
Setelah subuh dalam keadaan masih sedikit gelap, Ilham bersama beberapa rekannya meninggalkan rumah Teuku Kadi. Saat Wardah terbangun, Ilham sudah tidak ada di sana. Gadis itu kembali menelan kekecewaan lalu kembali ke kamarnya.
“Kamu sangat mencintai istrimu ya?” tanya Khalid.
“Tentu. Aku tidak siap berpoligami. Tanggung jawabnya besar, dosaku sudah terlalu banyak jadi aku tidak mau menambahnya dengan menyakiti hati istriku.”
Khalid tertawa pelan, “Aku harap kamu juga begitu. Aku ingin menjodohkanmu dengan adik perempuanku. Aku percaya padamu, dia gadis yang baik dan aku tidak mau kalau dia sampai menikah dengan pria yang tidak jelas. Apalagi kalau sampai dia menikah dengan tentara.” Ucap Ilham sembari terus berjalan.
Khalid tertawa, “Kamu itu lucu. Aku tidak pernah bertemu dengannya bagaimana dia mau menikah denganku. Siapa nama adikmu itu?”
“Cut Zulaikha. Dia adikku satu-satunya. Aku yakin dia bisa menerimamu. Nanti akan aku kenalkan kalian tapi tidak sekarang.”
“Oke, aku tunggu itu.”
“Tapi menurutku lebih baik kamu meminta keluargamu dulu untuk melamarnya. Setelah itu baru kalian bertemu. Kita tidak bisa ke kampungku. Di sana sudah ada pos tentara dan cukup dekat dengan rumahku. Aku tahu mereka pasti mengetahui jika mereka adalah keluarga Pang Sagoe.”
“Nanti aku pikirkan lagi. Aku tidak yakin keluargamu akan menerimaku. Apalagi kalau menurut ceritamu bahwa mereka tidak merestui kamu bergabung menjadi pasukan pemberontak.”
“Mereka pasti setuju. Kamu tenang saja.”
Perjalanan itu terasa singkat saat mereka saling berbincang baik masalah keluarga maupun rencana-rencana ke depan hingga akhirnya mereka sampai di rumah yang dituju. Ilham tersenyum melihat istrinya tengah menyapu halaman di sore hari.
“Assalamualaikum,” ucap merek serentak.
Rahmah tersenyum menatap pria yang baru saja tiba di depannya, “Walaikumsalam. Abang sudah sembuh?” tanyanya setelah mencium punggung tangan sang suami.
“Kalau tidak sembuh bagaimana Abang bisa sampai di sini.” Mata Rahmah melirik ke belakang seolah mencari seseorang.
“Cari siapa?”
“Mungkin Bang Ilham tidak membawanya.” Batin Rahmah kemudian tersenyum.
“Cari Wardah?”
__ADS_1
Deg…
Rahmah langsung menatap suaminya, “Dia tidak ikut. Mamak mana?”
“Di dalam. Ayo!”
Mamak tengah membantu memasak di dapar di bantu Raudah dan beberapa tamu lainnya. Ilham langsung menghampiri ibu mertuanya kemudian mencium tangan wanita paruh baya itu. “Maaf, Mak. Ilham baru bisa datang sekarang.” Ucapnya.
“Tidak ada-apa. Kami mengerti keadaanmu. Bagaimana apa lukamu sudah sembuh?” Ilham mengangguk.
“Rahmah hamil, dia tidak bisa mencium bau makanan makanya tidak pernah ke dapur.” Benar saja, Rahmah memang tidak mengikuti suaminya ke dapur.
Setelah memersihkan diri, mereka langsung disajikan makanan oleh yang punya rumah. Rahmah memilih mencuci pakaian suaminya dari pada membuat semua orang jijik saat ia muntah karena bau makanan.
Rahmah kembali masuk ke kamar setelah selesai mencuci dan saat itu pandangannya dengan sang suami langsung bertemu. “Kemarilah!”
“Bagaimana kabar anak Abang?” tanya Ilham ketika Rahmah merabahkan dirinya dalam dekapan sang suami.
“Dia baik dan tidak menyusahkan.”
Rahmah menggeleng, “Tidak enak.”
“Kalau tidak makan nanti anak Abang lapar, bagaimana?” Rahmah tersenyum. Ia terharu dengan lembutnya sikap sang suami tapi ada satu yang masih mengganjal di hatinya saat ini yaitu Wardah. “Bang,” Ilham menatap sang istri, “Kenapa? Kamu mau apa?” Rahmah menggeleng, “Em, Teungku Kadi sudah bicara sama Abang?”
Ilham tersenyum menatap sang istri, “Kamu ingin tahu tentang lamaran itu?” Rahmah mengangguk cepat.
“Ada syaratnya!”
“Syarat? Kenapa harus pakai syarat?”
“Kalau kamu mau makan, Abang akan cerita semuanya.” Bibir Rahmah mengerucut.
“Bukannya tidak mau makan tapi habis makan suka mual. Semua keluar lagi jadi percuma saja makan.”
__ADS_1
“Dua suap saja ya?” perasaan Rahmah seperti diaduk-aduk saat ini oleh suaminya. Ia langsung mengangguk walaupun meringis mengingat akan muntah lagi.
Ilham keluar kemudia berjalan ke dapur. Di sana, ia langsung mengambil piring lalu mengambil nasi dua sendok dan teman-temannya. Hari itu untuk pertama kalinya, Rahmah makan disuapi Ilham dan lebih ajaib lagi karena Rahmah tidak mual dan muntah setelah makan.
“Berarti selama ini anak Abang lagi protes karena ayahnya tidak kunjung datang. Terbuktikan setelah Abang datang kamu langsung bisa makan tanpa muntah.” Rahmah mengangguk lalu tersenyum.
“Mau tambah?” Rahmah mengangguk lagi kemudian Ilham dengan semangat menambah nasi dan kali ini sedikit banyak. Sampai siapan terakhir, Rahmah tidak mual dan muntah.
“Sekarang ceritanya mana?” tuntut Rahmah. Ilham terkekeh, “Setelah Abang menjenguk anak Abang dulu ya?” tanpa mengerti, Rahmah hanya bisa menerima semua perasaan rindu sang suami melalui belaian dan cumbuan yang memabukkan.
Setelah percintaan mereka, keduanya masih dibalut selimut sambil berpelukan. “Sekarang cerita!”
“Kamu penasaran sekali rupanya, jadi kamu mau Abang jawab apa tentang lamaran itu?” Ilham menatap lekat istrinya. Tangan Rahmah bermain di dada suami, “Kalau boleh jujur, aku tidak rela tapi keputusan ada di Abang. Lalu keputusan Abang bagaimana?”
Ilham terkekeh, “Abang juga tidak sanggup berbagi badan dengan wanita lain. Cukup kamu saja!”
“Jadi?” Rahmah masih bingung dan ingin memastikan. Kalimat Ilham terlalu membingungkan untuknya.
“Abang sudah menolaknya, Sayang.” Kali ini Rahmah tersenyum senang. Senyumnya merekah indah dan membuat Ilham tak jemu-jemu menatap sang istri. Apalagi hormon kehamilan membuat Rahmah semakin cantik saja.
Mereka kembali mengulang perncintaan panas sampai suara azan terdengar. Mereka kembali menunaikan salat bersama kemudian tidur dalam keadaan berpelukan. Hari-hari indah Rahmah dengan Ilham sangat menyenangkan untuk wanita yang tengah hamil muda hingga tidak terasa kehamilannya sudah memasuki usia sembilan bulan dan di saat Rahmah sedang berjuang untuk melahirkan di sebuah rumah sederhana milik dukun beranak, Ilham justru sedang bergerilya setelah menyerang konvoi truk tentara yang beru melewati jalan nasional.
Ilham dan regunya sedang berlari menuju hutan untuk menghindari kejaran tentara pemerintah saat truk tentara terkena serangan bazoka dari pihak Ilham hingga membuat banyak tentara meninggal dan luka-luka. Peristiwa berdarah itu juga membuat para tentara yang sedang marah ikut membakar ruko warga yang terletak di sepanjang jalan tempat kejadian.
Suara tangis bayi menggema di dalam rumah sederhana tersebut. “Alhamdulillah, laki-laki.” Ucap dukun beranak tersebut saat memperlihatkan bayi tersebut ke depan Rahmah. Lalu sang dukun yang merupakan nenek-nenek tersebut membersihkan bayi kemudian membungkusnya dengan kain bersih lalu diletakkan di dada Rahmah.
Dukun tua itu membawa bayi tersebut keluar kamar kemudian terdengar suara azan dari suami sang nenek yang berdiri di luar kamar. Rahmah meneteskan air matanya karena saat sang putra lahir, sang suami jutsru sedang bermain dengan maut. Dukun tersebut kembali membawa bayi itu lalu diletakkan di atas dada Rahmah.
“Biarkan dia mencari rezekinya!” ucap nenek tersebut.
__ADS_1
***
LIKE...KOMEN...TERIMA KASIH....