
Pagi-pagi sekali mereka semua sudah bersiap untuk berangkat kembali ke Jakarta.
Dan saat Sri berada di dalam kamar ibunya datang dan menghampiri Sri.
"Nak ingat ya selalu berkata jujur dalam segala hal dan jangan tinggalkan sholat lima Waktu, " pesan Ibu Sri kepada anaknya.
"insyaallah Bu, Sri bakal selalu ingat semua pesan-pesan Ibu, " ucap Sri sambil memegang tangan Ibunya, ia pun memeluk Ibunya agar tidak perlu khawatir berlebih.
Ibunya Sri tampak sedih karena anaknya harus pergi lagi tapi di satu sisi beliau juga senang karena Sri bahagia dan tenang di Jakarta bersama Paman Herman serta mendapatkan pekerjaan yang baik dan bos yang baik.
"Sri ayo barangnya dibawa ke mobil, "ucap Mas David, memecahkan momen kesedihan mereka berdua.
" iya Mas, tunggu sebentar, " Sri pun melepas pelukan Ibunya, dan Ibunya ikut membantu Sri membawa barang-barang kedalam mobil.
Sri pun segera bergegas memasukkan barang-barang miliknya ke bagasi mobil, dan barang-barang milik Mas David.
"Herman tolong jaga anakku ya, " ucap Ibunya Sri.
"iya Kak, " ucap Paman Herman berpamitan kepada Ibu dan Ayah Sri.
Ayah Sri duduk disebuah kursi dan menyaksikan anaknya yang akan kembali pergi merantau.
"Sri pergi ke Jakarta dulu ya, " Sri memeluk sang Ayah yang tengah duduk di kursinya dan mengambil tangannya serta menciumnya.
Mas David pun ikut berpamitan kepada Ayah Sri, dengan mengambil tangannya dan menciumnya juga.
Mereka bertiga pun masuk kedalam mobil, dan Sri melambaikan tangannya kepada Ayah, Ibu serta Adik-adiknya.
Sementara itu Ibu Sri hanya bisa menahan tangisnya ketika Mas David menghidupkan dan menjalankan mobilnya, menjauhi rumah Sri.
Mobil dibawa laju oleh Mas David karena takut ketinggalan pesawat, dan harus cek-in jam 8 pagi.
"semoga kita tidak terjebak dalam macet ya, " ucap Mas David.
"iya Mas, " ucap Sri.
...----------------...
Sepulangnya dari rumah Pak Firman, Paman Herman mendapat telpon dari Istrinya,
"Halo Ayah, Cindy sedang sakit badannya Panas sekali, " ucap Tante Dewi saat ditelpon.
"sudah berapa hari Bu, Cindy sakit? "
"ini sudah hari ketiga Yah, Ibu mau menelpon Ayah dari kemarin-kemarin tapi takut mengganggu," ucap Tante Dewi.
__ADS_1
"iya besok Ayah pulang ke Jakarta Bu, nanti kita langsung bawa Cindy ke dokter. "
"baik Yah, " Tante Dewi pun mematikan telponnya.
Perasaan Paman Herman dibuatnya gundah karena memikirkan Cindy dan selama diperjalanan pun Paman Herman hanya diam.
...----------------...
ditengah jalan yang macet mobil yang dikemudikan Mas David tiba-tiba mengalami kerusakan, entah apa yang terjadi tiba-tiba mobil tersebut tidak bisa dihidupkan.
"bagaimana ini Mas David," ucap Sri.
"entahlah Sri, sepertinya kita butuh mobil derek untuk membawa mobil ini sampai ke bengkel, " ucap Mas David setelah memeriksa mesin mobil.
"tapi itu terlalu memakan waktu Mas, Sri akan meminta tolong kepada mobil yang lewat, " ucap Sri sambil melangkah ke sisi mobil dan melambaikan tangan kepada mobil lain, mencoba meminta bantuan.
Sekitar 10 menit Sri mencari pertolongan untuk menderek mobil Mas David.
"sudahlah Sri lebih baik kita menelpon mobil derek saja, " ucap Mas David.
Sri yang dibantu Paman Herman meminta tolong kepada mobil orang yang lewat pun akhirnya dihampiri oleh pengemudi lain.
"ada yang perlu dibantu, " ucap Bapak-bapak yang menepikan mobilnya kepinggir jalan.
"boleh-boleh," ucap Bapak itu sambil keluar dari mobil pik-up miliknya.
Bapak itu pun lalu menghampiri Mas David, ia membawa tali tambang yang di ikatkan nya ke mobil Mas David.
"syukurlah ada yang mau menolong kita Mas, " ucap Sri.
"iya Sri, Alhamdulillah. "
Tidak memakan waktu lama mereka pun sampai di bengkel, mobil pik-up itu berhenti dan
Mas David menelpon orang untuk mengambil kembali mobil yang sudah disewanya di bengkel tersebut.
"halo bang, ini mobilnya mogok dan sudah saya bawa ke bengkel. Jadi tolong diambil di bengkel ya mobilnya, saya buru-buru mau ke Bandara. " ucap Mas David kepada pemilik mobil.
Setelah selesai ngobrol dengan pemilik mobil Mas David dan Paman Herman langsung memindahkan barang-barang kedalam taksi yang sudah dipesannya.
taksi melaju dengan kencang menembus jalanan yang ramai dengan pengendara lain.mobil menyelip ke kanan dan ke kiri sehingga membuat penumpangnya menjadi mabuk darat tapi Ini Semua agar kami tidak terlambat untuk naik pesawat.
"Sri kepalaku pusing, " ucap Mas David.
"iya Sri juga Mas, " ucap Sri.
__ADS_1
Sedangkan Paman Herman sudah tidak bersuara lagi, beliau muntah langsung ketika turun dari taksi.
"hoek... "suara Paman Herman yang muntah ditepi jalan.
Sri dan Mas David pun terasa ingin ikut muntah melihat Paman Herman.
Pewangi bau jeruk yang ada didalam taksi dan pengemudi yang ungal-ugalan membuat mereka seperti di obok-obok isi perutnya.
" besok-besok kita tidak usah naik taksi lagi Sri," ucap Mas David dengan wajah pucat nya.
"setuju Mas David, lebih baik kita jalan kaki, " ucap Paman Herman sambil berjalan mendekati Sri dan Mas David yang sedang duduk.
Dengan dibantu oleh petugas bandara semua barang-barang kami dinaikkan ke trolly untuk masuk kedalam dan melakukan Cek-in.
Saat didalam Mas David mencari loket tempat nama penerbangan kami tapi tidak ditemukan dengan rute Surabaya-Jakarta.
Mas David coba bertanya kepada petugas sekitar dan ternyata waktu cek-in sudah selesai, dan kami tidak bisa masuk kedalam pesawat kami.
Paman Herman sangat gundah karena teringat Cindy yang sakit, dengan inisiatif Mas David mencari tiket baru tapi dengan rute Surabaya-Jakarta hanya terdapat 1 tiket yang tersisa dan Mas David memberikan tiket itu kepada Paman Herman Agar ia bisa segera pulang terlebih dahulu.
"ini tiket untuk kembali ke Jakarta Pak, " ucap Mas David sambil memberikan tiket itu.
"tapi Mas David dan Sri bagaimana? "
"tenang nanti kita menyusul di jam penerbangan selanjutnya, "ucap Mas David.
Paman Herman pun naik kelantai dua menunggu pesawatnya siap berangkat.
" sebenarnya Sri, tiket sudah penuh semua dan sepertinya kita harus menginap di bandara, "
"hah, kok bisa Mas David. "
"iya, karena sekarang adalah waktu libur dan semua tiket sudah dibooking orang terlebih dahulu, " jelas Mas David.
tanpa banyak bicara lagi Sri pun pergi ke pojokan dan mencari alas untuk ia duduk di lantai.
"sedang apa kamu Sri? " tanya Mas David.
"kan kita akan tidur disini Mas sambil menunggu besok, " ucap Sri.
Mas David pun hanya menggelengkan kepalanya serta menepuk jidatnya sendiri.
"ini bukan stasiun kereta api atau pelabuhan Sri, " ucapnya
"Ayo kita cari hotel untuk menginap, " Mas David menarik tangan Sri yang sedang duduk lesehan dilantai.
__ADS_1