
Hari berlalu begitu cepat bagi mereka yang tidak sabar ingin bertemu tapi sayang, kerana kondisi tubuhnya membuat Ilham harus lebih bersabar untuk menemui sang istri. Di tempat yang sama, Wardah juga semakin gencar mendekati Ilham, gadis itu malah mengabaikan saran orang tuanya karena Teungku Kadi sudah mengetahui jika Ilham baru saja menikah.
“Abu, berikan doa pengasih biar Bang Ilham mau denganku!” rengek Wardah pada ayahnya.
Tengku Kadi dan istrinya hanya bisa menghela nafas mendengar rengekan itu. “Nak, kalau kamu ingin dicintai maka biarkan dia yang merasakan sendiri perasaan itu padamu tanpa perlu doa pengasih.” Bibir Wardah mengerucut kemudian tidak berselang lama ibunya datang membawa semangkuk sup bebek muda.
“Bawakan ini untuknya! Umi berdoa semoga perhatianmu padanya mampu membuatnya jatuh cinta.” Wardah tersenyum cerah kemudian ia merapikan penampilannya lalu pergi ke balai depan seraya membawa semangkuk sup.
“Assalamualaikum!” ucapnya pada pria yang tengah terbaring di sana.
“Walaikumsalam,” Wardah duduk di samping Ilham kemudian membantu pria itu untuk bangkit kemudian bersandar di dinding balai. “Abang makan dulu, ya!” Ilham tersenyum menatap Wardah.
“Terima kasih sudah perhatian sama Abang. Biar teman Abang saja yang membantu, Adek istirahat saja.”
“Ssssttt… jangan membangunkan mereka. Lihatlah! Mereka tidur sangat nyenyak. Biar Adek saja yang menyuapi Abang.” Wardah mengambil nasi lalu menaruhnya dalam mangkuk sup kemudian menyuapi pria itu tanpa sungkan. Sudah beberapa kali Wardah melakukannya dan Ilham sendiri menikmati semua perhatian Wardah yang sudah ia anggap sebagai adik. Tapi tidak bagi Wardah, ia justru menganggap pria di depannya itu adalah calon suaminya kelak.
“Bang,” Ilham menatap gadis manis yang tengah menyuapinya.
Wardah mengaduk-aduk mangkuk sup tanpa menatap Ilham, “Ada apa?” tanya Ilham selanjutnya.
Wardah menggeleng, “Tidak jadi.” Ilham mengerutkan keningnya namun tidak lagi membalas ucapan gadis itu. Wardah kebingungan untuk mengatakan rasa sukanya pada Ilham apalagi kalau harus menatap pria itu dalam jarak yang sangat dekat seperti ini. Tatapan Ilham seperti ingin menerkamnya hidup-hidup dan Wardah takut akan hal itu. Ditambah dia juga seorang perempuan, sangat memalukan kalau harus mengungkapkan rasa sukanya pada seorang pria.
“Pang,” seorang pria datang.
“Istri Pang mengirim salam. Kakak ikut pindah ke tempat lain.”
“Terima kasih informasinya. Aku lega karena dia sudah tahu keadaanku sekarang.”
“Tapi, Pang. Kakak ingin mengunjungi Pang ke sini.” Terdengar helaan nafas dari pria itu. “Kalau dia sanggup berjalan, ajaklah!” pria itu mengangguk kemudian kembali pergi entah kemana. Sementara Wardah mulai mencerna semua yang dia dengan.
__ADS_1
“Kenapa kamu diam saja?”
“Abang sudah punya istri?” tanya Wardah ragu-ragu.
“Sudah. Kami baru menikah dua hari sebelum akhirnya Abang sampai ke sini.”
“Kakak itu pasti cantik. Namanya siapa?” Ilham tersenyum kecil.
“Ya, dia sangat cantik di mata Abang. Namanya Rahmah, nanti kalau dia ke sini kamu bisa berkenalan dengannya.”
“Apa Abang sangat menyukai Kak Rahmah?”
“Sangat. Setiap orang yang menikah pasti akan menyayangi pasangannya. Sama seperti Abu menyayangi Umimu. Begitu juga sebaliknya.”
Sup habis kemudian Wardah mulai membubuhkan obat-obatan di dada dan kaki Ilham. Ilham seperti dejavu hanya saja saat itu ia mengalami hal serupa dengan Rahmah dan sekarang dengan Wardah. Sebagai seorang laki-laki, Ilham tahu betul gadis di depannya memiliki perasaan padanya karena reaksi yang ditunjukkan Wardah sama seperti reaksi Rahmah dulu.
Ilham tidak mau membuat Wardah malu, ia memilih mengabaikan reaksi wanita itu. Wardah langsung masuk ke rumahnya setelah membubuhkan obat.
“Apa lagi?” kali ini ibunya yang bersuara.
“Istri Bang Ilham akan ke sini. Abu, lamar Bang Ilham untukku!”
Ibu dan ayahnya saling pandang. “Kamu tahu dari mana jika istri Pang akan ke sini?”
“Tadi ada yang datang dan memberitahukan Bang Ilham.”
Suami istri yang sudah tidak muda itu lagi hanya menghela nafas seraya saling menatap satu sama lain. Empat hari kemudian ketika matahari mulai berganti menjadi malam, Rahmah tiba bersama dengan seorang pria.
Saat itu semua orang tengah menunaikan salat magrib, Rahmah langsung diajak menaiki balai oleh orang suruhan Ilham. Rahmah berdiri menatap suaminya yang tengah berbincang dengan seorang pria. Ilham menatap istrinya yang masih berdiri kemudian teman bicaranya pergi dari sana hingga tinggallah Ilham seorang. Pria itu langsung merentangkan tangannya seraya tersenyum. Rahmah berjalan pelan seraya menghapus air matanya. Wanita itu perlahan mendekat kemudian mendudukkan dirinya di sana dan dengan cepat Ilham menarik sang istri dalam pelukannya.
__ADS_1
Rahmah membenamkan dirinya dalam dada Ilham seraya terisak menahan tangis. “Sssttt, jangan menangis lagi.” Ucapnya lembut lalu mengecup lembut kening sang istri.
“Aku takut tidak bisa bertemu Abang lagi.” Ucapnya membuat Ilham terkekeh.
“Em, kamu kan sudah Abang ingatkan sebelumnya. Harusnya sudah siap untuk kemungkinan terburuk.”
Tanpa diduga, Rahmah justru memukul pelan lengan suaminya. “Tetap saja aku tidak sanggup. Apalagi kita baru menikah beberapa hari. Mana ada istri yang siap menerima itu semua.” Ilham mengeratkan pelukannya. Sejujurnya ia juga rindu pada gadis yang sudah mengaduk-aduk hatinya.
“Apa kamu lelah berjalan kaki ke sini? Apa kakimu terluka?” Ilham hendak melepaskan pelukannya untuk memeriksa kaki sang istri tapi Rahmah justru memeluknya lebih erat membuat Ilham terkekeh.
“Kamu rindu sekali ya sama Abang?”
“Memangnya Abang tidak?” tiba-tiba Rahmah mengurai sendiri pelukannya lalu menatap wajah sang suami. Ilham kembali tersenyum lalu mengecup sekilas bibir sang istri membuat mata Rahmah seketika membulat. Ia langsung memukul pelan dada suaminya membuat Ilham merintih dan langsung membuat Rahmah terkejut serta panik.
“Abang sakit? Maaf, aku tidak ta-“
Ilham sangat merindukan istrinya hingga ia kembali menarik tengkuk sang istri kemudian mereka kembali melepas rindu malam itu. Sementara di bawah, para anak buah Ilham hanya bisa menggeleng kepala kemudian memilih menghisap rokok masing-masing.
“Bang, aku mau mandi. Bagaimana ini? Aku juga mesti salah magrib.” Rahmah merapikan dirinya setelah aksi bercinta kilat yang dilakukan oleh suaminya. Ia bahkan harus bekerja keras saat suaminya hanya bisa duduk bersandar karena kaki dan dadanya tidak bisa bergerak bebas.
“Sebentar lagi Wardah datang, kamu bisa mengikutinya ke rumah untuk mandi dan salat.” Seperti yang Ilham katakan, tidak lama setelah itu Wardah kembali datang dengan nampan di tangannya. Ia hendak dicegah oleh anak buah Ilham tapi setelah melihat Rahmah keluar dari bilik, mereka pun akhirnya mempersilakan Wardah untuk naik ke pondok.
Dada Wardah mendadak panas apalagi saat melihat wanita yang berstatus istri dari pria yang disukainya sudah ada di sana. Rahmah tersenyum hangat menyambut kedatangan Wardah. Ia langsung mengambil nampan yang gadis itu bawa untuk suaminya.
“Dek, kenalkan ini istri Abang!”
***
__ADS_1
Maaf ya baru up...happy reading...🙃