Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Pernikahan Tak Terduga...


__ADS_3

POV AUTHOR...


“Saya terima nikah dan kawinnya Rahmah putri kandung bapak dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai.”


“Sah...” suara seorang laki-laki yang terlihat sepuh dan mendapat gelar sebagai Imam di kampung Tanjong tersebut.


Pernikahan itu terjadi tepat setelah satu hari Rahmah, ibu dan adiknya berada di Kampung Tanjung. Mereka yang saat itu sedang berada di pasar tiba-tiba ditemui oleh seorang wanita lalu wanita itu mengatakan jika ayah dari Rahmah menunggu mereka dan wanita itu yang akan mengantar mereka ke sana. Selama ini, ayah dari Rahmah sudah memantau keluarganya dari seseorang di kampung. Ismail juga tahu tentang istri dan anaknya yang ditangkap aparat militer.


“Rahmah, ada hal lain yang ingin Ayah beritahukan padamu termasuk pada Mamak dan Raudhah.” Ketiga pasang mata itu kompak menatap sang ayah.


“Ayah akan menikahkan kamu dengan Pang sagoe besok!” antara percaya dan tidak namun yang pasti. Keesokan harinya, pernikahan itu pun terjadi di salah satu rumah pemuka agama yang sangat dihormati di kampung tersebut.


Kampung Tanjong adalah salah satu kampung yang terletak paling jauh dari pusat kecamatan. Letaknya dekat dengan perbukitan serta hutan.


Di sebuah rumah berdinding papan dan beratapkan rumbia, seorang gadis resmi menyandang status sebagai istri dari lelaki bergelar ‘Pang Sagoe’. Kampung ini bukanlah kampung Rahmah yang sesungguhnya. Kampung Rahmah ada di dekat pusat kecamatan. Namun, keadaan yang membuat ia dan ayahnya berada di kampung Tanjong ini untuk menikah.


Tidak ada baju indah ataupun pesta resepsi seperti pasangan lain pada umumnya. Dia menikahi seorang pemberontak yang menjadi incaran para pasukan pemerintah. Tidak ada buku nikah karena mereka menikah di bawah tangan tanpa ke KUA. Untuk membuat pernikahan ini tercatat secara sah di mata hukum negara, maka mereka harus mengurus semua administrasi termasuk KTP.


Konflik Aceh dengan status darurat militer membuat setiap lelaki muda yang ikut memberontak tidak memiliki KTP. Status mereka adalah buronan negara. Jika tidak mati saat kontak senjata mereka akan di tangkap dan di tahan di markas militer tanpa hukum dan pengadilan.


Dengan bermodalkan syarat dan rukun pernikahan yang diajarkan oleh Agama, hari ini Rahmah dan Teuku Muhammad Ilham resmi menjadi suami istri. Dari pihak Rahmah hanya di dampingi oleh ibu, ayah dan kedua adiknya Raudhah. Sedangkan di pihak laki-laki hanya di dampingi oleh rekan-rekan yang berjumlah lima orang.

__ADS_1


“Ingat, Nak. Kamu sudah memilih Ilham sebagai suamimu. Mulai sekarang kamu harus siap dengan segala risiko yang pasti kamu sudah tahu.” pesan terakhir dari Ibu Rahmah sebelum meninggalkan sepasang pengantin baru itu.


Ibu Rahmah bersama Raudah kembali menaiki angkutan antar kampung yang akan membawa mereka ke kecamatan. Dari kecamatan, mereka tinggal berjalan kaki menuju kampung Sira. Kampung asli dari Rahmah.


Rumah Teungku Imum menjadi rumah sementara untuk sepasang pengantin baru itu. Beralaskan tikar, keduanya menunaikan ibadah pertama dalam berumah tangga.


Rahmah tersenyum pada sang suami yang masih menatapnya dengan peluh yang membasahi tubuh keduanya. Rahmah mengangguk malu, dia belum terbiasa berada sedekat ini dengan pria yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.


Pria rupawan yang memiliki senyuman manis serta mata yang sangat indah. Rahmah yang baru pertama kali dekat dengan pria tentu tidak bisa membayangkan jika sekarang dia berada satu kamar dengan pria itu. Bahkan, kedua badan mereka hanya ditutupi sehelai kain panjang pemberian dari ibu Rahmah.


Rahmah tidak bisa menjerit ataupun mendesah sesuka hati tatkala pertahanannya sebagai perempuan dibobol oleh sang suami. Ia hanya bisa menggigit kain untuk menutupi suara yang mungkin keluar tanpa ia sengaja.


Rahmah menatap wajah sang suami yang terlelap di sampingnya. Wajah bahagia dengan senyuman kecil di bibirnya. “Apa aku sangat tampan sehingga kamu berani menerima lamaranku?” Rahmah terkejut. Dia tidak menyangka jika ternyata sang suami masih sadar namun matanya terpejam.


“Bersiaplah! Mulai sekarang kamu akan menjadi penghuni hutan. Siapkan tenaga yang banyak karena perjalanan kita akan sangat melelahkan.”


Hanya dua hari mereka menghabiskan waktu di kampung Tanjong. Benar seperti yang dikatakan oleh Ilham, Rahmah harus berjalan menyusuri hutan bersama sang suami serta rekan-rekannya yang masing-masing memegang senjata laras panjang. Ayah Rahmah yang bernama Ismail atau sering di panggil Mae Cuak adalah salah satu pengikut para pemberontak. ‘Cuak’ dalam bahasa Indonesia bisa disebut juga mata-mata. Ayah Rahmah bertugas di kampung Tanjong untuk memantau pergerakan dari warga atau jika ada isu-isu tentara akan naik ke sana. Ayah Rahmah bertugas untuk menyampaikan berita tersebut ke markas para pemberontak dalam hutan.


Ayah Rahmah yang bekerja sehari-hari sebagai pencari daun-daun obat di hutan tidak mengalami kesusahan dalam menjelajah hutan karena sudah terbiasa. Tidak dengan Rahmah, saat ini dia tengah memijit kakinya yang letih dan sedikit terluka karena terkena ranting. “Sabar ya.” suara lembut nan menenangkan hati diiringi senyuman manis serta hangatnya usapan tangan seorang Ilham mampu menghilangkan kelelahan serta kesakitan di diri Rahmah. Selama mengikuti ayahnya, Rahmah tidak pernah diajak jauh ke dalam hutan seperti ini.


Ilham, pria itu sangat lembut. Dibalik jiwanya yang keras saat memimpin pemberontakan, ia adalah seorang suami yang sangat lembut dalam bersikap dan bertutur kata dengan istrinya. Pernikahan yang baru berjalan selama dua hari belum menunjukkan perubahan dari Ilham. Dia tetap pria yang mampu membuat Rahmah jatuh hati setiap detik.

__ADS_1


“Kita rehat sebentar.” ucap Ilham pada rekan-rekannya.


“Minumlah!” Rahmah tetap Rahmah, dia tetap saja malu-malu saat Ilham berbicara dengannya. Hal yang membuat Ilham harus geleng-geleng kepala. Rahmah jarang sekali menjawab pertanyaannya. Ia lebih banyak mengangguk atau menggelengkan kepala seperti orang bisu dengan wajah yang terus menunduk. Sebaliknya, dia akan terus memperhatikan wajah Ilham saat Ilham tertidur ataupun sedang tidak melihat ke arahnya.


Rahmah bingung tatkala Ilham menepuk pahanya. Dia masih saja menunduk karena saat ini Ilham sedang menatapnya.


“Berbaring dulu sebentar supaya badan kamu kembali kuat.” Ilham menarik bahu sang istri lalu merebahkan di pangkuannya. Kini, kedua mata mereka bertemu dan tentu saja membuat Rahmah gelagapan. Gadis manis berkulit coklat itu terlihat menahan nafas sembari meremas kedua tangannya.


Ilham tersenyum kecil. Dia tidak menyangka akan menikahi gadis yang dulu dengan lantang protes padanya kini menjadi lugu dan malu-malu tapi mau. Tangan Ilham mengusap tangan sang istri lembut. “Kita sudah menjadi suami istri, kenapa kamu masih malu-malu begini? Padahal Abang suka melihat wajahmu yang sedang protes seperti waktu itu.”


Ilham sengaja tidak menatap Rahmah, ia memilih melihat tangan sang istri yang menurutnya begitu lentik. Ilham lagi-lagi harus geleng-geleng kepala saat ekor matanya menangkap sosok sang istri yang tengah memandang wajahnya dengan seutas senyum yang sangat manis.


“Benar-benar menggemaskan.” batin Ilham.


“Jangan curi-curi pandang. Aku suamimu, jika mau memandangku tidak perlu diam-diam. Aku akan sangat bahagia bila kamu mau memandangku dengan benar.”


“Eh...” Rahmah terkejut saat tangannya tiba-tiba dicium oleh sang suami.


“Ceritakan apa saja padaku! Katakan semua keinginanmu. Aku suamimu, aku juga akan bercerita banyak hal padamu. Tentang keluargaku, kehidupanku sebelum di sini. Kita saling berbagi dalam hal senang maupun susah. Menikah itu bukan hanya masalah nafsu saja, tapi banyak hal yang lebih penting selain nafsu. Mulai sekarang, cobalah untuk bicara dan memandangiku sepuasmu. Jangan mencuri-curi pandang lagi serta jawab pertanyaanku dengan suara bukan dengan gerakan kepala, mengerti?” secara tidak sengaja Rahmah kembali menganggukkan kepalanya.


“Eh...”

__ADS_1


***


LIKE...KOMENN....


__ADS_2