Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!

Pang Sagoe, Jadikanku Istrimu!!!
Pergi...


__ADS_3

Hari mulai gelap dan suara bedil tidak terdengar lagi. Beberapa tentara melewati jalan persawahan lalu melihat kami dan mereka pun berkata, “Pulanglah!” kami pun bergegas bangun lalu berlarian menuju rumah. Langkahku terhenti saat mendapati rumahku yang dipenuhi banyak orang. Di sana juga ada para  tentara serta suara tangis dari beberapa anak kecil yang merupakan teman sepermainan Fajar hatiku tidak enak.


“Rahmah, adikmu!” suara dari salah satu tentangga.


“Kamu harus kuat, Rahmah. Fajar sudah kembali ke pada yang kuasa.”


Deg…


Aku memasuki rumah lalu melihat jasad adikku terbujur kaku. Kain panjang penutup jasadnya terlihat basah oleh darah yang belum kering.


“Mak, Ayah,” panggilku terduduk di dekat jasad Fajar. Air mataku seolah berdesakan ingin keluar.


“Adikmu tertembak. Dia sedang bermain di dekat pos saat kami diserang.” Ucap Heru. Rupanya dia juga ada di sana.


Aku memeluk adikku seraya menangis sampai para tetua datang untuk menenangkanku. “Jangan membuatnya kesakitan karena tangisanmu. Lihatlah wajahnya, dia tersenyum dan tenang. Anak-anak sepertinya belum memiliki dosa hingga yang dia lihat saat ajalnya adalah surga. Makanya dia tersenyum, ikhlaskan dia supaya tenang meninggalkan kita.” Nasehat sesepuh itu membuatku terdiam tapi air mataku tetap tidak tertahankan.


Ayahku memutuskan untuk mengubur jenazah Fajar esok hari karena langit sudah gelap dan beberapa warga masih ketakutan setelah peperangan yang terjadi sore tadi. Semalam aku tidak tidur, setelah jenazah Fajar disucikan, kami membaca surat yasin bersama para tetua kampung. Dan keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi. Jenazah Fajar dikebumikan di belakang rumahku. Aku ingin dia selalu di sini, di dekat kami semua. Ayah dan ibu terlihat sangat sedih sama sepertiku. Kehilangan anak saat umurnya masih kecil begitu pasti membuat mereka sangat kehilangan. Anak yang masih bermanja-manja dengan segala permintaan dan pertanyaannya yang beragam kini sudah pergi menghadap ilahi.


Selama seminggu aku dan Raudhah duduk termenung menatap pusara adikku di belakang rumah. Air mata kami luruh begitu saja saat kenangan dengannya terlintas dibenak masing-masing. Aku juga tidak bisa menyalahkan siapa pun dalam kejadian ini. Fajar berada di tempat dan waktu yang salah dan mungkin itu hanya sebab. Banyak yang terkena peluru tapi masih hidup sampai sekarang tapi adikku? Mungkin memang sudah ajalnya dan terkena peluru hanya sebab. Teman-temannya yang lain juga berada di sana saat serangan itu terjadi tapi mereka tidak ada yang terken peluru. Hanya beberapa luka yang mereka dapatkan.


Adikku memang anak yang baik bahkan setalah satu minggu dia tiada, teman-teman sepermainannya masih sering mendatangi kuburnya bahkan mereka acap kali bermain di sana seolah sedang bermain dengan adikku.


Fajar dikeluarguku telah redup dan menghilang. Ini terlihat dari kehidupan keluargaku yang seolah kelabu tidak seperti biasanya. Ibuku yang dulu ceria bahkan cendrung cerewet kini menjadi pendiam dan sering menangis tiba-tiba. Ayahku masih tetap sama hanya saja beliau jarang bersenda garau seperti biasanya. Sementara aku dan Raudah hanya menatap hari dalam keheningan dan keterpaksaan. Kami kehilangan lalu apa yang orang-orang inginkan selanjutnya? Keceriaan yang dulu terpancar telah sirna bahkan saat ayah memutuskan pergi diam-diam dari kampung meninggalkan kami. Entah apa yang terjadi tapi sore itu, ayahku tidak kembali setelah berpamitan pada kami tadi pagi dengan alasan mencari daun obat.


“Di mana Pak Mae?” tanya seorang tentara.


Setelah dua hari kepergian ayahku, para warga menjadi penasaran lalu berita kepergian ayahku sampai juga ke telinga para tentara. Akhirnya mereka mendatangi rumahku pagi itu.


“Saya tidak tahu, Pak. Bang Mae bilang mau pergi mencari daun obat seperti biasa tapi sudah dua hari belum kembali.” Jawab ibuku ketakutan.

__ADS_1


Aku sendiri memandang penuh benci pada mereka. Entah apa yang mendasari hingga aku memendam benci pada mereka terutama setelah Fajar tiada.


Tanpa izin, mereka menggeledah rumahku dan rahasia itu pun terbongkar. Ruang bawah tanah yang berada di bawah tempat tidurku akhirnya ditemukan oleh para tentara lalu setelah itu kami dibawa ke pos mereka untuk diintrogasi.


Pandangan orang-orang terlihat berbeda-beda. “Ayahmu cuak ya?”


“Pasti Ayahmu itu cuak!”


“Jangan dengarkan!” bisik ibu berjalan di sampingku.


Sesampai di pos, kami dimasukkan ke dalam ruangan berbeda. Terlihat sekali kalau pos ini dibangun dadakan karena ruang yang kami tempati tidak terlihat seperti ruangan melainkan seperti ruang tidur mereka. Satu setengah jam kemudian aku mendengar suara deru mobil dan suara sepatu lebih banyak lagi. Aku mencoba mengintip tapi sayangnya dinding ini dilapisi karung pasir di bagian luar.


Beberapa orang masuk ke dalam tempatku. Pria sedikit lebih dewasa dari yang lain duduk di sana lalu menatapku dengan tatapan menakutkan. “Katakan! Ke mana Ayahmu pergi?”


“T-tidak tahu!”


“Apa yang kalian sembunyikan di lubang bawah tempat tidurmu?”


“Kalian pernah memasukkan orang di sana, bukan?”


Deg…


“Aku pasti ketahuan jika berbohong.”


“Jawab!!!”


Suara bentakan itu mengejutkanku. “Apa dia terluka saat datang ke rumahmu?” aku menunduk seraya meremas jemariku. Aku ketakutan apalagi pria ini sangat berbeda dengan tentara yang pernah ke rumahku.


Aaaaaaa

__ADS_1


Suara teriakan dari adik dan ibu membuatku menatap mereka. “Jangan siksa ibu dan adikku! Ampun, Pak. Jangan siksa mereka!” aku berlutut di depan pria itu. Sungguh aku tidak sanggup kalau harus kehilangan lagi.


Pria itu tersenyum mengejek, “Katakan! Kalau kamu ingin adik dan ibumu selamat.”


“Siapa pria itu?”


“Saya tidak tahu namanya, Pak.”


“Bohong!” lagi-lagi dia membentakku.


“Saya peringatkan padamu! Anggota saya tidak punya kesabaran untuk berlama-lama menunggu jawabanmu. Sekarang katakan, siapa pria itu!”


“I-ilham. Namanya Ilham, Pak.”


Kening pria itu mengernyit lalu, “Kepan dia ke sana dan apa yang terjadi padanya?” aku lelah hingga akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi di ruang bawah tanah itu pada mereka kecuali satu. Aku tidak menyebut nama Pang Sagoe karena aku tahu itu akan berbuntut panjang untukku dan Bang Ilham.


“Dan, bisa jadi itu anak buah Pang Sagoe.” Ucap salah satu tentara.


“Siapa nama pria satu lagi?” tanyanya lagi.


“Saya tidak tahu, Pak. Pria itu langsung pergi setelah dua hari di sana.”


“Ceritakan ciri-ciri pria itu! Anggota saya akan menggambar sesuai dengan apa yang kamu katakan. Kalau kamu berbohong, siap-siaplah kehilangan ibu dan adikmu!” pria itu keluar lalu tinggallah beberapa tentara di sana termasuk salah satu tentara yang ditugaskan menggambar.


Sementara di ruang sebelah, aku kembali mendengar jeritan adikku. Aku cemas dan takut memikirkan nasibnya. Dia pasti sangat ketakutan di sebelah sana. “Katakan yang sejujurnya jika kamu mau adikmu selamat!” ancaman itu kembali terdengar dari mulut tentara yang mengawasiku.


“Pria itu –“


***

__ADS_1


LIKE....KOMEN....


__ADS_2