Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Wardah...


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


 


Di sebuah balai kayu beratap rumbia, seorang pria sedang menggigit kain untuk meredam suaranya yang tengah menjerit kesakitan karena kakinya patah serta bahunya bergeser akibat terjatuh dari atas bukit saat melarikan diri.


 


Ilham bersama kelima temannya sedang berada di sebuah desa terpencil dengan jarak cukup jauh dari lokasi penyerangan. Serangan mereka berhasil menghadang aparat pemerintah. Ketika mereka yakin akan menang, tiba-tiba bala bantuan datang dengan peralatan tempur lengkap sehingga pihak Ilham kalah dari segi jumlah dan senjata.


 


Mereka berlari menuruni bukit dengan tergesa untuk menghindari serangan balasan namun naas, Ilham dan beberapa rekannya terjatuh. Sang pencipta masih menyelamatkan mereka saat itu hingga Ilham berhasil melarikan diri ke kampung Kayee Ujoeng.


 


Kampung kecil dekat dengan kaki bukit penghubung antara Kabupaten Jeumpa dan Aceh Teungah. “Bagaimana Teungku Kadi, kapan saya bisa berjalan kembali?” tanya Ilham dengan nafas naik turun serta keringat membasahi badannya.


 


Tengku Kadi adalah pemilik balai kayu tempat Ilham sekarang berada. Ia adalah dukun patah yang cukup terkenal di kampung hingga beberapa kampung di sekitarnya. Ia juga kerap kali menerima pasien tengah malam seperti Ilham. Rumah Tengku Kadi terletak di sebelah balai dengan jarak 30 meter.


 


“Tunggulah sampai tulangnya merekat kembali supaya bisa bertahan lama. Kalau tidak, saya takutnya kamu harus kembali ke sini dalam waktu dekat.” ujar Tungku Kadi.


 


Ilham hanya bisa pasrah menerima keadaannya saat ini. Pikirannya terus terpusat pada sang kekasih hati yang baru ia nikahi beberapa hari.


 


“Apa ada kabar dari rekan yang lain?” tanya Ilham pada Ilyas.


 


“Belum, tidak ada yang berani menyalakan HT.”


 


Ilham kembali lesu dengan pikiran menerawang memikirkan sang istri yang entah sampai kapan bisa ia temui kembali.


 


“Abu, Mamak kasih ini.” ucap seorang dara jelita berkulit coklat dengan rambut panjang berwarna hitam pekat.


 


“Sudah masak rupanya. Bawa kemari!” pinta Tengku Kadi pada sang putri.


 


Putri semata wayang Tengku Kadi bernama Wardah. “Bagikan pada teman-teman Bang Ilham juga.” titah Tengku Kadi kembali.


 


“Makanlah sop bebek muda ini untuk mempercepat kesembuhan kalian!” tanpa menunggu lama, Ilham langsung menyeruput kuah sop yang masih hangat itu. Semangatnya untuk sembuh sangat tinggi supaya bisa bertemu lagi dengan sang istri.


 


Diam-diam, Wardah memperhatikan Ilham dengan ujung matanya. Dari semua anggota pemberontak hanya Ilham yang terlihat rapi dikarenakan Ilham status Ilham masih pengantin baru.


 


“Wardah, kenapa kamu masih di sini?” tanya sang ayah.


 

__ADS_1


“Tunggu mangkuknya kosong, Abu.”


 


“Masuklah! Biar Abu yang membawa mangkuknya ke dalam. Pergilah, bantu Mamak di dapur!” Wardah mengangguk lalu meninggalkan balai tersebut dengan hati kecewa. Hatinya sudah terpincut pada Ilham sejak pertama kali melihat mereka datang ke rumahnya.


 


Ia juga yang membantu Ilham pada saat itu dengan membubuhkan ramuan pada kaki dan bahunya. Ia menyentuh Ilham yang saat itu tidak berdaya. Sementara sang ayah sibuk mengurusi teman-teman Ilham yang juga membutuhkan pertolongan.


 


“Kenapa wajahmu seperti pantat bebek habis bertelur?” gurau sang ibu.


 


“Makkkk,” rengek sang putri.


 


“Kenapa? Apa kamu menyukai salah satu dari mereka?”


 


“Mamak tahu?” tanya Wardah dengan raut wajah tidak percaya.


 


“Mamak pernah menjadi gadis seperti kamu. Perasaan suka yang kamu rasakan memang tidak salah tapi untuk menikah harus ada dua orang yang memiliki perasaan yang sama. Kamu tidak bisa menikah jika mereka tidak mau sama kamu.”


 


“Bagaimana caranya biar Bang Ilham mau, Mamak punya doanya?” tanya sang putri penuh harap.


 


 


“Pang?”


 


“Iya, Ilham itu Panglima Sagoe. Teman-temannya memanggil dia ‘Pang Sagoe’”


 


“Wah, hebat sekali pangkatnya. Masih muda sudah jadi Panglima. Wardah suka sama abang itu, Mak. Mamak bilang sama Abu biar Abu menikahkan Bang Ilham dengan Wardah, ya?”


 


“Kamu suka tapi dia belum tentu suka sama kamu.”


 


“Abu kan ada doanya. Ayolah, Mak. Bilang sama Abu ya? Pokoknya kalau bukan sama Bang Ilham, Wardah tidak mau kawin. Biar saja jadi perawan tua.” rengek Wardah lalu meninggalkan sang ibu dengan helaan nafas beratnya.


 


Sementara itu, para penghuni hutan mulai gelisah karena kehilangan kabar dari rekan-rekan yang bertugas. Kegelisahan itu juga turut dirasakan oleh Rahmah. Hati dan pikirannya tidak berhenti berdoa untuk sang suami bahkan air mata juga ikut mendampinginya di kala malam.


 


Seorang ‘Cuak’ dari Kampung Tanjong mengabarkan jika kampung tersebut sudah diduduki oleh pasukan pemerintah yang berarti bahwa markas para pemberontak yang berada tidak jauh dari kampung tersebut sudah pasti tidak aman lagi.


 


Para penghuni markas pun segera bersiap untuk pindah ke kawasan lain yang dianggap aman. Dalam deraian air mata, Rahmah membereskan barang-barang yang tidak banyak tersebut seraya melafalkan berbagai doa supaya ia dan sang suami bisa bersua kembali.

__ADS_1


 


“Rahmah, apa kamu sudah siap?” tanya Kak Sur.


 


“Sudah, Kak.”


 


“Ayo!”


 


Rahmah pergi meninggalkan markas bersama dengan para istri, anak serta beberapa rekan pemberontak yang bertugas menjaga mereka. Sesekali, Rahmah menatap ke belakang untuk melihat tempat yang selama beberapa hari ini ia tempati bersama sang suami. Tempat berbagi cinta, menabur cinta dan berpisah dengan cinta. Pondok-pondok yang dibangun sudah hilang tinggal rerumputan.


 


Semua sudah dibongkar untuk menutupi jejak mereka selama ini. Mereka pergi dengan tenang, hanya beberapa anak kecil yang tetap bersuara saling melempar canda bersama teman-temannya.


 


“Ini juga salah satu risikonya menikah dengan para pemberontak.” ucap Kak Sur.


 


“Bagaimana kalau mereka kembali?” tanya Rahmah.


 


“Mereka tidak akan kembali ke sini. Percuma juga jika kita menunggu yang ada malah kita yang tertangkap.”


 


“Apa Kak Sur tidak sedih?”


 


“Apa yang kamu rasakan sekarang sudah lebih dulu Kak Sur rasakan waktu baru menikah. Sekarang sudah terbiasa, anak-anak juga bisa menerimanya mungkin karena mereka memiliki banyak teman di sini.”


 


“Apa mereka tidak pernah menanyakan ayah mereka?”


 


“Mereka bertanya tapi karena sudah terbiasa jadi sudah tidak terlalu terasa lagi. Dan kehadiran banyak teman juga membuat mereka lupa pada ayahnya masing-masing. Lihat saja bagaimana mereka sekarang? Bahkan jalan kaki menyusuri hutan seperti ini tidak membuat mereka kelelahan. Mereka justru menikmati semua ini tanpa sedih dan takut seperti kita.”


 


“Iya juga ya. Mereka tetap bahagia walau hidup kita dalam ketakutan.”


 


“Itulah sebabnya keluarga pemberontak seperti kita harus hidup bersama bukan terpisah. Ini semua untuk anak-anak dan kita sendiri. Jika kita bersama segalanya bisa mudah tapi kalau kita memisahkan diri, yang ada kita bisa jadi ejekan orang-orang yang membenci suami kita.”


 


Perjalanan panjang dan melelahkan itu berlalu seperti matahari yang ikut menghilang dibalik lebatnya hutan belantara yang menyelimuti para pejalan kaki.


 


“Ya Rabbi...pertemukanlah kembali hamba dengannya. Amin...”


***


YANG MINTA TAMBAH, UDAH NIH...🙃

__ADS_1


Happy reading...LIKE DAN KOMENNYA YA...


__ADS_2