Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Kepergian Pang Sagoe...


__ADS_3

“Kita bagi 3 tim. Tim satu akan menyerang mereka di persimpangan menuju jalan Kampung Alue. Tim 2 akan menyerang di Bukit Geurudong dan tim 3 akan menyerang di belakang bukit Teukuh di Kampung Alue.” Ilham menyusun strategi bersama teman-temannya sebelum berpancar ke beberapa titik yang sudah ditentukan.


Ilham membawa 20 orang rekannya dalam menyelesaikan misi mereka untuk menyerang truk-truk aparat pemerintah yang akan mendirikan markas militer di Kampung Alue. Mereka akan menghancurkan rencana para aparat pemerintah tersebut karena akan mempersulit pergerakan mereka di kemudian hari karena kampung Alue terletak tidak jauh dari Kampung Tanjong yang terkenal sebagai kampung para pemberontak.


Ketiga tim telah dibagi dan mulai melangkah menuju tempat yang sudah ditentukan sebagai titik untuk menyerang truk-truk tersebut.


Sementara di dalam pondok di tengah hutan. Sepasang mata masih saja terbuka enggan terpejam setelah kepergian sang suami. Rahmah terus memeluk badannya dengan kain yang tadi digunakan oleh sang suami. Dengan rambut yang masih sedikit basah ia terus memanjatkan doa dalam hatinya untuk keselamatan sang suami yang sangat ia cintai.


Ia terus mengingat bagaimana sang suami menenangkannya sesaat sebelum pergi berjuang. Saat itu, Ilham memeluknya dengan erat seakan itu adalah kebersamaan mereka yang terakhir. Kata-kata mesra yang suaminya ucapkan terus terngiang dalam benak Rahmah.


“Jangan berpikiran buruk karena itu sama seperti doa. Jadi berpikirlah yang baik-baik setelah Abang pergi. Teruslah berdoa supaya Allah melindungi Abang dan rekan-rekan yang lain.” Rahmah tidak menjawab. Semakin banyak yang diucapkan Ilham semakin erat tangannya memeluk erat pinggang sang suami.


“Sampai kapan perang ini terjadi?” lirih Rahmah.


“Entah. Kita hanya bisa berdoa semoga perang ini cepat  berakhir. Hanya keajaiban yang dapat mendamaikan perang di daerah kita. Kenapa? Apa kamu mulai menyesal menikahi pemberontak seperti Abang?”


Dengan cepat Rahmah menggeleng kepala. “Adek bukan menyesal tapi Adek takut kehilangan Abang. Apa itu salah? Adek hanya ingin hidup normal tanpa harus ketakutan saat Abang pamit untuk berperang.”


“Kita berdoa saja semoga semua ini cepat berakhir. Sekarang tidurlah! Abang akan memelukmu sampai kamu tidur.”


Sebelah tangan Ilham mengusap lembut punggung sang istri untuk menenangkannya dari rasa takut dan gelisah.


Suara dentuman terdengar sayup-sayup sampai ke hutan. Rahmah yang masih terjaga semakin takut saat mendengar suara itu. Walau hanya sayup-sayup tapi suara dentuman itu semakin membuat Rahmah gusar dan takut. Sepanjang malam sampai subuh menjelang Rahmah masih terjaga. Dia melaksanakan salat subuh dengan doa yang panjang setelahnya.


Doa seorang istri yang terus berharap semoga sang suami pulang dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Doa yang sama dari setiap wanita penghuni pondok dalam hutan. Mereka tidak tahu jika ada wanita di luar Aceh yang juga mendoakan yang sama untuk suami mereka.


Rahmah keluar dari pondok untuk menyiapkan makanan atau sekedar bertanya tentang keadaan sang suami yang mungkin diketahui oleh salah satu dari mereka.


“Mata kamu seperti tidak tidur semalam.” ucap perempuan beranak satu istri Bang Ilyas.

__ADS_1


“Apa sangat terlihat ya Kak Sur?” namanya Suryani dan di sini sering di panggil Kak Sur.


Wanita itu tersenyum, “Kami sudah biasa ditinggal seperti ini. Nanti kamu juga akan terbiasa.”


“Apa mereka akan pulang hari ini?” tanyaku penuh harap.


Kak Sur tertawa kecil, “Jika mereka tidak di kejar dan tidak terluka maka nanti malam mereka akan tiba di sini.”


“Apa? Terluka? Dikejar?”


Tiga hari sudah kepergian Ilham ke medan pertempuran dan semakin membuat sang istri gelisah karena tidak adanya kabar dari sang suami maupun dari beberapa rekan yang masih berada di markas.


Setiap saat Rahmah menanyakan kabar sang suami namun jawaban mereka tetap sama jika Pang Sagoe bersama rekan yang lain masih dalam perjalanan pulang melalui jalan lain untuk mengecoh aparat keamanan. Rahmah hanya bisa terduduk lesu setiap kali jawaban yang didapatkannya selalu sama.  


“Beginilah nasibnya jika menikah dengan pejuang. Kamu pasti sudah tahu risikonya kan?”


“Kamu sudah makan? Jangan sampai 3 hari ditinggal kamu jadi kurus kering. Apa kata Pang nanti jika dia kembali.”


“Kak Sur, kenapa Kakak memanggil Bang Ilham dengan panggilan ‘Pang’?” tanya Rahmah penasaran.


Kak Sur menatap Rahmah sang istri Pang yang ternyata tidak tahu apa-apa tentang suaminya.


“Apa kamu tidak tahu tentang suamimu sebelum menjadi istrinya?” selidik Kak Sur.


“Saya hanya tahu kalau Bang Ilham adalah seorang pemberontak yang paling dicari oleh aparat keamanan. Ayah tidak mengatakan apa-apa lagi tentang Bang Ilham selain itu. Ayah juga jarang di rumah jadi, mana sempat Ayah cerita ataupun saya bertanya lebih.”


“Jika seperti itu, kenapa kalian bisa sampai menikah?”


“Bang Ilham pernah ke rumah kami beberapa tahun lalu. Saya melihatnya tengah malam itu dan beberapa kali Abang ke rumah lagi dan saya langsung menyukainya.”

__ADS_1


“Jadi, kalian saling menyukai saat Pang ke rumahmu?” Rahmah mengangguk malu.


“’Pang’ itu panggilan untuk Panglima. Suamimu adalah seorang panglima pemberontakan. Sedangkan ‘Sagoe’ sengaja disematkan karena ia berasal dari Kampung Sagoe. Kemudian, semua pasukan memanggilnya dengan panggilan ‘Pang Sagoe’ yang berarti Panglima Sagoe.”


Rahmah hanya bisa menganggukkan kepala mendengar asal usul sang suami yang baru ia tahu.


“Apa kamu tidak menyesal menjadi istrinya?”


Rahmah menggelengkan kepala seraya tersenyum.


“Saya senang menjadi istri Bang Ilham. Dia pria yang baik dan lembut. Saya sangat menyayanginya.”


Kak Sur tersenyum senang. “Ternyata kamu cinta buta sama Pang ya, sampai tinggal di hutan begini saja kamu rela.”


“Asalkan bersama Bang Ilham hidup di mana pun tidak masalah.”


“Cinta buta itu memang berbahaya. Kak Sur hanya berharap cinta buta kamu ini tidak membuatmu melupakan kenyataan bahwa suami kamu adalah seorang pemberontak yang paling dicari oleh aparat keamanan dan segala risikonya juga kamu harus ingat itu baik-baik. Kita berharap daerah kita segera damai dan perang segera usai tapi kita juga tidak bisa berbuat apa-apa jika suatu hari suami kita tinggal nama atau bisa jadi kita ikut terbaring menjadi mayat di sampingnya.”


“Saya tahu, Kak. Saya berharap jika itu terjadi suatu saat nanti saya ikut terbaring di sampingnya. Saya ingin sehidup semati dengannya, Kak.”


“Cintamu luar biasa besar untuk Pang. Pasti Pang sangat bahagia saat mengetahui jika kamu sangat mencintainya.”


“Saya menyerahkan hidup saya untuk berada di sisinya. Senang dan susah tetap di sampingnya.”


“Kak Sur doakan semoga kalian bahagia sampai tua.”


***


LIKE...KOMEN....

__ADS_1


__ADS_2