
“Abang mau kemana?” tanya Rahmah melihat suaminya sedang menyiapkan senapan angin.
“Mau berburu di sekitar sini. Mudahan kali ini dapat rusa biar kita makan besar.”
“Kami ikut ya?” Ilham mengernyitkan kening. Tidak biasanya Rahmah meminta ikut.
“Abang mau berburu, kalau ada kalian nanti rusanya lari. Tunggu di sini saja ya! Abang pergi tidak lama. Em, kalau tidak, Abang ajak Zikri saja.” Bocah itu langsung meloncat kegirangan.
Ilham tidak hanya berdua, ada beberapa orang yang mengikutinya. Sepanjang perjalanan, ayah dan anak itu berbincang banyak hal terutama Zikri yang sedang penasaran pada banyak hal. “Ayah, rumah kakek dan nenek itu jauh ya?”
“Iya, kenapa kamu mau ke rumah kakek nenek?”
“Kalau Ayah dan Mamak pergi, Abang juga pergi. Abang akan pergi ke mana pun Ayah dan Mamak pergi.”
“Nanti kalau keadaan di luar sana sudah aman, kita akan mengunjungi kakek dan nenek lagi.”
Ilham membawa putranya saat akan membidik segerombolan rusa yang tengah minum di sungai. Masing-masing dari mereka sudah siap membidik hingga dalam waktu tiga detik. Lima rusa itu telah terkapar. Ilham dan rekan-rekannya langsung menghampiri kemudian menyembelih di depan sang putra.
“Kita bersihkan di sini saja supaya para istri tidak kelelahan di sana.” Ucap Ilham.
“Apa kamu takut, Bang?” tanya Ilham pada putranya.
Zikri berdiam diri menatap leher rusa yang dipotong oleh ayahnya, “Ayah, apa rusa ini punya keluarga? bagaimana kalau keluarganya mencari dan dia tidak pulang-pulang lagi. Abang tidak mau makan mereka. Ayah jahat sekali. Kalau Abang yang dipotong kayak begitu, Ayah akan apa?”
Deg…
Ilham menatap teman-temannya hingga akhirnya ia sadar telah melakukan kesalahan. Pria itu langsung mencuci tangan kemudian membawa putranya jauh dari sana.
“Bang, lihat Ayah!”
Ilham menatap lekat manik mata sang putra yang tengah merajuk itu. Ada rasa geli bercampur lucu kala melihat wajah sang anak yang sangat mirip istrinya kalau sedang merajuk. “Abang pernah makan ayam, bebek sebelumnya kan?” anak itu mengangguk.
“Bagaimana rasanya?”
“Enak.”
__ADS_1
“Abang suka?” anak itu mengangguk.
“Terus Abang tidak memikirkan keluarga ayam dan bebek itu setelah Abang makan?”
Deg…
Mata Zikri langsung menatap sang ayah, Ilham tersenyum. “Bang, setiap binatang yang boleh dimakan memang harus disembelih terlebih dahulu. Dalam sembelih pun ada caranya, seperti tidak boleh mengasah pisau di depan binatang tersebut seperti yang Ayah lakukan tadi. Ayah pergi jauh supaya rusa itu tidak melihat dan mendengar saat Ayah mengasah pisau. Tidak berdosa bagi kita manusia memakan mereka asalkan disembelih dengan benar supaya rusa-rusa itu tidak haram saat kita makan. Setiap binatang tidak diberi otak untuk berpikir makanya berhenti menyalahkan Ayah karena Allah saja tahu kenapa tidak memberikan mereka akal pikiran karena mereka akan menjadi makanan para manusia.”
“Tapi Abang tetap tidak mau makan mereka!”
Ilham menghela nafasnya, “Keras kepalanya mirip denganku. Maaf Abu karena baru sekarang aku mengerti betapa susahnya Abu menghadapi sifatku. Sekarang aku sudah mendapat balasannya, Abu.” Batin Ilham membuatnya sampai tersenyum.
“Kenapa Ayah tersenyum begitu?”
“Tidak ada. Ayo, Ayah harus membantu paman-pamanmu supaya kita bisa cepat pulang.”
Mereka kembali ke sungai dan bagian dalam rusa sudah dibersihkan hingga tersisa organ yang bisa dimakan. Kulit rusa juga sudah sayat rapi hingga terlihat daging dan tulang-tulangnya saja yang terlihat menggiurkan.
Kepulangan mereka disambut meriah oleh anak-anak karena malam ini mereka akan makan besar. Rahmah tersenyum menatap sang suami yang tengah menggendong sang putra dengan wajah cemberut.
Malam harinya di depan pondok, anak-anak sudah tertidur. Hanya Ilham yang masih terjaga lalu Rahmah datang membawa segelas kopi untuk sang suami.
“Kenapa belum tidur?” tanya Ilham lembut kemudian merentangkan tangannya supaya sang istri masuk ke dalam pelukannya.
“Belum mengantuk, Abang?”
“Sama. Entah kenapa mata Abang susah terpejam malam ini. Hati Abang sedikit gelisah. Abang memikirkan Abu dan Umi.
“Kenapa tidak bertanya pada anak buah Abang saja?”
“Khalid baru saja turun gunung. Kemungkinan dia akan mencari kabar tentang mereka.”
“Semoga mereka baik-baik saja.”
“Amin…”
__ADS_1
“Sayang,-“ Ilham tiba-tiba memanggil istrinya dengan nada berbeda.
“Terima kasih sudah mau menemaniku sejauh ini. Kamu dan anak-anak adalah hal terindah yang pernah Abang miliki.”
Rahmah tersenyum manis, “Aku juga berterima kasih karena Abang sudah menikahi wanita kampung ini untuk menjadi istri dan ibu untuk anak-anak Abang.”
Cup…
Rahmah mengecup pipi sang Pang Sagoe itu sekilas. “Sampai dititik ini bersamamu rasanya hidup Abang sudah lengkap. Andai daerah kita aman mungkin Abang akan berharap semoga umur kita panjang hingga bisa melihat anak-anak tumbuh dewasa tapi semua itu hanya hayalan karena perang ini entah kapan akan berakhir. Mungkin benar yang Abu katakan jika perang ini akan berakhir kalau Allah sudah menurunkan azabnya.”
“Jangan pesimis begitu. Semua masih mungkin termasuk umur kita. Kalaupun ajal kita dekat, aku ingin selalu bersamamu baik hidup maupun mati. Aku selalu berdoa supaya kita sehidup semati karena aku tidak yakin kuat jika Abang tiada.”
“Abang merasa tersanjung dicintai olehmu sedalam ini. Kalau kamu berdoa sehidup semati dengan Abang, bagaimana dengan anak-anak? Siapa yang akan mengurus mereka?”
“Ada Umi, Abu dan Cut. Abu dan Umi sudah berhasil mendidik anak seperti Abang dan Cut jadi mereka juga pasti berhasil mendidik anak kita. Sekaligus menjadi latihan untuk Cut sebelum dia menikah. Kira-kira siapa yang akan menjadi jodoh dia ya? Aku penasaran?”
“Yang pasti bukan Khalid.”
“Kenapa Abang berkata begitu? Bukannya Abang yang menjodohkan mereka?”
“Aku sangat tahu watak adikku, Dek. Dia itu sama keras kepalanya sepertiku. Hanya saja dia membungkusnya dengan rapi hingga tertutupi oleh wajah lembutnya.”
Rahmah tergelak mendengar perkataan sang suami yang sedang menistakan adik iparnya. “Bagaimana kalau jodohnya memang tentara?”
Ilham tersenyum kecut, “Mungkin Abang tidak akan pernah datang.”
“Bang, biarkan dia menikah dengan pria yang ia sukai. Sama seperti aku yang menikah dengan Abang karena aku menyukai Abang. Hati perempuan itu lembut tapi sulit dipahami. Jika memang ada yang menarik di hati Cut, biarkan dia yang menentukan sendiri. Abu saja tidak menjodohkannya kenapa Abang yang menjodohkan dia. Pantas saja Abu dan Umi marah. Seharusnya Bang Khalid masih memiliki peluang tapi karena cara Abang yang salah membuat peluang itu musnah seketika bersamaan dengan lamaran yang ditolak.”
Ilham memperhatikan wajah sang istri lekat, “Kenapa malam ini Mamak Zikri banyak bicara?”
***
LIKE...KOMEN...TERIMA KASIH
__ADS_1