernah melihat barang-barang seindah ini. Begitu berkilau dan tentu menguras dompet.


“Lily, kau lebih suka heels yang bertali apa yang langsung pakai?”


Lily beralih dari keterkagumannya. Dia berpikir sejenak. “Yang sederhana saja.”


Ophelia menghela napas seraya tersenyum. Dia tidak tahu darimana bosnya mengenal wanita di depannya ini. Lily begitu sederhana dan tidak tahu banyak tentang hal-hal perempuan. Dia terlampau biasa-biasa saja dibandingkan para wanita bermake-up tebal di perusahaan mereka yang siap bertekuk lutut demi mengenal Darren lebih dalam.


Seperti permintaan Lily, pilihan Ophelia jatuh pada sepatu berwarna pastel pink pucat dengan ukiran bunga mawar yang indah di tumitnya. Sederhana namun elegan. Kalau Lily masih ingin yang lebih sederhana lagi, itu tidak mungkin terjadi. Ini mall, bukan pasar tradisional.


“Bagaimana dengan ini?” Ophelia menunjukkan heels yang dipilihnya.


Menimbang-nimbang dengan ragu, Lily akhirnya mengangguk.


Setelah membayar lagi. Ophelia lanjut membawa lily ke toko perhiasan, lalu tas, dan terakhir di salon.


Pemiliknya seorang pria berpenampilan eksentrik. Tubuhnya ceking, memakai baju ala Hawaii yang ketat, celana jins yang juga ketat berwarna merah, dan tak lupa kepala botaknya yang begitu mengilap berhasil menarik perhatian Lily. Dengan kehadirannya, salon modern ini jadi berkesan retro.

__ADS_1


“Kenalkan Lily, dia Julia.” Ophelia mempersilahkan.


Lily menjulurkan lengannya ke arah Julia untuk bersalaman, namun pria itu memilih berteriak sebelum memeluk Lily sebagai gantinya. Lily sempat menahan napas saat lengan panjang Julia meremasnya. Meski ceking begini, tapi tenaganya benar-benar bukan main. Rasanya Lily pernah dipeluk begini, tapi lupa kapan dan di mana.


Julia melepaskan pelukannya kemudian memegangi kedua pundak Lily. “Kau masih mengingatku?”


Lily mengerjap, mengingat-ingat. Tapi tidak berhasil.


Julia memasang ekspresi sedih. “Kau ini!” Kemudian menjitak dahi Lily. “Kau lupa denganku?! Kau lupa salon pangkas rambut sebelah rumah nyonya Puri?” Julia memicing kekanak-kanakan.


Baru saat itu mata Lily melebar. “Ibu Peri?!”


“Aaa!” Julia berseru antusias. Dia pikir Lily sudah melupakannya.


Dulu sekali, saat Lily menumpang di rumah Darren, ada sebuah salon pangkas rambut tak jauh beberapa blok dekat rumah nyonya Puri, juragan apel.


Giliran Lily yang memeluk erat tubuh Julia. “Sekarang Ibu Peri jadi glowing, ya! Makin putih. Pantas saja tadi aku penasaran, padahal dari awal sudah tidak asing lagi sama gayanya.”


Lily tertawa gemas melihat perubahan Julia. Dulu dia yang paling jelek sekomplek. Sudah kurus kering, bicaranya nyaring bukan main, hitam kusam lagi. Tapi sekarang beda, meski tetap kerempeng begitu, dan suaranya tidak berubah, namun kulitnya jadi lebih cerah.


“Ibu Peri apa kabar selama ini? Apa salon ini punyamu?”


Julia tersipu, sudah lama dia tidak sering mendengar panggilan itu. Setelah jadi orang berada, dia harus memakai nama yang sok berkelas. Tapi mendengar panggilan itu lagi, rasanya dia bernostalgia.


Julia mengangguk. “Iya. Bagus, kan? Jauh lebih bersih dan lebih besar dari yang dulu waktu masih tinggal di komplek.”


Lily mengangguk semangat. Bangga akan pencapaian Julia.


Di lain sisi.

__ADS_1


Ophelia yang sedari tadi mendengar percakapan mereka malah terdiam. Dia berdehem singkat, “Kalian sudah kenal sebelumnya?” Tanyanya penasaran.


Lily dan Julia menoleh. “Iya, 6 tahun yang lalu,” jawab Julia.


Ophelia tersenyum tidak menyangka. Berjam-jam diikuti oleh Lily seperti anak hilang, baru kali ini Lily tersenyum. Mungkin setidaknya ada satu orang yang dia anggap seperti keluarga di tempat asing sebesar ini.


“Benarkah? Kalau begitu kita langsung saja, bagaimana?” Ophelia menyarankan, mempersingkat waktu karena ini sudah pukul 2 siang.


Julia melirik Lily, kemudian melirik Ophelia. “Jadi hari ini pelangganku adalah Lily? Bukan Darren atau kau?”


Ah, ya. Biasanya ketika Ophelia ke tempat ini, dia akan potong rambut setiap bulan, Darren juga sudah menjadi pelayan tetapnya, malah Darren sendiri yang memperkenalkan salon ini pada para karyawatinya sejak setahun yang lalu, hitung-hitung promosi untuk bekas tetangga lama.


Ophelia menggeleng. “Untuk hari ini pelanggannya adalah Lily. Malam ini akan ada pertemuan setahun sekali.” Ophelia menjelaskan di belakang selagi Julia mengajak Lily duduk di kursi.


Ophelia menoleh ke belakang dengan terkejut. “Pertemuan setahun sekali? Bukannya Darren sering pergi sendirian?” Lalu balik ke Lily lagi untuk memeriksa kulit kepala dan model rambut yang pas untuk acara pertemuan setahun sekali ini.


“Kali ini dia bersama Lily,” jawab Ophelia seraya membuka-buka majalah di belakang sana.


Fokus pada pekerjaannya setelah itu, Julia tidak mengindahkan siapapun lagi. Dia mencuci rambut Lily dengan cekatan. Keahliannya semakin meningkat.


Setelah mencuci rambut, dia mengeringkannya. Selama itu pula Juli memerintahkan dua pegawainya untuk memberi manikur pada kuku lily.


Lily benar-benar dimanja, dia suka. Meski ini pertama kalinya mencoba, tapi Lily nyaman. Ah, kalau dia bisa setiap hari seperti ini. Hehehe, pasti menyenangkan.


Namun …


“Dia tertidur?!”


Julia terkejut diiringi tawa pada akhirnya. Dia bahkan baru beberapa puluh menit mengurus pelanggan yang lain, tapi Lily malah sudah tidur? Bahkan dia tersenyum dalam tidurnya. Waaah, wanita ini sesuatu sekali.

__ADS_1


__ADS_2