
Bom…
“Lariiiii!!!”
Suara rentetetan senjata bergulir memecah keheningan dipenghujung malam. Serangan dari udara dan darat membuat semua penghuni markas panik. Anak-anak terbangun dalam kebingungan dan tangisan serta jeritan para perempuan menghiasi telinga siapa saja malam itu.
“Bang, larilah!”
“Tidak bisa, Sayang. Abang tidak mau kamu dan anak-anak disiksa.” Ucap Ilham seraya menggendong Zikri sementara Rahmah menggendong Fikri.
“Ayah, Abang takut!” Zikri memeluk leher ayahnya kuat seraya menangis.
“Ayo!” mereka terus berlari walaupun tertatih.
“Ya Allah, itu Kak Sur dan anaknya!” Rahmah melihat temannya sudah terkapar di tanah bersama dengan anak mereka.
“Ayo, larilah!” Ilham terus memegang tangan Rahmah, ia sudah berjanji untuk selalu bersama istrinya sampai akhir hayat seperti mimpinya beberapa malam sebelumnya. Kegelisahan yang tidak beralasan membuatnya kembali berpikir jika ajalnya sudah dekat dan inilah waktunya.
“Pang, larilah! Kami akan menghadang mereka!” ucap salah satu anak buahnya.
“Tidak ada waktu untuk berlari. Kita diserang dari darat dan udara. Ayo bertempur secara gagah!” Ilham akhirnya berhenti lalu memposisikan diri di depan anak buahnya.
“Pang, -“
“Kalian larilah! Cari Khalid!”
“Tapi, Pang?”
“Pergilah! Mereka menginginkanku bukan kalian.”
“Pang, kita sudah terkepung! Kami akan di sini hingga akhir hayat!” Ilham menatap satu persatu anak buahnya lalu mengangguk dan masih tersenyum untuk mereka.
__ADS_1
“Baiklah, kita akan bertempur hingga akhir hayat!” Ilham mengecup kecing anak-anak dan istrinya sekilas kemudian dengan senjata yang tersisa. Mereka membalas tembakan demi tembakan hingga matahari mulai menyingsing di ufuk timur.
Suara bayi menangis di atas tubuh ibunya yang penuh darah membuat para tentara yang mendekat tiba-tiba menghentikan langkah. Sekelompok orang telah terkapar bersimbah darah dengan dua anak kecil di mana yang satu diperkirakan sudah tiada dalam pelukan seorang laki-laki dan seorang bayi masih hidup dalam pelukan seorang wanita.
“Lapor! Semua sudah meninggal! Hanya bayi itu saja yang hidup. Sepertinya dia dilindungi oleh tubuh ibunya.” Sang komandan mengangguk kemudian menggendong bayi malang itu. Bawa jasad mereka ke rumah sakit!”
Sang komandang mencoba menenangkan bayi itu sepanjang perjalanan keluar dari hutan. Bayi itu tampak senang karena selama ini Fikri terbiasa bermain dengan anak buah Ilham sehingga membuatnya terbiasa dengan laki-laki lain termasuk dengan sang komandan yang telah menembak orang tuanya.
Mereka tiba di rumah sakit dan sang komandan yang diketahui bernama Rendra itu membawa Fikri langsung ke ruang perawatan bayi untuk mendapatan penanganan secara maksimal. Pria itu langsung berjalan ke ruang jenasah di mana semua jenasah sudah dibersihkan untuk diambil foto.
“Dan, kira-kira yang mana Pang Sagoe?”
“Kita akan tahu setelah membawa keluarganya ke sini!” ucap Rendra menatap seorang pria yang ia yakini adalah Pang Sagoe karena bentuk wajahnya hampir mirip dengan wajah gadis pemikat hatinya, Cut Zulaikha.
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Abu berdoa cukup lama selesai salat subuh. Bahkan dalam doanya, beliau sampai menitikkan air mata mengingat kembali mimpi semalam. Mimpi beliau melihat putranya pergi membawa istri dan cucu tertuanya. Hatinya mendadak gelisah setelah terbangun sampai kegelisahan hatinya terjawab begitu melihat Cut datang ditemani seorang tentara. Mata sang putri tampak habis menangis dan Abu tahu apa yang sudah terjadi. Beliau juga sempat mendengar dari para tentara yang berada di sana kalau semalam mereka berhasil menangkap Pang Sagoe.
"Cut, kamu sakit?" Tanya Umi saat membereskan tempat tidur.
"Abangmu sudah mengambil jalannya sendiri berarti dia sudah siap menerima resikonya. Jangan kamu pikirkan lagi. Ayo, sebentar lagi kita akan mengambil jenazahnya.
Pintu terbuka, seorang pria berbaju loreng kembali masuk, dia adalah Rendra.
"Mari, Pak, Buk, Cut. Mobil sudah menunggu."
Abu dan Umi berjalan beriringan mengikuti Rendra. Mereka berjalan di belakang Abu dan Umi yang terlihat sedih.
Beberapa menit kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai ke rumah sakit. "Abu dan Umi silakan mengikuti rekan saya menuju kamar jenazah." Abu dan Umi pergi mengikuti rekan Rendra tanpa banyak bertanya. "Ayo, kita ambil Teuku!" Cut mengangguk kecil.
Abu menaiki mobil jenazah Bang Ilham lalu Umi menaiki mobil jenazah kakak ipar serta putranya. Sementara Cut menaiki kendaraan lapis baja bersama Teuku dan Rendra. Rendra terus bermain dengan Teuku selama perjalanan.
Bayi itu larut dalam kebahagiaannya sendiri padahal hari ini kedua orang tua serta abangnya akan dikebumikan. Tapi bayi yang tidak tahu apa-apa ini justru tertawa berada dalam gendongan pria yang telah menyerang keluarganya.
__ADS_1
Iringan kendaraan akhirnya tiba di kampung Sagoe. Banyak warga yang sudah menunggu kedatangan jenazah. Sebelumnya, Rendra sudah memberikan perintah pada anak buahnya yang masih bertugas di sana untuk memberitahukan kepada kepala desa akan kedatangan jenazah dari putra Bapak Teuku Salahuddin Nur.
Jenazah sudah diturunkan, rumah Abu sudah dipersiapkan sebelumnya oleh para kerabat yang sama-sama tinggal di satu kampung. Bahkan kerabat dari kampung sebelah juga sudah hadir.
Tanah di belakang rumah sudah digali, Abu meminta untuk menguburkan mereka dalam satu liang. Abu dan beberapa bapak-bapak kampungku tengah bersiap memandikan jenazah Bang Ilham dan putranya. Sementara Umi beserta beberapa ibu-ibu lain sudah bersiap memandikan jenazah Rahmah.
Cut melihat Abu untuk pertama kalinya menitikkan air mata. Abu hampir tidak bisa melanjutkannya namun perkataan Teuku Zul membuat Abu tegar dan kembali melanjutkannya. Sementara Umi juga menitik air matanya saat memandikan jenazah menantunya. Umi pasti mengingat semua yang terjadi saat berada di bukit kemaren. Rahmah perempuan yang baik, dia juga melayani Umi dengan sangat baik.
Dia pergi bersama kekasih hatinya, seperti yang dia ucapkan tempo hari. Asalkan bisa dekat dengan bang Ilham dia sudah bahagia. Sekarang dia sudah bahagia bisa dekat dengan Bang Ilham sampai akhir hayatnya. Bahkan mereka dikubur satu liang lahat. Dia pergi membawa anak pertamanya yang bernama Teuku Muhammad Zikri.
“Maafkan kami yang sudah menyembunyikan tentang Ilham pada bapak-bapak semua. Saya hanya tidak mau jalan yang dia pilih membuat keluarga saya terkena imbasnya." Abu mencoba menjelaskan tentang kebenaran yang selama ini Abu sembunyikan pada warga kampung setelah pemakaman selesai.
"Sudahlah, Abu. Kita orang tua hanya bisa berdoa. Terkadang anak-anak merasa dirinya sudah besar dan bisa mengambil keputusan sesuka hati. Padahal kita yang tua-tua ini lebih dulu makan asam garam kehidupan." Ucap Kepala Desa.
"Saya dengar anaknya yang masih bayi selamat, apa benar?"
"Cut, bawakan Teuku kemari!" Cut masuk ke dalam namun sebelum melangkah Rendra sudah lebih dulu keluar sambil menggendong Teuku.
Rendra duduk di dekat Abu. Sementara Cut kembali duduk di dekat Umi. Cut merasa tatapan mereka kepada Rendra sangat tidak bersahabat. Dan Rendra juga seakan mengerti namun dia terlihat mengabaikan mereka.
"Siapa namanya?" Tanya Teungku Zul.
"Teuku Rendra Muhammad Nur." Jawab Rendra cepat bahkan lebih cepat dari Cut.
"Rendra???" Teungku Zul melihat ke arah Cut dan Abu.
Lagi-lagi Rendra langsung menjawab pertanyaan Teungku Zul. "Rendra artinya cerdar, pintar. Kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang cerdas serta pintar seperti Nabi Muhammad." Jelas Rendra membuat Teungku Zul dan yang lainnya mengerti.
Akhirnya, anak bungsu dari Pang Sagoe justru menyandang nama orang yang telah membuat keluarganya tiada. Teuku Rendra Muhammad Nur.
***
__ADS_1
LIKE...KOMEN...MAKASIH...