Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Musibah Rahmah...


__ADS_3

Rahmah berjalan menuju pondok dengan nampan berisi makan siang untuk suami dan perasaan gundah gulana setelah mendengar permintaan tidak masuk akal dari Wardah di dapur.


“Bang, makan dulu!” ucap Rahmah seraya tersenyum seolah sedang menutupi kegundahan hatinya. Tapi Ilham tidak bodoh, ia tahu apa yang menjadi penyebab dari kegalauan hati istrinya. Pria itu tersenyum menatap sang istri yang sesekali melirik ke arahnya.


“Dek, suapi Abang ya!” Rahmah yang sedang mengambil lauk pun mendongak menatap wajah sang suami.


“Tangan Abang kenapa? Sakit lagi? Itulah kalau Abang tidak mau mendengar istri. Sudah dibilang jangan meminta yang aneh-aneh tapi Abang tidak mau dengar.” Rahmah meletakkan piring kemudian memeriksa tangan dan lengan suaminya. Bukan Ilham namanya kalau tidak punya berbagai trik untuk menggoda sang istri. Ia langsung menarik pinggang sang istri untuk mendekat dengannya.


“Apa Abang harus sakit dulu untuk merasakan disuapi oleh istri.” Suara lembut nan menghipnotis Rahmah dalam sekejab. Untuk sesaat dia hendak menjadi egois supaya hanya dialah yang boleh memiliki sang Pang Sagoe. Rahmah tidak mau berbagi tapi dia tidak berdaya.


Cup…


“Apa yang kamu pikirkan?” Rahmah menggeleng pelan kemudian kembali mengambil piring dan menaruh lauk pauk ke dalamnya.


“Buka mulut Abang!” pintanya lembut.


Rahmah menyuapi Ilham dalam diam bahkan wanita itu terkadang menatap lekat suaminya seolah mereka akan terpisah. Ilham mengambil alih sendok kemudian menyuapkan ke mulut sang istri. Rahmah hanya bisa tersenyum seraya menahan air matanya. Ia mulai berkaca-kaca dan tanpa sadar kembali melamun sampai tangan Ilham mengusap pipinya.


Ilham tidak bertanya padahal tangannya sudah menyeka setetes air mata di pipi sang istri. Keduanya makan dalam diam sementara teman-teman seperjuangan Ilham hanya melihat dari bawah pondok setelah mengetahui jika sang panglima ternyata dilamar oleh orang yang mengobatinya.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Rahmah meminta izin untuk menyimpan piring kotor ke dapur. “Kalau sudah selesai, Abang tunggu di sini. Ada yang ingin Abang bicarakan.” Rahmah menganguk kemudian Rahmah pergi. Di sumur, air mata Rahmah kembali turun saat ia mencuci piring. Sementara di kamarnya, Wardah juga terbaring sambil menunggu keputusan pria pujaan hatinya.


“Nak, maafkan Wardah. Dia terus berada di kamar, Umi tidak tahu apa yang harus Umi dan Abu perbuat. Tolong yakinkan Ilham untuk menerima Wardah ya!” pinta istri Teungku Kadi pada Rahmah yang hendak menemui Ilham.


Rahmah meringis mendengar permintaan wanita paruh baya itu. “Sebagai seorang ibu, Ume begitu memperhatikan nasib putrinya. Tapi sebagai perempuan, pernahkan Umi memikirkan nasibku yang juga seorang perempuan?” batin Rahmah kemudian berlalu pergi keluar dari rumah.

__ADS_1


Rahmah berjalan seraya menunduk mencoba menyembunyikan kesedihannya tapi langkahnya melambat saat dua orang asing terlihat di depan suaminya. Mereka seperti baru datang karena terlihat tergopoh-gopoh. Kini semua mata yang ada di sana menatap Rahmah dengan tatapan yang sulit diartikan.


Rahmah kebingungan, “Dek,” panggil Ilham. Rahmah mendekat, tiba-tiba Ilham menggenggam tangannya. “Ayah sudah pergi meninggalkan kita.” Rahmah menatap suaminya dengan tatapan bingung.


“Ayah sudah meninggal. Beliau tertembak.”


“Ayah Abang?” tanya Rahmah. Ilham menggeleng dan sejurus kemudian Rahmah langsung menutup mulutnya.


Air mata itu kembali luruh dan kini lebih deras dari sebelumnya. Ilham segera menarik Rahmah ke dalam pelukannya. Setelah beberapa saat, Rahmah mulai tenang.


“Apa kamu mau melihat beliau untuk terakhir kalinya? Posisinya tidak terlalu jauh dari sini.” Rahmah langsung mengangguk.


“Kalau begitu pergilah bersiap dan maaf karena Abang tidak bisa mengantarmu. Tunggu Abang di sana!”


“Adek izin pergi ya, Bang.”


Rahmah turun dari pondok dan langsung mengemasi barang yang tidak seberapa itu. Hanya beberapa lembar kain dan pakaian lalu meminta izin pada Teungku Kadi berserta keluarganya. Untuk sejenak, Rahmah bahkan melupakan masalah permintaan Wardah. Rahmah pergi bersama dua orang anak buah Ilham. Dari atas pondok, Ilham hanya bisa menatap punggung istrinya hingga lambat laun semakin menjauh dan menghilang di dalam hutan.


Teungku Kadi beserta istri tidak lagi membahas masalah lamaran setelah mengetahui tentang mertua Pang Sagoe yang meninggal tertembak. Tapi tidak dengan Wardah, kesempatan ini justru membuat gadis itu senang karena semua pekerjaan mengurus Ilham akan kembali padanya. Gadis itu tersenyum di kamarnya seraya memeluk guling. Sementara Rahmah, dalam kesedihannya ia terus berjalan walaupun letih karena ingin melihat sang ayah untuk terakhir kalinya. Bahkan ia sudah memasrahkan nasibnya jika Ilham benar-benar menerima lamaran Wardah.


Sudah seminggu berlalu dan Rahmah belum juga kembali. Sementara di pondok, Wardah terus menghujam berjuta perhatian untuk Ilham tapi tidak pernah mengatakan rasa sukanya pada pria itu.


“Terima kasih ya sudah merawat Abang dengan baik selama di sini.” ucap Ilham.


“Sama-sama, Bang. Aku senang membantu Abang. Itu pun karena Kak Rahmah tidak ada. Kalau Kakak ada sudah pasti Kakak yang akan merawat Abang.”

__ADS_1


“Kamu benar. Saya sangat menyayanginya. Dia itu istri terbaik yang saya miliki dan saya belum siap melepasnya. Dia terlalu berharga untuk saya.”


Deg…


Tenggorokan Wardah tiba-tiba kering. Dia butuh minum dan dadanya semakin sesak.


“Kelak kamu akan tahu kalau sudah menikah bagaimana rasanya memiliki suami dan tidak mau membaginya dengan yang lain. Rahmah itu sangat lembut hatinya walaupun kadang-kadang dia suka mengomel juga tapi begitulah dia.” Wardah semakin salah tingkah.


“Abu sudah melamar Abang tapi maaf, seperti yang Abang bilang tadi. Abang belum siap berbagi raga dengan wanita lain selain Rahmah. Seperti yang Abu katakan tempo hari kalau Rahmah menyerahkan semua keputusan sama Abang jadi inilah keputusan Abang.”


Mata Wardah berkaca-kaca, “Kenapa Abang tidak menyukaiku? Apa kurangnya aku dari Kak Rahmah?” Ilham tersenyum.


“Kamu tidak kurang satu apa pun. Justru kamu memiliki banyak kelebih dan sangat disayangkan kalau kelebihanmu harus berakhir bersama Abang. Hidup dengan Abang itu tidak mudah, luntang-lantung tak  tentu arah. Dengan kondisi seperti itu, Abang tidak sanggup menanggung dua istri. Abang hanya mampu satu dan itu adalah Rahmah. Kamu masih muda dan kamu juga cantik, Abang yakin kamu akan menemukan pria yang lebih baik dari Abang.”


“Maaf, Abang tidak bisa menerima lamaran Abu untuk menjadi suamimu!” Wardah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia langsung turun dari pondok kemudian menangis di dalam kamarnya. Teungku Kadi sendiri  tidak pernah lagi menanyakan jawaban Ilham tentang lamarannya karena berita duka yang menimpa sang Pang Sagoe sehingga saat mengetahui dari istrinya jika Ilham telah menolak Wardah dan langsung memberi jawaban pada sang putri yang membuat putrinya mengurung diri di kamar membuat Tengku Kadi hanya bisa menghela nafasny.


“Sepertinya aku sudah bisa pergi dari sini.” ucap Ilham pada sahabatnya yang bernama Khalid. Pria itu baru tiba entah dari hutan mana.


“Baguslah! Kasihan istrimu terlalu lama di sini sementara dia di sana sedang mengandung.”


Ya, Rahmah sedang mengandung hampir dua bulan. “Aku akan bicara pada Teungku Kadi dan besok pagi-pagi kita akan pergi dari sini.”


 


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...TERIMA KASIH...


__ADS_2