
“Ini.”
Feng sudah selesai dengan ramuan lili. Dia memberikannya, menggeser mangkuk ramuannya dengan kasar kepada lili.
“terima kasih, sudah mau melakukannya.” Kata lili dengan lirih kepada Feng. Sejujurnya, dia ingin Feng dekat dengan dia. Entah kenapa dia suka dan merasa bahagia saja. Dia juga ingin dipeluk dan diperhatikan oleh Feng. Tapi dia tak berani mengatakannya. Karena lili tahu, Feng tak suka kepada dia.
“ayah, aku mau peluk.”
Lili sedang minuman. Semua sedang makan. Hanya Feng yang bisa mendengar itu. Juga lili. Anaknya berbicara lewat telepati dengan kedua orang tuanya.
Lili yang sedang minum ramuan langsung tersendak. Feng menatap lili. Lili palik menatap dia. Dia bingung harus bagaimana.
Entah anaknya saja, atau anaknya yang mendengar keinginan lili juga. Lili menatap feng dengan canggung.
“Kakak, kakak kenapa? Kakak baik-baik saja?”
Xia dan xixi khawatir melihat lili sampai tersendak. Ratu yin dan raja yuk juga berhenti makan dan menatap lili.
“Lili, kenapa?” yuk yang bertanya.
Lili menggeleng, “tidak yang mulia raja. Hanya biasa, pahit.” Katanya berbohong, dia tak mau menceritakan itu. Dia malu.
Feng mencoba diam dan mendengar apapun. Dia melanjutkan makannya dan langsung pergi dari sana. “ayah, ibu, saya ada latihan, saya akan pergi sekarang.”
Lili yang khawatir melihat Feng pergi. “apa kakak kalian sudah baik-baik saja lukanya yang dulu?” tanya lili kepada Xia dan xixi.
Mereka mengerutkan kening, “apa kakak khawatir dengan kak Feng?” tanya Xia seperti menggoda lili.
Lili diam saja. “Feng itu keterlaluan, dia tak memperhatikan kamu. Harusnya dia tanya, kamu baik atau tidak.” Ratu yin marah-marah.
Selesai sarapan, lili dan kedua adiknya Feng memilih untuk jalan-jalan. Lili ingin melihat danau. Tempatnya melewati tempat latihan Feng.
Prang!
Dia tak sengaja mendengar suara pedangnya. Lili ingin sekali melihat. Dia berhenti.
“Itu, tempat latihan kakak kalian bukan?” tanya lili kepada Xia dan xixi.
Mereka mengangguk. “iya kak, kenapa?” Tanya xixi kepada lili.
“kakak boleh lihat tidak? Mau lihat sebentar saja, secara diam-diam saja.”
“Kakak sayang beneran sama kak Feng?”
__ADS_1
“Tidak tahu. Tapi sepertinya keponakan kalian yang ingin melihat ayahnya.”
“emm, ok.”
Xia dan xixi mengajak lili ke tempat latihan. Ada gerbang tinggi yang tak lain adalah akses masuk ke tempat latihan itu. Seperti lapangan pasir yang cukup luas.
Semua menunduk ketika pintu gerbang itu dibuka. Ada xixi dan Xia dan juga para dayang yang ikut dengan mereka.
“ada apa? Siapa?”
Feng kaget karena semua yang di sana menunduk memberikan salam. Feng menoleh. Matanya menyipit. Ternyata itu lili. Mau apa dia kesini.
“kita hentikan dulu katihannya.” Kaya Feng kepada semua prajurit.
Feng berjalan mendekati lili. Dia berhenti tepat di depan lili “mau apa ke sini?” tanya Feng dengan ketus. Lili diam saja.
“Jangan disini. Kamu tidak tahu kondisi kamu sendiri? Cepat pergi dari sini.” Feng menarik tangan lili, dia mendorong lili pergi.
“ayah, mau lihat ayah latihan. Ibu dan aku mau lihat ayah latihan.”
Feng memejamkan mata lagi. Dia tak habis pikir. Bagaimana bayi di dalam perut sudah bisa berbicara dengan dia.
“Jangan lihat saya latihan. Kotor, banyak debu. Tidak baik untuk kamu. Ikut saya.” Feng berbalik dan mengatakan itu kepada lili.
Lili diam saja. Dia ikut dengan Feng. Mereka keluar dari tempat latihan. Xixi dan Xia juga ikut keluar, dengan dayang yang mengikuti mereka.
“Ke, taman belakang kak. Kata kak lili ingin ke sana.” Xia yang menjawabnya.
“ahh, akan saya antar kakak lili ke sana nanti. Saya perlu berbicara dengan putri Lili. Bisa tinggalkan kami?” Tanya Feng kepada kedua adiknya.
“nanti kalau ditinggal, tiba-tiba saja kakak mengusir kak lili bagaimana? Seperti dulu.”
Xia tak henti membantah Feng. Feng berjanji kalau dia tak akan melakukan itu. Dia juga tak akan tega karena lili membawa anaknya.
“Sudah puas?”
“apa buktinya dulu, aku gak percaya sama kakak.”
“melon itu yang cari kakak. Malam-malam, di rumah teman kakak.”
“hah?”
Xixi dan Xia kaget. Mereka menggelengkan kepala karena tak percaya. Feng kesal sekali kepada keduanya. Dia meminta keduanya untuk bertanya kepada pelayan kalau tak percaya. Salah satunya sayang di belakang mereka.
__ADS_1
“iya kah?”
“Iya yang mulia putri. Pangeran Feng mengantar sendiri ke dapur malam itu. Tapi kamu tak boleh memberitahu.”
“Tapi kakak yang memberitahu sendiri akhirnya. Tidak malu?”
“terpaksa karena kalian. Cepat pergi atau mau kakak lempar dengan kekuatan kakak?”
Feng akhirnya mengancam keduanya. Keduanya pergi, mereka juga menyuruh para dayang untuk pergi. Bukannya pergi mereka malah diam-diam bersembunyi dan mengintip dibalik tembok.
“kamu mau ini kan? Jangan senang dulu, semua ini saya lakukan untuk cucu ibu dan ayah saya. Untuk keponakan adik-adik saya. Bukan untuk kamu atau anak kamu.”
Feng memeluk lili begitu saja. Iya, dia memang ini. Lili diam dan tersenyum saja. Mau itu karena siapa, yang penting Feng sudah mulai perhatian kepada dia.
Feng memeluk lili beberapa saat. Sampai keduanya yang melihat heboh dari balik tembok. Akhirnya Feng malah mendengar keduanya.
“Kalian masih disini?” tanya Feng mendekati keduanya.
Keduanya senyum-senyum dan mengangguk. Mereka yang takut dengan tatapan Feng, lari dan bersembunyi di belakang lili.
Feng kesal, dia ingin memberikan pelajaran kepada kedua adiknya. Tapi dia langsung pergi dari sana.
“saya mau kembali ke ruang latihan. Kalau mau lihat, dari atas saja.” Kata Feng kepada lili.
Ada bangunan yang mengarah ke tempat latihan. Mereka harus naik beberapa tangga untuk sampai ke bagian istana yang itu.
“kakak mau?”
“tidak jadi ke taman?”
Xia dan xixi bertanya kepada lili. Lili menggelengkan. Dia ingin ke taman dulu, memetik bunga baru melihat latihan kalau belum selesai.
Keduanya menuruti dan ikut lili saja. Mereka ke taman. Banyak bunga dan tanaman yang baru tumbuh karena sedang musimnya.
Mereka semua sibuk memetik bunga kesukaan mereka masing-masing. Dayang juga diminta lili untuk banyak memetik bunga. Karena dia ingin mengganti bunga di istana yang sudah layak diganti.
“kamu merebut kekasih saya.”
Ada seorang wanita. Dia berbaju serba hitam. Dia berdiri di depan lili. Lili bingung, apa maksud dia. Dia juga tak kenal dengan wanita itu.
“Kamu siapa?”
Dia mencengkeram bahu lili. Tatapannya menuju ke perut lili.
__ADS_1
“saya tidak rela kamu mengandung anak laki-laki yang saya cinta. Harusnya saya yang mengandung anaknya.”
Tangannya mengusap perut lili. Lili berteriak kesakitan karena itu. Entah diapakan oleh dia.