
Dengan bermodal alamat Yang diberikan oleh Ibunya Mas David, serta
bertanya kepada para masyarakat sekitar tentang kediaman Pak Firman akhirnya mereka bertiga menemukan rumah beliau.
"assalamualaikum," Paman Herman mengucapkan salam kepada pemilik rumah.
seorang wanita tua yang badannya sedikit bongkok, serta rambut yang penuh dengan uban di kepalanya keluar dari rumah itu.
"ada Pak Firman nya Nek,? Tanya Paman Herman kepada nenek itu.
" hah..., " sahut sang Nenek sambil memegang kupingnya, menandakan bahwa pendengaran beliau sedikit terganggu.
"Pak Firman, ada tidak Nek? " Paman Herman menaikkan nada suaranya lebih tinggi.
"hah..., " ucap sang Nenek mengulanginya kembali.
Sri dan Mas David tersenyum menahan tawanya melihat hal itu, lalu dengan tiba-tiba Sri mendorong Mas David, Mas David yang kaget karena didorong, langsung merespon maksud Sri agar ia yang berbicara menggantikan Paman Herman kepada Nenek tersebut.
"Nek Pak Firman ada? "
Mas David berbicara dengan gerak bibirnya supaya si nenek mengerti.
"oh Firman sedang keluar nak, " ucap Nenek itu yang langsung mengerti.
Paman Herman menggelengkan kepalanya dengan memandang kearah Sri, dan Sri hanya tersenyum membalas gelengan Paman Herman.
Sri memandang sekitar rumah Pak Firman yang sedikit memperihatinkan, banyak bagian rumah yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Di rumah itu Pak Firman tinggal bersama Ibunya yang sudah renta dan anak perempuannya.
dulu Pak Firman dibantu istrinya merawat sang Ibu dan anaknya, tapi karena istrinya sekarang sudah meninggal semua itu menjadi tugasnya seorang diri.
"assalamualaikum Nek," ucap seorang gadis perempuan yang memakai jilbab dan berbaju seragam sekolah. Ia mengambil tangan Neneknya dan menciumnya sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.
"Adik anaknya Pak Firman yang kemarin ikut jualan itukan? " tanya Sri
"iya Kaka, kakak yang semalam ya? Ada apa Kak?
" dimana Ayah kamu? "
"Ayah sedang mencari pinjaman Kak di tempat saudara soalnya gerobak jualan Ayah dicuri orang tadi malam, " ucap sang anak dengan nada yang sedikit sedih.
Mas David dan Paman Herman pun terdiam, didalam benak Mas David merasa heran pantas saja hari ini Pak Firman tidak berjualan di pinggir jalan seperti yang dilihatnya kemarin. Dan itu yang menyebabkan kami sedikit susah mencari beliau.
Kami bertiga duduk menunggu Pak Firman di teras rumahnya, dengan disuguhkan minuman oleh sang anak.
__ADS_1
"silahkan sambil diminum dulu Kak, " anak itu menuangkan minuman di gelas untuk kami bertiga.
Kami pun meminum air itu untuk melepas rasa haus di tenggorokan kami.
Tapi tiba-tiba sang anak yang ikut duduk sambil menundukkan kepalanya itu tiba-tiba meneteskan air matanya.
"kenapa kamu Dik? " tanya Sri kepada anak Pak Firman.
"kakak ini pasti ingin membawa Bapak ku kekantor polisi, " ucapnya sambil menangis, mengusap air matanya.
"tidak-tidak sayang, kemarin itu cuma salah paham, " ucap Sri yang menenangkan anak itu sambil mengusap punggungnya.
"iya kakak ini dulu adalah anaknya bos dari Bapak kamu, waktu Bapakmu kerja di Jakarta," ucap Paman Herman.
tanpa menunggu lama Pak Firman pun datang kerumahnya, kepalanya menunduk seperti orang yang punya masalah.
"loh Pak Herman, Mas David, " Pak Firman heran karena melihat mereka ada dirumahnya, Pak Firman baru saja pulang dari rumah saudaranya. Beliau pun langsung mengambil posisi duduk bersama kami di teras rumahnya.
"ada apa ini kok rame-rame datang kesini? "
"ini Pak Firman besok saya sudah kembali lagi ke Jakarta jadi saya ingin bersilaturahmi, "ucap Mas David, dan anggukan Paman Herman menandakan ia setuju dengan ucapan Mas David.
" Pak Firman kok tidak jualan? " tanya Mas David.
Mereka bertiga pun mengobrol banyak karena sudah lama tidak bertemu, sampai waktunya merek pamit untuk pulang.
"kalo begitu saya pulang dulu Pak, " ucap Mas David kepada Pak Herman dan Ibunya.
Mereka bertiga pun masuk kedalam mobil dan mobil dijalankan dengan cepat oleh Mas David, ia mau pergi ke pasar untuk membelikan sembako dan gerobak untuk Pak Firman agar bisa kembali mencari nafkah untuk keluarganya dan kehidupan yang lebih baik.
Setibanya di pasar beliau langsung menuju toko sembako yang cukup komplit.
"Pak Haji tolong ini semua dibungkus ya, " ucap Mas David setelah selesai memilih semua barang yang ingin dibelinya.
"baik, ada tambahan lagi nak, " tanya Pak Haji pemilik toko sembako itu.
"sebenarnya saya masih mencari gerobak Pak," ucap Mas David.
"gerobak untuk jualan apa Nak? "
"gerobak buat jualan es kelapa muda Pak. "
"oh ada ada, itu diujung sana ada yang mau jual gerobak, " ucap Pak Haji yang membuat Mas David senang, jadi Mas David tidak perlu lagi berkeliling untuk mencarinya.
__ADS_1
Mas David langsung menuju lokasi yang sudah disebutkan Pak Haji tadi.
"Bang ini gerobak dijual? " tanya Mas David kepada penjaga gerobak tersebut.
"iya Mas," jawab si Abang yang sambil duduk menunggu gerobaknya.
"kalo begitu saya beli Bang, tapi bagaiman saya membawanya pulang? " tanya Mas David.
"oh tenang ini nanti saya antar sampai rumah, " ucap si Abang.
"kalo boleh bisa sekalian minta tolong diantarkan barang saya yang lainya Bang?"
"boleh nanti saya antar kan sekalian, " ucapnya lagi.
Semua barang pun dimasukkan kedalam mobil pik-up dengan alamat tujuan rumah Pak Firman,
Setelah semua sudah dibeli, Mas David mengirimkannya melalu orang lain agar diantar ke rumah Pak Firman.
Mobil pik-up itu telah sampai di rumahnya Pak Firman,
"ini rumah Pak Firman? " tanya sang supir yang turun ke rumah Pak Firman.
"iya saya sendiri? "
"ini semua barangnya mau ditaruh dimana Pak?
" tapi saya tidak membeli apa-apa Bang, mungkin salah alamat, " ucap Pak Firman yang bingung.
"disini alamat yang tertulis sudah benar Pak, dan ini ada suratnya. "
Pak Firman pun membaca isi surat yang sudah ditulis Mas David, dan beliau menangis setelah membacanya.
Barang pun diturunkan satu persatu di rumah Pak Firman.
Mas David, Sri dan Paman Herman memandangi keluarga Pak Firman dari kejauhan, terlihat mereka sekeluarga terharu akan perbuatan Mas David, dan mereka juga senang karena mendapatkan gerobak baru untuk berjualan es kelapa muda lagi.
Melihat hal itu membuat Sri semakin terkesan dengan Mas David, bosnya ini bukan hanya ganteng tapi juga baik hati, dan dermawan.
Setelah itu pun mereka kembali menuju rumah, tidak ada yang bicara didalam mobil karena semua masih terbawa suasana bahagianya keluarga Pak Firman,
dibalik cerita, Pak Firman sedih karena tidak ada satu pun yang memberikannya pinjaman, hal itu dikarenakan Pak Firman sudah banyak memiliki hutang dan keadaan yang sulit karena hanya dirinya yang bekerja di rumah itu.
...----------------...
__ADS_1