Pangeran Berkursi Roda

Pangeran Berkursi Roda
keluarga Paman Herman


__ADS_3

Sri disambut dengan hangat saat ia kembali ke rumah Paman Herman lagi. Keluarga yang cukup harmonis dengan kondisi serba dicukupkan. Tapi tetap membuat mereka selalu bersyukur dan bahagia.


Sri membongkar semua barang bawaannya di tas, memilah baju kotor yang belum sempat dicuci ketika berada di hotel.


"Tante ini oleh-oleh dari Ibu dikampung, " ucap Sri yang memberikan bungkusan berwarna hitam kepada Tante Dewi. Sri sendiri pun tidak tau isinya apa, ia hanya memberikan apa yang sudah disuruh oleh ibunya.


"wah terimakasih ya Sri, " ucap Tante Dewi.


"kalo buat Paman mana Sri? " tanya Paman Herman saat Sri membagikan oleh-olehnya kepada Cindy dan Tante Dewi.


"kan kita pulang kampungnya bareng Paman," ucap Sri.


" atau Paman mau Sri beri pengharum ruangan rasa jeruk lagi, " ucap Sri sambil bercanda, ia teringat akan Paman Herman yang muntah Parah saat naik taksi yang ugal-ugalan itu.


Di saat Sri tengah sibuk membereskan barang-barangnya tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"krik, krik, krik, (suara hp Sri yang seperti jangkrink berbunyi). "


dilihatnya ponselnya itu yang ternyata adiknya Adit yang menghubunginya.


"halo, ada apa Adit? "


"halo Kak ini Ibu mau bicara, " ucap Adit yang memberikan Hp nya kepada Ibu.


"halo Nak, apa kamu susah sampai di rumah Herman? " tanya Ibu Sri yang menghawatirkan anaknya.


"iya Bu, ini sudah di rumah Paman. "


"syukurlah kalo begitu Sri, " ucap Ibunya Sri,


kemarin saat Ibunya Sri menelpon Paman Herman, Paman Herman bercerita kalo mereka ketinggalan pesawat karena mobil mogok sewaktu menuju jalan ke Bandara.


"ya sudah dulu kamu istirahat saja, "ucap Ibu Sri mengakhiri pembicaraannya.


" disambung besok saja Sri beres-beresnya, "ucap Paman Herman yang sudah mematikan lampu ruangan.


Hari sudah sangat larut malam Sri pun memutuskan untuk tidur dan menyambung pekerjaannya esok hari.


...----------------...


Meski hari ini Sri libur bekerja di rumah Mas David, ia tetap bagun pagi. Hal itu seperti sudah alarm tubuhnya untuk bangun sebelum orang sholat subuh.


Sri pun melangkah ke dapur dan membantu Tante Dewi membuat kue dagangannya yang akan dititipkan di warung-warung dekat rumahnya.

__ADS_1


Sedangkan Paman Herman juga sudah berangkat ke komplek perumahan untuk menjadi petugas kebersihan.


"ini gulanya sudah manis atau belum Tan? " tanya Sri.


"sudah manisnya pas kok, " ujar Tante Dewi.


Mereka berdua sibuk di dapur untuk membuat kue dan membuat sarapan. Biasanya Sri selalu sarapan di rumah Mas David, tapi karena hari ini ia libur. Sri ikut sarapan di rumah.


"Tante Sri sudah lama nggak sarapan bareng kita ya Bu, " ucap Cindy dengan polosnya.


"maaf ya Cindy soalnya kan kemarin-kemarin tante kerjanya masuk pagi terus, " ucap Sri yang memberikan pengertian kepada Cindy.


" terus hari ini Tante Sri libur, "


"iya tante Sri libur, "


"hore... Kalo begitu kita beli es krim yu, " ajak Cindy dengan dengan comelnya.


"hayuk... Tapi nanti agak siangan sedikit ya, soalnya kalo pagi makan es krem nanti bisa sakit perut. "


"iya Tante Sri, " sahut Cindy.


Mereka pun melanjutkan sarapannya. Cindy yang tadinya males-malesan makan pun selesai dengan cepat karena ingin membeli es krim dengan segera.


"iya tan, " Sri beranjak dari duduknya, dan mengambil kue-kue yang sudah tersusun di wadahnya.


Paman Herman sudah pulang dari tugas kebersihannya, tapi entah siapa yang dibonceng Paman Herman karena Sri hanya sekedar melihat dari kejauhan.


"assalamualaikum, " ucap Paman Herman yang sudah berada di depan rumah.


Pria yang dibonceng Paman Herman ini memakai topi hitam dan masker yang menutupi wajahnya.


Tante Dewi dan Sri pun bertanya-tanya siapa yang datang ini.


"ini siapa yah, " tanya Tante Dewi kepada Paman Herman.


si pria itu pun membuka masker dan topinya.


"Rio, " ucap Sri yang heran kenapa ia bisa ikut Paman Herman.


"hai Sri, " sapa Rio dengan senyumnya.


"tadi pas Paman giliran membersihkan depan rumah Mas David ketemu Mas Rio ini. Dan dia ingin ikut Paman pulang kerumah, " ujar Paman Herman bercerita.

__ADS_1


"Mas Rio ini mau ngapain disini?" tanya Tante Dewi.


"cuma mau jalan-jalan saja Tante, " ucapnya.


"ya sudah Sri Tante pergi sendiri saja, kamu temani Mas Rio ini di rumah ya, " ucap Tante Dewi yang menyuruh Sri.


"iya Tante, " sahut Sri.


"ya sudah ayo kita sarapan dulu Mas Rio, " ajak Paman Herman. Paman Herman memang belum sarapan karena berangkat bekerja sangat pagi.


"iya Pak Herman, " ucap Rio sambil melangkah masuk kedalam rumah mengikuti Paman Herman. dan Sri mengikuti dari belakang.


Sri menyiapkan sarapan untuk mereka berdua dan membuatkannya minuman.


"ini tehnya diminum dulu , " ucap Sri sambil memberikan segelas teh panas kepada Rio dan Paman Herman.


Sri memandangi Rio yang begitu lahapnya makan masakan yang sederhana ini.


"Mas Rio kelaparan ya, " ucap Sri.


"huss, " ucap Paman Herman sambil melirik kearah Sri. Itu adalah perkataan yang tidak sopan kepada tamu tapi Paman Herman setuju dengan apa yang diucapkan Sri.


"He... He... Tempe ini kalo di Amerika sangat mahal lo Pak Herman, " ucap Rio.


"oh seperti itu, kalo begitu makan lagi ayo makan," ujar Paman Herman sambil tertawa.


Setelah selesai Sarapan Paman Herman dan Rio duduk di teras rumah, Sri hanya memperhatikan mereka dari dalam rumah sambil beberes didalam.


"hai, apa kabar nek. "


"halo, adik. "


"hai, bang apa kabar. "


Sri mendengar Rio menyapa semua orang yang lewat didepan rumahnya.


hust... (Sri memberi kode kepada Paman Herman) sambil melirik kepada Rio.


"itu memang sifatnya atau bagaimana Paman, Sri dengar dari tadi Rio menyapa semua orang yang lewat, " ucap Sri.


"sudah biarkan saja, orang ganteng mah bebas Sri, coba kalo dia jelek pasti orang berpikirnya negatif, " ucap Paman Herman sambil menikmati kopinya.


Sedangkan saat itu Rio sedang bercakap-cakap dengan ibu-ibu yang sedang berkumpul diseberang rumah Paman Herman.

__ADS_1


Rio begitu mudah bergaul walaupun dengan orang yang baru ia kenal.


__ADS_2