
Azan subuh sudah berkumandang, Sri dengan cepat mandi dan melaksanakan sholat subuh di kamarnya. Selesai itu Sri membantu Tante Dewi di dapur untuk membuat kue-kue yang akan dititipkan di warung-warung dekat rumah nantinya.
Di Liatnya Cindy yang masih tertidur pulas di kamarnya membuat Sri menyapu dan berkemas rumah dengan pelan-pelan takut membangunkan Cindy yang masih tertidur.
Sedangkan Paman Herman sudah berangkat pagi-pagi sekali, karena 3 hari sekali Paman Herman menjadi petugas kebersihan di komplek dan pagi-pagi Paman Herman harus sudah mengambil sampah yang ada di bak sampah, di setiap rumah di dalam komplek perumahan elit tersebut.
seperti biasa siang hari Paman Herman akan makan siang di rumah setelah makan dan istirahat sejenak kami akan pergi bekerja di rumah Pak Budi, untuk berkerja membersihkan gudang seperti yang dikatakan Bibi Ijah atas instruksi Mas David.
Jam 3 sore Sri dan Paman Herman berangkat menuju rumah Pak Budi. Ayah Mas David yang sudah meninggal karena kecelakaan mobil.
Setibanya Sri dan Paman Herman di rumah Mas David. Bibi Ijah sudah menunggu kami di halaman depan rumah, Bibi Ijah menyuruh kami untuk bergegas membersihkan gudang itu. Di Sana Sri melihat banyak barang-barang dan foto yang sepertinya milik Pak Budi. Sri dan Paman Herman bingung kenapa semua barang ini mau dibuang.
Dan Bibi Ijah pun bercerita ini semua atas perintah Ibu Santi.
Ibu Santi adalah istri Pak Budi. Karena meninggalnya Pak Budi memberi tekanan batin untuk anaknya Mas David. Dan Ibu Santi ingin anaknya kembali hidup normal serta kembali mengurus perusahaannya milik Ayahnya yang sudah berbulan-bulan diurus oleh Pamannya Mas David.
Seperti sebelum Ayahnya Mas David meninggal, Mas David yang mengelola perusahaan itu.
Hari demi hari Ibu Santi hanya memperhatikan anaknya yang hidup seperti tidak punya arah dan tujuan. Ibu Santi juga merasa terpukul akan kepergian suaminya Pak Budi.
Tapi Ibu Santi menganggap kecelakaan ini memang sudah takdir, dan tidak perlu diratapi berlebih tapi tidak bagi Mas David.
Mas David merasa dia telah membunuh Ayahnya sendiri dan menganggap kecelakaan itu akibat dari keteledorannya.
Pada waktu itu sepulang dari kantor Pak Budi dan Mas David. Pulang bersama dengan menaiki mobil. Mobil itu sendiri disetir oleh Mas David. Mas David membawa mobilnya dengan melaju sedang dan merasa tidak akan terjadi apa-apa. tapi naasnya di perjalanan tiba-tiba rem mobilnya blong,mobil yang dibawa mas David kehilangan kendali sehingga menabrak pembatas jalan dan terjadilah tabrakan tunggal yang membuat Ayah Mas David langsung meninggal di tempat.
__ADS_1
sedangkan Mas David mengalami kelumpuhan di kedua kakinya sehingga membuatnya mengenakan kursi roda untuk membantunya beraktifitas sehari-hari. Dari situ Mas David merasa dia telah membunuh Ayahnya sendiri dan keadaan fisiknya yang sudah tidak sempurna membuat keadaannya semakin memburuk dan vonis dokter Mas David mengalami kelumpuhan permanen dan sangat sulit disembuhkan.
Setiap hari Mas David hanya berdiam diri dan mengurung dirinya di kamar, kalau pun ingin keluar kamar Mas David hanya duduk berdiam diri di kolam ikan yang ada di halaman belakang. Ibu Santi tidak tega melihat kondisi anaknya Mas David yang terus-terusan seperti itu.Ibu santi selalu berusaha mengajak anaknya untuk berbicara namun respons dari Mas David hanya diam,seperti tidak mendengar apa pun.
Sri dan Paman Herman yang mendengar cerita itu pun merasa iba dengan apa yang sudah terjadi tentang keluarga Mas David. Dan melihat keadaan Mas David yang seperti itu.
Sri dan Paman Herman membersihkan gudang dengan menyusun dan menata barang-barang itu dengan rapi. Lalu Sri pun memberi saran kepada Paman Herman untuk tidak membuang barang-barang milik Pak Budi.
" Paman Herman sebaiknya kita tidak membuang semua barang ini, siapa tau suatu saat Mas David ingin mencarinya!" Sri memberikan usulan kepada Paman Herman.
" Tapi kita disuruh membuangnya Sri? Nanti kalo Ibu Santi melihat barang ini masih disini, kita berdua akan kena marah," ucap Paman Herman.
"Tenang Paman Herman kita tinggal menyimpannya di antara barang-barang yang lain agar tidak ketahuan," usul Sri kepada Paman Herman.
" Baiklah kalo begitu. Terserah kamu saja Sri, "ucap Paman Herman.
Sri pun dipanggil Bibi Ijah untuk menghadap Ibu Santi.
" Sri kamu jangan pulang dulu ya. Ibu ingin bertemu dengan kamu Sri," ucap Bibi Ijah.
Sri dan Paman Herman pun bingung kenapa Ibu Santi ingin bertemu dengan Sri.
" Ini pasti karena ide kamu tadi Sri," ucap Paman Herman.
"Ssttt...," jari telunjuk Sri langsung berada di bibirnya,isyarat untuk Paman Herman diam jangan melanjutkan pembicaraannya.
__ADS_1
Bibi Ijah keluar dan memanggil Sri untuk masuk ke dalam "sini masuk." ucap Bibi Ijah menyuruh Sri untuk masuk. Dan menemui Ibu Santy.
"saya mendengar dari Bibi Ijah katanya kamu ingin mencari pekerjaan ya?" ucap Ibu Santi dengan wajahnya yang ramah.
Sri yang tadinya takut karena mungkin berbuat salah saat membersihkan gudang pun langsung mengatakan iya kepada Ibu Santi.
" Iya nyonya, sahut Sri.
" Panggil saja saya Ibu santi, " ujar Ibu Santi kepada Sri.
"Baik Ibu Santy," ucap Sri.
"kamu mau bekerja di sini sebagai pembantu pribadi Mas David? " tanya Ibu Santi kepada Sri.
" Sri pun langsung setuju," Karena memang Sri membutuhkan pekerjaan dan Sri sudah terbiasa jadi pembantu saat di Kalimantan. Sri diterima bekerja Dengan syarat untuk memberikan laporan tentang Mas David setiap minggunya kepada Ibu Santy.
Mulai besok Sri akan menjadi pembantu pribadi Mas David. Dari menyiapkan makanan Mas David serta mengajaknya untuk berinteraksi. Karena menurut Ibu Santi Mas David memerlukan teman yang sebaya untuknya agar bisa memulihkan kepercayaan dirinya lagi.
Sri dengan riang keluar dari rumah Mas david. Sementara Paman Herman menunggu Sri dengan sedikit takut karena ulah sri tadi saat membersihkan gudang.
Melihat wajah Sri yang riang saat keluar dari rumah Mas David membuat kecemasan Paman Herman langsung hilang.
" Ada apa Sri. Ada apa? " ucap Paman Herman yang ikut gembira melihat senyum Sri.
"mulai besok Sri akan bekerja di sini Paman," ucap Sri yang sangat gembira.
__ADS_1
Dan Paman Herman pun ikut bahagia mendengarnya.