
Bocah laki-laki itu memeluk lutut sambil memperhatikan kondisi orang-orang di sekelilingnya. Ada yang menangis, meraung bahkan menjerit memanggil-manggil ibu, ayah, kakek atau nenek. Bocah itu sudah lelah berteriak memanggil nama-nama itu semua sejak terbawa ombak. Tenggorokan dan air matanya sudah kering. Ia memilih diam tanpa tenaga untuk sekedar bertanya di mana cecek, kakek, nenek atau pamannya?
Tidak satu orang pun yang ia kenal. Bahkan luka di tubuhnya seakan tidak terasa lagi saat mengingat bagaimana teman dan ayah dari temannya itu terbawa arus.
“Tolongggg…”
“Tolonggg…”
“Ayah….”
“Ayah….”
“Fikriiiiii”
“Fikriiii”
Di depan matanya, ia melihat mereka tapi tidak bisa membantu. Rasa bersalah kerap menghantui tapi dia juga tidak mampu menolong mereka. Sahabat sepermainan telah dibawa oleh ombak hitam itu entah ke mana. Paman yang selalu mengajaknya memancing dan membelikan jajan untuknya juga ikut terbawa.
Diam dan memperhatikan anak-anak seumurannya yang terus bertanya tentang ibu dan ayah. Mereka menangis mencari orang tua sementara dia? Orang tuanya sudah lama ke surga, dia ditinggal untuk menjaga kakek dan nenek yang sudah renta. Kini dia sendiri di tempat asing. Kemana dia akan mencari? Tempat ini begitu asing untuknya.
Kilasan ombak hitam itu selalu menghiasi tidurnya. Setiap malam ia terbangun dengan mimpi yang sama. Tidak ada lagi air mata, kaki dan kepalanya sudah diobati dan masih terbungkus kain putih. Langkahnya menyusuri tenda hingga berhenti saat menatap seorang wanita yang sedang menenangkan seorang bayi.
__ADS_1
“Adik!”
“Adik bayi.”
“Eh, kamu suka adik bayi ini?” tanya seorang wanita berjas putih tersebut.
“Lihat! Dia juga senang melihatmu, Abang.”
Mulai hari itu, keturunan sang Pang Sagoe akhirnya kembali ceria berkat kehadiran sang bayi yang entah berasal dari mana. Hingga suatu hari, ia dan adik bayi itu diajak untuk pindah. Keturunan Pang Sagoe tersebut akhirnya mengikuti wanita berjas putih juga seorang laki-laki yang memakai jas yang sama dan adik bayi. Mereka dibawa pergi jauh dari sana. Mulai dari naik mobil lalu kapal laut hingga pesawat udara. Sampai di sebuah kota besar, ia kembali naik kereta api lalu naik mobil dan berakhir di rumah besar.
Di rumah itu ia dan adik bayi diperlakukan dengan baik dan penuh kasih hingga lambat laun, keturunan sang panglima mulai melupakan masa lalunya. Hari berganti bulan, ia kembali dibawa menaiki pesawat dan kali ini mereka tiba di tempat dingin yang banyak esnya. Kakek dan nenek di rumah besar pernah mengatakan kalau itu namanya salju. Dan itu hanya ada di luar negeri. Bocah bernama Rendra itu pun akhirnya tahu jika saat ini ia telah berada di luar negeri. Orang-orang di sini sangat putih dan besar sangat berbeda dengan wajahnya. Hidung mereka sangat panjang seperti film kartun yang ditontonnya di rumah kakek besar.
Hari-hari di sana terasa menyenangkan apalagi dia mulai bersekolah bersama adiknya. Walaupun hari-hari pertama ia lebih banyak diam karena tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Enam bulan berada di sana, keturunan sang panglima akhirnya fasih berbicara bahasa inggris dan kenangan masa lalu baik sebelum terjadinya tsunami atau sesudah itu lenyap begitu saja berganti dengan memori baru dari kenangan baru yang tercipta.
Keturunan yang dulu diharapkan akan mengambil alih tombak perjuangan nyatanya kini tengah memegang pisau bedah dan jarum suntik. Ia tidak lagi meneruskan perjuangan sang ayah karena setelah ombak hitam itu menerjang Aceh, semua senjata dan ego kedua belah pihak yang selama puluha tahun bersitegang lenyap tak tersisa. Ombak hitam itu tidak hanya menurunkan ego mereka tapi juga mencuci hati para pemimpin negeri untuk melihat bahwa saat itu bukan senjata yang dibutuhkan rakyat melainkan makanan, pakaian dan tempat tinggal.
Keturunan sang panglima kini gagah dalam balutan jas putih kebanggannya. Jas putih dengan nama Dr. T. Rendra MN, SN. Keturunan sang panglima kini menjadi dokter terkenal dan hebat di bidangnya. Andai ia tahu kalau dia adalah keturunan seorang pemberontak. Bagaimana perasaannya?
Tidak ada yang bisa menebak dan tidak akan ada yang tahu karena seseorang yang diyakini oleh sang dokter bahwa ayahnya bernama Dr. Faisal, SOrthopedi. Masa lalu tidak akan sepenuhnya tertutup jika masih ada penyintas yang hadir di masa depan. Seperti masa lalu sang keturunan panglima yang akhirnya dihadapkan pada kenyataan bahwa ia memiliki masa lalu dan orang-orang terdekat di masa lalunya ternyata masih hidup.
Keturunan sang panglima akhirnya menemukan jati dirinya kembali setelah puluhan tahun hidup dalam kenangan masa depan karena sebuah perjodohan. Perjodohan yang akhirnya mempertemukan ia dengan orang-orang di masa lalunya.
__ADS_1
Hati membawa orang ke tujuan aslinya. Begitu juga dengan perjalanan keturunan sang panglima yang akhirnya membawanya kembali ke Aceh lebih tepatnya ke Kampung Sagoe. Kampung di mana ayah, ibu dan abangnya dimakamkan dalam satu liang lahat.
Luruh sudah air mata sang dokter. Apalagi saat ia melihat begitu banyak foto-foto saat ia bayi bersama tantenya. Kemudian dia juga melihat foto sang ayah yang sudah terbujur kaku setelah tertembak dalam kontak senjata yang ikut menewaskan ibu dan abangnya.
Dari sana, memorinya akan masa lalu kembali muncul. Memori yang selama ini memilih tidur di sudut otak yang paling dalam. “Tanpa Tantemu, mungkin kamu sudah mati saat terkurung dalam gua itu.”
“Tantemu berkorban nyawa supaya kamu tetap hidup sementara dia hanya meneguk air sangat sedikit hingga saat kami temukan, kondisi Tantemu lebih parah dan hampir tidak tertolong. Sementara kamu justru baik-baik saja tanpa kekurangan.”
Gleg…
Keturunan sang panglima menelan ludahnya kasar. Selama ini dia telah mengabaikan sosok orang yang sudah berkorban banyak untuknya waktu bayi. Semua foto, video yang diperlihatkan oleh orang yang juga ikut andil dalam namanya itu membuat keturunan sang panglima akhirnya sadar. Ia turun ke bawah di mana sang tante sedang duduk seraya menyeka air matanya. Keturunan sang panglima akhirnya bersimpuh di depan sang tante yang tak lain adalah adik kandung dari Teuku Muhammad Ilham atau lebih dikenal dengan sebutan Pang agoe. Sang tante yang bernama Cut Zulaikha langsung memeluk sang keponakan tercintanya erat.
“Maafkan Cecek karena gagal menyelamatkan kamu!”
“Maafkan Cecek karena gagal menjaga kamu!”
“Maafkan Cecek-“
“Aku yang harus meminta maaf karena telah menjadi anak durhaka untuk Cecek. Aku mengabaikan keberadaan Cecek karena tidak percaya dengan semua berita yang kudengar saat itu. Semua terlalu mendadak untuk dicerna oleh kepalaku. Maafkan aku, Tante!”
__ADS_1
***