Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Perang Batin Wardah...


__ADS_3

Wardah mengajak Rahmah ke rumahnya dengan perasaan campur aduk. Melihat Rahmah mandi lalu menemani wanita salat di kamarnya, perasaan Wardah bukannya semakin mengecil tapi gadis itu semakin menggebu untuk menjadi istri Pang Sagoe.


“Kak, makan dulu yok!” ajaknya lembut setelah Rahmah berganti pakaian. Wanita itu mengangguk ramah lalu mengikuti Wardah ke meja makan sederhana milik keluarganya. Teungku Kadi sudah pergi ke pondok sedangkan ibunya sedang melipat baju tidak jauh dari tempat mereka duduk.


“Umi, ayo makan sama-sama.” Ajak Rahmah lembut disertai senyuman manisnya. Semua gerak-gerik Rahmah tidak luput dari tangkapan mata Wardah.


“Umi sudah makan sama Abu Warda tadi saat kamu sedang mandi. Makanlah, jangan malu-malu! Anggap saja rumah sendiri.”


“Terima kasih, Umi.” Wanita paruh baya itu mengangguk lalu kembali hanyut dalam pekerjaannya. Sesekali ia melirik ke arah putrinya. Ada rasa kasihan dari tatapan itu.


“Kakak tinggal di mana sebelumnya?” tanya Wardah basa-basi.


Rahmah kembali tersenyum kemudian tanpa ragu Wardah bercerita tentang kampungnya sebelum menikah dengan Ilham pada Wardah bahkan saat ia merawat Ilham di ruang bawah tanah rumahnya. Wardah mendengarkan dengan saksama dan antusias.


“Jadi Kakak langsung dilamar begitu sembuh?” tanya Wardah penasaran karena Rahmah belum menceritakan tentang bagaimana dia dan Ilham berakhir dalam pernikahan.


“Kakak mulai suka sama Bang Ilham tapi Abang sepertinya tidak tahu. Lalu setelah Abang sembuh dan pergi dari rumah Kakak dan setelah beberapa minggu setelahnya barulah kami bertemu lagi dan esoknya langsung dinikahkan.” Mata Wardah semakin membulat karena penasaran.


“Kenapa bisa secepat itu? Kalian baru bertemu lalu langsung menikah?” Rahmah tersenyum.


“Ayah Kakak sama Abang sudah berbicara lebih dulu sebelum Abang dipertemukan dengan Kakak di hari pernikahan. Kamu tahu, Ayah Kakak lah yang meminta Abang untuk menikahi Kakak. Abang baru bercerita semua ini setelah kami menikah. Dan saat Kakak bertanya kenapa Abang menerima permintaan Ayah, Abang mengatakan jika Abang juga menyukai Kakak tapi Abang takut tidak bisa membahagiakan Kakak. Makanya Abang ragu untuk melamar Kakak. Tapi setelah musibah yang menimpa adik Kakak, Abang sudah bertekad untuk membawa Kakak jauh dari sana hingga saat ini Kakak berakhir di sini.” Rahmah tersenyum lembut sedangkan gadis di depannya justru sedang merencanakan sesuatu dalam kepalanya. Dan tidak jauh dari sana, istri Teungku Kadi juga mendengar dengan jelas apa yang Rahmah ceritakan.

__ADS_1


Setelah makan, Rahmah langsung mencuci piring kotornya bersama piring-piring lain walaupun sudah dilarang oleh Wardah dan ibunya. Rahmah menunggu isya kemudian setelah salat, ia kembali ke pondok bersama Wardah. Di sana, mereka duduk bersama Teungku Kadi dan yang lain dan diam-diam Wardah mencuri pandang ke arah Pang Sagoe yang terlihat semakin gagah dan tampan. Ayanya bercakap-cakap dengan Rahmah dan satu hal yang Wardah tangkap dalam semua tingkah laku wanita itu adalah tutur katanya yang lembut serta murah senyum. Dan senyumnya itu harus Wardah akui memang sangat manis.


“Nak, karena istrimu sudah datang. Tidurlah di dalam! Kalian suami istri dan tidak pantas tidur di pondok.”


Ilham langsung mengangguk. Selama ini ia tidur di pondok bersama teman-temannya tapi sekarang karena istrinya di sana, tidak mungkin ia membiarkan anak buahnya tidur di luar. Ilham dipapah oleh rekannya menuju salah satu kamar sederhana yang sudah Teunku Kadi siapkan. Sadar atau tidak, ada hati yang sedang kecewa dengan keputusan Teunku Kadi malam itu. Apalagi saat lampu sudah mati, suara-suara aneh dari kamar sebelah membuat Wardah meremang.


Gadis itu merutuki keputusan ayahnya malam itu. Suara orang berbicara walaupun dalam volume yang sangat kecil membuat Wardah tak kunjung memejamkan mata. Telinga dan matanya terbuka sempurna malam itu hingga tanpa sadar gadis itu terlelap jam tiga pagi seiring tenangnya kamar sebelah.


Subuh itu, Wardah kembali dihentakkan oleh kenyataan saat melihat rambut basah Rahmah. Sebagai wanita yang sudah dewasa, Wardah cukup mengerti apa yang sudah terjadi semalam. Hatinya semakin tidak karuan melihat semua kenyataan pahit itu.


Pagi itu untuk pertama kalinya, Rahmah memandikan sang suami di sumur. Ia tahu betul kalau suaminya belum mandi secara benar selama ini. Rahmah menyabunkan tubuh suaminya secara perlahan dan Ilham dengan isengnya mengganggu sang istri hingga keduanya terlihat begitu romantis dan tanpa mereka sadari, Wardah yang sedang mengintip ikut terbawa perasaan. Apalagi saat melihat tangan Rahmah bermain di dada dan punggung Ilham. Pria itu juga tidak segan menarik tangan sang istri lalu memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi istrinya. Wardah semakin dilema, di rumah ini hanya ada dia seorang. Sementara ayah dan ibunya sudah pergi ke pasar.


Rahmah membawa suaminya ke tempat sedikit tertutup untuk membersihkan area sensitiv suaminya karena selama memandikan tadi, Ilham menggunakan sarung untuk menutupi bagian bawahnya. Semua itu tidak luput dari tatapan mata Wardah apalagi saat melihat Rahmah kembali mandi dan mulut Rahmah kembali menganga saat menyadari jika mereka mandi bersama dan melakukan hubungan suami istri di sana.


“Bang,” panggil Rahmah saat mengeringkan rambut suaminya.


Ilham memeluk pinggang istrinya sambil sesekali mencium perut wanita itu hingga Rahmah merasa geli dengan tingkah Ilham.


“Kenapa diam?”


“Aku merasa ada yang melihat kita.” Insting Rahmah memang sedang bekerja. Bukan hanya Rahmah yang merasa seperti itu, Ilham sendiri yang sudah terlatih di dunia perang tahu sejak tadi kalau ada yang sedang mengintip mereka tapi Ilham sengaja membiarkan karena dia tahu siapa yang sedang mengintipnya.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Ilham mesra.


Dengan usilnya, Ilham menarik tengkuk istrinya kemudian kembali berciuman dengan panas. Tindakan itu sengaja Ilham ambil untuk mematahkan niat seseorang yang sedang bersembunyi di balik dinding kayu. Tapi sayangnya, perkiraan Ilham salah kali ini. Karena Wardah sudah bertekad untuk membujuk ayahnya supaya melamar Ilham siang ini.


“Abang kenapa usil sekali?” protes Rahmah.


“Selagi Abu dan Umi tidak ada. Apa salahnya bermesraan sama istri sendiri.”


“Tapi Wardah ada. Bagaimana kalau dia melihat?”


“Dia hanya anak kecil yang sudah Abang anggap adik.”


“Iya, aku juga mengaggapnya adik. Melihat Wardah membuatku merindukan Raudah.”


“Kamu merindukan keluargamu?” tanya Ilham menggenggam tangan sang istri. Rahmah mengangguk lemah, “Tapi aku lebih merindukan Abang.” Senyum cerah Ilham terbit membuat pria itu kembali menarik Rahmah ke dalam pangkuannya. Mereka kembali berciuman sampai suara orang memberi salam terdengar dari luar.


“Nanti lagi ya!” bisik Ilham membuat Rahmah hanya mengangguk pasrah.


Sementara di dalam rumah, “Abu, Umi, lamar Bang Ilham untukku!”


 

__ADS_1


***


__ADS_2