
Saat Zikri lahir, Ilham tidak mendampingi istrinya kini saat Rahmah melahirkan yang kedua, Ilham sudah berdiri gelisah di samping sang istri. Kehamilan Rahmah dari bulan pertama hingga masuk ke sembilan bulan sangat tenang karena bayi di dalam perutnya tidak rewel. Rahmah tidak pernah muntah atau apa pun, dia hanya suka makan buah di siang hari dan di malam hari dia banyak makan nasi. Sepanjang kehamilan, hanya di awal bulan saja Ilham tidak berada di sisi istrinya. Setelah usia kehamilan Rahmah mencapai tiga bulan, Ilham tidak pernah pergi lagi. Dia ingin melihat kelahiran putra keduanya kali ini.
“Apa pun yang terjadi, Abang ingin melihat persalinan kamu kali ini. Abang ingin mengazankan anak kita. Mengazankan anak kita saat dia lahir adalah peristiwa langka jadi abang tidak mau sampai melewatkannya karena bisa jadi kesempatan ini tidak akan terulang lagi.” Icap Ilham sambil mengusap lembut perut sang istri yang sudah besar.
Rahmah tersenyum seraya mengusap rambut suaminya yang sudah memanjang, “Kenapa Abang berkata demikian. Selama ada umur, insya Allah Abang akan selalu bisa mengazankan anak-anak kita lagi.” Ilham mengangkat kepalanya kemudian menatap sang istri.
“Jadi, setelah yang ini lahir, kita akan buat lagi?”
Puk…
Rahmah memukul pelan bahu suaminya, “Sabar Abang! Tunggu dia dua tahun dulu baru buat lagi.”
“Iya, Sayang. Itu pasti.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah datang, tepat tengah malam Rahmah kembali melahirkan seorang bayi perempuan dibantu dukun beranak yang sudah menginap di sana beberapa hari untuk berjaga-jaga kalau Rahmah melahirkan.
Air mata Ilham menetes saat ia mengazankan putra keduanya, “Teuku Muhammad Fikri. Ayah memberi nama itu untukmu. Semoga kelak engkau menjadi orang hebat dan berbakti pada kedua orang tuamu. Kau akan menjadi pemimpin serta saleh seperti Teuku Umar.” Ilham kembali menyerahkan bayinya pada sang dukun kemudian dukun tersebut meletakkan bayinya di dada Rahmah.
Hari berganti bulan dan keinginan yang sempat ditunda oleh Ilham akhirnya dilaksanakan hari ini saat usia putranya sudah memasuki tiga bulan.
“Khalid, sudah waktunya kau melamar adikku! Aku mendengar kalau ada tentara yang menyukainya di sana.”
“Baik, aku akan mengatakan pada keluargaku untuk melamar Cut. Tapi, bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka akan menerima?”
__ADS_1
“Orang tuaku itu tidak aneh-aneh. Jika keluargamu datang baik-baik, mereka pasti akan menerima.”
“Semoga saja!”
“Aku harap mereka menerima. Aku percayakan adikku padamu. Aku sangat takut jika dia menikah dengan tentara. Aku tidak percaya pada mereka, kamu lihat sendiri bagaimana beringasnya mereka memperlakukan para perempuan? Bagaimana bisa aku merestui adikku menikah dengan bajingan seperti mereka.”
“Aku juga berharap demikian, Pang. Walaupun aku ragu jika lamaranku akan diterima.”
Setelah pembicaraan malam itu, Khalid langsung mendatangi rumah keluarganya. Tentu saja dengan senyap karena statusnya adalah seorang pemberontak. Keluarganya setuju lalu tiga hari setelah itu keluarga Khalid datang ke kampung Sagoe.
Mereka dijamu dengan baik sampai tiba saat perwakilan dari keluarga Khalid menyampaikan niat mereka. Awalnya semua baik-baik saja tapi saat Abu bertanya dari mana asal muasal lahirnya niat ini. Wajah Abu langsung padam begitu mendengar bahwa putranya lah yang telah menjodohkan Cut dengan sahabat seperjuangannya. Abu memendam kemurkaan pada sang anak di depan tamu hingga keputusan dari mulut Cut membuat mereka terpaksa kecewa.
Cut sendiri yang menolak lamaran tersebut. Mereka pulang dengan tangan kosong dan berita penolakan itu akhirnya sampai juga ke teling Khalid dan Ilham. Kekecewaa ini membuat Ilham mengambil tindakan sendiri.
“Baik, Pang!”
***
Sebuah tamparan mendarat di wajah sang Pang Sagoe hari itu. Tamparan yang membuat orang-orang sekitar terkesiap. Seorang pria paruh baya dengan emosi melayangkan tamparan itu di wajah sang putra yang selama ini keluar masuk hutan setelah lari dari pesantren. Hari ini Ilham meminta anak buahnya untuk mencegat sebuah angkutan di jalan menuju kecamatan di mana tiga orang penumpang tersebut merupakan orang tua serta adik perempuan Ilham. Mereka dibawa menuju markas melalui hutan dengan mata tertutup untuk menghindari segala kemungkinan yang akan terjadi.
Tamparan dari pria yang berstatus ayahnya tersebut adalah hal pertama yang di dapat Ilham setelah sekian lama berpisah dengan mereka. Pertemuan itu jauh dari kata hangat sebagai keluarga tapi jutsru membangunkan emosi terpendam sang ayah yang merasa telah dikhianati oleh anaknya.
“Tembak saja kami! Tunggu apa lagi?” suara Abu bergetar sementara Umi justru menangis melihat bagaimana suaminya yang lembut kini berubah garang.
__ADS_1
“Apa hakmu menjodohkan Cut? Abu masih hidup dan belum memberimu kuasa. Berani sekali kamu mengambil tugas Abu? Apa kamu berlagak karena sudah menjadi pimpinan mereka?”
Rahmah menatap pertemuan mertua dengan suaminya dengan sedih. Ini pertama kalinya ia melihat dan bertemu dengan mereka. Seharusnya pertemuan ini menjadi pertemuan yang membahagiakan tapi nyatanya malah jauh di luar dugaan. Abu dan Umi memilih menenangkan diri di luar pondok. Seolah amarah dalam dada sang ayah sedang meluap-luap karena tingkah sang putra. Ramah menyiapkan minuman serta singkong rebus seadanya lalu membawa ke tempat mertuanya duduk.
Ia mencium tangan Abu dan Umi bergantian hingga membuat kening orang tua tersebut berkerut. “Zikri, sini! Salam sama Kakek dan Nenek juga sama Cek Cut. Ini anak pertama Bang Ilham, namanya Teuku Muhammad Zikri. Kalau yang masih bayi namanya Teuku Muhammad Fikri. Sebentar, saya ambil dulu anaknya.”
Saat Rahmah hendak beranjak, tangannya ditahan oleh Umi. “Kamu istrinya Ilham?” tanya sang ibu mertua lembut.
“Iya, Umi.” Jawab Rahmah lembut.
Abu tersenyum menatap balita yang sedang berdiri di depannya. Hati orang tua memang cepat melelah apalagi wajah cucunya begitu mirip Ilham kecil.
“Abu, kita sudah jadi nenek. Sekarang Umi percaya kalau kita sudah tua.” Abu terkekeh namun matanya tidak luput dari sang cucu.
“Sini!” Abu melambai dan anak itu pun menurut. Abu mengangkat Zikri kemudian memangkunya. Berkali-kali Abu menciup pucuk kepala balita itu.
Tidak jauh dari tempat mereka, Ilham juga berdiri melihat bagaimana orang tuanya bersikap penuh kasih pada sang cucu. “Bang, memohonlah ampun pada Abu dan Umi supaya hidup kita tenang. Kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput, minta maaflah sama mereka! Jangan sampai Abang jadi anak durhaka.” Ujar Rahmah seraya menggendong Fikri untuk dipertemukan dengan kakek-neneknya.
Sementara di tempat lain, Khalid sedang memandang wanita cantik yang sudah membuat hatinya bergejolak luar biasa setelah melihat secara langsung bagaimana rupa sang gadis.
“Aku pasti akan menikahimu, Cut Zulaikha!”
***
__ADS_1
LIKE...KOMEN....