Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Teuku Muhammad Zikri...


__ADS_3

Teuku Muhammad Zikri menyusu pada sang ibu dengan rakusnya. Sudah dua puluh hari sang ayah belum juga tiba untuk melihat kelahirannya. Bayi itu begitu tenang dengan mewarisi 100 % wajah sang ayah. Rahmah masih setiap menunggu sang suami yang sedang berjuang untuk memperoleh keadilan untuk tanah kelahiran mereka. Selesai menyusu, bayi tampan itu tertidur apalagi lantuna salawat dari sang ibu membuatnya semakin nyaman.


Tepat sebulan setelah kelahirannya, sang ayah pulang dalam keadaan tidak kurang satu apu pun. Rahmah menyambut penuh haru kepulangan suami yang sangat ia rundukan hingga langsung memeluk tubuh pria itu tanpa peduli sang anak sedang terbaring menatap mereka.


“Maaf karena baru pulang sekarang.” Bisik Ilham lalu mengecup sekilas kening sang istri. Rahmah masih enggan melepas pelukan mereka, “Sayang, anak kita menatap terus kemari. Kasihan dia!”


“Abang sudah mandi?” tanya Rahmah kala mencium suaminya yang sudah mandi.


Ilham kembali tersenyum kemudian mendium gemas bibir sang istri. “Sebelum ke kamar, Abang sudah mandi.”


Ilham merangkul Rahmah kemudian mendekati sang putra. Sungguh aneh karena putra mereka langsung tersenyum melihat ayahnya. Ilham mencoba menggendong sang putra pelan-pelan karena ini pertama kalinya di menggendong bayi baru lahir.


“Lebih mudah menggendong bazoka, Sayang.” Rahmah terkekah.


Malam itu pasangan suami istri yang baru berganti status menjadi orang tua tampak bahagia. Untuk sejenak Ilham memilih menikmati waktunya menjadi seorang ayah hingga dua hari ke depan karena ternyata kepulangan Ilham ke kampung tersebut adalah untuk menjemput Rahmah dan anaknya.


“Sayang, Abang mau membawamu ke markas di hutan lusa.” Ucap Ilham ketika mereka selesai bercinta.


“Apa kita akan mengajak Mamak dan Raudah juga, Bang?”


“Tidak, Sayang. Biarkan mereka menikmati hidup dengan tenang tanpa harus merasakan dinginnya angin malam di markas.”


“Baiklah, besok aku akan mengatakan pada semuanya.”

__ADS_1


“Sayang, lagi ya?” Rahmah  tersenyum malu-malu.


Seperti yang sudah dikatakan, sehari setelahnya Ilham langsung membawa Rahmah dan Teuku Muhammad Zikri ke markas dengan berjalan kaki menuju hutan. Jalur hutan lebat yang sudah biasa mereka lewati. Tujuan Ilham membawa istrinya adalah sebagai bentuk pengenalan kepada putranya sedari kecil. Ilham ingin mendidik anaknya belajar mandiri dan mamu bertahan di saat sulit. Alasan lainnya adalah karena Ilham tidak bisa tinggal terlalu lama di kampung tersebut.


Ketakutan Ilham cukup berdasar apalagi setelah seminggu setelah kepergian mereka, aparat militer langsung mendatangi rumah tersebut untuk mencari Rahmah. Tidak hanya para pemberontak yang menjadi mata-mata tapi para tentara juga menjadikan warga sekitar sebagai mata-mata. Status Rahmah sebagai istri dari Pang Sagoe membuat para tentara itu langsung bergerak cepat tapi sayangnya mereka terlambat. Tertatih-tatih menyusuri hutan sambil menggendong bayi tidak membuat Rahmah berkeluh-kesah. Sesekali, mereka berhenti untuk istirahat melepas lelah hingga menjelang malam. Mereka harus berdiam diri di sana kemudian membuat api untuk sekedar menghangatkan tubuh. Bayi sang Pang Sagoe tetap tenang dalam gendongan ibunya hingga ia terbangun di malam hari.


“Tidurlah! Biar Abang yang menjaganya.”


“Tapi Abang juga belum tidur.”


“Tidak apa-apa, Abang sudah biasa. Tidurlah!” Rahmah mengangguk kemudian Ilham membawa sang anak ikut berkumpul dengan teman-temannya tidak jauh dari sana. di atas anyaman daun kelapa, Rahmah tertidur sangat nyenyak sampai pagi.


Begitu suara bayi mengejutkannya, “Bang, Zikri haus ya? Kenapa Abang tidak membangunkanku?” Tanya Rahmah langsung membuka kancing baju di depan sang suami lalu begitu Zikri di dalam pangkuannya, Rahmah langsung menutup dirinya dadanya dengan sehelai kain. Ilham tersenyum menyaksikan betapa cekatannya sang istri dalam mengurus anaknya.


Perjalanan kembali berlanjut hingga mereka menghabiskan waktu selama tiga hari di dalam hutan tanpa seorang pun yang mengeluh karena hanya Rahmah satu-satunya perempuan di sana. Mereka tiba di sebuah lahan cantik dan bersih dengan rumput pendek yang sangat hijau. Anak-anak berlarian sementara para wanita duduk berkumpul sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pemandangan indah dalam suasana hangat menurut Rahmah.


“Aku juga senang melihatnya, Bang. Semoga Zikri tumbuh dengan baik bersama mereka ya?” Ilham mengangguk lalu merangkul sang istri untuk bertemu dengan para penduduk lainnya. Salah satu dari mereka mengantar Pang Sagoe bersama istri menuju pondok yang sudah disiapkan untuk orang tua baru tersebut. Pondok sederhana dari kayu yang akan menjadi rumah mereka untuk beberapa tahun ke depan.


Hari berlalu berganti minggu dan bulan hingga dua tahun sudah mereka melalui banyak hal di sana. Rahmah sudah terbiasa hidup di sana dalam kesederhanaan bersama istri pejuang lainnya. Zikri juga tumbuh bahagia dengan teman-temannya. Sesekali Ilham masih turun gunung untuk berperang dengan yang lain. Sebulan adalah waktu yang paling lama untuk Ilham kembali ke sana. Walaupun hatinya susah memikirkan sang suami tapi Rahmah bisa sedikit tenang karena keberadaan istri-istri prajurit yang lain membuat Rahmah tidak sendiri menunggu sang suami pulang di medan perang.


“Sudah berapa bulan?” tanya Kak Sur pada Rahmah yang tengah mamakan mangga muda dengan lahapnya.


“Kalau haid sudah dua bulan tidak pernah keluar lagi, Kak Sur.” Jawab Rahmah malu-malu.

__ADS_1


“Oh, berarti sekitar itulah ya? Selamat ya! Akhirnya Zikri punya adik.”


Hari itu seluruh pengguhuni tahu kalau Rahmah sang istri Pang Sagoe sedang berbadan dua. Di saat yang sama, Ilham justru belum kembali. Tanpa sepengetahuan Rahmah, Ilham sedang menyamar untuk dapat menemui keluarganya di pasar sebuah kecamatan. Dari mata-matanya, Ilham memperoleh kabar jika sang adik sedang ditaksir oleh salah satu tentara di desa mereka. Berita itu membuat Ilham marah besar.


Ia akan memperingatkan adiknya dengan keras kali ini termasuk memaksa Khalid untuk segera melamar adiknya.


Tidak lama setelah pertemuan dengan keluarga di sebuah toko, Ilham langsung meminta keluarga Khalid untuk melamar adiknya. Sang sahabat langsung setuju apalagi setelah melihat rupa sang adik sahabat.


“Cantik dan manis. Aku suka!” gumamnya saat mendampingi Ilham bertemu orang tua serta adiknya.


Ilham dan Khalid masih berada tidak jauh dari kampung aslinya untuk mengetahui lamaran sang adik tapi sayangnya, Ilham harus menelan ludahnya sendiri saat mengetahui kalau sang ayah sangat murka dengan perjodohan yang telah diatur olehnya.


“Punya hak apa dia menjodohkan adiknya? Kita masih hidup, Umi. Abu masih menjadi wali sah Cut. Dari mana asal pikiran bodohnya itu? Begitu kata Abu, Bang.” Ucap seorang warga kampungnya yang bekerja sebagai mata-mata.


“Pergilah!”


Setelah itu Ilham kembali memikirkan cara untuk bertemu dengan sang ayah hingga sebuah senyum tersungging di bibirnya.


“Aku tidak akan rela melepas adikku pada tentara.”


 


 

__ADS_1


***


LIKE...KOMEN....


__ADS_2