Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Cintanya Pang Sagoe...


__ADS_3

Perjalanan mereka kembali berlanjut. Kali ini Ilham berjalan bersisian dengan sang istri sambil memegang erat tangan sang istri. “Kenapa tanganmu begitu lembut? Apa yang kamu pakai?” tanya Ilham pada sang istri.


“Eh...tidak ada.” Rahmah sedikit kaget saat tangannya diremas lembut oleh sang suami.


“Ceritakan padaku! Sejak kapan kamu menyukaiku?” tanya Ilham kembali.


Rahmah gelagapan, dia terlalu malu untuk memberi jawaban atas pertanyaan Ilham. Rahmah menunduk seraya berpikir harus menjawab seperti apa tapi ia justru dikagetkan dengan sebuah ciuman yang mendarat manis di pipinya.


Tanpa sengaja dia menatap sang suami yang tengah tersenyum padanya. “Kenapa? Mau lagi?” Rahmah langsung menggelengkan kepala. Dia sangat malu apalagi mereka tidak hanya berdua di sana. Walaupun mereka berjalan paling belakang, namun tetap saja Rahmah takut jika perbuatan sang suami dilihat oleh yang lain.


“Makanya jawab pertanyaan Abang jika tidak mau dicium lagi. Sejak kapan kamu menyukaiku?” tanya Ilham kembali.


“Em...waktu Abang datang ke rumah tengah malam.”


“Jadi, sudah selama itu kamu menyukaiku? Apa kamu tidak tertarik dengan tentara yang bertugas di kampungmu? Mereka lebih tampan dari Abang, kenapa kamu justru tertarik dengan Abang? Uang dan rumah Abang tidak punya. Hanya hutan yang jadi rumah sedangkan rumput menjadi alas dan langit yang menjadi atap. Apa hebatnya laki-laki ini sampai seorang gadis cantik sepertimu mau menerima lamaranku?”


“Kalau Abang tidak menyukaiku kenapa melamarku? Itu sangat aneh.” Ilham tersenyum kecil mendengar pertanyaan sang istri yang sepertinya sudah tidak malu-malu lagi.


Sedangkan Rahmah sedikit kesal karena Ilham terus mempertanyakan kesungguhan hatinya.


“Karena aku menyukaimu makanya aku melamarmu walaupun yang pertama meminta kesediaanku untuk menikah denganmu adalah ayahmu sendiri. Awalnya aku terkejut karena tidak menyangka ayahmu akan memintaku menikahimu namun, saat Abang mengingat kembali saat-saat di rumahmu dan melihatmu lebih dekat serta merasakan perihnya saat tanganmu dengan sengaja menekan luka di dada Abang dan itu menjadi kenangan tersendiri dan mungkin saat itu Abang juga langsung jatuh hati.” Rahmah yang tadinya kesal kini malah terkejut mendengar pengakuan sang suami.


“Jadi Ayah yang meminta Abang untuk menikahiku? Aku seperti perempuan tak laku saja jika begitu.” Rahmah tertunduk lesu.

__ADS_1


“Kenapa harus merasa rendah? Sedangkan Khatijah saja melamar Nabi Muhammad SAW. Dan salah satu sahabat nabi juga menawari putrinya kepada para sahabatnya. Itu bukan sesuatu yang haram lagi memalukan. Jadi, jangan marah pada ayahmu dan Abang juga menikahimu karena Abang menyukaimu gadis sepertimu yang malu-malu tapi mau.” makin tersipu saja wajah Rahmah. Godaan ringan yang membuatnya melambung tinggi di angkasa.


“Pandai sekali Abang merayu. Pasti banyak gadis-gadis yang menyukai Abang.”


“Banyak, tapi cuma kamu yang Abang jadikan istri.” Rahmah benar-benar terbuai dengan semua kata indah yang keluar dari mulut sang suami hingga jauhnya perjalanan mereka tidak terasa melelahkan lagi bagi Rahmah. Ia menikmati perjalanan tersebut layaknya sedang berbulan madu.


“Akhirnya kita sampai juga.” ucap Ilham yang membuat Rahmah mematung di tempat menatap pemandangan di depannya.  


Lembah gunung yang sangat indah udara yang begitu sejuk serta pondok-pondok kecil yang mereka bangun sebagai tempat untuk menetap selama bergerilya. Tidak ada dapur dan ruang tamu. Pondok kecil itu hanya dijadikan tempat untuk tidur dan bagi yang sudah berumah tangga tentunya menjadi tempat untuk mereka menunaikan ibadahnya.


Salah satu pondok yang terletak agak ke sudut menjadi tempat yang akan ditempati oleh Ilham dan Rahmah. Di dalamnya sudah digelar tikar sebagai alas untuk mereka tidur. Teman-teman Ilham tentu sudah menyiapkan ini semua untuk menyambut rekan mereka yang baru menyandang status sebagai seorang suami saat ini.


Kedatangan mereka disambut meriah oleh para rekan seperjuangan. Mereka juga membuat jamuan sederhana ala manusia hutan yang hanya terdiri dari kopi dan ubi rebus. Ilham dan Rahmah menerima uluran tangan sebagai tanda selamat atas pernikahan mereka. Tentunya, ada doa yang teriring tulus dari mereka semua.


Acara syukuran telah usai. Hari sudah sore dan karena mereka tinggal di gunung sehingga awan gelap lebih cepat datang ketimbang di pesisir pantai. Rahmah sudah berada di pondoknya seorang diri. Sedangkan sang suami sedang bersama para rekan-rekannya.


“Tanya sama siapa ya?” gumamnya.


Rahmah bingung, dia mau mandi tapi di sini tidak ada sumur. Berbeda saat ia berada di kampung. Di sana masih ada sumur walaupun hanya galian tanah berbentuk bulat yang membuat setiap orang harus hati-hati saat menimba air karena tidak ada pembatas. Salah langkah sedikit maka akan berakhir ke dalam sumur. Beruntung jika ada yang mendengar lalu menolong, tapi jika tidak maka akan berakhir menjadi mayat.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Rahmah terkejut menatap lelaki di depannya sesaat kemudian kembali tertunduk. Menyadari jika sang istri tengah gelisah, Ilham kemudian berlutut di depan sang istri seraya menatap mata legam sang istri dengan lembut.


“Apa yang sedang membuat istri Abang gelisah begini?” Ilham menggenggam tangan sang istri dengan lembut dan hal tersebut semakin membuat Rahmah tidak berdaya. “Em...sa-ya mau mandi tapi tidak tahu sumurnya ada di mana.” ucap Rahmah pelan masih tetap menunduk.

__ADS_1


Ilham tersenyum kecil lalu sebelah tangannya mengangkat dagu sang istri supaya menatapnya. “Mau Abang antar? Mungkin kita bisa mandi bersama.”


“Hah...ti-dak usah, Abang bilang saja sumurnya di mana biar saya pergi sendiri.”


Cup...


Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir sang istri yang sangat menggemaskan menurut Ilham. “Di sini tidak ada sumur, kita mandi di sungai dekat kaki bukit. Apa kamu yakin mau pergi sendiri?” dengan cepat Rahmah menggelengkan kepalanya. Lalu, “Kalau kita mau mandi junub di saat subuh, bagaimana?” Ilham terkejut karena pertanyaan Rahmah yang sedikit berani kali ini.


“Kenapa tidak bilang jika kamu gelisah tidak tahu harus mandi junub di mana?”


“Hah???”


“Aku yang salah tanya atau suamiku yang berpikiran lain???” batin Rahmah.


“Ayo, Abang ajak berkeliling untuk melihat keadaan di sekitar sini supaya istri Abang yang malu-malu tapi mau ini tidak gelisah lagi memikirkan tempat untuk mandi junub.”


Ilhak dengan lembut menggandeng tangan Rahmah membuat semua mata yang menghuni hutan tersenyum melihat kisah cinta sang Pang Sagoe pada istrinya.


"Sepertinya peluangmu untuk mendapatkan hati Pang sudah hilang!"


***


Hari ini double up... Siapa kemarin yang ngirim permintaan update???

__ADS_1


__ADS_2