
Waktu selanjutnya berlalu dengan kecemburuan membabi buta dari Wardah saat Rahmah mengambil alih tugasnya dalam merawat Ilham. Dari mulai menyuapi hingga membubuhkan obat semua Rahmah lakukan. Sementara orang tua Wardah semakin oleh desakan sang putri. Mereka terlihat ragu untuk berbicara dengan sang Pang Sagoe yang melihat dengan jelas bagaimana kebahagiaan yang terpancar dari wajah suami-istri muda tersebut.
“Bagaimana kita membicarakan ini dengan mereka, Abu tidak tega merusak kebahagiaan mereka. Kalau kita bersikeras yang ada putri kita yang kecewa karena ditolak sementara di mata Rahmah, kita adalah orang tua yang gagal mendidik anak karena sudah lancang melamar suaminya.”
“Umi juga bingung, Abu. Tapi anak kita juga tidak salah. Rasa sukanya pada Pang itu murni. Laki-laki boleh menikah lebih dari satu, bukan?”
“Kalau begitu Abu juga boleh menikah lagi?”
Gleg…
“Umi, jangan bermain dengan perasaan Rahmah jika Umi sendiri tidak sanggup menerimanya.” Ucapan tenang, dalam namun sarat dengan ketegasan dari Teungku Kadi mampu membuat istrinya terdiam.
“Ayo temui Wardah! Dia harus merelakan perasaannya.” Teungku Kadi dan istrinya pergi ke kamar sang putri. Sementara Rahmah berada di pondok bersama Ilham.
“Bagaimana Abu, Umi?” tanya Wardah penuh harap.
“Tidak, Nak. Kami tidak bisa melamar Pang. Dia sudah memiliki istri dan mereka juga baru menikah. Dosa besar untuk kamu yang memaksakan kehendakmu ini. Setan sedang menggrogoti hatimu dengan merusak rumah tangga mereka. Abu tidak bisa menuruti permintaanmu. Pilihlah laki-laki lain, teman-teman Pang banyak yang belum menikah. Pilih salah satu dan detik ini juga Abu akan menikahkan kalian.”
“Wardah hanya mau sama Bang Ilham, Abu. Kenapa Abu tidak mengerti. Ini itu urusan hati dan tidak bisa diubah dalam waktu singkat. Wardah menyukai Bang Ilham bukan teman-temannya. Wardah hanya mau Bang Ilham, Abu, Umi. Lamar dia untuk Wardah. Dia tidak akan menolak lamaran Abu. Dia berhutang nyawa sama Abu.”
“Lalu kamu akan menyakiti hati Rahmah. Kalau kamu yang berada di posisi Rahmah, apa kamu mau memberikan suamimu pada wanita lain?”
“Tentu saja. Aku akan memberikannya, Abu. Kita tidak boleh bahagia sendiri. Kalau suami kita bisa membahagian wanita lain, kenapa tidak?” Abu dan Umi hanya menghela nafas seraya menggelengkan kepala.
“Maaf, Nak. Kami tetap tidak bisa melakukannya.” Tengku Kadi keluar meninggalkan putrinya. Sementara sang istri masih menemani putri mereka yang sedang terisak.
Tengku Kadi mematung di depan kamar putrinya menatap Rahmah di depannya seraya menatap dengan tatapan yang sulit dimengerti.
__ADS_1
“Boleh kita bicara sebentar, Abu?” tanya Rahmah tersenyum.
Tengku Kadi mengangguk kemudian pergi ke teras rumah. “Maaf kalau Nak Rahmah harus mendengar permintaan tak pantas dari putri saya.” Teungku Kadi langsung meminta maaf. Dia tidak mau merasa bersalah untuk menyembunyikan kenyataan apalagi Rahmah sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan putrinya di dalam.
“Bicaralah dengan Bang Ilham! Semua keputusan ada di dia.” Tengku Kadi terperanjat menatap wanita muda di depannya.
“Nak,-“
“Abu, menikah lagi adalah keputusan Bang Ilham tapi jika Abu ingin tahu bagaimana perasaan saya. Tentu saja saya seperti wanita lain yang tidak mau dimadu apalagi tidak ada alasan yang tepat untuknya menikah lagi karena saya masih sanggup menunaikan kewajiban lahir batin. Semua kembali ke Bang Ilham, silakan bicara dengan Abang! Supaya Wardah tidak kecewa. Saya sudah menganggapnya adik dan melihatnya kecewa, saya ikut sedih.”
“Nak, maafkan putri Abu. Dia tidak tahu bagaimana rasanya dimadu. Dia sedang dibutakan oleh perasaaanya.” Rahmah tersenyum. “Bicaralah sama Bang Ilham, Abu. Saya akan berusaha menerima semua keputusan Bang Ilham. Saya tinggal ke dapur dulu!” Rahmah pergi meninggalkan Teungku Kadi yang masih mematung.
Akhirnya Tengku Kadi melangkahkan kakinya menuju pondok di mana Pang Sagoe berada. Rahmah menitikkan air mata saat sedang mencuci pakaian suaminya di sumur.
“Nak, kamu sudah makan?” tanya ibu dari Wardah. Rahmah segera menyeka air matanya lalu tersenyum seperti biasa.
Istri Teungku Kadi bisa merasakan ada yang tidak beres dari wanita di depannya, wanita paruh baya itu meninggalkan Rahmah di sumur mereka. Sementara Wardah memilih mengurung dirinya di kamar karena tidak mau melihat kemesraan pria pujaan hatinya dengan wanita lain.
“Pang, apa bisa saya berbicara sebentar? Em, ini antara kita berdua saja.” Ucap Tengku Kadi ragu-ragu.
Teman-teman Ilham turun dari pondok untuk memberikan ruang bagi penglima mereka berbicara. “Ada apa Teungku?” tanya Ilham menatap pria paruh baya di depannya sedang gelisah.
“Em, saya bingung harus berbicara seperti apa.”
“Ada apa, Teungku? Katakan saja!” Teungku Kadi menatap manik mata Ilham lalu, “Saya ingin melamar Pang untuk Wardah.”
Deg…
__ADS_1
Ilham menatap pria yang sedang menunduk di depannya, “Maafkan saya. Tapi Wardah terus memaksa dan Nak Rahmah tadi juga meminta saya untuk bicara langsung ke Teungku.” Kali ini sorot mata Ilham sulit diartikan.
“Istri saya tahu?” dengan lemah Teungku Kadi mengangguk. “Nak Rahmah tidak sengaja mendengar pembicaraan kami.”
“Apa yang dia katakan pada Teungku?”
“Nak Rahmah menyuruh saya bertanya langsung pada Pang dan Nak Rahmah menerima semua keputusan Pang.” Ilham menghela nafasnya gusar.
“Ini bukan kuputusan mudah, Teungku. Saya butuh waktu untuk memikirkannya. Teungku tahu sendiri kondisi saya seperti apa.” Teungku Kadi mengangguk.
“Saya tidak akan memaksa Pang untuk menikahi Wardah. Saya menyampaikan ini supaya dia tenang dan tidak memaksa kami lagi. Kalaupun Pang menolaknya, saya dan istri tidak masalah.”
“Apa Teungku tidak masalah kalau saya menolak Wardah?”
“Tidak, Pang. Walaupun saya laki-laki tapi saya tahu kalau dimadu itu penyakit mematikan bagi para istri. Istri saya juga tidak mau dimadu apalagi Nak Rahmah yang masih muda dan sanggup menjalankan tugasnya sebagai istri.”
“Baiklah, Teungku. Saya akan pikirkan kembali.”
Sementara di dapur malah terjadi sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh Ilham. Wardah keluar dari kamar kemudian meminta Rahmah secara langsung untuk menerimanya sebagai istri ke dua Ilham. Sementara istri Teungku Kadi hanya terdiam melihat anaknya memohon-mohon pada Rahmah.
“Kak, aku tahu permintaanku ini berat bagi Kakak tapi kita sama-sama tidak kehilangan orang yang kita cintai, bukan? Bang Ilham masih menjadi suami Kakak. Aku sangat menyayanginya, Kak. Aku tidak sanggup lagi menahan perasaanku.” Rahmah tidak bisa bergerak karena kakinya dipegang erat oleh Wardah yang sudah berlutut seraya menangis.
“Bangunlah dan minta langsung pada Bang Ilham. Kakak menyerahkan semua keputusan ini sama Bang Ilham.” Wardah mendongak menatap istri pertama dari pria yang ia cintai.
“Ada andil Kakak dalam keputusan itu. Bujuk Bang Ilham supaya menerimaku, Kak! Aku mohon!”
***
__ADS_1
LIKE....KOMEN...