
Seorang pria melamun di teras sebuah rumah yang cukup jauh dari tempatnya terdahulu. Pria dengan jambang tebal itu berkali-kali mengusap matanya yang basah karena kehilangan sang sahabat seperjuangan yang selama ini menemaninya. Sudah setahun peristiwa itu terjadi tapi ia belum bisa melupakan Teuku Muhammad Ilham.
Kini ia menjabat sebagai Pang Sagoe penerus dari sahabatnya. Walaupun berat tapi perjuangan mereka tidak boleh tertenti setelah kepergian Ilham. Justru mereka lebih beringas untuk membalaskan dendam atas kematian panglima mereka.
“Bang, ini kopinya.”
“Em,” balasnya.
“Abang masih memikirkan Bang Ilham?” mata basah menatap sang istri yang hampir setahun ia nikahi. Khalid menikahi Halimah saat ia dalam pelarian sewaktu mengetahui kalau Pang Sagoe telah meninggal. Rumah Halimah berada di kampung pedalaman tempatnya bersembunyi. Orang tua Halimah juga sangat baik padanya hingga saat ia diminta untuk menikahi wanita itu. Khalid langsung menyetujinya. Ia sudah tidakk bisa kemana-mana saat ini. Kematian Pang Sagoe menjadi pukulan terberat bagi mereka hingga dalam beberapa bulan setelah itu mereka seperti kehilangan arah.
“Abang tidak akan tenang kalau belum bertemu adiknya. Ada amanah yang harus Abang tunaikan.” Kali ini Khalid menatap Halimah dengan sorot mata yang tidak terbaca.
“Abang berjanji akan menikahi adiknya. Apa kamu rela kalau misalnya suatu hari nanti Abang menikah lagi?” Seperti disambar petir, dada Halimah serasa sesak saat mendengar ucapan itu langsung dari mulut suaminya.
Wanita itu menggeleng dengan senyum yang dipaksakan, “Limah rela, Bang.” Lirihnya.
“Abang akan menyuruh orang untuk menjemputnya dan membawa dia ke markas. Bersiaplah, kita akan kembali ke markas dan kamu akan bertemu dengannya di sana.”
Halimah segera kembali ke dalam dan air matanya langsung tumpah di pelukan sang ibu. Halimah bercerita tentang kesedihan hatinya seraya menahan tangis. Sang ibu hanya menghela nafas, “Umi tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga kamu tabah menghadapi masalah ini. Kita tidak tahu kalau suamimu punya janji pada temannya. Kalau Umi tahu lebih awal, mungkin kamu tidak akan Umi nikahkan dengan dia. Sekarang pergilah! Ikuti suamimu karena kamu juga mencintainya.”
__ADS_1
Hari-hari selanjutnya, Kampung Sagoe kembali gempar saat Cut dan Teuku menghilang. Orang suruhan Khalid telah membawa mereka pergi jauh dari kampungnya. Cut pasrah berjalan menyusuri hutan mengikuti sepasangan suami istri yang menjadi mata-mata pemberontak. Cut tidak tahu siapa dalang dari penculikannya sampai ia tiba di markas dan bertemu dengan pimpinan mereka yang ternyata sahabat dari almarhum Ilham.
Hari pernikahan pun tiba walaupun Cut menentangnya. Ia bersama Halimah dibawa turun ke kampung Halimah. Di rumah sederhana milik Halimah, Cut dipersiapkan untuk menikah dengan Khalid. Cut bercerita banyak hal pada orang tua Halimah hingga kejadian tidak terduga pun terjadi. Cut dan keponakannya tiba-tiba menghilang dari sana tanpa jejak. Para pemberontak mencarinya segela penjuru tapi sayang selama beberapa hari mencari, wanita itu belum juga ditemukan.
Sampai akhirnya, serangan para aparat pemerintah ke kampung tersebut membuat para pemberontak terpaksa mundur karena keterbatasan senjata dan personil. Akhirnya, Cut dan Teuku yang disembunyikan oleh ibu dari Halimah ditemukan dalam keadaan lemah karena kekurangan cairan di dalam lubang tanah di belakang rumah orang tua Halimah.
Ditemukannya Cut menjadi kabar buruk bagi Halimah. Suami yang dicintai itu murka hingga melampiaskan padanya. Halimah yang ikut kabur dengan suaminya sangat menderita karena Khalid sering memukulnya. Ia juga merindukan orang tuanya yang ikut dibawa oleh aparat militer malam itu. Khalid semakin terobsesi pada Cut Zulaikha sehingga dengan segala informasi dan cara ia kembali menyusuri keberadaan Cut hingga saat wanita itu meninggalkan tempatnya sekarang dan ikut pindah ke ibu kota provinsi.
Khalid meninggalkan Halimah untuk mencari keberadaan Cut hingga kemudian ia menemukan gadis itu lalu mulai mengawasinya dari jauh. Sampai sebuah kejadian membuat kejiawaan Cut terganggu dan saat gadis itu berada di rumah sakit jiwa, Khalid langsung bergerak dengan menyamar menjadi perawat kemudian membawa Cut ke sebuah pulau tanpa ada yang tahu. Hari berganti bulan, Cut mulai sembuh tapi pandangannya pada Khalid belum berubah. Wanita itu masih membenci Khalid hingga pria itu sadar kalau hati Cut tidak akan pernah menjadi miliknya.
Cut diantar kembali ke ibu kota provinsi dan langsung diintrogasi oleh aparat militer karena yang menculik Cut adalah orang yang paling dicari seantero Aceh saat ini. Muhammad Khalid dicurigai memiliki ilmu tak kasat mata yang membuatnya sulit tertangkap. Bahkan ia bisa bebas berjalan di depan aparat militer tanpa takut akan tertangkap berkat doa yang sering ia lantunkan.
Enam bulan bersembunyi di dalam hutan belantara akhirnya Khalid harus menyerah. Ia tertembak dan menghembuskan nafas terakhir di saat istri baru melahirkan. Ketika anaknya lahir, Khalid justru pergi menghadap ilahi. Khalid tidak bisa memenuhi janjinya pada Ilham untuk menjaga Cut Zulaikha tapi ia bahagia karena keinginan Ilham sudah terpenuh yaitu Cut menikah dengan pria biasa bukan seorang tentara.
Di dalam persembunyiannya, beberapa kali ia melihat Ilham datang. “Keluarlah! Kita akan pergi bersama kali ini.”
Entah itu mimpi atau halusinasi. Hari itu Khalid keluar dari tempat persembunyiannya dengan sisa peluru terakhir yang ia miliki.
Dor..
__ADS_1
Dor..
Dor..
Tubuh ringkih itu dihujam timah panas dan terkapar di tempat. Istri dan orang-orang yang menghuni pulau hanya bisa menangis melihat akhir hidup Muhammad Khalid, panglima perang yang berhasil menggantikan posisi Pang Sagoe.
Khalid memilih pergi sendiri untuk menemui Ilham, Ia tidak membawa seorang istri ataupun anak. Ia meninggalkan mereka sebagai janda dan yatim. Khalid pergi dengan tenang, “Adikmu sudah menikahi seorang dokter, Ham. Aku sudah menunaikan janjiku. Sekarang waktuku pergi menemuimu.”
Di dalam gelapnya malam, Pang Sagoe berhenti menyusuri jalan tak berujung di depannya. Ia menyerahkan semua tanggung jawab pada yang hidup dengan harapan mereka akan memenangkan peperangan ini. Siapa yang tahu? Harapan harus tetap dipupuk untuk membangkitkan jiwa pejuang dari dalam diri setiap pemuda.
Matahari mulai menyingsing saat jasad sang panglima dimasukkan ke liang lahat. Kepergiannya diiringi tangisan dari keluarga dan orang-orang yang selama ini menerima dan melihat kebaikannya. Kematian yang mulia bagi mereka yang ikut berjuang di medan perang.
Peperangan sejatinya hanya akan meninggalkan luka dan air mata bagi mereka yang memiliki peran di dalamnya. Duka lara itu akan menjadi kenangan tersendiri untuk mereka yang merasakannya. Semoga tidak ada lagi peperangan yang terjadi seperti di Aceh masa silam. Cukuplah Aceh menjadi pembelajaran untuk semua orang yang masih berpikir semua bisa diselesaikan dengan senjata.
***
TERIMA KASIH SEMUANYA...kalau kalian sudah baca CUT pasti sudah paham kalau novel ini memang tidak panjang.
__ADS_1
Sampai jumpa di karya baruku KISAH YANG TERTINGGAL....