Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Pengampunan...


__ADS_3

“Sudah berapa bulan umurnya?” tanya Umi sambil menggendong Fikri.


“Baru tiga bulan, Umi.” Bayi itu terlihat nyaman dalam gendongan sang nenek sementara Abu masih memangku Zikri.


“Abu, Umi, maafkan kesalahan kami karena tidak mengunjungi Abu dan Umi setelah menikah.” Lirih Rahmah.


“Sudahlah, kamu itu istri dan hanya mengikuti kata suamimu. Kalau dia tidak membawamu ke rumah kami, mana mungkin kamu pergi sendiri. Tahu tempatnya saja tidak, bukan?” jawab Abu masih memendam kesal pada sang putra.


Rahmah mengangguk, “Kalian bertemu di mana?” tanya Umi kembali.


Rahmah akhirnya bercerita panjang pada mertuanya. Cut mendengar dengan saksama kisah sang kakak ipar dengan abangnya.


“Terlihat sekali kalau Kak Rahmah cinta sama Bang Ilham.” Batin Cut.


Cut berjalan ke belakang pondok dan tidak sengaja bertemu Khalid yang sedang duduk bersama Ilham. Saat itulah, Ilham secara resmi memperkenalkan Khalid pada adiknya. “Abang yang menjodohkan kamu dengan Khalid. Dia sahabat Abang jadi Abang sudah tahu kalau dia pasti akan menjaga kamu dengan baik. Lebih baik kamu menikahi teman Abang dari pada sama tentara yang tidak jelas asal usulnya.”


“Apa Abang juga akan membunuhku seperti Miftah kalau aku menikah dengan tentara?”


“Dek, itu bukan kami!”


“Lalu siapa?”


“Cut, Abang tidak suka kamu membantah begini. Abang tidak percaya pada pria lain. Abang percaya sama dia. Kalau pun kamu tidak menikah dengan Khalid, setidaknya jangan menikah dengan tentara. lebih baik kamu menikah dengan tukang atau pun petani jagung. Itu lebih bermartabat dari pada tentara.”


“Sudahlah! Aku tidak mau mendengarnya!” Cut berlalu pergi. Khalid langsung mencegah saat Ilham ingin menghentikan adiknya.


“Biar aku yang bicara. Wajar jika dia marah karena kami tidak saling mengenal. Bukannya pepatah mengatakan kalau tidak kenal maka tidak sayang?”


“Baiklah! Aku serahkan padamu. Bujuk dia semoga mau menerima perjodohan ini.” Khalid mengangguk. Ilham menatap istrinya yang sedang berbincang sambil sesekali tersenyum hangat pada Umi dan Abu. Hati Ilham mendadak basah hingga menggerakkan langkahnya menuju tempat di mana orang tuanya berada.


Di depan istri dan anaknya, seorang Pang Sagoe yang terkenal garang di medan peran kini bersimpuh di kaki Abu dan Umi seraya meminta maaf atas semua perbuatannya selama ini. Air mata Umi berderai melihat putra yang sangat ia rindukan selama ini kini di depan matanya. Putra yang selalu ada dalam setiap doanya kini bersimpuh memohon ampun. Hati seorang ibu amatlah lembut, beliau langsung merangkul putranya tanpa melepaskan gendongannya pada sang cucu.

__ADS_1


“Umi selalu memaafkan setiap kesalahan Abang. Umi tidak mampu menyimpan marah pada Abang. Umi selalu berdoa, di mana pun Abang berada, Abang akan selalu dilinduni oleh Allah. Begitu juga dengan Abu. Seberapa pun besar kesalahan yang Abang perbuat, kami tidak pernah mengutuk seorang putra.” Lirih Umi.


Untuk pertama kalinya setelah Ilham lari dari pesantren, pria itu kini dapat memeluk ibu dan ayahnya lagi. Air mata Rahmah mengalir dengan sendirinya saat menyaksikan momen langka di depannya. Ia tersenyum melihat suami dan mertua akhirnya berbaikan. Ia bangga memiliki seorang suami yang tidak menurut pada egonya hingga pertemuan ini menjadi bermakna.


Malam harinya, Umi dan Abi menikmati waktu bersama dua cucunya dengan bahagia. Mereka bermain sepanjang malam. Abu sempat marah kembali kerana sang putra masih menahannya di sana hingga keesokan harinya, Ilham berjanji akan mengantarkan mereka kembali ke jalan kecamatan.


Umi membuka anting peraknya lalu memberikan kepada menantunya, Rahmah sampai menangis melihat bagaimana ibu mertua sangat memperhatikannya. “Umi titip Ilham ya! Ingatkan dia kalau salah. Dia pasti sangat menyayangimu. Terima kasih sudah memberikan kami cucu yang tampan-tampan. Umi berharap kalian akan pulang ke rumah.”


“Ilham akan membawa istri dan anak-anak kalau daerah kita sudah bebas perang, Umi.”


“Ck, kapan? Tunggu habis sebatang rokok lagi atau tunggu Allah murka baru kalian sadar?” sarkas sang Abu. Ilham tidak lagi menjawab, berdebat dengan sang ayah memang tidak akan menang. Walaupun demikian, Ilham tidak memasukkan ke hati setiap ucapan Abunya.


Abu mengeluarkan uang sepuluh ribuan lalu memberikannya ke Zikri. “Minta Ayahmu membelikan kue enak jangan hanya makan pisang dan ubi!”


“Itu lebih sehat dari pada makanan enak, Abu.” Protes Ilham membuat Umi tersenyum.


“Kamu mau ikut Kakek? Nanti Kakek belikan banyak makanan dan mainan?”


“Abu, jangan merayu anakku! Dia itu tidak bisa jauh dari kami.”


Ilham memeluk Abu dan Umi bergantian, wanita sepuh itu menangis sedih karena harus meninggalkan anak mantu juga cucunya. “Bang, apa tidak sebaiknya Rahmah dan anak-anak ikut Umi ke kampung?”


“Tidak Umi, Ilham tidak mau terjadi apa-apa pada mereka. Para tentara itu punya banyak cara untuk menangkap Ilham termasuk menyandera anak dan istri Ilham.”


“Baiklah kalau begitu! Umi pergi dulu. Jaga diri dan jangan lupa salat.” Ilham mengangguk.


“Maaf, Umi, Abu, mata kalian tetap harus ditutup.” Abu hanya berdecak kesal tanpa menjawab.


“Maafkan Abang ya!” Ilham tiba-tiba memeluk adiknya.


“Maafkan Cut juga.”

__ADS_1


“Ingat, jangan dekat-dekat sama tentara.”


“Em.” Sebelum pergi, Cut mencium pipi gembul dua keponakannya sekilas. Matanya tidak lekang dari bayi Fikri yang tersenyum menatapnya.


Perjalan panjang itu kembali dilalui oleh sepasang suami istri paruh baya. Di dalam perjalanan, Umi dan Cut saling berbincang seolah ini adalah perjalanan yang menyenangkan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah suang dangkal lalu mata mereka dibuka dan para pemberontak itu akhirnya pergi setelah memberitahukan arah jalan pada Abu.


Sementara di markas, Sang Pang Sagoe merasa resah tidak menentu. “Ada apa, Bang?” tanya Rahmah lembut.


“Entahlah. Abang sedang berpikir apa mungkin lebih baik jika anak-anak ikut dengan kakek neneknya saja?”


“Kenapa Abang berpikir begitu?”


“Entahlah. Kata-kata Abu terus terngiang di telinga Abang. Tiba-tiba Abang merasa takut memikirkan nasib anak-anak.”


“Sudahlah! Anak-anak akan hidup aman di sini. Umi dan Abu memang menyayangi mereka tapi bagi anak-anak, berada di dekat orang tuanya itu lebih baik walaupun makan seadanya. Jadi jangan pikirkan lagi ya?”


“Apa kamu juga begitu?” Rahmah tersenyum.


“Kalau tidak begitu mungkin sejak pertama aku tidak mau menikah sama Abang. Buktinya aku mau karena dimabuk cinta sama Abang.”


Cup…


“Makin manis saja istri Abang.”


“Em, aku hanya berdoa semoga jika kita tidak ada lagi nanti, anak-anak akan dirawat oleh Umi dan Abu juga ceceknya yang sangat cantik itu.”


“Iya, Abang juga berharap yang sama.”


“Lalu bagaimana dengan lamaran Bang Khalid?”


Ilham menggeleng, “Sepertinya tidak berhasil!”

__ADS_1


***


LIKE...KOMEN...


__ADS_2