
Sudah hampir sore Rio berada ditempat Sri dengan kesibukannya menyapa semua orang yang ada disekitar rumah bahkan ia terlihat sudah sangat akrab dengan para pemuda yang ada di gang rumah Paman Herman.
"Rio nanti malam ikut ngumpul di pos ronda yuk, " ajak seorang pemuda yang Sri sendiri tidak tau namanya.
"wah maaf ya sore sudah mau pulang ini, " ucap Rio seperti orang yang sudah sangat kenal tanpa ada kecanggungan.
Bahkan Rio juga sudah dekat dengan Cindy karena Rio mengajaknya bermain sampai lupa untuk tidur siang.
"om Rio besok kita main lagi ya, " ucap Cindy.
"siap putri cantik, " ujar Rio
mungkin karena Rio orang terpelajar ia begitu rendah tanpa memandang statusnya, bahkan ia tidak sungkan untuk makan bersama orang lain dengan menu yang sederhana.
"Sri kamu bisa mengantarkan saya pulang, " ucap Rio. Yang mengagetkan lamunan Sri.
"iya, " ucap Sri secara spontan.
Dengan berjalan kaki Sri mengantar Rio pulang kerumahnya Mas David. Disepanjang jalan Rio terus berbicara sampai akhirnya menuju topik yang sensitif bagi Sri.
"kamu sudah punya pacar atau belum Sri? " tanya Rio saat di jalan.
"Sri tidak ada pikiran ke sana Mas Rio, dan lagi pula Sri sudah pernah merasakan bagaimana rasanya berumah tangga. Maksudnya status Sri yang Janda ini juga bakalan membuat laki-laki menjauh" ucap Sri sambil berjalan disampingnya Rio.
"pasti nanti ada laki-laki yang menerima kamu apa adanya Sri, "
"iya memang ada Mas, tapi belum tentu orang tuanya, apalagi ibunya, " ucap Sri.
Dari pembicaraan itu Rio tau bahwa rusaknya rumah tangga Sri pasti ada sangkut pautnya dengan ibu mertuanya.
"Ibuku pasti menerima kamu apa adanya Sri, " bisik Rio kepada dirinya sendiri sambil memandangi Sri yang berjalan didepannya.
Sri dan Rio terus berjalan sampai akhirnya mereka sampai dirumahnya Mas David.
"sudah sampai Mas Rio, " ucap Sri yang menunjuk rumah Mas David.
"oh iya kok dekat sekali jarak rumahmu dan David, Sri? "
Sri dan Rio bercanda didepan rumah Mas David dan saat itu David memandangi mereka dari dalam rumah. Rio dan Sri begitu terlihat akrab sehingga membuat david merasa cemburu. Karena ia tidak pernah melihat Sri yang tertawa begitu lepas.
__ADS_1
Sri pun pulang kerumahnya setelah banyak mengobrol dengan Rio,
saat Rio masuk kedalam rumah, David sudah menunggunya dengan duduk disofa yang ada diruang tengah.
"dari mana saja kamu Rio? " tanya David dengan nada suara datar.
"aku dari rumah Pak Herman, " ucap Rio dengan santainya.
"maaf Rio sebaiknya kamu tidak berniat untuk mempermainkan Sri, " ujar David langsung pada inti permasalahan yang ada dihatinya.
"apa maksudmu David, aku tidak melakukan apapun, "
"baiklah kita lupakan masalah ini tapi jika terjadi sesuatu pada Sri aku adalah orang pertama yang akan mencari mu Rio. "
David pergi setelah berucap seperti itu.
...----------------...
Keesokan harinya Sri datang pagi-pagi sekali.
"selamat pagi Bi, " sapa Sri yang langsung menaruh tasnya dan membantu Bibi Ijah di dapur menyiapkan makan pagi.
"alhamdulillah sudah ada kemajuan untuk Bapak Bi, " cerita Sri sambil tangannya mengaduk sayur yang akan disajikan.
Sebentar lagi jam 7 biasanya Ibu Santi akan datang untuk sarapan dan disusul oleh Mas David dan Mas Rio.
"Sri kamu sudah mulai bekerja hari ini, " sapa Ibu Santi yang baru datang.
"Iya Bu, terlalu banyak istirahat membuat bandan Sri sakit, " ucap Sri sambil menuangkan teh hangat kepada Ibu Santi, Ibu santi yang sudah siap dengan pakaian untuk ke kantornya sangat terlihat cantik dan berwibawa sebagai pemilik perusahaan menggantikan suaminya Pak Budi.
"oh iya Sri nanti kamu tolong ke pasar bantu Bibi ijah belanja bulanan ya!" perintah Ibu Santi.
"baik Bu, " ucap Sri dan sambil berlalu untuk pergi kembali ke dapur.
"Bi Ijah nanti kita disuruh ke pasar sama Ibu Santi."
"iya Sri, tadi malam Ibu sudah menitipkan uangnya sama Bibi."
"berangkat jam berapa ke pasarnya Bi? "
__ADS_1
"sebentar lagi kita selesaikan Ibu Santi dan Mas David sarapan ya. "
...----------------...
Selesainya Ibu Santi, Mas David serta Rio sarapan pagi Sri dan Bibi Ijah pun pergi ke pasar berbelanja barang-barang keperluan Rumah dan bahan makanan. Mereka naik becak sekitar 10 menit untuk pergi ke pasar.
"kamu Sri anaknya Pak Udin kan? " tanya seorang bapak-bapak yang Sri sendiri tidak mengenalnya. Saat itu ia sedang membeli daging sapi di kios daging yang ada di pasar.
"Pak Udin yang penjual ternak itu? " ucapnya lagi.
"iya, bapak kenal dengan bapak saya? " ujar Sri.
"kamu lupa sama Paman, kan Paman sering ketemu kamu kalo kamu ikut bapakmu ke kota menjual ternaknya. "
Sri masih bengong sambil mengingat kejadian waktu itu.
"Alah, kalo kamu lupa biarlah, " ucap bapak ini.
"terus sekarang kenapa kamu ada disini? dimana Bapakmu? " tanya beliau.
"bapak sakit, di rumah. " jawab Sri.
"sakit apa? " tanya bapak-bapak itu lagi.
"sakit struk habis jatuh dari pohon kelapa Pak, "
"inalillahi, pantes bapak kamu tidak terlihat lagi dan tidak ada kabar, " ucap beliau dengan nada kasihan terhadap nasib bapaknya Sri.
"baiklah Sri, ini kartu nama Paman kalo kamu ada perlu dan ada yang bisa Paman bantu silahkan hubungi Paman, " ujar Bapak itu.
"terimakasih Paman, " ujar Sri.
Setelah selesai membeli daging Sri dan Bibi Ijah pun pergi dari kios daging itu. Mereka lanjutkan membeli hal lain lagi yang diperlukan.
"sepertinya orang itu orang baik ya Sri, " ujar Bibi Ijah.
"iya Bi, waktu mendengar cerita kalo Bapak sakit beliau terlihat sedih, " ucap Sri.
Sri dan Bibi Ijah pun memutuskan untuk pulang setelah dirasa semua barang sudah mereka beli. Di dalam becak Sri membaca kembali kartu nama yang diberikan bapak-bapak yang di kios daging tadi dibacanya nama beliau adalah Pak Hendra ternyata beliau punya rumah penyembelihan hewan ternak dan menjual daging sapi di kios pasar.
__ADS_1