Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Hutan Cinta Rahmah...


__ADS_3

Mereka benar-benar berbulan madu di hutan. Ilham menggenggam tangan sang istri mesra sambil berjalan kaki menyusuri pinggir sungai yang begitu jernih dan udara yang sangat sejuk. Suara burung serta beberapa binatang penunggu hutan menjadi irama syahdu yang mengiringi langkah keduanya.


Mereka saling bercerita lebih tepatnya Ilham lebih banyak bercerita tentang keluarganya pada Rahmah. Ilham merasa tidak enak karena Rahmah tidak mengenal keluarganya sama sekali. Berbeda dengannya yang mengenal orang tua Rahmah dengan baik.


Rahmah mendengar semua cerita suaminya dengan baik tanpa menyela. Gadis ini benar-benar memuliakan suaminya sampai jika suaminya berkata dia hanya diam saja tanpa menyela jika tidak diminta.


Rahmah tidak mengenyam bangku sekolah sampai lulus. Dia bersekolah hanya sampai bisa baca tulis. Orang tuanya selalu mengatakan jika anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena tugas anak perempuan nanti adalah melayani suami dan anak di rumah. Rahmah menghabiskan sisa kecil sampai remajanya hanya dengan mengaji di sebuah pesantren di kampungnya.


Orang tuanya selalu mengatakan jika di dalam kubur nanti dia tidak akan ditanya sekolah di mana atau ia dapat rangking berapa. Tapi, di dalam kubur sana akan ditanya siapa tuhanmu? Siapa nabimu? Siapa imammu? Dan semua itu hanya bisa dijawab oleh manusia yang memiliki ilmu agama bukan ilmu matematik.


Semakin bertambahnya usia, Rahmah beserta teman-teman perempuan yang lain mulai diajarkan tentang rumah tangga. Hal-hal yang menyangkut tugas suami istri, hak dan kewajiban serta yang haram dan halal dalam perbuatan maupun ucapan.


Dari pembelajaran itulah yang membuat Rahmah seperti saat ini. Dia menjadi perempuan yang benar-benar memuliakan sang suami.


Setelah memperlihatkan tempat untuk mandi yang ternyata bukan di sungai, Ilham menyuruh istrinya untuk mandi di sebuah bilik yang berdinding terpal dengan air yang dialiri dari sungai. Awalnya Rahmah ragu, namun karena Ilham juga mau mandi membuat jiwa seorang istri seperti Rahmah bereaksi.


“Kalau suamiku wangi, aku juga harus wangi.” batin Rahmah. Akhirnya ia melaksanakan mandinya lalu bergantian dengan sang suami.


Mereka menunaikan salat magrib bersama kemudian beberapa orang datang membawa hidangan makan malam ala hutan yang sangat sederhana. Rahmah terlihat biasa saja karena dia juga bukan orang berada. Makanan ala hutan ini seperti makanan di rumahnya dulu. Saat ayahnya tidak memiliki uang maka ibunya akan pergi ke belakang rumah untuk menggali singkong lalu mengolahnya menjadi kudapan yang enak serta mengenyangkan.


Setelah meletakkan talam yang berisi makanan, para wanita yang merupakan istri dari teman seperjuangan Ilham kembali ke pondok mereka masing-masing. Rahmah mengambil air cuci tangan untuk sang suami lalu menaruh makanan dalam piring sang suami.


Seutas senyum terbit dari sudut bibir Ilham melihat bagaimana sang istri melayaninya. “Terima kasih.” ucapnya dengan lembut saat menerima piring dari tangan sang istri.


Dasar Rahmah, baru mendapat ucapan terima kasih saja sudah membuat ia melayang ke angkasa. Benar-benar cinta mati ia pada suaminya.

__ADS_1


“Setelah makan, Abang keluar sebentar ya? Kamu langsung tidur. Jangan tunggu Abang!” Rahmah mengangguk kecil.


“Dijawab, Dek! Abang menikahi manusia bukan patung.”


“Iya.” dengan cepat Rahmah menjawab seruan sang suami.


Setelah menghabiskan makanannya, Ilham keluar dari pondok untuk bergabung dengan para rekan seperjuangan.


“Pengantin baru, kenapa ke sini?” ledek temannya yang hanya dibalas senyuman oleh Ilham.


“Ada apa tanya Ilham?”


“Kampung Alue mau dibuat pos aparat. Kita harus menghancurkannya sebelum mereka berhasil masuk lebih dekat ke Kampung Tanjong.” ucap Ilyas atau biasa dipanggil Liyah.”


“Jam berapa kita gerak?”


“Sudah buat rencana?”


“Itu tanya sama ahlinya.” ucap Liyah seraya menunjuk Ilham dengan dagunya.  


“Kenapa belum tidur?” Ilham melihat sang istri yang sedang terbaring namun matanya belum terpejam.


“Tidak bisa tidur, Bang.” Rahmah sulit memejamkan mata. Malam ini untuk pertama kalinya ia tidur di hutan.


Ilham mendekat lalu merebahkan badannya di samping sang istri. Rahmah yang tidur menyamping terkejut saat Ilham yang tadinya terlentang kini membalikkan tubuhnya menghadap sang Istri.

__ADS_1


Mata mereka bertemu namun seperti biasa, Rahmah kembali menunduk. Dia tidak sanggup memandang mata sang suami yang mampu membuat dadanya sesak dan sulit bernafas.


Sebelah tangan Ilham mengusap lembut pipi sang istri yang sangat menggemaskan. “Sebentar lagi Abang akan pergi berperang. Kamu doakan Abang ya!” seketika itu juga Rahmah menatap wajah sang suami seakan ia tidak mau ditinggal.


Ilham mengecup lama kening sang istri. Sungguh hatinya juga risau dan takut mengingat akan meninggalkan sang istri yang baru 3 hari dinikahi. Masa-masa seperti ini seharusnya mereka habiskan dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Namun, dia tidak bisa menolak atau melepas tanggung jawab hanya karena seorang istri. Sementara teman-temannya yang lain juga memiliki istri bahkan anak tapi mereka tetap melakukan tugas mereka.


Tugas untuk berjuang yang entah kapan akan membuahkan hasil sehingga semua orang bisa tidur nyenyak dan tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia. Dari masa pendahulu sampai sekarang perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan itu belum juga didapat. Malah sebaliknya, sudah banyak wanita yang menjadi janda, anak-anak yang menjadi yatim serta orang tua yang kehilangan putra.


Tidak hanya di pihak mereka yang bersenjata tapi rakyat yang tidak memiliki senjata juga ikut merasakan akibat dari perang yang terjadi. Mereka yang hanya ingin hidup normal namun kenyataan justru sebaliknya.


“Adek selalu mendoakan Abang.” Rahmah menjawab dengan suara tercekat. Untuk pertama kalinya dia berada di posisi sekarang. Posisi di mana dia harus melepas sang suami untuk berjuang di medan perang dengan segala risiko yang sudah ia tahu pasti.


Dulu, dia takut ayahnya tertangkap namun masih besar kemungkinan untuk hidup jika tidak terkena peluru nyasar. Karena ayahnya hanya seorang ‘cuak’ atau mata-mata para pemberontak yang tidak dilengkapi dengan bedil atau senjata lainnya.


Tapi, saat ini Rahmah memiliki sang suami seorang ‘Pang Sagoe’ yang sangat dicari oleh aparat pemerintah.


Ilham tahu betul raut wajah sang istri saat ini sehingga untuk mengalihkan kegelisahannya Ilham kembali memulai ibadah mereka yang akan membuat sang istri untuk sesaat lupa akan kepergiannya tengah malam nanti.


Udara sejuk di tengah hutan diiringi suara berbagai binatang malam semakin menambah syahdunya kebersamaan dua insan yang tengah menegak secuil nikmat surga yang Allah turunkan. Kenikmatan yang membuat keduanya benar-benar larut dalam perasaan saling memiliki serta rasa sayang yang semakin besar antara satu sama lain.


Jika sang suami tersenyum puas dengan peluh di sekujur badan, lain halnya dengan sang istri yang tersenyum malu-malu tapi mau.


“Mau mandi junub sekarang?”


“Hah???”

__ADS_1


***


LIKE...KOMEN...TERIMA KASIH


__ADS_2