
Hari masih subuh dan Sri sudah bersiap-siap dengan memakai baju hitam putihnya untuk pergi ke kantor hari ini. dengan baju hem putih dan rok hitam pendek yang ia kenakan. Membuat Paman Herman dan Tante Dewi bingung dengan penampilan Sri pagi ini.
Biasanya Sri pergi ke rumah Mas David Hanya mengunakan baju kaos rumahan,dengan penampilan layaknya anak magang di kantor tentu membuat semuanya terheran-heran.
"kamu mau pergi kemana Sri?" tanya Tante Dewi dan pertanyaan dari Paman Herman juga yang sudah terwakili.
"Sri hari ini mau bekerja di kantor Tante," ucap Sri.
"bukannya kamu bekerja jadi pembantu pribadinya Mas David di rumah Ibu Santi?" Tante Dewi masih bingung dengan ucapan Sri yang bilang mau bekerja di kantor.
"jadi begini Tate Dewi, Mas David mulai hari ini sudah mulai bekerja di kantor jadi Sri juga ikut, jadi asisten pribadi Mas David, "Ucap Sri yang sambil nyengir karena akan pergi.
" oh... Begitu," ucap Tante Dewi.
"kalo begitu Sri pergi dulu ya Tante," ucap Sri yang berpamitan.
Sri pun berpamitan kepada Tante Dewi dan Paman Herman untuk pergi ke rumah Mas David.
Sesampai di rumah Mas David, Ibu Santi melihat dandanan Sri seperti anak SMK mau magang. Tante Santi pun dibuatnya tertawa.
"Sri kamu mau pergi magang atau jadi asisten pribadi Mas David?" ucap Ibu Santi sambil tersenyum.
Sri pun menunduk melihat penampilannya lagi.
"ayo sini ikut ke kamar Ibu," ucap Ibu Santi.
Sri pun diberi baju waktu Ibu Santi masih bekerja di perusahaan. Dengan celana kerja panjang dan baju kerja yang dipakai Sri, serta make-up dan rambut yang di tata rapi. Membuat Sri terlihat sangat cantik.
Tubuh Sri yang tinggi putih ramping serta rambut yang hitam panjang membuat Sri terlihat seperti model dan benar-benar seperti asisten pribadi dari seorang bos.
Mas David yang melihat Sri didandani oleh Ibunya pun ikut tercengang, Mas David tidak tau kalo sebenarnya Sri secantik ini jika berdandan.
Yang sering dilihat Mas David adalah Sri yang sederhana, polos, dan apa adanya dalam hal berdandan.
Sri dan Mas David pun berangkat dengan di antar supir, di sepanjang jalan Sri melihat ke arah jendela, karena dia memang kurang tau jalan-jalan di jakarta. Yang Sri tau adalah jalan menuju rumah Mas David dan rumah Paman Herman. Sri yang terus memandang ke arah jendela pun membuat Mas David bertanya padanya.
"ada apa Sri, dari tadi saya lihat kamu hanya memandang ke jendela?" ucap Mas David yang bertanya.
__ADS_1
"anu... Mas David, Sri selama di jakarta belum pernah jalan-jalan jadinya Sri sedang mengigat jalan. He he," jawab Sri dengan polosnya.
"oh begitu...," jawab Mas David.
"Mas David.memangnya kamu sudah berapa lama ada di jakarta Sri ?"
"Sri.kira-kira sudah hampir 1 bulan Mas. Dulu Sri sempat merantau juga di kalimantan ikut Paman Sri jadi pembantu di rumahnya. Tapi Sri hampir satu tahun kerja di sana tidak pernah di kasih upah eh malah di jadikan pelunasan untuk membayar hutangnya."
"Mas David. Maksudnya Sri...? "
"iya... Sri dipaksa buat menikah dengan anak bos sembako tempat paman Sri berhutang.
"Kan berarti hidup kamu enak dong Sri punya suami orang kaya di kalimantan."
"enak apanya Mas David, Sri di sana, di rumahnya suami Sri juga jadi pembantu. dan karena Sri tidak bisa memberikan keturunan Sri pun akhirnya di antar ke kampung oleh mertua Sri."
"Terus suami kamu tidak membela atau berbicara sesuatu dengan mertua atau Ibunya itu Sri."
"Jangankan untuk membela Sri malah dia ikut apa kata orang tuanya Mas. Bahkan belum sempat satu bulan Sri di pulangkan ke rumah orang tua Sri, dia sudah menikah lagi."
Mas David merasa iba dengan cerita masa lalunya Sri yang sangat berat. Apalagi ayahnya Sri sedang sakit di kampung.
Satpam yang melihat mobil Mas David datang bergegas membuka pintu mobil dan membantu Mas David untuk turun serta naik ke kursi rodanya.
Untuk menuju ruangannya Mas David di bantu Satpam karena Sri belum tau lokasi-lokasi kantor ini.
Dan Sri yang berjalan di samping Mas David melihat ke sana-kemari mengamati setiap sisi kantor milik Mas David. Sri belum pernah melihat atau masuk kesebuah kantor yang mewah seperti ini. Kalo kantor-kantor seperti milik Pak Kepala desa Sri sering masuk ke sana dan itu biasa-biasa saja.
Mas david dan Sri tiba di ruangan Mas David. Mas David langsung menuju tempat duduknya, di atas meja tertulis tulisan Manager. dan terdapat kursi lagi di depan Mas David duduk.
"silahkan duduk di sini Sri." ucap Mas David.
Sri pun duduk dengan nyaman di kursi yang bisa di gerakan ke kanan, ke kiri dan berputar itu.
Lalu Sri pun bertanya apa yang harus di lakukanya sekarang kepada Mas David.
"Mas David, Sri harus melakukan apa sekarang," tanya Sri kepada Mas David.
__ADS_1
Sri terbiasa membantu Bibi Ijah di saat tidak ada kerjaan atau Mas David tidak memerlukannya lagi.
"kamu duduk diam saja disitu Sri," ucap Mas David yang sedang sibuk dengan kertas-kertas yang ada di hadapannya.
Sri pun duduk di sofa sampai ia merasa bosan dan dinginnya AC ruangan Mas David membuat Sri mengantuk.
Sri meminta ijin kepada Mas David untuk berkeliling melihat-lihat isi kantor.
"Mas David, Sri sangat mengantuk jika tetap berdiam diri disini. Sri boleh ijin keluar untuk melihat-lihat ? " tanya Sri kepada Mas David.
"oke Sri tapi jangan terlalu lama dan jangan sampai tersesat," ucap Mas David.
Sri berkeliling kantor sendiri dan di sinilah awal pertemuannya dengan Alex seorang pria yang tampan dan baik.
Alex mengira Sri adalah karyawan baru di kantor. Dan tanpa basa-basi Sri di ajak untuk kenalan.
"hai... Kamu karyawan baru ya," tanya alex kepada Sri.
Sri bingung tentang statusnya di kantor ini.
Dan belum sempat Sri berbicara Alex terus bertanya.
"siapa nama kamu, dan sekarang ada di bagian apa?" tanya Alex lagi.
Sri bingung dengan pertanyaan Alex.
"nama saya Sri,"Pak jawab Sri singkat.
tiba-tiba telpon Alex berbunyi dan Alex mengangkat telpon itu.
lalu dengan cepatnya Sri kabur dari pandangan Alex. Dan kembali keruangan Mas David.
David yang melihat Sri ngos-ngosan karena berjalan cepat di buatnya bingung.
" ada apa Sri?" tanya Mas David
"tidak ada apa-apa Mas David cuma sedang buru-buru saja," ucap Sri yang sedang mengatur nafasnya.
__ADS_1
Sri pun seperti dikurung di ruangan Mas David, Sri mau pergi keluar tapi takut di tanya oleh orang-orang karena Sri tidak bis menjawabnya.